HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12
"Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
Dalam berbagai kesempatan pertemuan atau acara pada umumnya para peserta yang
bertempat tinggal jauh dari tempat pertemuan datang lebih awal daripada mereka
yang dekat. Mereka yang jauh takut terlambat, dan untuk itu memang harus jauh
mempersiapkan diri, berangkat lebih awal dan ketika mengikuti ibadat di gereja
kiranya dapat mengambil tempat di depan, sementara yang dekat merasa aman dan
pasti tak akan terlambat. Dengan kata lain mereka yang jauh memang lebih
berkorban daripada yang dekat. Dalam Warta Gembira hari ini kita baca dan
dengarkan bahwa `orang-orang majus dari Timur' lebih cepat tergerak untuk
"menyembah Dia", bersembah sujud kepada "Sang Bayi/Kanak-Kanak Yesus" daripada
orang-orang Betlekem, termasuk tokoh-tokoh penting. Orang-orang majus yang jauh
dari Betlekem lebih peka akan kedatangan Penyelamat Dunia dengan melihat
tanda-tanda, "Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk
menyembah Dia" (Luk 2:2). Pancaran Kabar Gembira dari Kanak-Kanak Yesus menggema
jauh alias Kanak-Kanak Yesus sungguh bercirikhas missioner. Hari ini oleh Gereja
Katolik juga dijadikan `Hari Anak Misioner Sedunia', suatu ajakan untuk membina
semangat missioner sedini mungkin kepada anak-anak kita. Maka baiklah kami
mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal bina missioner anak-anak.
"Di manakah Dia, …yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di
Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Luk 2:2)
Pertanyaan orang-orang majus dari Timur "Di manakah Dia, ....yang baru
dilahirkan itu", selayaknya juga menjadi pertanyaan kita, para orangtua, orang
dewasa, dan mungkin pertanyaan dari kita akan seperti ini "Di manakah anak-anak
kita…,adik-adik kita?". Marilah kita perhatikan anak-anak maupun remaja kita,
mereka yang berusia 13 tahun ke bawah, entah di dalam keluarga kita maupun
lingkungan hidup dan kerja kita.
1) Anak-anak usia balita: Anak-anak usia balita penting sekali untuk
diperhatikan, menerima kasih-sayang dari orangtuanya, dan secara khusus dari
ibunya. Kami berharap orangtua dengan rela hati, penuh kasih dan pengorbanan
berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak balitanya, alias
`bersembah-sujud kepada anak-anaknya selama usia balita'. Secara khusus kami
mengingatkan dan mengajak para ibu untuk menyusui anak-anaknya secara memadai,
konon menurut ahli gizi minimal menyusui anaknya sampai usia satu tahun. Untuk
itu memang dari para ibu dituntut kebugaran dan kesegaran tubuh serta makan dan
minum yang bergizi. Anak-anak usia balita pada umumnya sepenuhnya berada di
rumah dalam asuhan orangtuanya, maka hendaknya sedini mungkin anak-anak dibina
dalam hal kepekaan sosial, sopan santun, budi pekerti, dst.. . Pembelajaran
membaca dan berhitung kiranya juga mendapat tempat khusus bagi anak-anak balita,
yang diajarkan oleh bapak-ibunya.
2) Anak-anak usia sekolah/pendidikan dasar: Sekolah adalah pembantu orangtua
dalam rangka mendidik anak-anak mereka, maka hendaknya ada kerjasama antara
sekolah/para guru dan orangtua dalam proses pembelajaran di sekolah. Para guru
dalam rangka melaksanakan tugas pengajaran, hendaknya menghayati tehnik-tehnik
mengajar sebagai berikut:
• "Mulai dengan kasih sayang"
• "Belajar dengan melakukan"
• "Bergerak dari yang mudah ke yang sulit"
• "Mengajar satu per satu"
• "Guru sebagai teman baik para siswa"
• "Membuat belajar menyenangkan"
(lihat: Rung Kaewdang PhD: Suatu Cara Reformasi Pembelajaran yang Mangkus,
BELAJAR DARI MONYET, Grasindo – Jakarta 2002, hal 61-71).
Baik di dalam keluarga maupun sekolah kiranya perlu dibina semangat missioner
bagi anak-anak. Salah satu cara bina misioner antara lain anak-anak diminta
mengenali dengan cermat lingkungan hidupnya minimal dalam radius satu kilometer,
entah dari rumah/tempat tinggal atau sekolah. Mereka, anak-anak diminta berjalan
kaki sambil melihat-lihat apa yang ada di jalanan, dan kemudian diminta
menceriterakan apa yang mereka lihat, apa yang mengesan dst.. Jika mungkin
hendaknya anak-anak diajak melihat atau mendatangi mereka yang miskin dan
berkekurangan, entah di kota-kota atau pedesaan atau panti asuhan, dst..
"Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah,
yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan
kepadaku dengan wahyu,…yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak
diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam
Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus" (Ef 3:2-3a.5)
Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Efesus di atas ini kiranya dapat kita
renungkan (1) pertama-tama kita diharapkan mendengarkan berbagai pengajaran yang
disampaikan oleh `para rasul dan nabi' dan (2) kita juga dipanggil untuk menjadi
`nabi atau rasul':
(1). Mendengarkan merupakan salah satu indera dari pancaindera, yang
pertama-tama berfungsi; bayi sejak dalam kandungan sudah dapat mendengarkan.
Keutamaan mendengarkan ini hendaknya terus `dipelihara' dan diperdalam dalam
diri anak-anak kita sampai dewasa; mendengarkan penting sekali dalam proses
pembelajaran dalam bentuk apapun. Memang mendengarkan mengandaikan keutamaan
kerendahan hati, tanpa kerendahan hati orang tak dapat mendengarkan dengan baik.
Tentu saja kebiasaan mendengarkan perlu diimbangi dengan melatih memilah dan
memilih, memilah mana yang baik dan buruk dan kemudian memilih yang baik untuk
dilaksanakan. Masa kini cukup banyak informasi atau berita melalui aneka media
massa atau lisan dari mulut ke mulut, yang perlu dipilah dan dipilih dengan
cermat, teliti dan tekun.
(2). Sebagai orang beriman kita memiliki dimensi missioner, diutus sebagai `nabi
atau rasul'. Nabi adalah "orang yang diutus dan diilhami oleh Allah untuk
menyatakan sesuatu yang tersembunyi, mengungkapkan suatu nubuat, menyatakan
pikiran dan kehendak Ilahi, dan juga untuk meramalkan masa depan" (Xavier Leon –
Dufour: Ensklopedi Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius – Yogyakarta 1990, hal
412), sedangkan rasul adalah seseorang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu
dan tentu saja apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. Kita, orang yang
percaya kepada Yesus Kristus, Pewarta Kabar Baik, dipanggil untuk menjadi
pewarta-pewarta kabar baik: yang terdengar dan terlihat dari cara hidup dan cara
bertindak kita adalah apa yang baik, dan juga diharapkan untuk senantiasa
menyuarakan dan menyebarluaskan apa yang baik dalam berbagai kesempatan dan
kemungkinan. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, dimana
saja dan kapan saja dan bagi siapapun juga. Apa yang disebut baik antara lain
buah-buah Roh seperti " kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri"(Gal 5:22-23), maka
baiklah keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh ini kita hayati dan sebarluaskan
dalam hidup kita sehari-hari.
"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN
terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman
menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya
menjadi nyata atasmu" (Yes 60:1-2). Apa yang diserukan oleh nabi Yesaya ini
baiklah kita renungkan dan hayati; panggilan atau ajakan bagi kita agar menjadi
`terang' bagi siapapun yang kita jumpai atau hidup bersama-sama dengan kita.
Marilah kita saling menerangi dengan penuh harapan dan gairah, karena `terang
Tuhan' di atas kita semua.
"Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi
hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong,
orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;ia akan sayang kepada
orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin" (Mzm
72:11-13).
Jakarta, 3 Januari 2010
"Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak."
(1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28)
"Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus
beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah
engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka
bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab:
"Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata
mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka
yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah
suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti
yang telah dikatakan nabi Yesaya." Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada
beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau
membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan
datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di
tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang
kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."Hal itu
terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis."
(Yoh 1:19-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Basilius Agung dan
Gregorius dari Nazianze hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Hari ini kepada kita ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis, yang dengan rendah
hati mempersiapkan jalan bagi Penyelamat Dunia. Ia dinilai atau dipandang
sebagai seorang nabi besar, namun dibandingkan dengan Sang Penyelamat Dunia,
Yesus, dirinya bukan apa-apa, maka ia bersaksi "Membuka tali kasut-Nya pun aku
tidak layak.". Sikap mental Yohanes Pembaptis ini kiranya baik kita tiru dan
hayati juga dalam hidup dan bertindak kita setiap hari, sebagai orang beriman,
khususnya kita yang beriman kepada Yesus, Penyelamat Dunia. Kita semua dipanggil
untuk dengan rendah hati mempersiapkan jalan bagi Tuhan, artinya melalui atau
dengan cara hidup dan cara bertindak kita, kita dapat menjadi petunjuk jalan
bagi orang lain untuk semakin beriman, semakin suci, semakin mempersembahkan
diri seutuhnya kepada Tuhan, Yang Ilahi. Mereka yang melihat atau kena dampak
cara hidup dan cara bertindak kita tergerak untuk semakin beriman, semakin
berbudi pekerti luhur. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka
menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang
lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri
untuk tidak menonjolkan dirinya"(Prof Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman
Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kepada
mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama di tingkat atau ranah kehidupan
apapun, misalnya orangtua, pemimpin, ketua, pejabat, dst. dapat menjadi saksi
atau teladan dalam hal penghayatan keutamaan kerendahan hati.
• "Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah
Kristus?" (1Yoh 2:22). Yohanes Pembaptis dengan jujur mengakui dirinya bukan
Penyelamat yang didambakan banyak orang, melainkan hanya menyiapkan jalan
bagiNya: ia percaya bahwa "Yesus adalah Kristus', Yesus adalah Penyelamat Dunia.
Sebagai orang Kristen atau Katolik kita percaya bahwa Yesus adalah Penyelamat
Dunia, maka marilah kepercayaan kita itu kita hayati dalam hidup sehari-hari,
antara lain dengan menghayati ajaran atau sabda Yesus maupun meneladan cara
bertindakNya, sebagaimana diwartakan dalam dan melalui Kitab Suci. Jika kita
tidak menghayati ajaran atau sabda Yesus maupun meneladan cara bertindakNya
berarti kita adalah pendusta, mengakui diri sebagai orang Kristen atau Katolik
tetapi cara hidup maupun cara bertindaknya tidak sesuai dengan ajaran Yesus.
Mungkin kita semua tidak sempurna dalam menghayati ajaran maupun meneladan cara
bertindak Yesus, maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan satu sama
lain. "Di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari
pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana
pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu
benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah
hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia"(1Yoh 2:27). Kita tidak mau saling
mengajar, melainkan saling mengingatkan dengan rendah hati. Yang juga diharapkan
dari kita adalah keterbukaan satu sama lain, dalam rangka menghayati keterbukaan
kita terhadap Penyelenggaraan Ilahi, kehendak Tuhan, bisikan Roh Kudus.
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan
perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh
tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.TUHAN telah memperkenalkan
keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata
bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel,
segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.
Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah
dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)
Jakarta, 2 Januari 2010
HR SP MARIA BUNDA ALLAH: Bil 6:22-27; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21
"Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia
dikandung ibu-Nya".
Pertama-tama saya ucapkan `SELAMAT TAHUN BARU 2010'; marilah kita masuki Tahun
Baru ini dengan semangat baru. Hari ini juga "Hari Perdamaian Sedunia", dan bagi
anggota Serikat Yesus merupakan hari "Pesta Nama". Dalam "Hari Perdamaian
Sedunia" ini Paus Benediktus XVI memberi pesan dengan tema "IF YOU WANT TO
CULTIVATE PEACE, PROTECT CREATION". Tahun 2010 yang juga disebut `Tahun Macan',
yang juga ditandai dengan `pemanasan global', kiranya kita juga akan menghadapi
aneka tantangan dan hambatan dalam rangka membudayakan hidup damai maupun
melindungi ciptaan Allah di dunia ini. Namun demikian marilah kita bersama-sama,
bergotong royong mengusahakan damai maupun pelestarian lingkungan hidup.
"Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu
nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya" (Luk 2:21)
"Hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak
Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta
Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub
sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan"(Luk 1:31-33).
Nama Yesus telah ditentukan oleh Allah sebelum lahir di dunia ini. Kiranya kita
semua juga berbuat yang sama, yaitu mempersiapkan nama bagi anak yang masih
berada dalam kandungan maupun nama suatu gedung, paguyuban, dst. sebelum
diresmikan atau diberkati. Dalam memilih nama kiranya tidak sembarangan saja,
melaikan sungguh dipertimbangkan, direnungkan dan dibicarakan bersama, karena
nama mengandung banyak makna dan cita-cita atau harapan. Demikian kiranya
nama-nama yang dikenakan pada diri kita masing-masing, maka marilah kita mawas
diri perihal nama yang dikenakan pada diri kita: apakah kita setia pada
cita-cita atau dambaan yang dibebankan pada diri kita.
Bagi kita semua orang Kristen maupun Katolik, dan khususnya rekan-rekan anggota
Serikat Yesus, marilah kita mawas diri perihal kekristenan atau kekatolikan
kita. Kita semua diharapkan hidup dan bertindak meneladan Yesus maupun dengan
menghayati ajaran-ajaran atau sabda-sabdaNya, hidup dan bertindak dirajai atau
dikuasai oleh Yesus. Untuk lebih mengenal dan memahami cara bertindak maupun
sabda-sabda Yesus, baiklah kita baca dan renungkan apa yang ditulis di dalam
Kitab Suci; dengan kata lain kami berharap di tahun 2010, tahun macan, ini kita
menggiatkan gerakan pembacaan maupun pendalaman Kitab Suci. Dalam upacara saling
menerimakan Sakramen Perkawinan pada umumnya pasangan suami-isteri baru juga
dibekali Kitab Suci, Rosario dan Salib, dengan harapan dalam mengarunsi hidup
berkeluarga hendaknya tidak melupakan Sabda Tuhan, Bunda Maria maupun Kasih
Sejati yang telah dihayati oleh Yang Tersalib. Hemat saya ketika suami-isteri
sedini mungkin membiasakan pemfungsian Kitab Suci, Rosario dan Salib, maka hidup
berkeluarga akan damai sejahtera, saling mengasihi dan dengan demikian anak-anak
yang lahir dan dianugerahkan oleh Tuhan juga akan terbiasa membaca Kitab Suci,
berdoa Rosario dan berdevosi kepada Yang Tersalib.
Hidup berkeluarga yang saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehat
maupun sakit sampai mati, akan membawa keluarga yang bersangkutan ke damai
sejati. Dan jika setiap keluarga dapat hidup dalam damai sejati, maka dambaan
perdamaian seluruh dunia segera menjadi nyata. Perdamaian Sedunia hemat saya
perlu dimulai dan didasari oleh hidup damai sejahtera dalam keluarga-keluarga.
Bagi suami-isteri kami harapkan mawas diri perihal nama yang menyatukan mereka
berdua, dua nama menjadi satu: apa makna dan dambaan anda berdua? Bagi para
anggota Lembaga Hidup Bakti kami harapkan mawas diri perihal nama yang menandai
kebersamaan hidup kita, misalnya SJ, MSF, OSF, OSC, PI, OFM , dst.. Sebagaimana
keluarga menjadi dasar dan landasan perdamaian sedunia, demikian halnya
komunitas-komunitas hidup membiara. Semoga baik dari keluarga-keluarga maupun
komunitas biara serta paguyuban-paguyuban tersiarkan damai sejahtera, warta
gembira bagi seluruh umat manusia.
"Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah
ahli-ahli waris, oleh Allah" (Gal 4:7)
Secara manusiawi kita semua pernah menjadi anak, dan dengan demikian juga
menjadi ahli waris atau menerima warisan tertentu dari orangtua kita
masing-masing. Ketika menjadi tua atau orangtua pada gilirannya harus mewariskan
kepada anak-anak atau generasi penerus/generasi muda apa-apa yang mereka
butuhkan untuk hidup kini dan masa depan. Sebagai orang beriman kita semua
adalah `anak-anak Allah', yang memperoleh warisan dari Allah, antara lain
ciptaan-ciptaanNya yang indah, mulia, luhur dan suci di dunia ini alias
lingkungan hidup yang enak, nyaman dan nikmat, mempesona dan memikat. Maka
baiklah memasuki dan mengarungi Tahun 2010 ini marilah kita tanggapi ajakan Paus
untuk melindungi atau melestarikan ciptaan alias lingkungan hidup.
Allah kita adalah Allah Pencipta, maka sebagai anak-anak Allah kita dipanggil
untuk berpartisipasi dalam karya PenciptaanNya, termasuk melindungi
ciptaan-ciptaanNya. Kita semua kiranya berprihatin dengan adanya `pemanasan
global', yang sedikit banyak pasti akan merusak lingkungan hidup maupun aneka
jenis kehidupan di alam raya ini, yang pada gilirannya akan mencelakakan atau
menyengsarakan manusia, sebagai ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini.
Marilah keprihatinan kita terhadap `pemanasan global' kita wujudkan secara
positif dengan gerakan bersama yang bersifat preventif untuk mengurangi
`pemanasan global', antara lain gerakan penanaman pohon-pohon/penghijaun,
penghematan enerji, pengurangan berbagai sarana maupun bangunan yang dapat
menambah panas bumi dst.. . Yang tidak kalah penting atau yang pertama-tama dan
terutama harus menjadi perhatian kita tentu saja manusia, melindungi dan
mendampingi manusia agar setia sebagai ciptaan Tuhan terluhur dan termulia di
dunia ini.
Melindungi manusia sebagai ciptaan terluhur dan termulia berarti mendampingi
sebaik mungkin sejak ia masih berada di dalam kandungan sampai lahir dan mati.
Dengan kata lain marilah pada tahun 2010 ini kita sungguh lebih menekankan dan
mengutamakan `human investment' daripada `material investment' . Memang
mendidik, mendampingi dan membina manusia/anak-anak tidak mudah, sarat dengan
tantangan maupun hambatan serta hal-hal yang sering sulit terpahami. Maka
baiklah ketika kita harus menghadapi hal-hal yang sulit dipahami, marilah kita
meneladan Bunda Maria, Bunda Allah, Bunda kita, yang "menyimpan segala perkara
itu di dalam hatinya dan merenungkannya". Dengan kata lain di tahun 2010, tahun
macan, yang konon akan ada kemungkinan terjadi banyak konflik, marilah kita
lebih banyak berdoa dan merenung alias mempersembahkan apa yang kita alami
kepada Tuhan. Marilah kita mendunia dengan iman, berpartisipasi dalam seluk
beluk duniawi dalam semangat iman. Marilah kita saling membantu agar kita semua
semakin cerdas beriman, sehingga kita bersama-sama dapat mengusahakan perdamaian
dunia yang menyelamatkan dan membahagiakan semua orang.
"Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau
memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas
bumi. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa
semuanya bersyukur kepada-Mu.Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita,
memberkati kita. Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan
Dia!" (Mzm 67:5-8)
Selamat tahun baru 2010
Jakarta, 1 Januari 2010
"Dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia"
(1Yoh 2:18-21; Yoh 1:1-18)
"Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak
mengenal-Nya.Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang
kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya
diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam
nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan
pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah
melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian
tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku
berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab
Dia telah ada sebelum aku." Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima
kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi
kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.Tidak seorang pun yang
pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa,
Dialah yang menyatakan-Nya" (Yoh 1:10-18), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Hari ini adalah hari terakhir tahun 2009, dan kita akan segera memasuki tahun
baru 2010. Selama tahun 2009 kiranya kita telah menerima berbagai macam kasih
karunia Allah, yang kita terima melalui saudara-saudari kita yang telah berbuat
baik kepada kita dalam berbagai kesempatan, maka marilah kita syukuri semuanya
itu dengan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari di tahun 2010 yang akan datang.
Syukur tersebut kita wujudkan dengan meneruskan aneka kasih karunia yang telah
kita terima, sehingga dalam kehidupan bersama kita senantiasa saling menerima
dan memberi kasih karunia. Kasih karunia tersebut mungkin secara konkret berupa
harta benda/uang atau kekayaan, kesehatan, kecerdasan, keterampilan, sahabat
atau kenalan, dan bagi orangtua mungkin anak, sedangkan para pekerja mungkin
kenaikan pangkat atau kesejahteraan. Hidup dan segala sesuatu yang menyertai
hidup kita, yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai kini adalah kasih
karunia Allah, maka baiklah di tahun yang akan datang ini kita senantiasa hidup
dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, antara lain setia pada
janji-janji yang pernah kita ikrarkan dan terkait dengan hidup, panggilan dan
tugas pengutusan kita masing-masing. Mungkin di tahun 2009 ada rencana yang
belum dapat kita laksanakan atau kerjakan, marilah di tahun 2010 yang akan
datang kita laksanakan. "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara
kita", demikian kutipan warta gembira hari ini, yang kiranya baik kita hayati,
antara lain dengan melaksanakan rencana atau cita-cita yang masih dalam rumusan
kata-kata, sehingga menjadi tindakan atau perilaku nyata.
• "Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah
kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak
antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang
terakhir.Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak
sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk
pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu
terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk
pada kita" (1Yoh 2:18-19). Pesan ini mengingatkan kita akan bahaya-bahaya atau
godaan-godaan yang mungkin terjadi di tahun 2010 yang akan datang, yang menurut
kalender Tionghoa disebut `tahun macan'. Macan atau singa memang senantiasa
berusaha mencari mangsa dengan cerdik, maka baiklah kita hadapi dengan `tulus
seperti merpati, dan cerdik seperti ular', artinya dengan kecerdasan spiritual.
Maka sekali lagi saya angkat disini cirikhas kecerdasan spiritual, yang
hendaknya menjadi cara hidup dan cara bertindak kita, yaitu "mampu untuk
fleksibel (adaptasi aktif dan spontan), memiliki kesadaran diri yang tinggi,
mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan, mampu menghadapi dan mengatasi
rasa sakit, hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai, enggan untuk menyakiti
orang lain, melihat hubungan dari yang beragam (holistik), bertanya `mengapa'
dan `apa jika' untuk mencari jawaban mendasar, kemampuan/kemudahan untuk
`melawan perjanjian'". Kita hayati dengan kerja sama dan saling membantu
cirikhas kecerdasan spiritual di atas dalam hidup kita sehari-hari.
"Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta
isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon
di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk
menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa
dengan kesetiaan-Nya" (Mzm 96:11-13)
Jakarta, 31 Desember 2009
"Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan
berpuasa dan berdoa".
(1Yoh 2:12-17; Luk 2:3640)
"Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer.
Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya
bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun.
Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan
berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap
syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang
menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus
dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota
Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan
kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Luk 1:36-40), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Pada hari ini kepada kita ditampilkan seorang nabi perempuan, bernama Hana,
yang "tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan
berpuasa dan berdoa". Tokoh nabi Hana ini kiranya baik menjadi bahan refleksi
bagi rekan-rekan perempuan. Dari berbagai pencermatan dan pengalaman kiranya
dapat dikatakan bahwa rekan-rekan perempuan pada umumnya lebih berperan dalam
"beribadah dengan berpuasa dan berdoa". Pertemuan-pertemuan bersama untuk
pendalaman iman atau doa bersama di lingkungan/stasi pada umum lebih banyak
dihadiri oleh rekan-rekan perempuan daripada rekan laki-laki. Perhatian ibu
kepada anak-anaknya pada umumnya lebih besar daripada perhatian bapak terhadap
anak-anaknya, sebagaimana sering dikumandangkan dalam sebuah lagu "Kasih ibu
kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali,
bagai sang surya menyinari dunia". Maka dengan ini kami berharap kepada kita
semua untuk sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada ibu kita masing-masing,
yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan kita sehingga kita "bertambah
besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah" berkanjang dalam
diri kita masing-masing. Sebagai ucapan syukur dan terima kasih hendaknya kita
juga rajin `beribadah dengan berpuasa dan berdoa', yang menandai atau menjadi
cirikhas hidup beriman atau beragama. Tujuan beribadah tidak lain adalah agar
kita senantiasa tetap berada dalam `kasih karunia Allah', dan dengan demikian
hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, setia pada janji-janji yang
pernah kita ikrarkan dan terkait dengan cara hidup dan panggilan kita
masing-masing. Maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan satu sama lain
dalam hal `beribadah' ini.
• "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang
mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua
yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta
keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia
ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak
Allah tetap hidup selama-lamanya" (1Yoh 2:15-17). Apa yang dimaksudkan dengan
`mengasihi dunia' disini kiranya adalah sikap mental materialistis atau duniawi
atau bisnis, dimana orang mengurus atau mengelola aneka karya pelayanan secara
materialistis atau bisnis melulu. Kita dipanggil mendunia sesuai dengan kehendak
Allah, mengurus dan mengelola hal-ikhwal duniawi sesuai dengan kehendak Allah
alias mengusahakan kesucian hidup dengan berpartipasi dalam seluk beluk duniawi.
Ingat dan hayati bahwa kita baru saja merayakan pesta Kelahiran Penyelamat
Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia dengan mendunia. Maka baiklah kami
mengingatkan dan mengajak kita semua dalam pelayanan atau kegiatan hendaknya
sesuai dengan visi yang telah dicanangkan atau dimaklumkan. Setiap hidup dan
kerja bersama maupun pribadi kiranya memiliki visi yang bagus dan indah serta
baik, maka hendaknya visi tidak berhenti dalam tulisan atau wacana, melainkan
sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Bagi para anggota Lembaga
Hidup Bakti, biarawan dan birawati, berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh
charisma pendiri, bagi suami-isteri berarti setia pada janji untuk saling
mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, dst..
Kepada para pejabat atau pemimpin masyarakat maupun bangsa kami harapkan untuk
hidup dan bertindak dijiwai oleh semangat melayani, sehingga segala usaha dan
kegiatan terarah pada kesejahteraan umum (`bonum commune'). Semakin
berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi/mendunia hendaknya juga semakin
beriman; mendunia tanpa iman akan terjadi kekacauan.
"Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan
kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan
masuklah ke pelataran-Nya! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan
kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! Katakanlah di antara
bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan
mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran." (Mzm 96:7-10)
Jakarta, 30 Desember 2009
"Biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu"
(1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35)
"Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa
Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam
hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan
untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan,
yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di
Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang
menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya
telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat
Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.
Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan
kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan
menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu
ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah
melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan
segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan
menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan
segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata
kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan
atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang
menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk 2:22-35), demikian kutipan
Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Pada hari ini kepada kita diketengahkan seorang tokoh bernama Simeon, "seorang
benar dan saleh…Roh Kudus di atasnya". Ia yang sungguh menantikan penghiburan
sejati dan kini telah menyaksikan dalam Kanak-Kanak Yesus yang sedang
dipersembahkan di bait Allah, maka ia pun memuji Allah serta bersyukur, antara
lain dengan berkata "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai
sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang
dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa". Sebagai orang
yang telah usur alias lansia kiranya kutipan di atas ini baik menjadi
permenungan atau refleksi. Hendaknya ketika sudah usia lanjut, sesuai dengan
aturan di Indonesia ketika usia 60 tahun ber-KTP abadi, dengan jiwa besar dan
hati rela berkorban untuk `mengundurkan diri' serta memberi kesempatan kepada
generasi muda lebih berperan dalam kehidupan bersama. Hal yang sama kiranya juga
baik dilakukan oleh mereka yang merasa senior terhadap yang yunior. Marilah kita
beri kepercayaan kepada generasi muda sebagai pembaharu, "untuk menjatuhkan dan
membangkitkan banyak orang…supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang".
Sebaliknya kepada generasi muda kami harapkan siap sedia untuk mengambil alih
peran dan fungsi generasi tua.
• "Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci
saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.Barangsiapa mengasihi
saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada
penyesatan" (1Yoh 2:9-10). Kutipan dari surat Yohanes ini kiranya dialami oleh
Simeon, yang "berada di dalam terang, dan dalam dia tidak ada penyesatan".
Kutipan ini juga baik menjadi permenungan bagi para orangtua, para senior,
pendidik/guru, dst..: hendaknya senantiasa berada dalam terang dan tidak ada
penyesatan dalam cara hidup dan cara bertindaknya, sehingga dalam mendampingi
dan mendidik anak-anak, yunior, peserta didik, dst.. sungguh bermanfaat bagi
masa depan mereka. Hendaknya orangtua, pendidik/guru dst. tidak menyesatkan.
Tanda bahwa tidak menyesatkan antara lain senantiasa hidup berbudi pekerti luhur
serta mengajarkan dan membina anak-anak/peserta didik untuk berbudi pekerti
luhur. Maka perkenankan sekali lagi saya kutipkan ciri-ciri budi pekerti luhur,
yang harus dihayati dan dibinakan, yaitu "bekerja keras, berani memikul resiko,
berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran
jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur,
bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis,
efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas,
mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan,
menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif,
rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah
hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun,
sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet
"(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka,
Jakarta 1997)
"Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta
isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon
di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk
menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa
dengan kesetiaan-Nya" (Mzm 96:11-13).
Jakarta, 29 Desember 2009
Dalam rangka Natal
Gereja mengajak kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Di dalam ceritera Lukas
tentang sikap Yesus terhadap ayak ibu-Nya tercantum bahan pemikiran dan
renungan yang sangat baik, aktual dan relevan juga bagi keluarga-keluarga
kristiani yang hidup di zaman modern sekarang ini. Marilah kita mencoba
mendengarkan dan memahami pesan yang disampaikan dalam ceritera itu kepada
kita.
HOMILI
Dalam usaha memahami
Injil Lukas hari ini, kita jangan berpegang pada pemikiran rasional, melulu
dengan otak sehat, intelektual, melainkan dengan perspektif iman dan terutama
dengan rendah hati. Sebab bahasa alkitabiah memang bukan bahasa ilmiah atau
matematis, melainkan bahasa sastra iman yang harus digunakan secara tenang
dengan hati terbuka!
Sesudah tiga hari Yusuf
dan Maria mencari danmenemukan kembali
Yesus, anak berumur 12 tahun itu mereka berkata: “Nak, mengapa Engkau berbuat
demikian terhadap kami? Lihatlah, Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau”?
Jawaban Yesus: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di
dalam rumah Bapa-Ku?”.
Kiranya bisa diterjemahkan demikian: “Aku harus memusatkan pikiran-Ku kepada
kehendak Bapa”. Artinya, Yesus menunjuk kepada Allah sebagai Bapa-Nya.
Maka ketaatan kepada Bapa-Nya di surga harus diberi tempat pertama, harus
didahulukan!
Selanjutnya sesudah peristiwa itu, Lukas hanya
memberikan berita pendek: “Yesus pulang bersama bersama-sama mereka ke
Nasaret, dan Ia belajar tetap hidup dalam asuhan mereka”. “Yesus makin
bertambah besar dan bertambah pula hikmat-Nya; Ia makin besar dan makin
dikasihi oleh Allah dan manusia”. Sesudah itu dalam Injil tidak
diberitakan lagi tentang Yesus, semuanya seolah-olah didiamkan saja. Meskipun
demi-kian kita dapat belajar banyak dari berita yang pendek itu.
Dalam keluarga Yesus dibimbing Yusuf dan disebut “anak
tukang kayu” (Mat 13:55), tak terkenal, seperti orang biasa di antara
orang-orang tetangga-Nya. Paus Paulus VI berkata, bahwa Nasaret
adalah suatu sekolah, di mana kita dapat belajar mengenal bagaimana hidup
Kristus, dan dengan demikian memahami makna Injil yang diwar-takan-Nya.
Pertama: kita belajar ketenangan. Kita sekarang hidup di tengah ke-
ramaian, kesibukan, ketegangan. Ketenangan
Nasaret mengajar kita untuk bersikap tenang, kedalaman batin, mendengarkan
suara Allah, merenungkan dan menangkap kehendak-Nya, dan berdoa penuh
kepercayaan, yang hanya diketahui oleh Allah sendiri.
Kedua: kita belajar mengenal keluarga Nasaret,
rumah seorang tukang kayu, tentang pekerjaan dan semangat kerja Yusuf. Kita
belajar bahwa setiap karya/pekerjaan
memiliki nilai atau martabatnya sendiri. Semua karya dibutuhkan orang. Bukan kehebatan karyanya, melainkan
semangat dalam melaksanakannya, - itulah yang penting. Misalnya, nilai
karya yang kita lakukan bukan dihargai Tuhan menurut sistim ekonomi atau ilmu
teknik mana yang kita ikuti, melainkan nilai
niat, kehendak dan semangat kerja kita yang sesuai dengan kehendak Tuhan, -
itulah yang sungguh berharga.
Ketiga:
Kita diajak mrenungkan kembali makna dan nilai perkawinan dan keluarga yang
sebenarnya. Situasi dan
kondisi masyarakat kita dewasa ini, dengan segala macam iklan, kegiatan,
gerakan yang memperkenalkan gambaran tentang perkawinan yang sangat menarik:
pakaian nikah gaya baru, kartu undangan yang indah, resepsi tinggi tinggi,
rumah tempat kediaman yang elok. Namun, - jangan
pernah lupa persiapan mental, persiapan batin yang tak boleh terlupakan. – Kesederhanaan Yusuf dan Maria, sebelum dan
sesudah hidup sebagai keluarga, ketulusan hati, rasa saling menghargai dan
mengasihi, kesediaan saling memehami dan menolong, dan tanggungjawab total
terhadap anak mereka, - semua itu harus kita terjemahkan nilai-nilai yang luhur
ke dalam segenap keluarga kristiani di zaman kita sekarang ini. Seperti
keluarga Yusuf, Maria dan Yesus di Nasaret dahulu merupakan sumber Injil bagi
masyarakat pada waktu itu, demikian pula semoga keluarga-keluarga kristiani di
zaman kita sekarang ini juga merupakan sumber pewartaan Injil tentang keluarga
sejati yang bahagia.
Pesta Keluarga Kudus: 1Sam 1:20-22.24-28; 1Yoh 3: 1-2.21-24; Luk 2:41-52
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin
dikasihi oleh Allah dan manusia"
"Saya berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat
maupun sakit sampai mati', demikian kurang lebih janji calon suami-isteri ketika
saling menerimakan Sakramen Perkawinan, mengawali hidup baru, hidup berkeluarga
sebagai suami isteri' Mereka juga berjanji untuk mendidik anak-anak yang akan
dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka secara katolik/kristiani. Pada saat yang
berbahagia macam itu pada umumnya masing-masing, baik mempelai laki-laki maupun
perempuan, saling menghayati pasangan hidupnya sebagai anugerah Tuhan, kado dari
Tuhan. Jika mereka, suami-isteri baru, ini setia menghayati janji tersebut maka
keluarga mereka pasti akan berbahagia, damai sejahtera dan anak-anak yang
dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka akan meneladan Yesus, "makin bertambah
besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya, dan makin dikasihi oleh Allah dan
manusia". Maka pada pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria dan Yusuf, hari ini saya
mengajak para bapak-ibu atau suami-isteri untuk mawas diri: sejauh mana setia
pada janji perkawinan sampai kini? Salah satu tanda bahwa suami-isteri atau
bapak-ibu setia pada janji perkawinan adalah `buah'nya, yaitu anak-anak yang
dianugerahkan Tuhan tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa yang cerdas beriman
atau cerdas spiritual.
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin
dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk 2: 52)
Keluarga merupakan dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun
beriman/ menggereja; keluarga bahagia maka masyarakat juga bahagia dst..
Pengalaman dan pencermatan kami: para tokoh masyarakat maupun beragama yang
sungguh hidup dan bertindak melayani demi kepentingan atau kesejahteraan umum
pada umumnya berasal dari keluarga-keluarga yang baik, bahagia, dikasihi oleh
Allah maupun sesamanya. Hidup berkeluarga sangat ditentukan oleh cara hidup
suami-isteri: apakah baik suami maupun isteri makin dikasihi oleh Allah dan
sesamanya? Orang dikasihi oleh Allah dan sesamanya karena ia juga senantiasa
mengasihi Allah dan sesamanya.
Hidup dan segala sesuatu yang menyertainya berarti yang kita miliki, nikmati dan
kuasai sampai kini adalah anugerah Allah atau kasih Allah, yang kita terima
melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita. Masing-masing dari kita
telah menerima kasih begitu melimpah ruah sehingga dapat hidup, tumbuh dan
berkembang sebagaimana adanya saat ini, maka tanggapan kita tidak lain adalah
berterimakasih dan bersyukur. Terima kasih dan syukur ini hendaknya tidak
berhenti di bibir atau dalam wacana saja, tetapi pertama-tama dan terutama harus
menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku, yaitu hidup saling mengasihi dengan
segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tubuh. Di
dalam kasih juga tersirat secara inklusif keutamaan-keutamaan seperti "sabar,
murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak
melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak
pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena
ketidakadilan tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala
sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (lih 1Kor
3:4-7)
"Makin dikasihi oleh manusia" hendaknya menjadi pedoman atau acuan hidup
berkeluarga, jangan hanya dikagumi atau dipuji saja. "Dikasihi" berarti siap
sedia dan rela untuk didatangi, dinasihati, ditegor, dipuji, diberi, di…dst..;
dengan kata lain orang yang siap sedia dan rela untuk dikasihi senantiasa rendah
hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan diri,
yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih
dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan diri" (Prof Dr
Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –
Jakarta 1997, hal 24). Ingat dan renungkan bahwa kita baru saja mengenangkan
Pesta Natal, kenangan akan kelahiran Penyelamat Dunia, "Yesus, yang walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik
yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan
sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8) Kerendahan hati dibutuhkan bagi siapapun
yang mendambakan agar dirinya semakin berhikmat dan dengan demikian semakin
dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Marilah kita renungkan sapaan Yohanes
dalam suratnya di bawah ini.
"Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita
mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita
minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala
perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya
itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita
saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita"
(1Yoh 3:21-23)
"Saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita"
inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Perintah Kristus dalam hal
kasih antara lain "mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal
budi dan segenap tubuh", sehingga menjadi sehati, sejiwa, seakal budi dan
setubuh (bersetubuh). Perintah kasih ini rasanya dengan mudah dapat diindrai
atau dilihat dalam diri suami-isteri yang saling mengasihi, yang antara lain
secara konkret ada langkah bersetubuh atau hubungan seks (persetubuhan).
Hubungan seks atau persetubuhan merupakan perwujudan saling mengasihi dan ada
kemungkinan menghasilkan buah, yaitu `janin'/anak, sebagai buah kasih atau yang
terkasih. Dalam relasi antara suami-isteri yang saling mengasihi kiranya ada
keberanian percaya untuk saling mendekati yang terkasih/pasangannya, karena
pasangannya merupakan anugerah Allah.
Perintah untuk saling mengasihi terarah kepada kita semua sebagai orang beriman.
Kasih mungkin mudah dikatakan namun sering sulit dilaksanakan, mengingat dan
memperhatikan masih maraknya aneka pertentangan, permusuhan, tawuran, saling
membenci, dst.. Yang sering menjadi penyebab adalah aneka perbedaan yang ada,
entah beda selera, agama, pendapat, pengalaman, suku, dst.. Pesta Keluarga Kudus
hari ini mengingatkan saya untuk mengajak anda sekalian perihal perbedaan yang
sering menimbulkan masalah tersebut. Ingat bahwa laki-laki dan perempuan berbeda
satu sama lain tetapi saling tertarik, memikat, mendekat dan tergerak untuk
bersahabat dan bersatu. Dengan kata lain apa yang berbeda menjadi daya tarik,
daya pikat dan daya pesona untuk lebih mengenal, mendekat dan bersahabat, itulah
misteri ilahi, karya agung Allah. Maka dengan ini kami mengajak kita semua:
marilah kita sikapi dan hayati apa yang berbeda di antara kita sebagai daya
tarik, daya pikat dan daya pesona untuk saling mengenal dan bersahabat.
Hendaknya perbedaan yang ada tidak menjadi motivasi atau dorongan untuk saling
menuduh, merendahkan atau melecehkan. Perihal perbedaan kiranya baik saya angkat
kembali di sini: dalam ilmu phisika/listrik unsur minus (-) dan plus (+) bertemu
menjadi sinar terang yang fungsional dan membahagiakan, sebaliknya plus bertemu
plus atau minus bertemu minus terjadilah musibah atau kebakaran yang
mencelakakan. Kebenaran ilmiah ini hendaknya menjadi inspirasi juga dalam hal
saling mengasihi antar kita yang berbeda satu sama lain ini.
"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur
karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai
kepada Allah yang hidup. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang
terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di
dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!" (Mzm 84:2-3.5-6)
Jakarta, 27 Desember 2009
"AKU MEMBERITAKAN KEPADAMU KESUKAAN BESAR UNTUK SELURUH BANGSA"
Pada suatu hari, Sabtu pagi, saya berkunjung ke Panti Asuhan Mekarlestari, Bumi
Serpong Damai. Begitu membuka pintu gerbang halaman seorang pembantu langsung
menyambut :"Selamat pagi Romo". "Selamat pagi", tanggapan saya. Di teras ada
seorang gadis sedang menggendong anak kecil sambil membelai dan menciuminya, dan
mungkin mendengar sapaan pembantu terhadap saya, sang gadis itupun juga langsung
memberi salam:"Selamat pagi Romo". "Selamat pagi", tanggapan saya. "Romo ini
anak saya, berumur kurang lebih satu setengah tahun. Ini anak saya karena
pergaulan bebas dengan pacar saya, dan pacar saya tersebut telah pergi entah
kemana. Bulan depan anak saya akan saya bawa ke Madiun, ke kakek-neneknya untuk
dirawat. Terima kasih ya Romo". "Sama-sama", jawaban saya singkat. Saya sungguh
terharu dan kagum akan pengakuan gadis tersebut, entah karena saya pastor atau…,
ia dengan tulus dan gembira menceriterakan pengalamannya atas kelahiran anaknya
di luar nikah. Entah berapa ribu atau juta gadis yang hamil di luar nikah karena
pergaulan seks bebas lalu menggugurkan kandungannya, kiranya tidak ada data yang
akurat, sedangkan gadis yang dengan rela dan perngorbanan terus mengandung dan
melahirkan anaknya rasanya hanya sebagian kecil saja. Ia nampak damai dan
bahagia dan tidak lagi nampak kemurungan atau kesedihan atas peristiwa yang
telah dialaminya. Seorang anak yang dianugerahkan kepadanya, dengan cara yang
mungkin kurang/tidak terpuji oleh masyarakat pada umumnya, diterimanya dengan
damai dan gembira. Kiranya sang gadis tersebut sungguh telah bertobat dan
menyesali serta berkehendak untuk menempuh hidup baru yang damai sejahtera, yang
berkenan kepadaNya.
Kelahiran seorang anak, karena alasan apapun anak tersebut `ada' dan
dilahirkan, hemat saya memang harus disambut dengan damai sejahtera dan bahagia,
sebagaimana disabdakan oleh Yesus: "Seorang perempuan berdukacita pada saat ia
melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan
penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke
dunia" (Yoh 16:21).
(1) "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar
untuk seluruh bangsa" (Luk 2:10-11)
Di tengah malam gelap gulita di padang rumput beratapkan langit, tiba-tiba ada
suara gemuruh, kiranya banyak orang menjadi ketakutan. Demikianlah kiranya yang
dialami oleh "gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak
mereka pada waktu malam.Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat
mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan"
(Luk 2:8-9). Para gembala adalah orang-orang yang tersingkir atau terpinggirkan
dalam percaturan hidup di masyarakat; masyarakat tidak peduli terhadap mereka,
tidak atau kurang ada perhatian dari masyarakat terhadap para gembala. Maka
mereka tidak memiliki harapan pada para anggota masyarakat, dan dengan demikian
percaya pada Penyelenggaraan Ilahi. Merekalah, para gembala yang pertama-tama
menerima Warta Gembira, bahwa Juruselamat/Penyelamat Dunia telah lahir di dunia.
"Jangan takut", begitulah sapaan pertama malaikat kepada para gembala yang
`sangat ketakutan'. Baiklah sapaan malaikat kepada para gembala ini kita
renungkan dan refleksikan. Dalam hidup sehari-hari mungkin kita tiba-tiba
menerima ajakan, sapaan atau sentuhan yang tak terduga dari orang lain atau
`suara' yang menggema dalam hati kita. Hendaknya ajakan, sapaan atau sentuhan
tersebut kita sambut dan tanggapi dengan hati, jiwa, akal budi dan tubuh yang
terbuka, karena hal itu merupakan pewujudan kasih dari orang lain yang
memperhatikan dan mengasihi kita, yang berkehendak baik untuk membahagiakan dan
mensejahterakan kita. Jika kita `takut' alias menutup diri, maka kita akan
semakin sepi, menyendiri serta semakin tiada arti. Sebaliknya jika kita tidak
takut maka kita semakin hidup, bergairah dan bergembira, dan dengan demikian
juga tergerak untuk menanggapi secara positif ajakan, sapaan dan sentuhan
tersebut, sebagaimana para gembala bergairah dan ramai-ramai gembira ria
melangkah bersama sambil berkata: "Marilah kita pergi ke Bertlehem untuk melihat
apa yang terjadi di sana, seperti diberitahukan Tuhan kepada kita".
(2) "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana,
seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."(Luk 2:15)
"Betlehem" adalah tempat kelahiran Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi Manusia
seperti kita kecuali dalam hal dosa, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia" (Fil 2:6-7). Dalam diri para gembala, yang
miskin, polos dan sederhana, kiranya dapat diindrai atau dilihat kesejatian
manusia; dalam dirinya tiada sandiwara atau kepalsuan sebagaimana terjadi pada
kebanyakan orang kaya/berada yang memoles/merias diri sehingga kurang terlihat
keaslian atau kesejatiannya. Orang-orang macam itulah yang akhirnya pertama kali
menyaksikan dan menerima Sang Penyelamat Dunia, Pembawa Damai Sejahtera di
Betlehem.
"Betlehem" kita masing-masing adalah tempat kita dilahirkan dan dibesarkan,
yaitu keluarga kita serta desa/kota/daerah kita. Marilah meneladan para gembala
`pergi ke keluarga/desa/kota/daerah kita masing-masing untuk melihat apa yang
terjadi, seperti diberitahukan Tuhan kepada kita' bahwa Damai Sejahtera ada di
dalam keluarga/desa/kota atau daerah kita. Dengan kata lain marilah kita
wujudkan damai sejatera di dalam keluarga/desa/kota atau daerah tempat kita
dilahirkan dan dibesarkan. Untuk itu kita masing-masing harus berani
mengosongkan diri dan menjadi sama dengan sesama manusia: ingat bahwa kita
sama-sama manusia, sama-sama beriman, sama-sama mendambakan damai sejatera di
bumi ini, di dalam hidup kita sehari-hari, dalam keluarga, masyarakat maupun
tempat kerja. Solidaritas dan empati kepada sesama dan saudara itulah yang harus
kita hayati dan sebarluaskan agar damai sejahtera menjadi nyata atau terwujud
dalam kebersamaan hidup dan kerja kita.
Solider dan empati antara lain berarti mendatangi, sebagaimana Allah mendatangi
kita dengan menjadi Manusia sama seperti kita atau para gembala yang bergairah
dan gembira melangkah untuk mendatangi tempat kelahiran Penyelamat Dunia.
Mengawali pemenuhan janji untuk menyelamatkan dunia atau mengawali karyaNya,
Allah memulai dengan solider dan empati terhadap manusia. Kiranya cara inilah,
mendatangi dengan solider dan empati, merupakan cara utama dalam bersaudara,
berkarya atau berpastoral, bukan menunggu atau `disowani'. Maka secara konkret
kami berharap agar kita memiliki cara bertindak `mendatangi dengan solider dan
empati' ini, lebih-lebih solider dan empati terhadap mereka yang miskin dan
berkekurangan seperti pada gembala. `Turba', turun kebawah itulah cara kerja
atau berpastoral yang dijiwai oleh Inkarnasi, Emmanuel, Allah beserta kita.
Dengan ini kami juga berharap dan mendesak mereka yang kaya atau berada (kaya
akan harta/uang, ilmu/kepandaian/ kecerdasan, pengalaman dst..) untuk membagikan
kekayaannya kepada mereka yang miskin dan berkekurangan dengan mendatangi
mereka, bukan menunggu atau memanggil mereka untuk `sowan'/ menghadap anda. Maka
baiklah kita renungkan atau refleksikan lebih lanjut kutipan surat Paulus kepada
Titus di bawah ini.
(3) "Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan
duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia
sekarang ini" (Tit 2:12)
Penyelamat Dunia, Emmanuel yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya
sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia
"mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan
duniawi dan supaya kita bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang
ini". Maka baiklah dalam mengenangkan Kelahiran Penyelamat Dunia atau merayakan
Natal kita tinggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan bertindak
bijaksana, adil serta beribadah kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari di dunia
sekarang ini.
• Meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Kefasikan atau
kejahatan dan keinginan-keinginan duniawi telah meracuni hidup bersama,
perdamaian dan persahabatan, baik di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat
kerja. Sang Peyelamat Dunia hadir/lahir di tengah-tengah kita dalam
kesederhanaan atau bahkan kemiskinan, sehingga orang-orang yang bermental
duniawi atau materialistis, seperti orang-orang Betlehem, tidak mampu memahami
dan menerima kelahiranNya. Ia lahir di kandang domba-domba di tengah malam
gelap gulita dan kedinginan, tiada saudara yang menemaniNya, kecuali Yusup dan
Maria, yang suci hatinya penuh dengan Roh Kudus. Maka baiklah dalam rangka
mengenangkan atau merayakan kelahiran Penyelamat Dunia hari ini, kita tinggalkan
aneka kefasikan/kejahatan dan keinginan-keinginan duniawi, dengan hidup
sederhana serta memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di sekitar
kita. Hendaknya perayaan-perayaan Natal juga diselenggarakan secara sederhana,
tidak berfoya-foya, mabuk-mabukan dst… Ingatlah bahwa masih banyak orang miskin
dan berkekurangan di sekitar kita serta membutuhkan uluran kasih dan bantuan
dari sesamanya.
Kepada rekan-rekan yang merayakan Natal, marilah kita rayakan dengan sederhana,
antara lain dalam hal kebutuhan konsumsi/makan dan minum untuk keperluan pesta
kita libatkan para pedagang kaki lima atau penjaja makanan sederhana (soto,
bakmi, sate, es puter dst..), bukan pengusaha makanan atau catering yang sudah
kaya. Biarlah kita berpartisipasi dalam peristiwa kelahiranNya, dimana
orang-orang miskin dan sederhana, para gembala, yang pertama-tama menerima dan
menikmati kegembiraan itu. Hendaknya juga diperhatikan para pembantu rumah
tangga kita atau pekerja/buruh untuk diajak berpesta bersama kita
• Bertindak bijaksana, adil dan beribadah. Bertindak adil berarti menghormati
dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia atau hak azasi manusia. Jika
harkat martabat manusia atau hak azasi manusia dihormati dan dijunjung tinggi,
kiranya dengan mudah kita bertindak bijaksana dan beribadah kepada Tuhan. Maka
marilah kita berantas aneka macam bentuk kekerasan, pelecehan terhadap sesama
manusia, seperti pengguguran kandungan, kekerasan atau kekejaman suami terhadap
isteri atau orangtua terhadap anak-anaknya, pelecehan terhadap perempuan dengan
mengekspos atau mengeksploitasi tubuh perempuan entah untuk iklan atau
kenikmatan seksual dst… Bertindak adil kiranya juga harus menjadi nyata dalam
memberi perhatian mereka yang kecil, miskin dan kurang beruntung, dan bagi kita
mereka itu antara lain anak-anak kita maupun para peserta didik.
(4) Memberitakan kesukaan kepada anak-anak dan para peserta didik maupun yang
miskin dan berkekurangan.
Berpihak pada `seluruh bangsa' atau semua orang berarti lebih memperhatikan
mayoritas. Bagi kita, para orangtua atau guru/pendidik, yang menjadi mayoritas
adalah anak-anak dan peserta didik. Maka marilah kita mawas diri sejauh mana
cara hidup dan cara bertindak kita sungguh `memberitakan kesukaan besar' bagi
anak-anak dan peserta didik. Tanda bahwa kita memberitakan kesukaan besar kepada
mereka adalah mereka semakin berprestasi atau berhasil dalam tugas belajar
mereka. Maka baiklah di bawah ini saya kutipkan "12 HUKUM TENTANG PRESTASI
(Dr.Sylvia Rimm)", sebagai berikut:
1. Anak-anak lebih cenderung berprestasi jika para orangtua mereka bekerja sama
dalam memberi pesan yang jelas dan positif yang seragam tentang bagaimana
seharusnya mereka belajar dan apa harapan-harapan orangtuanya terhadap mereka.
2. Anak-anak dapat mempelajari perilaku yang baik dan pantas dengan lebih mudah
jika mereka memiliki teladan-teladan efektif untuk ditiru
3. Pendapat yang dikatakan oleh orang-orang dewasa kepada satu sama lain tentang
seorang anak yang didengar oleh anak itu, sangat berdampak pada perilaku dan
cara anak itu memandang dirinya
4. Jika orangtua memberi reaksi berlebihan terhadap keberhasilan dan kegagalan
anak-anaknya, anak-anak itu akan cenderung mengalami tekanan batin yang kuat
karena mereka berusaha mati-matian untuk berhasil. Mereka juga akan mengalami
keputusasaan dan kekecewaan jika mengalami kegagalan
5. Anak-anak merasakan lebih banyak ketegangan sewaktu mereka mengkhawatirkan
pekerjaan daripada saat mereka melakukan pekerjaan itu.
6. Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri melalui suatu proses
7. Kekurangan dan kelebihan sering menunjukkan gejala-gejala yang sama
8. Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri dan rasa penguasaan diri internal
jika mereka diberi wewenang dalam porsi yang lambat laun semakin besar, selama
mereka menunjukkan kedewasaan dan tanggungjawab
9. Anak-anak akan menjadi pemberontak jika satu orang dewasa bergabung dengan
mereka melawan seorang orangtua atau guru, karena hal itu membuat mereka merasa
lebih berkuasa dari orang dewasa
10. Orang-orang dewasa seharusnya menghindari konfrontasi dengan anak-anak
kecuali jika mereka cukup yakin dapat menguasai akibatnya
11. Anak-anak akan berprestasi hanya jika mereka mau ikut serta dalam kompetisi
12. Biasanya anak-anak akan terus berprestasi jika mereka melihat hubungan
antara proses belajar dan hasil-hasilnya
(Dr.Sylvia Rimm: Why Bright Kids Get Poor Grades /Mengapa Anak Pintar Memperoleh
Nilai Buruk – Grasindo – Jakarta 1997)
Sebagai warga masyarakat kita dipanggil untuk memberikan kesukaan kepada semua
orang, tentu saja khususnya bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka
marilah pertama-tama kita perhatikan mereka yang lebih dekat dengan kita dan
setiap hari bersama dengan kita, misalnya para pembantu rumah tangga, para
buruh/pekerja. Ingatlah bahwa para pembantu rumah tangga maupun para pekerja/
buruh telah berjasa begitu banyak bagi kehidupan dan kerja atau usaha kita, maka
selayaknya di hari gembira Natal ini mereka kita ajak bersukaria, entah diajak
makan bersama atau diberi kenangan yang berguna bagi hidup mereka. "Orang-orang
miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu."(Mat
26:11), demikian sabda Yesus di perjamuan terakhir bersama para rasul.
Orang-orang miskin berada di sekitar kita, di kampung kita, di kota kita,
marilah mereka kita ajak bersukaria juga dengan menyisihkan sebagian kekayaan
atau harta benda/uang kita dan kemudian kita berikan kepada mereka. Biarlah
mereka yang miskin dan berkekurangan ikut serta dalam kegembiraan para gembala
di malam Natal ini.
Jakarta, Desember 2009.
Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di
antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Malam Natal: Yes 9:1-6;Tit 2:11-14; Luk 2:1-14
"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar
untuk seluruh bangsa"
Dalam rangka merayakan Natal dan Tahun Baru pada umumnya orang saling memberikan
salam, antara lain dengan mengirimkan kartu Natal, namun pada masa kini pada
umumnya tidak dengan kartu Natal lagi melainkan dengan pesan pendek (SMS) atau
via email. Ketika saya masih bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang
sering menerima kartu Natal yang sama dari seseorang bagi kami berempat (Bapak
Uskup, Vikjen, Sekretaris dan Ekonom Keuskupan). Ada satu kartu Natal yang
menarik dan mengesan yaitu kami berempat menerima kartu Natal dalam bentuk
`fotocopy". Harga satu lembar fotocopy saat itu Rp.25,-/lembar dan satu lembar
kertas kwarto berarti bisa jadi 2 eks fotocopy kartu Natal. Sementara itu harga
kartu Natal termurah di toko-toko adalah Rp.200,-. Yang mengesan bagi saya:
pengirim adalah orang miskin dan tanpa membedakan jenis kartu Natal yang
dikirimkan, semuanya sama dalam bentuk fotocopy. Semuanya menerima apa yang sama
dan apa yang diterima murah meriah harganya. Seandainya yang bersangkutan
mengirimkan kartu Natal asli kiranya tidak dapat mengirimkan sebanyak fotocopy.
Bentuk kartu Natal berbeda tetapi hemat saya nilai spiritual atau maknanya sama.
"Sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa"
(Luk 2:10)
Bayi yang lahir dari rahim Bunda Maria, yang kita kenangkan kelahiranNya, adalah
Penyelamat Dunia. Ia datang untuk menyelamatkan seluruh dunia, maka malaikat
kepada para gembala berkata "Sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan
besar untuk seluruh bangsa". Warta gembira melalui ini kiranya menjadi
inspirasi tema pesan Natal Bersama KWI dan PGI tahun 2009 ini, yang bertema
"Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang ...", maka marilah kita refleksikan atau
renungkan serta kemudian kita hayati atau laksanakan dalam hidup dan kerja kita
setiap hari.
Semua orang/manusia di bumi ini mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera,
selamat lahir dan batin, jasmani dan rohani, namun dalam kenyataan saat ini
masih cukup banyak orang tidak atau kurang bahagia, damai sejahtera dan selamat.
Jika kita membuka mata dan telinga kita terhadap lingkungan hidup di sekitar
kita, kiranya kita dapat melihat dan mendengar bahwa masih cukup banyak orang
yang menderita serta membutuhkan uluran kasih atau bantuan. Marilah kita
meneladan Sang Penyelamat Dunia, Allah yang turun ke dunia menjadi manusia sama
dengan kita kecuali dalam hal dosa, dengan `turba' (=turun ke bawah), `menunduk'
bukan menengadah. Ia telah `melepaskan ke Allah-anNya' atau kebesaranNya, maka
kita pun dipanggil untuk dengan rela dan senang hati `melepaskan' sebagian
harta/ uang, tenaga dan perhatian kita bagi saudara-saudari kita yang sedang
menderita atau sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit
tubuh. Secara khusus kami menghimbau dan mengajak mereka yang berwenang dan
berkuasa dalam hidup bersama alias para pemimpin atau petinggi untuk sungguh
mengusahakan kesejahteraan umum. Tanda keberhasilan kinerja atau pelayanan
pemimpin adalah semua anggota atau warganya hidup sejahtera, selamat dan bahagia
lahir maupun batin.
Cukup menarik bahwa yang pertama kali menerima kesukaan besar adalah
"gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu
malam". Para gembala adalah orang-orang yang kurang diperhitungkan dalam
percaturan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dengan kata lain mereka
tidak memiliki pengharapan pada mereka yang menentukan hidup bersama di dunia
ini dan pengharapan mereka terarah kepada Allah, Yang Ilahi. Setiap hari para
gembala berada dan tidur di alam terbuka, beratapkan langit luas dengan sinar
terang dari ribuan bintang. Kenyataan ini kiranya dapat menjadi permenungan atau
refleksi kita; kepada siapa pengharapan, cita-cita atau dambaan kita diarahkan?
Marilah mengarahkan pengharapan, cita-cita dan dambaan kita kepada Tuhan,
Penyelamat Dunia yang telah lahir sebagai manusia di dunia ini, karena "Ia
mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keingingan-keinginan
duniawi dan supaya kita hidup bijksana, adil dan beribadah di dalam dunia
sekarang ini" (Tit 2:12)
"Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan
duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia
sekarang ini" (Tit 2:12)
Kita akan segera meninggalkan tahun 2009 dan memasuki Tahun Baru 2010, maka
marilah kita tinggalkan juga kefasikan dan keinginan-keinginan dunia dan
menghayati hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.
Setiap hari kita hidup mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi, maka
kita diharapkan tidak bersikap mental materialistis atau duniawi alias `berbakti
kepada berhala modern' seperti harta benda/uang, kedudukan/pangkat atau
kehormatan duniawi, melainkan menghayati hal-hal duniawi sebagai sarana untuk
mengusahakan kesucian hidup, semakin beriman, semakin berbakti kepada Tuhan.
Kita semua dipanggil untuk mengusahakan kesucian dengan berpartisipasi dalam
seluk beluk duniawi.
Kesucian hidup tersebut antara lain dapat kita wujudkan dengan hidup bijaksana,
adil dan beribadah. Bijaksana dan adil rasanya bagaikan mata uang bermuka dua,
dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan; dua keutamaan ini kiranya mendesak
untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan bersama kita masa kini.
Berbagai masalah dan kasus hidup bersama yang muncul akhir-akhir ini nampak
tidak diselesaikan dengan bijaksana dan adil, misalnya kasus KPK dan POLRI, RS
Omni International dan Prita, dll.. Hemat saya cara bertindak bijaksana dan adil
ini sedini mungkin perlu dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam
keluarga dan diperkembangkan serta diperdalam di sekolah, dengan keteladanan
dari orangtua dan guru/pendidik. Jika anak-anak di dalam keluarga memperoleh
pengalaman hidup bijaksana dan adil maka kelak kemudian hari mereka akan dengan
mudah untuk bertindak bijaksana dan adil juga.
Selain bijaksana dan adil kita juga dipanggil untuk beribadah. Dalam merayakan
Natal kiranya juga ada kebiasaan misa Natal anak-anak dimana anak-anak bersembah
sujud kepada `Sang Bayi', Penyelamat Dunia, yang ada dan tertidur nyenyak di
palungan, sambil mempersembahkan sesuatu sebagai lambing persembahan diri mereka
kepada Kanak-Kanak Yesus. Kebiasaan ini hendaknya menjadi peringatan bagi kita
semua akan pentingnya ibadah kita kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari. Ibadah
itu antara lain dihayati dengan mendoakan doa-doa harian, seperti doa pagi,
malam maupun mengawali dan mengakhiri kegiatan."Bangsa yang berjalan di dalam
kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman,
atasnya terang telah bersinar" (Yes 9:1). Hidup beribadah atau berdoa kiranya
dapat menjadi terang dalam perjalanan tugas dan panggilan kita masing-masing.
Marilah kita tidak melupakan hidup doa kita masing-masing.
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap
bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang
dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara
bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku
bangsa" (Mzm 96:1-3).
"SELAMAT NATAL 2009 DAN TAHUN BARU 2010"
Jakarta, 25 Desember 2009
Malam Natal ini kita merayakan inkarnasi: Allah menjadi manusia. Nubuat Nabi Yesaya bagi “sisa kecil” dari bangsa Israel, yang dibuang ke Asiria, yaitu bahwa Almasih akan datang, menjadi suatu kenyataan. Paulus memberi nasihat kepada Titus, yang semula orang kafir dan kemudian percaya kepada Kristus, supaya bersyukur atas kebaikan Allah yang begitu besar. Dan Injil malam ini diwartakan kepada kita: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan”.
HOMILI
Dalam rangka merayakan
Hari Raya Kelahiran Yesus, Juruselamat kita, marilah kita bersama-sama
pergi ke Betlehem. Marilah kita malam ini bersujud menghormati Yesus di
palungan, terbaring di kandang hewan. Hiasan gereja Paroki kita Maria
Bunda Karmel, sebagai latar belakang penempatan gua tempat kelahiran
Yesus, memperlihatkan suatu kompleks bangunan gedung-gedung tinggi yang
indah. Kita dapat mengartikannya sebagai gagasan seni dari pencipta
gambaran yang berharga itu: yakni untuk memperlihatkan kontras antara
dua kenyataan yang ada di jaman Yesus dan juga di jaman kita sekarang
ini. Dua kontras yang luarbiasa: istana Raja Herodes
dan palungan Yesus Juruselamat di kandang hewan; gedung-gedung
bertingkat dan gubug-gubug di kampung atau tepi sungai.
Hati kita terkena, batin kita terasa tergugah lagi oleh kontras yang lebih hebat: inkarnasi. Yesus adalah Allah, tetapi menjelma menjadi manusia.
Kita tercengang dan tidak mampu memahami betapa besar kasih Allah
kepada kita! Justru setiap orang yang mengenal dirinya sebagai orang
berdosa, akan makin tidak sanggup memahami jalan yang ditempuh Allah
untuk menolong dan menyelamatkan manusia. Kesetiaan akan kasih-Nya dan
pelaksanaan solidaritas-Nya yang total terhadap manusia ciptaan-Nya, -
itulah latar belakang peristiwa penjelmaan Allah menjadi manusia di
Betlehem. Sungguh suatu kontras: Allah menjadi manusia seperti
kita, bukan karena kita memang layak, melainkan karena Ia setia akan
kasih-Nya. Ia telah menciptakan manusia supaya mengambil dalam
kebahagiaan-Nya yang abadi.
Menghadapi peristiwa di
Betlehem itu kita hanya dapat bersyukur kepada Tuhan, dan bertekad
untuk dengan rendah hati untuk membalas kasih Yesus yang tiada batasnya.
Ia telah menjadi manusia seperti kita, Ia menganggap kita sebagai
saudara-Nya, dan mengundang kita mengambil bagian di dalam
kebahagian-Nya. Ia datang mengundang kita!
Maka sambil bergembira
merayakan Hari Raya Natal, yang biasanya selalu dirayakan dengan meriah
dengan segala macam cara, kita harus bersedia pula untuk bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kita sungguh menyediakan tempat bagi Allah dalam hidup kita, di dalam hati kita? Atau
sebaliknya, pikiran dan hati kita terlalu penuh dengan urusan lain,
dengan aneka kegembiraan atau kesukaan lain, atau penuh kecemasan dan
ketakutan? Atau terlalu penuh dengan ambisi, kedudukan, kekuasaan,
kenikmatan, sehingga tiada tempat lagi bagi Tuhan, seperti dialami
Yesus di Betlehem?
Kita merayakan Natal,
dan Yesus kini pun berdiri di depan pintu hidup kita. Adakah tempat
bagi Dia di dalam hati kita. Semoga kita semua bersedia turun dari
bangunan-bangunan megah hidup kita, seperti ibaratnya terlukis di
hiasan latar belakang gua di Betlehem, seperti kita lihat itu, dan
turun terjun menjumpai Yesus yang hadir di dalam hati orang-orang yang sederhana. Tidak perlu kita pergi ke Betlehem di Palestina untuk bertemu dengan Kanak-Kanak Yesus. Betlehem ada di mana-mana,
juga di daerah kita, di kota Metropolitan yang megah ini, terutama di
kalangan saudara-saudari kita yang tempat kediaman dan keperluan
hidupnya yang wajar pun belum terpenuhi.
Tetapi kita baru akan
mau, siap dan rela mengunjungi Yesus di Betlehem-Betlehem itu, apabila
kita sendiri bersedia membuka pintu kita untuk memberi tempat bagi Yesus di dalam hati kita. Mari kita merayakan Hari Raya Natal ini dengan sukacita sejati dalam hati. Semoga perayaan Natal ini sungguh memperkaya hidup kita. Hati kita akan mengalami damai sejahtera yang sebenarnya. Selamat Hari Raya Kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat kita. A m i n .
Jakarta, 23 Desember 2009
________
Lih. Harian Kompas, Kamis, 24 Desember 2009, kol. 1ss: Renungan Natal, “Bukan Buaya atau Cicak” (Mgr. I. Suharyo).
"Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya"
(2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79)
"Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:
"Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan
baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan
Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh
mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita
dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya
kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu
sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia
mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah
kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur
hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi;
karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,
untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan
pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita,
dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk
menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk
mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."(Luk 1:67-79), demikian
kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini, saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
• Setelah Yohanes lahir, maka sembuhlah Zakharia dari kebisuannya dan begitu
dapat berbicara kembali iapun melambungkan pujian kepada Tuhan. Isi pujian
tersebut antara lain "Allah melawati umatNya dan membawa kelepasan baginya…Ia
melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci
kita". Kegembiraan yang dialami oleh Zakharia ini merupakan tanda-tanda akan
segera terpenuhinya janji Allah untuk menyelamatkan dunia dengan kelahiran
Yesus, Penyelamat Dunia. Kiranya sebagian besar dari kita juga baru saja mengaku
dosa, menerima kasih pengampunan atau kelepasan atas dosa-dosa kita, maka
selayaknya kita juga bersyukur seperti Zakharia atas rahmatNya. Baiklah setelah
menerima kasih pengampunan atas dosa-dosa kita, kemudian kita hidup baru dan
diharapkan juga dapat menjadi `sinar bagi mereka yang diam dalam kegelapan dan
dalam naungan maut', menjadi penuntun dan petunjuk jalan bagi orang lain menuju
damai sejahera. Nanti malam kita bersama-sama merayakan Sang Pembawa Damai
Sejahtera sejati, Yesus, Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam
hal dosa. Dengan merayakan Natal atau kelahiran Penyelamat Dunia ini dari kita
diharapkan tidak saling membenci melainkan senantiasa berdamai dengan siapapun
dan apapun dalam hidup kita sehari-hari. Hidup berdamai merupakan wahana bagi
siapapun untuk menuju kepada Allah alias bersembah-sujud kepada Allah. Marilah
kita ampuni juga mereka yang telah membenci atau menyakiti kita.
• "Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah
melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama
orang-orang besar yang ada di bumi" (2Sam 7:9), demikian firman Tuhan kepada
bangsa terpilih. Kita semua juga yang terpilih, maka marilah kita kenangkan
penyertaan atau pendampingan Tuhan dalam perjalanan hidup kita sampai kini,
sehingga kita dapat hidup seperti saat ini. Penyertaan atau pendampingan Tuhan
secara konkret kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik dan mengsihi
kita, antara lain orangtua, kakak-adik, teman, guru/pendidik, pembimbing, dst..,
maka baiklah kita bersyukur dan berterima kasih kepada mereka. Syukur dan terima
kasih tersebut kiranya dapat kita wujudkan dengan berdamai dengan mereka serta
menghaturkan sesuatu sebagai hadiah atau kado Natal. Ingat dan hayatilah bahwa
kita dapat menjadi `besar' seperti saat ini karena penyertaan dan pendampingan
mereka, yang telah mengasihi, mendidik dan membimbing kita dengan penuh
pengorbanan dan perjuangan tanpa kenal lelah. Kita telah menerima `kasih' dari
mereka secara melimpah ruah, maka selayaknya kita sungguh berterima kasih kepada
mereka. Marilah kita saling berterima kasih dan memberi kenangan atau hadiah
Natal, atau mungkin saling melawati, entah secara langsung atau tidak langsung.
Secara langsung berarti kita tatap muka dan bercakap-cakap, sedangkan tidak
langsung mungkin dengan sarana komunikasi masa kini seperti SMS via HP atau
kirim surat via email. Hari ini baiklah kita memboroskan waktu dan tenaga untuk
mengenangkan mereka yang telah berbuat baik dan mengasihi kita.
"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan
kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk
selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah
Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud,
hamba-Ku:Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun
takhtamu turun-temurun" (Mzm 89:2-5).
Jakarta, 24 Desember 2009.
Natal adalah sebuah pperisitwa yang sangat mengembirakan karena natal adalah peristiwa besar akan kelahiran pribadi istimewa yang bernama Yesus dan dalam diri pribadi ini "misteri" keselamatan Allah dimulai dan digenapi.
Natal adalah suatu peristiwa yang "langka" dan hanya bisa dialami dalam satu sejaran keselamatan yang terjadi 2000 tahun yang lalu yaitu Allah menjadi manusia yang sama dengan kita yang adalah ciptaanNya.
Maka natal diperingati sangat meriah bukan hanya di rumah-rumah, di gereja-gereja tetapi di Mal-mal dan Plaza yang tersebar di seantero jagad ini.
Orang menjadi sangat sibuk dengan apa yang di sebut perayaan natal ini.
Ini adalah baik dan sangat baik tetapi apakah natal yang demikian gemerlap ini telah menyentuh "eksistensi" dari natal itu sendiri????
Kita sebagai pengikut Yesus yang adalah pribadi yang diperingati dalam natal ini seharusnya "paham" akan perayaan natal ini.
Natal adalah sebuah perayaan "kesederhanan" dan perayaan "solidaritas" dan bukan perayaan pesta yang hinggar bingar.
Bahkan dalam natal sendiri 'disimbulkan' dengan kelahiran bayi kecil di "kandang domba" yang adalah tempat yang dipandang tidak layak untuk sebuah peristiwa kelahiran.
Ironis bukan, natal yang adalah pesta kesederhaan dan solidaritas dirayakan dengan "pesta" besar-besaran dengan banyak pernik yang menelan banyak biaya dan bahkan menjadi pesta "jalanan" di mall dan di plaza-plaza.
Ini memang baik dan tidak salah,
Hanya jika "tradisi" ini terus dipelihara tanpa ada pemaknaan yang dalam maka lambat laun natal akan kehilangan "eksistesi" dan maknanya.
Maka kita yang adalah pengikut Yesus harus mengubah pola pandang ini yaitu dengan mulai menjadikan natal adalah pesta yang penuh kesedrhanan dan pesta solidaitas yaitu dengan membangun jembatan untuk semakin dekat dengan sesama yang mengalami bayak kesulitan dalam hidup ini, terutama mereka yang mengalami ketidakadilah dan penindasan akibat ketidakadilan itu.
latar belakang natal adalah "keprihatinan" Allah akan manusia yang hidup dalam "kemerosotan"moral yang tidak lagi berpihak kepada Allah dan adanya ketidakadilan dalam kehidupan ini.
Maka karena keadaan ini Allah datang dalam sosok bayi kecil, ringkih, dan lahir di kandang domba.
Perisitwa ini perisitwa yang jauh dengan hingar bingar kemewaan kehidupan.
Ia yang adalah Allah mengambil peran paling "bawah" dalam tataran kehidupan yaitu sebagai bayi miskin yang dibedong dengan kain lampin yang mungkin adalah kain bau yang ada di kandang itu yang sudah tidak dipakai dan andaikan dipakai hanya sebagai lap atau pembersih alat-alat di kandang itu.
Ia bukan bayi yang elok dan tampan yang adalah kebanggaan kehidupan ini, Mungkin jika bayi itu digambarkan dengan bayi saat ini, Ia adalah bayi kecil, ringkin dan sakit-sakitan tetapi bayi itu memiliki kekuatan dan semangat hidup yang tinggi hingga IA bisa tumbuh seperti bayi lainnya yang memiliki tempat lahir lebih layak dibandingkan Dia.
Ia mungkin sama dengan bayi seorang tukang pemulung sampah, atau bayi gelandangan yang adalah tidak dipandang dalam kehidupan ini, kecuali oleh orang sekitarnya yang memiliki kepekaan padanya.
Siapa yang memiliki kepekaan pertama akan bayi Yesus????
Ia adalah gembala yang juga tidak memiliki peran sentral dalam kancah kehidupan dibanding kana raja dan penguasa ataupun para pejabat keagamaan.
Jadi sekali lagi, natal adalah pesta kesederhaan, pesta solidaritas, pesta keterasingan dan pesta kemiskinan.
Jika kita mengingat pesta natal yang demikian ini maka yang pertama dapat dilakukan adalah sikap "mawas" diri akan kehadiran diri kita dalam kehidupan ini. Yaitu kehadiran seperti Dia dan berguna seperti Dia bagi kehidupan.
Kita harus memulai dengan permenungan akan apa peran diri dalam kehidupan ini setelah mengalami pesta kelahiran diri dan disamakan dengan pesta kelahiran bayi Yesus.
Jika Yesus yang dilahirkan dalam keadaan serba "minim" NAMUN bisa berbuat banyak bagi kehidupan apalagi kita yang dilahirkan dalam "kelimpahan" tentu bisa melakukan banyak hal dalam kehidupan ini yang sebenarnya juga sama-sama mengalami ketimpangan dan ketidakadilan seperti apa yang terjadi pada masa Yesusdilahirkan.
Jika kesadaran ini ada, maka natal sungguh akan memiliki makna seperti apa yang sebenarnya menjadi maksud dan tujuan kehaderan Yesus di dunia ini.
Semoga kita bisa seperti apa yang diharapkan Yesus, yaitu mengalami natal seperti apa yang dialamiNya dan boleh melanjutkan hidup seperti apa yang dilakukanNya, yaitu menjadikan dunia lebih baik dengan saling mendukung, memahami, mencintai dan memberi makna isteimewa pada kehidupan ini.
Visi dan misi natal adalah menjadikan dunia lebih baik dengan kelahiran Tuhan dan visi misi itu sekarang diwariskan pada kita sebagai pengikutNya.
SELAMAT NATAL.
Semoga dengan natal ini kita bisa mengubah cara pandang dan kita boleh menghayati natal sebagai pesta kesederhaan , solidaritan, keterasingan dan kemiskinan sehingga kita bisa menjadi bagian hidup orang lain terutama hidup mereka yang mengalami keterbalangan dan ketidakberdayaan dalam hidup.
Tuhan beserta dengan kita, dan memperteguh perjaungan kita dengan semangat natal yang benar.
Salam dalam cinta membangun dunia baru dengan semangat natal. petrusp.
"Menjadi apakah anak ini nanti?"
(Mal 3:1-4; 4:5-6; Luk 1:57-66)
"Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan
seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya
mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya,
bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari
yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia
menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes."
Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama
demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa
yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu
menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran
semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya,
lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang
tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh
pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan
berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia."
(Luk 1:57-66), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Menurut tradisi atau adat istiadat anak yang lahir dari Elisabet, laki-laki,
harus diberi nama Zakharia, nama ayahnya, tetapi ternyata ia harus dinamai
Yohanes, sebagaimana diberitahukan oleh malaikat. Dengan kata lain pemberian
nama Yohanes berarti keluar dari atau melanggar tradisi atau adat istiadat.
Maka muncullah pertanyaan dari saudara-saudari dan sahabat-sahabat mereka
:"Menjadi apakah anak ini nanti?". Yohanes akan menjadi `bentara Penyelamat
Dunia', yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia. Nama
memang mengandung makna dan maksud serta cita-cita, maka baiklah kami
mengingatkan dan mengajak para orangtua atau calon orangtua yang akan segera
dianugerahi anak untuk dengan cermat dan benar dalam memberi nama anak-anak yang
akan dilahirkan. Nama yang anda berikan kepada anak anda merupakan dambaan atau
harapan terhadap anak yang bersangkutan pada masa depannya, harapan agar anak
tumbuh berkembang sebagaimana orangtua cita-citakan. Dengan kata lain rasanya
pemberian nama satu sama lain dapat berbeda dan sekiranya harus memakai nama
marga atau suku hendaknya juga ada ada tambahan nama lain. Sebagai orangtua
kiranya kita semua berharap anak-anak yang dianugerahkan Tuhan senantiasa
`tangan Tuhan menyertainya', sehingga mereka tumbuh berkembang sebagaimana
dikehendaki oleh Tuhan, dan tentu saja kita semua berharap anak-anak dapat
menjadi `bentara' Penyelamat Dunia, dimana cara hidup dan cara bertindaknya
senantiasa menarik dan memikat banyak orang untuk semakin beriman atau
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.
• "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari
TUHAN yang besar dan dahsyat itu.Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik
kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku
datang memukul bumi sehingga musnah" (Mal 4:5-6). Yang baik kita renungkan atau
refleksikan dari kutipan ini adalah `hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya
dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya', dengan kata lain suatu ajakan untuk
para bapak dan anak-anak untuk hidup berdamai, maklum pada umummya relasi bapa
dan anak agak renggang, kurang mesra jika dibandingkan dengan relasi ibu dengan
anaknya. Para bapak diingatkan untuk juga memperhatikan anak-anaknya dengan
baik, dengan senang hati berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya.
Secara khusus dengan ini kami mengingatkan rekan-rekan lelaki, yang mungkin
telah menghamili rekan perempuan, entah itu pacar, tunangan atau kenalan, untuk
berani bertanggungjawab, tidak melarikan diri setelah menghamili. Demikian juga
kami ingatkan para bapak atau suami yang mudah berselingkuh atau menyeleweng
untuk bertobat, tidak melakukan perselingkuhan lagi, ingat akan anak-anak anda.
Berbagai bentuk perselingkuhan atau kebejatan moral laki-laki atau para bapak
menghancurkan kehidupan berkeluarga, entah keluarganya sendiri atau keluarga
orang lain, dan dengan demikian merusak hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Semoga para bapak atau rekan-rekan laki-laki tidak mudah tergoda
oleh rayuan-rayuan perempuan, dan tentu saja juga tidak menampilkan diri
sedemikian rupa sehingga memikat untuk dirayu.
"TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang
sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia
mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Segala jalan TUHAN
adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya
dan peringatan-peringatan-Nya " (Mzm 25:8-10)
Jakarta, 23 Desember 2009
"Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku,"
(1Sam 1:24-28; Luk 1:46-56)
"Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah,
Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya,
mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang
Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah
kudus.Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia
memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan
orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari
takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang
baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan
hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti
yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya
untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama
dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya" (Luk 1:46-56), demikian
kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Ketika orang menerima pujian dari sesamanya pada umumnya menjadi `besar
kepala' atau sombong, namun berbeda apa yang terjadi dalam diri Bunda Maria.
Ketika Bunda Maria menerima pujian dari Elisabet, maka ia langsung mengidungkan
pujian Magnificat, pujian dari orang yang terpilih oleh Allah. Kidung
Maginificat ini menjadi bagian dari doa Harian para klerus dan anggota Lembaga
Hidup Bakti serta doa dari mereka yang berdevosi kepada Bunda Maria, seperti
legioner/para anggota Legio Mariae. Bunda Maria adalah teladan hidup beriman,
maka kiranya selayaknya kita yang merasa beriman juga setiap hari mendaraskan
Kidung Magnificat tersebut di atas dan tentu saja menghayati isi kidung tersebut
dalam hidup sehari-hari. Ada dua pokok isi kidung di atas, yaitu: (1) dengan
rendah hati orang menghayati atau mengimani karya agung Allah dalam dirinya yang
lemah dan rapuh serta (2) kuasa Allah yang menjungkir-balikkan cara
berpikir/paradigma duniawi. Pertama-tama marilah kita imani dan hayati karya
agung Allah dalam diri kita masing-masing, bahwa kita dapat hidup, berkembang
dan tumbuh seperti saat ini tak pernah lepas dari karya atau rahmat Allah, maka
hendaknya kita senantiasa memuliakan Allah serta saling memuliakan antar kita.
Selanjutnya kami mengingatkan mereka yang congkak hati, gila kedudukan dan
jabatan untuk bertobat dan memperbaharui diri, sedangkan mereka yang `lapar'
baiklah membuka diri terhadap kemurahan hati Allah melalui sesama atau
saudara-saudari kita. Kepada kita semua marilah kita senantiasa hidup dan
bertindak dengan rendah hati.
• "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri
di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN.Untuk mendapat anak inilah aku
berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya.
Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya
kepada TUHAN."( 1Sam 1:26-28), demikian kata seorang ibu/perempuan kepada Eli.
Anak adalah anugerah Tuhan dan kemudian dipersembahkan kembali kepada Tuhan,
itulah yang terjadi. Dengan ini kami mengingatkan dan mengajak para ibu, yang
kiranya lebih banyak lebih memperhatikan dan mengasihi anak karena telah
mengandung dan melahirkannya, untuk `menyerahkan anak kepada Tuhan, seumur hidup
terserahlah ia kiranya kepada Tuhan'. Dengan kata lain sebagaimana pernah
dijanjikan ketika saling menerimakan sakramen perkawinan, yaitu `mendidik
anak-anak yang akan dianugerahkan Tuhan secara kristiani atau katolik' ,
hendaknya janji tersebut dihayati dengan benar dan baik. Didik, dampingi dan
bimbing anak-anak secara kristiani atau katolik, dan ketika suatu saat sang anak
tergerak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, antara lain tergerak
menjadi imam, bruder atau suster, hendaknya tidak ditolak, melainkan didukung
sepenuhnya. Kebahagiaan sejati orangtua hemat kami adalah ketika anak-anak yang
dianugerahkan Tuhan kepada mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa yang cerdas
beriman serta menjadi kader masyarakat alias bahagia dan sejahtera dalam hidup
dan panggilannya. Jika orangtua mendidik anak-anak dengan baik kiranya anak-anak
akan tumbuh berkembang menjadi `man or woman with/for others'. Untuk itu tentu
saja para orangtua atau bapak itu dapat menjadi teladan sebagai `man or woman
with/for others'.
"Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung,
pinggangnya berikatkan kekuatan Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan
dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh
beristirahat.
Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak
anaknya, menjadi layu.
TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan
mengangkat dari sana.
TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga "
(1Sam 2:4-7)
Jakarta, 22 Desember 2009
"Merdu suaramu dan elok wajahmu!"
(Kid 2:8-14; Luk 1:39-45)
"Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas
gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit. Kekasihku serupa kijang,
atau anak rusa. Lihatlah, ia berdiri di balik dinding kita, sambil
menengok-nengok melalui tingkap-tingkap dan melihat dari kisi-kisi. Kekasihku
mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena
lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di
ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur
terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur
semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah
batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu,
perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!"(Kid 2:8-14),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• "Perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu!", kutipan ini baik menjadi
permenungan atau refleksi kita. Beberapa dari anda yang terlibat dalam paduan
suara atau lektor/lektris kiranya pada hari-hari ini sedang memantapkan latihan
kor dalam rangka merayakan pesta Natal yang akan datang, sedangkan yang lain
atau kita semua mungkin sedang sibuk mempersiapkan pakaian baru atau penampilan
diri sebaik dan semenarik mungkin. "Merdu suaramu dan elok wajahmu", kata-kata
demikian ini kiranya kita dambakan dari saudara-saudari kita dalam perayaan
Natal yang akan datang. Kami berharap tidak hanya merdu dan elok secara phisik
saja, melainkan dan terutama secara spiritual, dalam hati, jiwa dan akal budi.
Maka marilah kita mawas diri: apakah hati, jiwa dan akal budi kita `merdu dan
elok' artinya bersih, jernih serta menarik dan mempesona. "Merdu dan elok luar
dalam, jasmani dan rohani' itulah yang menjadi dambaan atau kerinduan kita
semua. Yang luar atau jasmani mungkin dengan mudah diperbaiki, tetapi yang dalam
atau rohani, yaitu hati, jiwa dan akal budi kiranya tidak begitu mudah untuk
diperbaiki. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk saling bekerjasama
dan membantu dalam rangka mengusahakan kemerduan dan keelokan hati, jiwa dan
akal budi. Untuk itu ketika ada sesuatu yang kurang/tidak merdu dan elok dalam
diri kita serta diberitahu dan diperbaiki orang lain, hendaknya dengan rendah
hati kita terima. Sebaliknya hendaknya kita juga tidak takut mengingatkan dan
memperbaiki `hati, jiwa dan akal budi' saudara-saudari kita, tentu saja dengan
rendah hati, lemah lembut dan sabar.
• "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?"(Luk 1:43),
demikian pertanyaan Elisabet ketika memperoleh kunjungan Maria. Mungkin kita
dapat meneladan Maria yang mengunjungi Elisabet, dengan harapan mereka yang
memperoleh kunjungan atau kedatangan kita juga akan bertanya: "Siapakah aku ini
sampai engkau datang mengunjungi aku?", pertanyaan yang tidak lain adalah
mempertanyakan jati dirinya sendiri. Bukankah setiap dari kita ketika memperoleh
kunjungan dari saudara atau sahabat dengan tiba-tiba alias tanpa pemberitahuan
lebih dahulu pada umumnya juga akan bertanya-tanya, entah vokal atau dalam hati:
"Ada apa saya dikunjungi?". Setiap kunjungan atau perjumpaan memang pada umumnya
akan terjadi proses penyadaran dan pembaharuan diri, maka marilah kita saling
mengunjungi atau mendatangi, saling bertemu dan bercakap-cakap. Memang untuk itu
orang harus memboroskan waktu dan tenaga, tetapi ingat dan sadarilah bahwa
pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih merupakan cirikhas hidup saling
mengasihi; tanpa ada pemborosan waktu dan tenaga cintakasih akan terasa kering
dan hambar. Mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, misalnya para
pemimpin atau atasan, kami harapkan sering mengunjungi atau mendatangi anak buah
atau bawahan, sebagai tanda kasih dan perhatian, sebagai penghayatan iman kita
akan Sang Penyelamat Dunia, Allah dari sorga turun ke dunia untuk menyelamatkan
dunia seisinya. Kami berharap para pemimpin tidak duduk-duduk di kursi dalam
ruangan AC sambil menunggu orang datang ( `pisowanan'), tetapi turba, turun ke
bawah. Lihatlah realitas atau kenyataan konkret, jangan terlalu percaya kepada
laporan tertulis atau omongan lisan yang manis dan sopan saja.
"Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus
sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik
dengan sorak-sorai! Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan
perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang
kudus kita percaya." (Mzm 33:2-3.20-21)
Jakarta, 21 Desember 2009
Mg Adven IV: Mi.5:2-5c; Ibr 10:5-10; Luk 1:39-45
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu".
Seorang ibu muda ketika dirinya mengetahui hamil pertama kali kiranya merupakan
kebahagiaan tersendiri atau istimewa; ia kiranya segera memberitahukan kepada
suami tercinta maupun sanak-saudara atau sahabat dekatnya. Begitulah kiranya
yang terjadi dalam diri Maria dan Elisabet: ketika Maria diberitahu oleh
malaikat bahwa ia akan mengandung karena Roh Kudus serta Elisabet, saudarinya,
dalam usia tuanya sedang mengandung lebih dahulu, maka bergegaslah Maria untuk
mengunjungi Elisabet. Ia hendak berpartisipasi dalam kegembiraan Elisabet. "Di
situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.Dan ketika
Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan
Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring:
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya,
ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak
kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan
kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:40-45) . Saling memberi salam,
pujian dan syukur itulah yang terjadi dalam diri Maria dan Elisabet, yang
keduanya penuh dengan Roh Kudus.
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu"
Buah rahim adalah `bayi' atau anak, sebagai buah saling mengasihi antar
suami-isteri, laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan seksual. Bagi
suami-isteri atau orangtua yang baik ketika tahu bahwa sang isteri mengandung
pasti akan bersyukur dan berterima kasih serentak menghayati bahwa bayi/janin
yang ada dalam kandungan adalah anugerah atau rahmat Tuhan. Sang isteri atau
para ibu ketika tahu dirinya mengandung kiranya juga akan merasa diri yang
terberkati oleh Tuhan. Maka ketika Elisabet menerima salam dari Maria, anak yang
ada dalam kandungannya melonjak kegirangan dan Elisabet memuji Maria dengan
berkata "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah
rahimmu", karena Maria sedang mengandung Sang Penyelamat Dunia, yang dinantikan
kedatangan atau kelariranNya oleh umat manusia seluruh dunia.
Hari Raya Natal, kenangan akan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia, semakin
mendekat. Sebagaimana kita ketika sedang menantikan kelahiran seorang anak pasti
dijiwai oleh harapan, yang ditandai dengan gairah dan keceriaan dalam hidup,
demikian hendaknya di hari-hari menjelang Natal ini kita diharapkan demikian
adanya. Pada hari-hari ini kiranya dengan gairah dan ceria masing-masing dari
kita mulai mengenangkan sanak-saudara, sahabat dan kenalan untuk kemudian diberi
salam ataupun kemungkinan diajak merayakan Natal bersama. Kita dapat meneladan
Maria yang bergegas mendatangi dan memberi salam atau meneladan Elisabet yang
didatangi dan diberi salam serta kemudian memuji dan bersyukur kepada Tuhan.
"Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari
Tuhan, akan terlaksana", demikian kutipan ungkapan syukur dan pujian Elisabet.
Yang membuat bahagia adalah percaya bahwa sabda Tuhan akan terlaksana, itulah
yang baik kita renungkan atau refleksikan. Dengan kata lain untuk mempersiapkan
diri menyambut pesta Natal, marilah kita masing-masing mawas diri apakah kita
sungguh siap sedia melaksanakan sabda atau perintah Tuhan. Di hari-hari
menjelang Natal ini baiklah mereka yang mungkin sedang bermusuhan, tidak rukun
atau dalam keadaan tegang dan saling mendiamkan satu sama lain, kami ajak untuk
siap sedia berdamai Siapa yang pertama kali merasa sadar untuk berdamai
hendaknya secara proaktif segera melangkah berdamai dengan siapapun yang merasa
menjadi musuh, meneladan Maria yang mendatangi dan memberi salam. Baik yang
mendatangi atau didatangi kiranya akan menjadi bahagia. Sikap dan perilaku yang
suka mendatangi untuk memberi salam atau berdamai kiranya juga merupakan
partisipasi dalam karya Penyelamat Dunia, Ia mendatangi kita, turun dari sorga
menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa.
"Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau
kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" -- meskipun dipersembahkan
menurut hukum Taurat --.Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk
melakukan kehendak-Mu." (Ibr 10:8-9)
Yang utama dan pertama-tama harus kita lakukan adalah "datang untuk melakukan
kehendakMu/ Tuhan", bukan korban dan persembahan sebagai diatur sesuai dengan
aturan atau kebijakan. Di hari-hari ini mungkin banyak orang sibuk mempersiapkan
diri untuk merayakan pesta Natal, entah secara liturgis maupun sosial. Pada
umumnya cukup banyak orang/umat yang rela berkorban serta memberi persembahan,
sumbangan/dana guna merayakan Natal bersama, dengan harapan pesta Natal sungguh
meriah dan mengesan. Kami berharap semoga yang mengesan karena makan enak,
minum-minum atau berpesta pora, tetapi karena kita semakin dapat melakukan
kehendak Tuhan, yaitu hidup dalam damai sejahtera, bersahabat dan bersaudara
dengan semua orang. Maka baiklah kita mawas diri apakah pengorbanan saya dengan
datang dalam persiapan maupun pesta Natal merupakan perwujudan dari "Sungguh,
aku datang untuk melakukan kehendakMu"
"Datang untuk melakukan kehendak Tuhan" berarti bersikap dan berperilaku dengan
rendah hati dimanapun dan kapanpun, meneladan Dia yang datang di dunia dengan
"melepaskan" ke-Allah-an dan menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal
dosa. Dalam merayakan Natal pada umumnya di bentuk panitia khusus, panitia
perayaan Natal. Kami berharap semoga mereka yang menjadi anggota Panitia Natal
bersikap dan bertindak rendah hati, tidak sombong. Secara konkret: dalam
persiapan pesta Natal kiranya ada tugas dan pekerjaan berat dan kasar, seperti
mengatur tempat, menjaga kebersihan dst…, kami berharap mereka yang menjadi
anggota Panitia berpartisipasi sungguh dalam kerja, bukan hanya dalam
rapat-rapat atau omongan saja, kerja kasar dan berat. Sikap dan perilaku
melayani hendaknya menjadi cara hidup dan cara bertindak semua anggota Panitia
Natal.
"Datang untuk melakukan kehendak Tuhan" kiranya baik kita renungkan juga dalam
kehidupan kita masing-masing, dalam cara hidup dan cara bertindak kita
masing-masing. Marilah `back to basic' , kembali ke semangat awal ketika kita
mengawali hidup terpanggil, entah dipanggil menjadi imam, bruder, suster atau
berkeluarga menjadi suami-isteri maupun dipanggil untuk belajar atau bekerja
alias diterima sebagai siswa/mahasiswa di sekolah tertentu atau tempat kerja
tertentu. Hemat saya pada awal tersebut masing-masing dari kita pasti
bersemangat melayani alias `datang untuk melakukan kehendak Tuhan', maka marilah
kita kenangkan semangat yang indah, baik dan mulia tersebut, dan kemudian kita
hayati untuk masa kini, mungkin wujud tindakan konkret berbeda tetapi semangat
tetap sama. Marilah kita saling melayani dengan rendah hati, saling memberi
salam, saling memuji dan bersyukur, sehingga damai sejahtera bagi semua bangsa
segera menjadi nyata dalam kehidupan bersama kita.
"Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan
lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan
kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak
manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang
dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu "
(Mzm 60:15-16.18-19)
"Selamat ulang tahun ke 75 dan bahagia Bapak Julius Kardinal Damaatmadja SJ"
Jakarta, 20 Desember 2009
"Seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum"
(Yer 23:5-8; Mat 1:18-24)
"Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya,
bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka
hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan
tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya
dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan
nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau
takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya
adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan
menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa
mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak
laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah
menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang
diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai
isterinya," (Mat 1:18-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Pada hari ini ditampilkan salah satu tokoh yang berpartisipasi dalam karya
penyelamatan yaitu Yusuf, yang dikenal sebagai "seorang yang tulus hati dan
tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum". Maka mungkin baik pada hari
ini secara khusus kami mengajak rekan-rekan pria, entah sudah berkeluarga atau
belum berkeluarga, untuk mawas diri dengan bertanya pada diri sendiri: "Apakah
saya seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isteri maupun
rekan-rekan perempuan?". Tulus hati berarti memiliki hati yang bersih dan jernih
alias tidak bernoda atau berdosa; dengan jujur kiranya masing-masing dari kita
kurang tulus alias tidak putih atau tidak hitam, tetapi abu-abu. Maka karena
kita `abu-abu' alias kurang tulus atau suci, hendaknya tidak mencemarkan nama
orang lain di muka umum, yaitu menceriterakan kekurangan dan kelemahan orang
lain di antara orang banyak/di muka umum. Dalam berbagai kasus yang pernah saya
dengar ada beberapa laki-laki/suami dengan mudah menceriterakan isterinya yang
kurang melayani dengan baik kepada rekan kerjanya di kantor; jika diceriterakan
kepada rekan laki-laki pasti akan menjadi bahan rekreasi murahan, sedangkan
diceriterakan kepada rekan perempuan ada bahaya ke perselingkuhan. Marilah
meneladan Yusuf, yang "berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan",
berarti setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan atau melaksanakan
dengan setia aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan, tugas
pengutusan dan kewajiban kita masing-masing.
• "Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan
menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana
dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri" (yer 23:5). Yusuf adalah
keturunan Daud, raja termashyur dalam zamannya. Maka kesanggupan Yusuf untuk
mengambil Maria, yang sedang mengandung karena Roh.Kudus, Penyelamat Dunia,
merupakan satu langkah pemenuhan janji Allah bahwa dari keturunan Daud akan
lahir "raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran".
Penyelamat Dunia, yang kita songsong kedatanganNya, adalah pembawa keadilan dan
kebenaran bagi seluruh bangsa. Mungkin baiklah kita mawas diri: bagi yang
berkeluarga kiranya juga mendambakan bahwa keturunannya akan melakukan keadilan
dan kebenaran, maka tentu saja sebagai orangtua harus senantiasa melakukan
keadilan dan kebenaran juga. Melakukan keadilan dan kebenaran antara lain hormat
terhadap harkat martabat manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra
Allah, dan dengan demikian kita saling menghormati satu sama lain. Dengan kata
lain meneladan Yusuf yang tidak pernah mencemarkan nama baik orang lain di muka
umum, melainkan senantiasa mewartakan atau menyebarluaskan apa yang baik dalam
diri saudara-saudari kita atau sesama kita kepada orang lain. Kita juga
dipanggil untuk memberantas ketidak-adilan dan kebohongan, yang masih marak
dalam kehidupan bersama pada masa kini. Pengalaman hidup dengan adil dan benar
didalam keluarga akan menjadi modal dan kekuatan untuk berbuat adil dan benar
didalam masyarakat maupun untuk memberantas ketidak-adilan dan kebohongan. Orang
yang senantiasa berbuat adil dan benar dengan demikian juga akan bertindak
bijaksana, sehingga apa yang dilakukan senantiasa menyematkan dan membahagiakan
dirinya sendiri maupun orang lain.
"Ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang
tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang
lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin. Terpujilah
TUHAN yang melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri! Dan terpujilah kiranya
nama-Nya yang mulia selama-lamanya, dan kiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh
bumi. Amin, ya amin"
(Mzm 72:12-13.18-19)
Jakarta, 18 Desember 2009
HIDUP MEMBIARA AKTIF BERAKAR KONTEMPLASI BERJIWA NABI DAN BERKINERJA GLOBAL TRANSFORMASI Oleh Mgr. Julianus Sunarka, SJ
BERAKAR KOMTEMPLASI
Perlu dipertimbangkan bahwa "berakar dalam kontemplasi" berbeda dengan
" berakar kontemplasi ". Kata "berakar dalam", kontemplasi sendiri
merupakan unsur luar dari kehidupan pribadi yang bersangkutan.
Sedangkan "berakar kontemplasi", ya kontemplasi itu sendirilah yang
menjadi akar kehidupan rohani. Bila kontemplasi menjadi akar, baiklah
orang merenungkan peran akar dalam segala macam tumbuh-tumvuhan.
Rasanya yang dihayati oleh para mistikus aktif, ialah menempatkan
kontemplasi sebagai akar dan bukannya kontemplasi sebagai unsur di luar
manusia. Fungsi akar bgi tumbuh-tumbuhan adalah bagian vital
tumbuh-tumbuhan untuk menyerap segala unsur yang diperlukan oleh
tumbuh-tumbuhan bisa hidup.Demikian pula kontemplasi menjadi akar
kehidupan rohani, ini berarti yang mempunyai fungsi menyerap semua
unsur diluar diri manusia sehingga manusia secara rohani dapat hidup.
Bagaimana halnya bahwa kontemplasi mempunyai daya penyerapan daya
kehidupan ?
APA ITU KONTEMPLASI ?[1]
Kontemplasi berarti doa tanpa kata dan tanpa pemikiran diskursif,
dengan demikian dibeadakan dari meditasi yang (masih) menimbang-nimbang
sesuatu dan beralih dari pengertian yang satu ke yng lain. Kata dan ide
yang terus berganti, refleksi untuk menyegarkan wawasan atau mengambil
keputusan, bukanlah yang didamba dalam kontemplasi. Proses seperti ini
justru menjadi halangan. Yang diinginkan adalah hanyalah keseempatan
untuk menyatakan cinta, harapan, percaya dan syukur kepada Tuhan dalam
satu dua patah kata saja. Kata itu diualang-ulang sehinbgga lama
kelamaan makna dan manfaatnya kian meresap. Dan tibalah saatnya waktu
kerinduan yang lebih mendalam disadri oleh orang berdoa. Apa yang semua
merupaskan cinta atau syukur yang diungkapkan dalam kata-lata yang
kurang bermakna, kini semakin menjadi sikap persembahan, meski
pemberian diri seutuhnya mungkin belum berlangsung.
Pergeseran dari meditasi ke
kontemplasi biasanya dianggap sebagai langkah maju, yang dapat
diharapkan akan terjadi pada tahap terrtentu. Kontemplasi dipandang
sebagai keadaan yang dicapai secara berjuang. Hanya orang yang sering
bermeditasi dpat meraih kontemplasi, dan biasanya justru pada waktu
meditasi mulai merasa kering. Konsep berjenjang ini memainkan peranan
pennnting dalam memahami kontemplasi itu sendiri.
Kontemplasi kristiani memerlukan
meditasi kristiani. Yaitu refleksi atas cita-cita kristiani yang agung
yakni pribadi Kritus sendiri beserta kebenaranNya dan segala sesuatu
yang telah dipikirkan, dirasakan, dikehendaki, dikatakan dikerjakan
atas namaqNya dalam bimbingan Roh Kudus. Tanpa kaitan ini kontemplasi
tidak bercorak khas kristiani. Kontemplaasi pernah digambarkan sebagai
perhatian sederhana yang disertai cinta "pandangan penuh cinta" atau
mengintip ke surga dengan mata rohani. Contemplare (latin) berarti
memandang dengan saksama, melihat dan meneliti yaitu mengamati
tanda-tanda yang terjadi di `templum´ yaitu tempat ibadah tempat
mencari tahu kehendak ilahi. Terdapat tiga bentuk kontemplasi. Pada
bentuk atau tingkat pertama, orang menemukan Tuhan dalam segala
makhluknya (entah gunung atau punthukan kecil, gajah atau uget-uget,
pohon beringin atau pohon kates). Pada tingkat kedua, perhatian
terpusat pada tingkatan eksistensi/ keberadaan yang tidak mungkin
dicapai dengan pancaindera. Perhatian menjauhi bayangan, gambaran,
bahkan gagasan, sampai terjadi `Malam Pancaindera´: yaitu keringnya
hidup rohani yang mencemaskan dan mengelisahkan, tetapi mendiorong agar
orang mencari Tuhan secara lebih langsung, agar lebih dimiliki olehNya.
Pada bentuk atau tingkat yang ketiga dan paling sempurrna, orang `mati´
terhadap kehendaknya sendiri : di `Malam Roh´ini Cinta mutlak
dianugerahkan.
Di dalam kiprah klasik tentang
kehdidupan rohani, kontemplasi sendiri dipandang mempunyai tahap-tahap
yang dinamai secara berbeda dan memnucak dalam persatuan ekstatik
dengan Tuhan yang disebut juga `perkawinan spiritual´ Komentar dan
penjelasan panjang lebar : tentang kontemplasi terdapat dalam karya
penulis seperti Yohanes Casianus (360-435 Mesir) The cloud of unknowing
( abad ke 14 Inggris), Yohanes dari Salib dan Theresia dari Avila
Spanyol abad ke 16 dan Fransiskus dari Sales (1567-1622 Perancis).
Tiga bentuk kontemplasi tersebut
dapat disamakan dengan tiga tingkatan realitas, yaitu dunia kodrati
yang penuh perubahan, dunia rohani dan dunia yang melampaui atau
persatuan dengan Tuhan (Ruysbroek 1293- 1381) . Atau dengan ketiga
prisip hakikat ilahi yang diketengahkan oleh Jakob Boehme : gambaran
Yang Abdi di dunia ini adalah perwujudan dari Yang Ilahi di `di dunia
cahaya abadi´, dan ketuhanan yang paling dalam tanpa nama dan melampaui
semuanya. Atau dengan tiga surga dari Jacopone da Todi (1230-1306) yang
selaras dengan tiga fase dalam kesdaran -> kontemplaitf Richard dari
S. Victor (1123-1175) pengembangan akal budi, pengangkatan pikiran dan
akhrinya ekstase. " Kontemplasi ,mula-mula menghasilkan ketidak-acuan
terhadap apa saja (indeferentia) kebebasan dan ketenangan jiwa atau
suatu rasa diatas dunia ini, suatu rasa gembira yang mendalam. Si
subyek berhenti memahami dirinya sedniri sebagai salah satu unsur di
atara banyak unsur dan bagian dalam kesadarannya. Ia diangkat ke atas
dirinya sendiri. Jiwa yang lebih mendalam dan lebih murni mengambil
alih diri yang biasa. Dalam keadaan ini, kesadaran akan keakuan dan
kesadaran akan dunia luar menghilang. Si mistikus sadar akan
hubungannya yang langsung dengan Tuhan sendiri, akan partisipasinya
dalam ke-Ilahihan- Nya. Kontemplasi merupakan suatu metode pengetahuan
dan keberadaan. Lebih lagi, kedua hal ini akhirnya cenderung semakin
menyatu. Msitikus semakin mempunyai kesan, bahwa ia menjadi apa yang
diketauinya dan mengetahui keberadaannya. (Delacroix) Dan kontemplasi
dimaksudkan juga hidup kontemplatif[2],
yang menggunakan hidup sederhana dan tenang yang mendukung doa,
meditasi dan kontemplasi. Oleh karena itu kegiatan aktif dan keramaian
dijauhkan. Ordo dan tarekat biarawan/wati disebut kontemplatif kalau
kehiduoan bersama diatur sedemikian, sehingga mendukung hidup
kontemplatif a.l dengan bentuk klausura dan penyisihan banyak waktu
untuk doa pribadi ataupun bersama. Termasuk ordo kontemplatif antara
lain para trapis dan Kamadulens; para rubiah Klaris dan Karmelites
termasuk ordo kontemplatif wanita. Banyak Ordo berusaha menggabungkan
hidup kontemplatif dengan kegiatan mangrasul (kontemplativus in
actione), misalnya ordo Dominikan[3] .Cita-citanya seperti ini tidak mudah diamalkan.
Dari uraian di atas, sudah dapat
dibayangkan bahwa orang yang berakar kontemplasi adalah orang yang
hidupnya terrasuki kontemplasi, sehinga kontemplasi merupakan bagian
hidup dirinya, yang perannya adalah menyerap rasa, cipta, karya dan
karya Yesus sendiri. Baru dalam kondisi hidup seorang rohaniwan seperti
itu, ia dimungkinkan merasuki kejiwaan nabi : ya rasanya, pikirannya,
fantasinya, impiannya, karsanya.
BERJIWA NABI. APA ITU NABI ? [4]
Nabi (Ibrn) adalah seorang yang mewartakan pesan yang diterima dari Roh Ilahi. Maka seorang nabi disebut "mulut" Yahwe, karena mengumumkan kepada manusia apa yang dipesankan oleh Allah. Kadang pesan ilahi ditekankan dengan tambahan `demikianlah firman Allah´.
Dalam Perjanjian Lama dibedakan
tentang nabi benar dan nabi palsu yang menyesatkan rakyat. Terdapat
juga jabatan nabi yang profesional, yang ditempat-tempat keramat dan
istana menyingkpkan hal-hal yang tersembununyi, misalnya sukses atau
gagal dalam perang, nasib pada masa depan dan kehendak Yahwe di keadaan
tertentu. Nabi-nabi benar dipanggil secara khusus dan diutus Yahwe
untuk memperingatkan Israel supaya setia pada perjanjiannya pada Yahwe,
meninggalkan ilah-ilah buatan manusia, mempersembahkan hati yang murni
dan bukan hanya kurban binatang serta bersikap adil terhadap warga yang
lemah. Mereka diutus mengancam dengan malapetaka baik para raja dan
imam maupun seluruh rakyat yang berpaling dari Allah. Tetepai mereka
juga memberi harapan kepada orang yang setia dalam kesulitan.
Kadang-kadang para nabi yang benar dikejar-kejar dan dianiaya, karena
mencela perbuatan jahat golongan atas. Mereka mewartakan kedatangan
seseorang mesias/almasih yang akan menyelamatkan bangsanya.
Menurut Penjanjian Baru, nubuat
para nabi PL dipenuhi dalam pribadi Yesus ( Mat 5:17) Dialah nabi yang
terbesar, karena ia bukan saja menerima dan meneruskan sabda Allah,
tetapi dia sendirilah Sabda Allah. Ia tidak hanya mewartakan
keselamatan, tetapi Ia sendirilah keselamatan semua orang. Ia tidak
hanya mewahyukan tentang Allah, tetapi Ia sendiri adalah Wahyu Ilahi.
Maka para nabi sebelumnya adalah pelopornya. Nabi- nabi yang disebut
Kisah Para Rasul dan surat-surat PB sesudahnya bersaksi tentang Yesus
atau menafsirkan karya dan sabdaNya untuk situasi mereka. Dalam PB
selain Yesus, Yohanes Pembaptis , Ana dan puteri-putri Filipus (Kis
21:9) disebut nabi. Karena Jesus adalah Utusan Allah (Yoh 6:14) Ia
mengalami nasib para nabi juga. (Lk 13:33).
Dalam PL disebut nabi-nabi yang
karya tulisnya masih ada (Kitab Para Nabi : dari abad ke 7 sampai ke 2
sebelum M) dan ada nabi-nabi yang namanya dikenal hanya dari
kitab-kitab lain, misalnya nabi Natan, Elia, Elisa; juga sejumlah nabi
wanita yaitu : Hulda dan Debora).
Karisma kenabian agak biasa dalam
Gereja Purba ( 1Kor 12:28 dst 14:30-32 Kis2, 1`021; 10:33-36;19:1-6)
Para nabi kristen menguatkan umat dalam iman, bebicara dalam
bahasa-bahasa asing, menobatkan orang kafir dan membuka isi hati orang.
Tindakan, perbuatan dan nubuat para nabi dinilai oleh mereka yang
dianugerahi karisma menilai roh-roh. Sebab terdapat dan selamanya akan
terdapat juga nabi- nabi palsu yang menyalahgunakan nama Jesus.
Orang kristen, baik
sendiri-sendiri maupun bersama-sama mengambil bagian dalam jabatan
Kristus sebagai nabi, (G 35) a.l dengan berperan sebagai suara hati
yang kritis dalam masyarakat. Karisma kenabian[5]
dalam Gereja memanggil orang supaya amanat Kristus atau Injilnya
diamalkan dalam situasi konkret setiap jaman secara konsekuen, murni
dan baru. Kadangkala perutusan ini bertabrakan dengan pandangan para
pejabat dalam Gereja yang memang harus mnyelidiki semuanya dan (!)
memilih yang baik Dalam KS juga ditemukan nabi perempuan. Di dalam PL,
misalnya Miryam adik Musa,Debora dan Hulda; dalam PB, misalnya Anna
(Luk 2:36) Di sementara Gereja Pentekosta dan kelompok kelompok
kharismatik sewaktu waktu tampil orang yang daianggap menerima kharisma
kenabian.
Di luar Agama Yahudi dan Kristen
nabi-nabi juga ada dalam agama Baal ( 1 Raja 18), agama Mesir kuno dan
Sikh. Dan 25 nabi dalam agama Islam, sebagian besar terdapat juga dalam
PL. Kalau seorang diutus untuk menyampaikan wahyu ilahi kepada suatu
umat dan menerima Kitab Suci, maka ia disebut juga rasul. Jadi, setiap
rasul adalah nabi, tetapi setiap nabi bukan pasti seorang rasul juga.
Dengan demikian Nabi ŕ Musa menerima Kitab Taurat untuk umat Yahudi,
Nabi Daud Kitab Zabur, Nabi Isa menerima Kitab Injil untuk umat kristen
dan nabi Muhammad menerima Kitab AlQur-an untuk umat Islam. Baik agama
kristen maupun Islam menerima Jesus/Isa sebagai seorang nabi. Namun
bagi agama kristen, Jesus bukan hanya seorang nabi. Dialah Sabda Allah
yang menjadi manusia (Yoh bab 1), Yang tidak membawa pesan tetapi Ialah
sendiri adalah pesan itu. Jesus juga imam satu-satunya PB (Hibrani 4-9)
dan Raja, Yang KerajanNya bukan dari dunia ini (Yoh 18:37). Pandangan
ini sangat berbeda dengan kedudukan dan dengan peran nabi yang
dinantikan oleh masyarakat Yahudi pada jaman Jesus, khususnya sekte
Qumran dan beberapa kelompok Yahudi-Kristen yang menolak Jesus sebagai
Allah Putra. Nabi Muhammad memandang diri penerima dan penerus
sabda-sabda Ilahi kepada umatnya., namun tidak sebagai imam. Peran
sebagai raja diamalkan oleh Muhammad mungkin dengan menjadi pemimpin
umat di Medinah dan kemudian seluruh umat Islam. Apakah peran politis
ini dijalankan oleh Nabi Muhammad sebagai nabi atau sbagai pemimpin
politik, yang pandai mengatur umat,, masih menjadi bahan diskusi
dikalangan para ahli Islam. Ada yang berpendapat bahwa perannya sebagai
pemimpin didasarkan semata pada kepribadiannya dan tidak berkaitan
dengan kedudukannya sebagai nabi (lihat Ali Abd al Razig)
Menurut pengalaman dan pandangan
penulis ini, orang akan terkaruniai kejiwaan nabi, dengan pengandaian
orang itu secara matang merasuki doa kontemplasi dalam aksi : disitu
ada kinerja pengindraan atas lingkungan peristiwa ( hidup masyrakat
secara ideologi, politik, sosial ekonomi-kesehatan-pendidikan, budaya,
keamanan) dan wawas batin kehadiran Tuhan di situ; bisikan yang
terdengar dan sentuhan apa terasakan oleh si pendoa kontemplasi ?
Singkatnya, kejiwaan nabi sangat erat dengan kontemplasi yang
mengingatkan sejarah masa lampau, membuka kenyataan saat kekinian dan
memberikan gambaran kemasadepanan. Perlu disadari oleh orang hidup saat
ini, bahwa kemasadepanan global menjadi keprihatinan umum manusia, yang
sedang mengalami" kegalauan hidup manusia dan alam lingkungannya", a.l.
perselisihan antar suku dan bangsa krisis ekonomi dunia, sekularisme,
hedonisme, arus neo liberaalisme, terorisme, semakin musnahnya hutan
lindung, makin banyaknya limbah pengotor wilayah, global warming,
banyaknya bencana alam, komunikasi maya, ketidakteraturan musim. Untuk
kemasa depanan kehdiupan di dunia ini, yang aman, damai, sejatera,
penuh persaudaraan dalam kemerdekaan, perlukah adanya pertobatan
seluruh umat manusia baik dalam sikap hidup terhadap dirinya sendiri
dan terhadap alam lingkungannya ? Perlukah tindak transformasi global?
Perlunya pertobatan, tidak diragukan lagi.
GLOBALISASI
DAN WACANA GLOBAL CIVIL SOCIETY[6] KONSEPSI
civil society telah lama menjadi bahan diskusi berbagai kalangan.
Akar-akar modernnya bisa ditelusuri dari Hegel, de Tocqueville, hingga
Antonio Gramsci. Bila ditarik ke belakang, ide-ide yang kurang lebih
sepadan bisa ditemukan pada konsepsi zaman Romawi mengenai civic
virtue.Di Indonesia selama ini konsepsi civil society lebih dipahami
dalam kerangka Gramscian. Gramsci memandang civil society sebagai
wilayah yang terletak di antara "negara" dan "pasar". Konsekuensi
logisnya adalah, sebagaimana yang umumnya dipahami di Indonesia,
wilayah civil society dianggap sebagai wilayah non-negara dan
non-profit. Akibatnya, secara terburu-buru lembaga swadaya masyarakat
(LSM) sering kali dianggap dan menganggap dirinya sebagai tonggak utama
penegak civil society. Padahal, LSM hanyalah salah satu elemen penopang
civil society. Konsepsi Gramscian seperti tersebut di atas pada
dasarnya perlu ditinjau ulang. Karena, pemahaman semacam itu tidak
mampu menjelaskan beberapa fenomena yang berkembang. Ada banyak
institusi yang diciptakan negara yang ternyata bergerak dalam arah
penguatan institusi dan hak-hak sipil. Misalnya, Komnas HAM yang
dibentuk oleh negara dan juga institusi Ombudsman[7]
. Di samping itu, media massa merupakan representasi dari hak-hak sipil
untuk bersuara, sementara tidak bisa dipungkiri juga bahwa media massa
merupakan lembaga profit. Oleh karena itu, seperti ditawarkan oleh
Kusnanto Anggoro dan Richard Holloway dalam tulisannya "Civil Society,
Citizens, Organizations, and the Transition to Democratic Governance in
Indonesia" (2000), konsepsi civil society lebih tepat bila dipahami
sebagai pertautan interaksi antara tiga sektor, yakni sektor
pemerintah, bisnis dan sektor warganegara, dimana di dalamnya terjadi
kerjasama penguatan partisipasi warga negara dan penegakan nilai-nilai
kewarganegaraan seperti pluralisme dan lain-lain.
Tentang Global Civil Society
Pengertian yang terakhir ini,
sedikit banyak bersinggungan dengan sebuah ide yang tengah mengemuka
yakni global civil society. Elaborasi terhadap pengertian ini bisa
ditemukan dalam sebuah laporan bertajuk "Global Civil Society 2001´´
yang secara resmi diterbitkan oleh London School of Economic and
Political Science. Dalam pengantarnya untuk laporan ini, Anthony
Giddens menyebutkan bahwa konsepsi global civil society erat kaitannya
dengan fenomena globalisasi. Terlepas dari persetujuan atau penolakan
terhadap globalisasi, Giddens menganjurkan untuk mencermati fenomena
globalisasi yang multi dimensional secara serius. Bila sejauh ini civil
society menjadi bumper di antara 'negara' dan 'pasar' untuk mencegah
salah satu dari keduanya menjadi terlalu dominan, demikian pulalah
pengertian global civil society di tengah-tengah menguatnya kekuatan
pasar dan upaya negara untuk mereformulasi klaimnya atas kedaulatannya.
Artinya, seiring dengan semakin meng-global- nya demokrasi, ruang bagi
civil society yang melampaui batas-batas tradisional negara juga
dimungkinkan untuk dibangun. Giddens menyebutnya sebagai 'globalisation
from below', yang menjadi penyeimbang bagi proses liberalisasi
perdagangan yang digerakkan oleh perusahaan-perusaha an raksasa dunia
pada satu sisi dan institusi negara pada sisi yang lain. Laporan
tersebut menyatakan bahwa pengertian global civil society bisa dipahami
dalam pengertian posisi relatif terhadap globalisasi. Dalam pemahaman
ini, terdapat empat posisi relatif terhadap globalisasi.
Pertama
adalah pendukung, yakni individu atau kelompok yang antusias terhadap
globalisasi. Termasuk dalam kelompok ini adalah perusahaan-perusaha an
transnasional dan aliansinya, yang bisa berarti individual ataupun
'negara'.
Kelompok kedua
adalah penolak, yakni mereka yang hendak membalikkan atau menghentikan
proses globalisasi dan mengembalikan kekuatan nation-state. Bisa
termasuk ke dalam kelompok kedua ini adalah kelompok yang bisa saja
mendukung kapitalisme global namun menolak terbukanya batas-batas
negara; kelompok 'kiri' yang menolak sama sekali kapitalisme global;
kelompok nasionalis dan kelompok radikal agama serta kelompok-kelompok
gerakan anti kolonialisme. Pada dasarnya, kelompok kedua ini hanya
melihat bahwa proses globalisasi adalah berbahaya dan karena itu mereka
menolaknya.
Kelompok ketiga,
dimana global civil society termasuk di dalamnya, adalah kelompok
reformis, yakni mereka yang menerima kenyataan ke-salingtergantung -an
global dan potensi menguntungkan bagi kemanusiaan, akan tetapi tetap
melihat adanya kebutuhan untuk memanusiakan (civilise) proses
globalisasi ini. Kelompok global civil society adalah kelompok yang
mendukung reformasi institusi ekonomi internasional, menuntut keadilan
yang lebih luas dan menuntut prosedur-prosedur yang partisipatoris.
Sementara itu, kelompok keempat
adalah kelompok yang tidak terlalu memperdulikan globalisasi, dalam
pengertian tidak menolak atau menerimanya, namun memiliki agenda
sendiri yang berdiri sendiri dari pemerintah, institusi ekonomi
internasional ataupun perusahaan transnasional. Misalnya adalah
kelompok-kelompok akar rumput dan pemberdayaan masyarakat.Masyarak at
sipil global bisa menjadi penyeimbang proses globalisasi yang diyakini
memiliki sisi baik dan sisi buruk yang yang saling berhadapan. Untuk
mengawalinya, pengertian civil society harus diperluas wilayahnya,
tidak lagi dalam pengertian Weberian yang menempatkannya hanya dalam
level negara-bangsa. Namun, konsepsi global civil society tidaklah
hendak meminimalisasi peran negara. Akan tetapi ia bertujuan untuk
mengadvokasinya, agar daya responsif dari institusi politik bernama
'negara' menguat untuk menjalankan perannya dalam memajukan
kesejahteraan bersama warganya di tengah proses globalisasi.
Konsepsi ini juga berarti bahwa
yang harus dilakukan adalah mendemokratisasikan demokrasi, yang bisa
dilakukan baik oleh individu, bisnis ataupun negara, dan mendistribusi
kekuasaan untuk mengkedepankan prosedur partisipatoris baik dalam level
nasional atau perluasannya dalam level global.
TAREKAT RELIGIUS BERKINERJA GLOBAL TRANSFORMASI ?
Dengan memperhatikan beberapa
ulasan di atas ialah tentang kontemplasi, nabi dan arus transformasi
global, lalu, muncul pertanyaan, bagi para pendoa kontemplatif
ke-tarekat-an ada bisikan apa dan ada keterbukaan selubung mana untuk
bertindak di masa kini dan merencana ke masa depan ? Tentu, secara
garis besar, orang dapat berkata bahwa untuk saampai bisikan Roh
tentang jati diri Tarekat dan apa yang selayaknya ditindak lanjuti,
perlu tersediannya gambaran menyeluruh mengenai data kekuatan,
kelamahan, ancaman dan peluang dunia global untuk menuju dunia
terselamatkan `aman, damai, sejahtera, kesetiakawanan kemerdekaan".
Demikian juga bila kinerja suatu Tarekat mau dibatasi pada wilayah
negara tertentu, misalnya, antara lain Indonessia atau Philipina,
meyempitnya lagi di wilayah suatu keuskupan. Juga tentang bidang karya
kerasulan apa yang mau diprioritaskan. Bagaimanapun, meski Tarekat akan
membatasi kerjanya dalam wilayah tertentu, mau tidak mau Tarekat perlu
melihat wilayah tertentu itu atau bidang kerasulan tertentu itu dalam
lingkup arus global; terdapat keterpautan apa antara riak-riak
kehidupan wilayah tertenu itu dan bidang tertentu itu dengan gelombang
besar samodra global. Tarekat sendiri dalam kecenderungannya menceburi
masalah global demi terlaksananya transformasi, perlu bertanya diri
bisa menyumbang apa, berdasarkan kenyataan Tarekat dalam masalah 6 M
(mision, men, money, method, matter and marketing). Dari hasil
kontemplasi diskretif ini, Tarekat akan memasuki kersulan yang berkadar
transformasi secara teritorial atau kategorial , makro atau mikro,
mondial atau lokal ?
Tarekat, dalam kehidupan rohani
para warganya meng-kontemplasikan kehidupan Yesus di dunia, akan
mendapatkan terang bahwa Yesus dalam kehendakNya, selaras dengan
kehendak Allah Bapa, menyelamatkan dunia, mulai dengan perhatian pada
wilayah tertentu dan kelompok masyrakat tertentu. Meski demikian cita,
rasa, cipta, karsa, kerja Yesus, Juru selamat, mempunyai daya menembus
masyrakat dunia di sepanajang masa. Peristiwa tang dapat diamati bahwa
Yesus membentuk kelompok kecil para rasul yang dibina secara khusus;
dan mereka inilah yang dalam perjalanan jaman dan penjelajahan dunia,
berhasil mewujudkan transformasi global kehidupan manusia menuju
keselamatan.
Yesus menghampiri para murid-Nya dan berkata :
"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi Karena
itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku Dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus Dan ajarilah mereka melakukan
segala sesuatu yang yelah Ku-perintahkan kepadamu Dan ketahuilah, aku
mnyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:18-20).
Purwokerto 3 Desember 2009
Pesta Santo Fransiskus Xaverius
"Inilah silsilah Yesus Kristus"
(Kej 49:2.8-10; Mat 1:1-17)
"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.Abraham memperanakkan
Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan
saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres
memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab,
Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon
memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed
memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari
isteri Uria, Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia
memperanakkan Asa, Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram
memperanakkan Uzia,Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas
memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon,
Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya
pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya
memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel
memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,
Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,
Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan
Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut
Kristus.Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud,
empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas
keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus."(Mat 1:1-17), demikian
kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Hari ini kita memasuki Masa Khusus Adven, satu minggu sebelum Pesta Natal,
kenangan akan kelahiran Penyelamat Dunia. Dalam Warta Gembira hari ini
dikisahkan silsilah Yesus sejak Abraham, bapa semua umat beriman. Maksud
silsilah ini adalah bahwa Yesus, Penyelamat Dunia, Mesias, yang kita songsong
kenangan kedatangan atau kelahiranNya, merupakan pemenuhan janji Allah kepada
keturunan Abraham, umat beriman. Hal itu menunjukkan kesetiaan Allah akan
janjiNya untuk menyelamatkan manusia, membebaskan manusia dari aneka macam
penindasan atau dosa. Maka baiklah jika masng-masing dari kita mengenangkan
kembali silsilah kita masing-masing serta mawas diri perihal kesetiaan kita.
Oleh para pendahulu atau leluhur kita kiranya masing-masing dari kita didambakan
menjadi pribadi yang dewasa, cerdas beriman, setia pada panggilan dan tugas
pengutusan kita. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan
dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit:
Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).
Maka kepada kita semua yang telah dibaptis marilah kita kenangkan janji baptis,
kepada para suami-isteri kami ajak untuk mengenangkan janji perkawinan, kepada
para biarawan-biarawati kami ajak mengenangkan trikaul, kepada para pegawai kami
ajak untuk mengenangkan janji kepegawaian, kepada para pejabat kami ajak untuk
mengenangkan sumpah jabatan, dst.. Semoga masing-masing dari kita dapat memenuhi
harapan dan dambaan hidup bahagia, damai sejahera, aman tentram, adil-makmur,
dst.. karena masing-masing dari kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan.
• "Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan
dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan
takluk bangsa-bangsa" (Yes 49:10), demikian kata-kata penghiburan Yesaya kepada
saudara-saudarinya. Kata-kata macam itu rasanya secara implisit ada di dalam
hati orangtua atau pendahulu dan leluhur kita, yang dalam istilah Jawa
masing-masing dari kita diharapkan "mikul dhuwur, mendhem jero" artinya "semua
penderitaan, hinaan, usaha / ikhtiar dan sebagainya tidak pernah
diceritakan/dinilai/dihitung-hitung kepada orang lain (mendem jero), dan
berupaya mengangkat kehidupan keluarga, orang lain, bangsa, rakyat, umat manusia
untuk bisa mentas / terangkat dalam kehidupan dunia dan akhirat (mikul duwur)".
"Mengangkat kehidupan keluarga, orang lain, bangsa, rakyat, umat manusia untuk
terlepas dari aneka penderitaan dan dosa" itulah panggilan dan tugas pengutusan
kita semua. Tentu saja untuk itu masing-masing dari kita telah bebas dari
penderitaan dan dosa, sehingga dapat membebaskan orang lain. Hari-hari ini
kemungkinan di paroki, tempat anda berdomisili, ada kesempatan untuk mengaku
dosa, maka baiklah kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya, agar pada
saat pesta Natal nanti kita semua dalam keadaan damai sejati; kita dapat saling
memberi salam damai Natal dengan ceria.
"Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!
…Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit
membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas
dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin."(Mzm 72:1.3-4b)
Jakarta, 17 Desember 2009
Teman-teman dan umat Katolik di Jakarta dan se Indonesia terkasih,
Pada bulan November 2009, produser CD Cantate , Pastor Rhein Saneba Pr dari
Komsos Keuskupan Manado , telah berkunjung ke kantor Romo Harry
Sulistyo Pr, Ketua Komsos Keuskupan Agung Jakarta.
Tujuannya adalah ingin bersama-sama memperkenalkan hadirnya sebuah CD
lagu dan buku lagu "CANTATE" , berisi lagu-lagu
misa berbahasa Latin, karya cipta seorang komponis kelahiran Manado, Sulawesi
Utara, yaitu Pastor Joseph Ansow , PR.
Lewat email ini, kami mohon bantuan saudara untuk
memperkenalkan karya yang indah kepada teman dan umat di lingkungan
dan paroki terdekat saudara. Terima kasih.
Suara hati dari produser CD CANTATE (Pastor
Rhein Saneba Pr)
Lihat dibawah (Please scroll down)
Beberapa pendapat umat yang telah membeli CD lagu Cantate:
1. Luar biasa! Itulah kesan pertama saya. Aransemen
Romo Joseph Ansow memang sangat enak di telinga. Komposisi 4 suara yang begitu
memukau. Dan lebih luar biasa ketika mengetahui bahwa seluruh penyanyinya
adalah para generasi muda yang energik.
2. Kehadiran CD ini sungguh merupakan
suatu berkah. Laksana oase di tengah gurun nan tandus. Sanggup menyejukkan hati
yang rindu pada lagu-lagu rohani milik sendiri.
3. I have heard the CD last night and try to sing by
reading from the book, it was simple, solemn and made me amazed, lucky
that the diocese of Manado own that kind of a priest.
CD/buku akan dikirim dari Jakarta langsung ke alamat tujuan ,
setelah kami menerima informasi lengkap data dibawah ini dan pembayaran
yang dikonfirmasikan lewat email yang sama.
Untuk yang berminat menjadi sponsor atau penikmat musik pribadi , harap
melengkapi data:
Nama pemesan :
Alamat pemesan (lengkap):
Telpon yang bisa dihubungi kantor/rumah atau HP
Alamat email :
Jumlah CD atau buku Cantate yang dipesan :
Harap kirim CD/buku ke : (nama/alamat lengkap)
Pembayaran melalui bank account
BCA , KCU Manado
No account : 0261783281
A/n . RHEINNER SANEBA
2. Pembelian
langsung, bisa diperoleh di :
- Komisi Komsos
KAJ. Hub. Pastor Harry Sulistyo atau Sdri. Irene di HP 021-98595052
- Toko buku Obor (Jl. Gunung Sahari no. 91)
- Outlet Disc Tara (Total 30 outlet tersebar di Jakarta, Bandung, Bontang,
Jayapura, Balikpapan, Malang , Manado, Bali, Surabaya, Medan, Pontianak)
Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Manado dalam tugasnya untuk membantu Uskup
menyebarluaskan nilai-nilai Kerajaan Allah di muka bumi merasa terpanggil untuk
menerbitkan CD Lagu-Lagu misa bertajuk “CANTATE” (= Bernyanyilah).
Dengan maksud agar khasanah lagu-lagu gerejawi makin dikenal luas oleh umat
yang senang berkumpul dalam ibadah. Karena ada pepatah yang mengajak kita
semua, “Qui bene cantat bis orat” – “Siapa bernyanyi
dengan baik berdoa dua kali”.
1. Kami sangat mengharapkan dukungan dan partisipasi dari paroki, seksi2 di
paroki, kelompok kategorial, individu pencinta music liturgi, kelompok kaum
muda , dan sebagainya untuk turut membantu kami mengumatkan CD dan buku
CANTATE ini .
2. Tanpa bantuan dan partisipasi anda , yaitu dengan membantu
memperkenalkannya kepada umat, hasil karya yang indah dari "anak
bangsa" ini tidak akan mampu menyebar, karena anda adalah tangan dan
mulut Tuhan yang mampu melakukannya .
3. Kami tidak mempunyai kaki tangan untuk menyebarkan hasil karya ini. Hanya
dengan partisipasi umatlah, semoga hasil karya ini dapat menyebar luas di
seluruh keuskupan Indonesia yang tercinta ini.
Saya ingat pengajaran dari Yesus kepada Petrus si nelayan profesional yang
gagal menangkap ikan semalam suntuk. Yesus hanya berkata,”duc in
altum” dan tebarkanlah jala-mu. Yesus kurang berteori tapi Dia sungguh
berbuat! Ditolak atau diterima urusan belakangan yang penting yang Dia perbuat
meninggalkan makna.
Manado, Desember 2009
Salam & hormat
Pastor Rheinner Saneba Pr
Ketua Komisi Komsos Keuskupana Manado
__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature database 4614 (20091117) __________
Mg Adven III : Zef 3:14-18a; Flp 4:4-7; Luk 3:10-18
"Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak"
Ketika Mgr Leo Soekoto SJ alm. dipanggil Tuhan di RS St.Elisabeth - Semarang,
kebetulan saya saat bertugas sebagai Ekonom Kuskupan Agung Semarang dan saya
diberi tugas untuk mengurus pemakaman. Maka saya segera menghubumgi beberapa
orang yang terbiasa membantu kami via tilpon untuk datang di Wisma Uskup guna
membicarakan upacara pemakaman Mgr Leo Soekoto SJ. Cukup menarik dan mengesan
reaksi mereka dan hampir semua bertanya: "Apa yang harus saya kerjakan?'.
Pertanyaan macam itu atau kesiap-sediaan untuk melakukan sesuatu kiranya juga
ada dalam diri kita masing-masing, setelah berpartisipasi dalam kegiatan Adven,
tentu saja bertanya perihal apa yang harus dilakukan agar layak menyambut pesta
Natal, kenangan akan Kelahiran Penyelamat Dunia, sebagaimna ditanyakan oleh
orang-orang yang telah mendengarkan pewartaan Yohanes Pembaptis. Maka marilah
kita renungkan jawaban-jawaban Yohanes Pembaptis di bawah ini:
"Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak
punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
(Luk 3:11)
Solidaritas atau "to be man or woman with/for others" dan "preferential option
for/with the poor", itulah yang harus kita hayati dan sebar-luaskan serta
meninggalkan aneka macam bentuk egoisme. Secara khusus marilah kita perhatikan
saudara-saudari atau sesama kita yang berkekurangan dalam hal pakaian dan
makanan, kekurangan gizi. Gerakan ini kiranya merupakan persiapan yang baik
untuk menyambut kedatangan Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia" (Flp 2:6-7).
Gerakan ini kiranya pertama-tama dan terutama kita lakukan di lingkungan hidup
dan kerja kita setiap hari, dan kemudian berkembang sejauh kemungkinan dan
kesempatan yang ada, pertama-tama secara pribadi dan kemudian secara
organisatoris. Para pembantu rumah tangga hendaknya diberi imbalan dan perlakuan
yang adil, yang mensejahterakan hidup mereka; demikian para pekerja atau buruh
hendaknya diberi imbalan atau gaji yang memadai. Hendaknya jangan bermain
sandiwara: kepada pembantu dan pegawai diberi gaji atau imbalan pas-pasan atau
bahkan kurang, tetapi memberi sumbangan besar bagi orang lain, yang jauh.
Sejahterakan dahulu mereka yang hidup dan bekerja dengan kita, dan kemudian kita
bersama-sama, secara organisatoris atau kelompok/keluarga, membantu orang lain
yang sungguh membutuhkan.
"Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (Luk 3:13)
Kutipan di atas ini kiranya diarahkan kepada para rentenir, dan mungkin di
antara anda tidak ada yang menjadi rentenir; kutipan di atas ini baik menjadi
permenungan atau refleksi bagi orang yang punya uang atau para pengelola uang.
Pinjam-meminjam uang ada aturan mainnya; jika meminjamkan uang kepada orang lain
hendaknya dengan bunga paling tinggi sesuai dengan apa yang diperlakukan di
kantor Pegadaian, syukur tanpa bunga akan lebih mulia ketika yang meminjam
adalah mereka yang miskin dan berkekurangan. Kami mengajak anda sekalian jika
ada teman anda yang menjadi rentenir hendaknya ditegor keras: membiarkan atau
pura-pura tidak tahu terhadap teman yang menjadi rentenir hemat saya berarti
setuju alias mendukung. Di masa Adven, menjelang Pesta Natal dan Tahun Baru ini,
mungkin baik bagi mereka yang meminjamkan uang kepada yang miskin dan
berkekurangan untuk mempertimbangkan: jika yang bersangkutan nampak sulit
mengembalikan pinjaman, alangkah indahnya jika pinjaman atau hutang mereka
dibebaskan sebagai hadiah Natal dan Tahun Baru.
"Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang."(Fil 4:5), demikian peringatan
atau ajakan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua. Kebaikan yang dapat
diketahui semua orang berarti menjadi nyata atau terwujud dalam tindakan atau
perilaku. Marilah di masa Adven ini, menjelang Pesta Natal, kita berbuat baik
kepada siapapun secara konkret, atau paling tidak cara hidup dan cara bertindak
kita hendaknya tidak menimbulkan kesulitan atau masalah bagi orang lain,
melainkan menjadi wahana dan motivasi bagi orang lain untuk berbuat baik.
"Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu"
(Luk 3:14).
Pesan di atas ini mengajak kita semua untuk hidup sederhana, tidak berfoya-foya
atau boros. Maka kepada semua saja kami harapkan untuk hidup sesuai dengan gaji
yang diterima, tidak mencari tambahan dengan mengadakan perampasan atau
pemerasan. Sayang di Indonesia ini mereka yang katanya berjanji untuk melayani
rakyat, yaitu para pegawai negeri atau pejabat pelayanan masyarakat, tetapi
memeras rakyat dengan aneka macam pungutan dan `beaya administrasi'. Sudah
menjadi rahasia umum bahwa `para pelayan masyarakat' yang bekerja dalam
pengurusan tanah, izin-izin, proyek, sumbangan, dst.. senantiasa memeras dan
merampas seenaknya dengan istilah beaya administrasi, uang lelah, uang pelancar,
dst…
Kasus Bibit-Candra, Kepolisian dan KPK, mendorong pemerintah untuk memberantas
aneka mafia hukum, yang memang sarat dengan pemerasan dan perampasan. Semoga apa
yang diprogramkan dan diteriakkan tersebut tidak berhenti dalam wacana atau
polemik, tetapi terwujud dan menjadi nyata dalam hidup dan kerja yang bersih
dari aneka macam bentuk pemerasan dan perampasan. Dalam perhitungan sederhana:
tidak mungkin pejabat yang bekerja untuk beberapa tahun, 5 s/d 10 tahun,
memiliki kekayaan milyardan atau bahkan trilyunan rupiah jika mereka tidak
merampas dan memeras melalui aneka kegiatan proyek atau perizinan dll. Kepada
para pengusaha kami harapkan jika tidak menentukan harga seenaknya saja.
"Cukupkanlah dirimu dengan gajimu", demikian pesan yang layak direnungkan dan
dihayati.
Yang dapat memeras dan merampas adalah mereka yang berada di ranah/poros
pelayanan publik dan bisnis: para pelayan publik dan bisnis berkolusi serta
tidak melayani rakyat pasti akan memeras dan merampas rakyat. Jika sungguh
hendak bebas dari pemerasan dan perampasan, silahkan berpihak dan bersama dengan
rakyat atau komunitas. Jika hidup bersama tidak baik, maka dapat dipastikan para
penentu kebijakan, yaitu para penguasa dan pengusaha/bisnis tidak memihak atau
bersama dengan rakyat atau komunitas. Kami berharap para penguasa dan bisnis
memihak atau bersama dengan rakyat atau komunitas.
"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab
TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka
kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.Pada waktu itu
kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya,
beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa
nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia;
baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi" (Yes 12:2-5)
Jakarta, 13 Desember 2009
"Orang tidak mengenal dia dan memperlakukannya menurut kehendak mereka."
(Sir 48:1-4.9-11; Mat 17:10-13)
"Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli
Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan
datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah
datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak
mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." Pada waktu itu
mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis" (Mat
17:10-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Menjadi bentara atau pembuka jalan memang tidak mudah, sarat dengan tantangan,
hambatan atau masalah. Itulah yang dialami oleh Yohanes Pembaptis sebagai
bentara Penyelamat Dunia, yang kurang dikenal dan diperlakukan seenaknya oleh
orang lain. Hari-hari ini kita juga sedang mempersiapkan pesta Natal, kenangan
akan Kelahiran Penyelamat Dunia. Selama masa persiapan ini kiranya cukup banyak
kegiatan, seperti latihan koor, pendalaman iman, aksi Natal, dan mungkin
mempersiapkan perayaan Natal dan Tahun Baru di kantor atau tempat kerja. Saya
mengajak anda sekalian untuk berfokus pada persiapan yang bersifat spiritual
atau rohani: mempersiapkan hati, jiwa dan akal budi agar siap sedia didatangi
Penyelamat Dunia. Di beberapa paroki atau wilayah selama masa adven sering
diselenggarakan pendalaman iman mingguan yang ditandai dengan pembacaaan dan
permenungan sabda-sabda Tuhan, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, tulisan
yang ditulis dalam ilham Roh dan berguna untuk mendidik, membina, mengajar,
membenarkan kita, orang beriman. Mereka yang bertugas untuk menggerakkan dan
memimpin ibadat atau pendalaman iman, mungkin akan mengalami sebagaimana dialami
oleh Yohanes Pembaptis: telah bekerja keras tanpa kenal lelah, namun kurang
diperhatikan atau bahkan diperlakukan seenaknya oleh orang lain. Kepada mereka
ini kami ajak untuk tetap tegar, sabar dan rendah hati dalam menjalankan
tugasnya: membantu rekan-rekan seiman dalam rangka mempersiapkan diri untuk
pesta Natal. Dalam rangka persiapan ini kami juga mengingatkan pentingnya
memperhatikan persaudaraan atau persahabatan sejati, maka jika ada yang
bermusuhan, saling membenci dst.. hendaknya diberi perhatian khusus untuk
didamaikan.
• "Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda
berapi. Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk
meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya
serta memulihkan segala suku Yakub" (Sir 48:9-10), demikian kata-kata yang
dikenakan pada nabi Elia. Kata-kata "meredakan sebelum meletus, dan
mengembalikan hati bapa kepada anaknya" inilah yang kiranya baik menjadi
permenungan atau refleksi kita. Berbagai kebijakan atau keputusan dari para
pemimpin yang tidak adil dapat menimbulkan gejolak, sebagaimana terjadi dalam
kasus Bibit-Candra, maka dengan ini kami mendambakan kepada para pengambil
kebijakan atau pembuat keputusan untuk memperhatikan kepentingan umum dengan
mengesampingkan kepentingan pribadi maupun golongan. Secara khusus kami
mengingatkan kepada para bapa atau kepala keluarga dalam system patriarchal:
apakah hati bapa terarah pada anak-anaknya, dan karena system patriarchal
berarti apakah bapak dan ibu alias orangtua sungguh memberi hati pada
anak-anaknya dan secara konkret berani memboroskan waktu dan tenaga maupun dana
bagi anak-anaknya, khusus demi pendidikan anak-anak. Kami juga berharap bahwa
anak-anak balita, usia lima tahun ke bawah, sungguh menerima kasih dari
orangtuanya, waktu dan tenaga bapak-ibu. Hendaknya tidak dengan mudah menitipkan
anak-anak balita kepada orang lain, entah itu nenek atau pembantu. Secara khusus
kami berharap kepada para ibu dalam hal menyusui anak-anaknya, hendaknya
anak-anak disusui sendiri alias menikmati ASI sungguh memadai, tidak hanya
selama tiga bulan, namun lebih, syukur selama satu tahun. Ingatlah ASI lebih
murah dan bermutu daripada jenis susu kaleng apapun, dan memang untuk itu sang
ibu harus mempersiapkan diri sedemikian rupa agar dapat berproduksi ASI yang
memadai, antara makan bergizi dan menjaga kesehatan atau kebugaran tubuh. Selama
masa adven ini marilah kita arahkan perhatian kita pada anak-anak, masa depan
kita, masa depan Gereja, Negara dan bangsa.
"Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan
lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan
kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak
manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang
dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu " (Mzm
80:15-16.18-19)
Jakarta, 12 Desember 2009
"Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya."
(Yes 48:17-19; Mat 11:16-19)
"Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang
duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu,
tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak
berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka
berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum,
dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut
cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." (Mat
11:16-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Orang yang suka berkomentar atau mengritik orang lain pada umumnya lebih suka
bicara atau ngomong daripada berbuat atau bertindak, lebih mengutamakan wacana
daripada perilaku, sebagaimana diumpamakan oleh Yesus bagaikan `anak-anak yang
duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya'. Dengan kata lain orang yang
demikian itu kurang atau tidak pernah menghayati imannya, melainkan hanya
omong-omong atau diskusi saja, dan demikian ia tidak berhikmat. Sabda hari ini
mengingatkan kita bahwa `hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya', artinya
beriman kepada Allah pertama-tama dan terutama dapat dilihat atau disaksikan
dalam perilaku atau cara bertindaknya. Di dalam masa Adven ini kita diajak untuk
mawas diri: sejauh mana kita menghayati iman kita dalam hidup sehari-hari atau
hidup `membumi', berpartisipasi dalam seluk-beluk, hal ikwal duniawi, dalam
rangka mempersiapkan pesta Natal, kenangan akan Allah yang menjadi manusia, yang
`membumi, misteri inkarnasi'. Misteri inkarnasi merupakan acuan atau pedoman
bagi siapapun yang beriman kepada Yesus dalam hidup dan bekerja untuk hidup
mendunia atau membumi. Jika dicermati secara teliti dan tepat hemat saya
mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hati kita fungsikan untuk mengurus atau
mengelola hal-hal duniawi, maka baiklah kita mawas diri: apakah dengan demikian
kita juga semakin kudus atau suci. Dengan kata lain sabda hari ini mengingatkan
dan mengajak kita untuk mengusahakan kekudusan atau kesucian dengan terlibat
pada pengurusan atau pengelolaan hal-hal duniawi. Semakin mendunia atau membumi
diharapkan semakin beriman dan suci; mendunia tanpa iman akan amburadul
akibatnya. Maka marilah entah belajar atau bekerja kita hayati bagaikan sedang
beribadat kepada Tuhan.
• "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah,
yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.Sekiranya engkau
memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai
yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti
gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti" (Yes 48:17-18), demikian
kata-kata penghiburan Yesus yang penuh pengharapan. Kita diharapkan melakukan
apa yang berfaedah bagi kesejahteraan dan kebahagiaan kita, yaitu senantiasa
memperhatikan dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan. Perintah-perintah Tuhan
di dunia ini antara lain menjadi nyata dalam aneka tatanan dan aturan hidup
bersama, entah yang di jalanan, rumah tangga, tempat kerja maupun masyarakat
pada umumnya. Dalam berbagai sarana-prasarana, misalnya kendaraan, juga terdapat
aturan atau petunjuk bagaimana merawat dan memfungsikan kendaraan, agar pengguna
selamat dan bahagia. Di jalanan dan di tempat kerja juga ada aturan dan petunjuk
yang harus ditaati dan dilaksanakan. Dst.. Jika kita dapat mentaati dan
melaksanakan aturan atau petunjuk yang jelas dan duniawi tersebut dengan baik,
maka kita akan terbantu untuk mendengarkan dan mentaati perintah-perintah Tuhan.
Marilah kita taati dan laksanakan aneka aturan, petunjuk atau tatanan yang
terkait dengan keberadaan kita, entah di jalanan, tempat kerja, tempat rekreasi,
di rumah dst… Kami berharap pada mereka yang berpengaruh dalam hidup dan kerja
bersama dapat menjadi teladan dalam hal mentaati dan melaksanakan aneka aturan,
tatanan atau petunjuk. Secara khusus kami berharap pada orangtua atau bapak-ibu
dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya di dalam keluarga, karena pengalaman
yang diperoleh dalam dan melalui keluarga merupakan modal dan kekuatan untuk
hidup bersama di masyarakat. Kita semua mendambakan kesejahteraan dan
kebahagiaan sejati, maka marilah kita saling mengingatkan dan membantu dalam hal
mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan serta petunjuk, sebagai
`terjemahan perintah-perintah Allah'.
"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak
berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu
siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang
menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang
diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang
ditiupkan angin" (Mzm 1:1-4).
Jakarta, 11 Desember 2009
“Dalam
masa katekumenat hendaknya juga diperhatikan praktek hidup Katolik para
katekumen, misalnya keakraban mereka dengan Kitab Suci dan liturgi
serta keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan gerejawi, agar sejak
masa persiapan baptisnya para calon orang beriman kristiani itu sudah
membiasakan diri dengan praktek hidup menggereja dan bermasyarakat”
(SKRJ Pasal 80 No. 4).
Anda ingin menjadi KATOLIK?
Tidak perlu bingung, berlangkahlah segera!
Buku
ini akan membantu Anda untuk mewujudkan kerinduan Anda. Di dalamnya
dipaparkan persiapan-persiapan dasar dan proses untuk menjadi Katolik.
Juga dilengkapi dengan materi pembinaan iman lanjut yang membantu
mematangkan iman Anda. Dengan membaca buku ini Anda akan mengenal lebih
jauh Gereja Katolik.
Menjadi Katolik, kerinduan kita bersama!
Pendahuluan
Bagian I – Persiapan Diri Menuju Sakramen Inisiasi
Menjadi Katekumen dalam Gereja Katolik
Waktu dan Tempat Pelajaran Katekumenat
Mempelajari Iman Katolik Selama Masa Katekumenat
Merayakan Ekaristi
Hidup Doa Seorang Katolik
Mengenal dan Mengalami Gereja secara Konkret
Pelayanan Kasih
Undangan Pertobatan
Santo-Santa Pelindungku
Memilih dan Menentukan Wali-Baptis
Pemantapan Menerima Pembaptisan
Persiapan Teknis Menjelang Pembaptisan
Memahami Liturgi Pembaptisan
Bagian II – Album Kenangan Sakramen Inisiasi
1.Kenangan Pembaptisan
2.Kenangan Penerimaan Komuni Pertama
3.Kenangan Penerimaan Krisma
Bagian III – Bina Lanjut Baptisan Baru
1.Mistagogi Setelah Pembaptisan
2.Mistagogi dalam Liturgi
3.Materi Mistagogi Kateketis (tujuh tema, a.l.: Relasi personal dengan Tuhan Yesus, Panca tugas Gereja, Sakramen Tobat-Apakah Masih Laku?)
4.Materi Bina Lanjut Bulanan
(dua belas tema pertemuan, a.l.: Jalan Keselamatan dalam Agama Katolik,
Semua dipanggil menjadi suci, Tuhan Yesus di zaman Modern, Kasih versi
Tuhan Yesus, Anak Allah harus sukses?, Iman Katolik dan Budaya)
"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu"
(Yes 40:25-31; Mat 11:28-30)
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi
kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku
lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang
Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat 11:28-30), demikian kutipan
Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Ketika orang hanya mengikuti keinginan atau kehendak sendiri, pada umumnya di
awal langkah hidup atau kerja sangat bergairah, tetapi seiring dengan jalannya
waktu akan menjadi letih lesu dan tak bergairah, atau bahkan frustrasi. Orang
yang demikian itu adalah orang sombong. Sabda Yesus hari ini mengajak dan
mengingatkan kita semua untuk `memikul kuk yang dipasang Tuhan' melalui atasan
atau pemimpin kita serta mengerjakan dengan lemah lembut dan rendah hati. Untuk
itu marilah kita lihat, baca dan fahami kembali aneka tatanan atau aturan yang
terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, dan kemudian
kita hayati dalam hidup sehari-hari, atau kita kenangkan janji-janji yang pernah
kita ikrarkan. Sebagai orang yang telah dibaptis, marilah kita kenangkan janji
baptis serta beberapa aturan yang terkait dengan hidup iman atau
kekristenan/kekatolikan kita. Ketika dibaptis kita berjanji hanya mau mengabdi
Tuhan saja dan menolak semua godaan setan, dan untuk menghayati janji tersebut
antara lain ada 10 (sepuluh) perintah Allah dan 5 (lima) aturan atau tuntunan
Gereja. Dari 10 (sepuluh) perintah Allah yang konkret antara lain: "Hormatilah
ibu-bapamu, Jangan membunuh,. Jangan berbuat cabul,. Jangan mencuri, Jangan
bersaksi dusta pada sesamamu manusia, Jangan ingin akan milik sesamamu ".
Sedangkan 5 (lima perintah) Gereja adalah : " Rayakanlah hari raya yang
disamakan dengan hari Minggu, Ikutlah Perayaan ekaristi pada hari Minggu dan
hari raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada
hari itu., Berpuasalah dan berpantanglah pada hari yang ditentukan.,
Mengaku-dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun, Sambutlah Tubuh Tuhan pada
Masa Paskah. " (PS no 7). Marilah kita mawas diri sejauh mana kita setia dan
melaksanakan perintah-perintah atau aturan tersebut? Jika kita setia menghayati
perintah atau aturan tersebut, maka jiwa kita akan senantiasa tenang adanya.
• "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang
tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh
tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan
baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;
mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah"
(Yes 40:29-31), demikian kata-kata penghiburan Yesaya yang penuh pengharapan
kepada saudara-saudarinya, kepada kita semua. Kita sedang menantikan Hari Raya
Natal, Kenangan akan Kelahiran Penyelamat Dunia; apakah kita mendapat kekuatan
baru, bersemangat baru? Orang yang sedang menanti-nantikan pada umumnya butuh
kesabaran, daya tahan dan kegairahan hidup serta dengan rendah hati mentaati
aneka aturan dan tatanan yang terkait, meskpun demikian ia `tidak menjadi lesu
dan tidak menjadi lelah'. Dengan kata menanti-nantikan juga butuh matiraga atau
lakutapa. Maka marilah kita mawas diri apakah diri kita layak disebut sebagai
yang sedang menanti-nantikan pesta Hari Natal, Kenangan akan Kelahiran
Penyelamat Dunia. Matiraga secara harafiah berarti mematikan gairah/nafsu raga,
dan maksudnya tidak lain adalah mengendalikan raga atau anggota tubuh sedemikian
rupa sehingga tidak melakukan dosa atau berbuat jahat. Mengendalikan raga atau
anggota tubuh kita sendiri kiranya lebih sulit daripada mengendalikan orang
lain. Raga atau anggota tubuh yang mungkin baik kita refleksikan adalah mata,
telinga, kepala/otak dan kaki maupun tangan: sejauh mana anggota tubuh ini
berfungsi semakin mendekatkan saya dengan Tuhan maupun saudara-saudari kita?
Ketika kita dapat mengendalikan diri dengan baik, maka dalam rangka
menanti-nantikan kita tetap bergairah serta tidak akan melakukan dosa atau
perbuatan jahat. Ketika kita terbiasa dapat mengendalikan diri dengan baik,
maka kita juga tidak mudah menjadi lelah dan lesu. Ada kemungkinan ketika
sedang menanti-nantikan orang merasa kelebihan waktu, maka manfaatkan waktu
tersebut untuk berdoa atau membaca apa-apa yang baik dan berguna.
"Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang
mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang
menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan
rahmat," (Mzm 103:1-4)
Jakarta, 9 Desember 2009
Jangan menyerah pada kesulitan. Jika kesulitan datang, bagaimana cara mengatasinya???? Akui kesulitan itu karena ia memang ada, tapi jangan takluk padanya.
Atasi kesulitan dengan berpikir potifit dan tetap menjalankan tugas perjalanan hidup dengan kesungguhan.
Bangun hidup Anda dengan keyakinan kalau kesulitan mampu dihadapi dan bisa diatasi dan jangan berhenti berharap.
Kalau Anda melihat pic saya yang ada di FB, disana ada foto selembar kertas dengan tulisan yang ada di dalamnya.
ini adalah tulisan seorang anak yang baru mesuk kuliah semester satu dan karena kekalutan hati ia menuliskan tulisan itu.
Anak ini ikut program "pengembangan minat dan bakat" serta diterima di bangku kulian jurusan keperawatan, kegembiraan anak ini sangat besar dengan diterimanya dia di bangku kuliah ini walaupun seribu kesulitan dihadapinya termasuk biaya dalam masa kuliah.
Disamping untuk biaya juga untuk kehdiupan di denpasar karena anak ini berasal dari Gianyar.
Semua kesulitan itu bisa dihadapinya dengan keseriusan dengan mengencangkan perut guna tercapainya harapan untuk bisa kuliah sesuai harapannya serta menjadi seorang perawat tepat waktu 3 tahun.
Ternyata, badai kesulitan tidak mau berhenti mendera perjalanan kehidupan anak ini, karena dalam masa kuliah yang baru dijalaninya terjadi hal yang tidak diharapkannya.
Anak ini mengalami "penurunan" pendengaran yang lama-kelaman daya dengar anak ini hilang dan hal ini mengganggu proses belajar yang harus dihadapinya,
Karena keadan ini, pihak kampus menyarankan untuk diperisakan ke dokter THT dan hasil dari dokter akan sebagai rekomendasi apakah anak ini masih bisa kuliah atau tidak, sedangkan penggunaan alat bantu dengar tidak diperbolehkan dan jika dengan alat bantu dengarpun maka anak ini tetap harus berhenti dalam kulian.
Apa yang terjadi pada anak ini???
Tentu keputusan kampus ini membuat kesedihan dalam diri anak ini, Tapi anak ini tidak mau meneyrah kalah, Ia membangkitkan semangatnya dengan menulsikan semluruh ahrapan dan keinginannya pada selembar kertas ini.
Dia tanamkan dalam dirinya akan seluruah kebaikan untuk membangkitkan keprcayaan akan hari esok yang lebih baik.
Disamping itu, serangkaian penanganan terus dilakukan oleh pihak kelaurag dan dokter THT serta karena pendengaran anak sudah tidak bsia ditangani denga obat maka diambil kesiputusan kalau anak ini harus dioperasi untuk menaikan derajat pendengarannya dengan memasang alat pada telinga anak ini.
Hal pertama yang kembali harus diusahakan adalah biaya operasi unutk anak ini dan pembelian alat yang harus dipasang pada telinga anak ini.
Permasalahan ini sulit teratasi dan orang tua pasrah dengan keadaan yang terjadi pada anak ini dan orang tua mengatakan kalau tidak sanggup untuk mengoperasi anaknya itu.
Kesulitan itu dibicarakan dengan dokter THT yang kebetulan juga membantu praktek di klinik kami.
Dokter THT kami yang sangat sederhana dan memiliki hati yang baik itu, menceritakan kejadian yang dialami oleh anak ini pada saya disela-sela praktek di klinik kami.
Lalu saya katakan, “operasi saja demi kebaikan anak ini".
Dokter kami menjawab," duit dari mana brud ???, karena orng tua anak ini gak bisa membiayainya?".
Saya jawab," udalah pak dokter nanti biaya biar Tuhan yang memikirkan, Sampeyan bikin jadwal operasinya saja dan orang tua anak itu suruh ke klinik ketemu saya".
Berapa hari kemudian orang tua anak itu datang ke klinik dan menemui saya, Saya katakan pada orang tua anak itu," bapak punya uang berapa dan kami akan mencukupi kekurangannya".
Bapak anak itu bilang," untuk beli alat bantu dengar dan pemeriksaan selama ini telah menghabiskan banyak biaya dan saya sudah tidak bisa mengoperasikan anak saya".
Jawab saya," bapak usaha dulu semampunya nanti kekurangnya saya bantu".
Ternyata lama tidak ada kabar dan anak ini hanya terus berobat jalan sedangkan tidak ada kemajuan dan kalau tidak segera dioperasi anak ini harus segera dikelaurkan dari kampung, dan bapak anak itu tetap tidak sanggup untuk mengoperasikan anak ini.
Akhirnya dokter membuat jandwal oeprasi dan hal ini tidak bisa ditunda lagi karena kerusakan bisa tambah parah dan akan berbahaya kalau terjadi kerusakan permanen, serta pihak kampus telah memberi surat keterangan kalau anak akan dikeluarkan kalau tidak segera ditangani masalah gangguan pendengaran pada anak ini.
Akhirnya operasi diakukan dan saya ikut menunggui anak ini operasi.
Sewaktu menungui anak ini operasi, bapak anak inimendekati saya dan menunjukan kertas tulisan anak ini, bapak ini sambil mengnangis menunjukkan tulisan anaknya itu.
Saya membaca ketas itu dan disebaliknya kertas itu ada perincian seluruh biaya pengobatan yang telah dijalankan serta seluruh baiya kuliah yang telah dikeluarkan orang tuanya termasuk uang hidup seminggu yang hanya Rp 75rb.
Saya ikut "prihatin" dengan keberadaan anak ini.
Tapi saya banggan dengan semngat anak ini yang telah menuliskan semangatnya di kertas itu seperti yang ada di pic FB saya.
Sebuah "harapan" akan kesembuhan, semangat dan kepercayaan akan perjuangan mewujudkan cita-citanya menjadi perawat.
Anak ini tidak mau menyerah kalah karena "miskin", "sakit" dan “faktor” lain dalam hidup ini.
Anak ini menanamkan harapan akan kebaikan pada masa depan untuk menjadi lebih baik.
Dan dalam keadaan yang sangat "minim" dengan masa yang "menakutkan" karena akan di DO dari kuliah karena kerusakan pendengaran, ia masih terus percaya akan keyakinaan pada hari esok yang lebih baik yaitu menjadi perawat agar lebih berguna dalam hdup ini.
Anak ini tidak mau mengalami rasa "pesimis" karena ancaman di DO yang disebabkan penyakit yang sedang dialami.
Sungguh, saya belajar percaya dan berharap yang hebat dari anak ini.
Setelah membaca tulisan dan perincian hidup anak ini, Saya merasa bersyukur boleh menjadi bagian dari hidup anak ini untuk mewujudkan harapanya menjadi perawat dengan "memutuskan" membiayai operasi anak ini dengan pertolongan dokter THT di klinik kami.
Sebuah kesempatan yang indah yaitu boleh berbagi harapan akan hari esok yang lebih baik dengan dioperasinya telingan anak ini.
Kesempatan yang sunguh indah karena boleh ikut membangun jembatan dengan memberi harapan pada anak ini yang sebenarnya telah mengalami jalan buntu dalam hidupnya karena keterbelakangan, keterbatasan dan ketidakberdayaan pada kesulitan.
Andaikan banyak orang boleh dan mau berbagi harapan untuk mereka yang telah pupus harapan karena aneka kesulitan dan ketidakberdayaan, maka dunia akan menjadi lebih bercahaya dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Semoga kita boleh menjadi alatNya dalam berbagi harapan pada hidup ini dan boleh menjadikan semua lebih baik karena memiliki harapoan akan hari esok yang lebih membahagiakan.
Salam dalam cinta membangun dunai baru dengan kemampuaa bebagi harapan. petrusp
Buku
"Sandal Jepit Gereja" Sudah Ketinggalan Jaman
Sore ini, saya bertemu dengan Pak Totok. Seperti biasa, dia
masih setia dengan topi dan sepeda tuanya. "Mau kemana Pak Totok? Cari
nasi ya?" tanya saya. Pak Totok tersenyum lebar sambil menghentikan
sepedanya. "Ya biasa lah," jawab dia ramah. Saya sengaja menggunakan
kata 'cari nasi' dan bukannya 'beli makan' karena memang hanya nasilah yang
bakal dia beli. Saya sudah hapal itu. Setiap menjelang magrib dia pasti membeli
nasi untuk anjingnya, kecuali hari Kamis karena pada hari itu anjingnya
berpuasa. Pak Totok sendiri jarang makan nasi. Paling banter seminggu tiga kali
saja dia menikmati nasi. Bahkan mungkin kini dia semakin jarang makan nasi
sejak dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai satpam oleh pengurus RT tanpa
sebab. Bahkan empat bulan gajinya yang hanya Rp. 300.00 per bulan pun
dikemplang pengurus RT.
"Maaf ya kemarin saya nggak bisa ikut sembahyangan," tutur Pak Totok
masih dengan senyumnya. "Lho Pak Totok malam Minggu kemarin juga nggak
ikut sembahyangan masa advent to?" tanya saya. "Saya juga nggak
datang kok Pak Totok. Anak saya -Si Fani- dilantik jadi Putri Sangkristi jadi
saya musti datang mengantar sekaligus nonton dia dilantik." papar saya.
Pak Totok mengucapkan 'O' panjang.
"Lha Pak Totok emang kemarin kemana? Kan biasanya rajin ikut sembahyangan?"
tanya saya.
"Anu.. anak saya nikah," jawab Pak Totok singkat namun memancarkan
suatu kebahagiaan yang sengaja tidak ingin dia perlihatkan.
Pak Totok punya anak? Hemm, soal ini tidak banyak yang tahu. Saya tahu pun
belum lama tahu. Kalau tidak salah, Pak Totok punya dua atau tiga anak. Satu
kerja di BCA, dan satu lagi di RS Elizabeth, Bekasi.
"Yang mana yang nikah, Pak? yang kerja di BCA?"
"Iya... wah saya malu datang di acara nikahan," jawab Pak Totok
sambil tersipu.
"Lha, anak nikah kok malu?" tanya saya sambil ikutan nyengir.
"Lha masak saya pakai disuapin segala. Padahal saya sudah ngumpet bahkan
nggak niat mau datang. Eh.. malah pakai dijemput segala.." papar Pak
Totok.
"Itu kan tandanya dia sayang saya Pak Totok," lanjut saya.
Pak Totok memang misterius. Bukan cuma kemiskinannya yang tidak ketulungan,
tinggal di gubuk yang lebih jelek dari pada kandang ayam, tidak pernah protes
walau sejak sekian tahun lalu digaji hanya Rp.300.000 per bulan sebagai satpam
-dan uang itu kerap dia pakai untuk mengganti lampu jalan sepanjang empat gang
yang sering mati dan warganya tidak pernah peduli untuk menggantinya-. Sampai
akhirnya pertengahan tahun ini dia diberhentikan dari profesinya sebagai satpam
tanpa tahu sebab musababnya.
Anda yang sudah membaca buku "Sandal Jepit Gereja" khususnya cerita
berjudul "Pondok Untuk Pak Totok" tentu sudah mafhum betapa akhirnya
Pak Totok bersyukur karena kami -berbekal kekurangan yang kami miliki- berhasil
melakukan bedah rumah dan bisa memberikan satu rumah sederhana untuk Pak Totok
yang miskin, tua, tidak menikah, dan misterius ini.
Sekali waktu saya pernah memergoki Pak Totok dibonceng seorang cewek sepulang
gereja. Pak Totok selingkuh? Tentu tidak, karena Pak Totok tidak menikah hingga
usianya nyaris kepala tujuh (atau malah sudah kepala tujuh?). Belakangan saya
baru tahu, cewek yang memberi tumpangan Pak Totok adalah salah satu dari
beberapa anak angkat Pak Totok! Dua yang masih saya ingat tentang anak angkat
Pak Totok adalah kesuksesan mereka kini, menjadi karyawan BCA dan karyawan RS.
Elizabeth, Bekasi.
Dan hari Sabtu kemarin Pak Totok yang memiliki masa lalu misterius, yang
sedemikian miskin namun penuh kepasrahan pada penyelenggaraan Allah, telah
menyaksikan salah seorang anak angkatnya menikah. Pak Totok terlihat sangat
bergairah menceritakan hal itu. "Yang datang di nikahan sampai lima
perusahaan." paparnya. Saya pun mengangguk-angguk ikut senang.
Saya biarkan Pak Totok melanjutkan kayuhan sepedanya karena Adzan magrib sudah
berkumandang dan mungkin anjingnya sudah lapar menanti nasi yang harus dia beli
setiap petang. Saya bersyukur mengenal dan semakin dekat dengan sosok tua itu.
Yang rela menghabiskan uang recehnya untuk membeli nasi bagi anjingnya walau
dia sendiri tak punya cukup sisa untuk membeli makan untuk dirinya sendiri.
Yang menolak untuk tinggal bersama anak-anak angkatnya dan iklas mendiami rumah
sederhana tanpa plesteran yang dua setengah tahun lalu kami buatkan.
Pertemuan sore ini dengan Pak Totok membuat saya mensyukuri bahwa buku saya
"Sandal Jepit Gereja" telah ketinggalan jaman karena kisah hidup Pak
Totok tidak lagi sebatas belasan paragraf yang saya rangkai dalam tulisan
berjudul "Pondok Untuk Pak Totok". Moga-moga -kalau bisa- 22 kisah
lainnya, entah itu yang berjudul "Murtad", "Anak di Luar
Nikah", Selingkuhlah Kau Kutunggu" maupun kisah lainnya, juga bakal
ketinggalan jaman karena ada ending lanjutan hasil skenario sang Ilahi yang
tidak pernah berhenti!
Salam,
Anang Y.B.
Catatan: Anda yang belum membaca buku "Sandal Jepit Gereja" bisa
mengenal Pak Totok lewat artikel versi online di sini http://anangyb.blogspot.com/2007/06/pondok-untuk-pak-totok.html
Judulnya sama juga kok yakni "Pondok Untuk Totok". Kisah ini adalah
satu dari beberapa kisah dalam buku "Sandal Jepit Gereja" yang masih
juga membuat saya menangis setiap kali membaca ulang.
Tulisan "Pondok Pak Totok" pernah memenangi kontes bertema "Why
I'm So Special" yang diadakan oleh sahabat saya Jennie S. Bev.
ZIARAH BATIN
2010 kumpulan Harga retail :Rp.
45.000,- Harga kami :Rp.
40.500,- Anda menghemat :Rp. 4.500,- (10%)
Terima kasih atas kepercayaan
dan kesetiaan Anda berbelanja online di toko buku rohani Kristen Katolik - www. senakel.com
Salam hangat dari ruang atas!
www.Senakel.com
Inspiring Your Spiritual
Growth
SENAKEL berasal dari kata
latin Cenaculum atau dalam bahasa Inggris disebut The Upper Room, yang berarti
ruang atas tempat Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama para muridNya.
Ruangan atas ini adalah juga tempat yang dipakai oleh para murid dan Bunda
Maria untuk berkumpul dan berdoa memohon dicurahkannya Roh Kudus kepada mereka
( peristiwa Pentakosta)
Free
Delivery Cost untuk pembelian diatas Rp.100.000 khusus wilayah JABODETABEK
Free
Delivery Cost untuk pembelian diatas Rp. 250.000 khusus PULAU JAWA
Discount
50% Delivery Cost untuk pembelian diatas Rp.250.000 khusus LUAR P. JAwa
__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature database 4614 (20091117) __________