Search the web
Sign In
New User? Sign Up
rohani · Media sharing pengalaman, iman & rohani
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 19596 - 19625 of 19625   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#19625 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Tue Jan 5, 2010 6:41 am
Subject: 6 Jan
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Aku ini jangan takut!"
(1Yoh 4:11-18; Mrk 6:45-52)

"Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan
berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang
banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.
Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal
sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena
angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di
atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di
atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,
sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia
berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke
perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan
bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati
mereka tetap degil" (Mrk 6:45-52), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Perasaan takut kiranya terjadi dalam semua orang. Pada umumnya orang takut
dalam menghadapi hal-hal baru atau yang tiba-tiba muncul, misalnya: takut
menghadapi ujian, takut menghadapi tugas baru, mungkin juga sang penganten baru
takut menghadapi `malam pertama',  ibu muda takut menghadapi kelahiran anak
pertama, dst. Ada juga orang sebagai penumpang takut akan terjadi kecelakaan,
orang takut tinggal di rumah sendirian,dst.. Apa sebenarnya yang menjadi
penyebab ketakutan pada umumnya tidak jelas. Orang menjadi takut karena dirinya
`tidak putih' maupun `tidak hitam', melainkan `abu-abu', tidak jelas bersama
dengan Tuhan atau bersatu dengan setan. Sebenarnya jika kita bersama Tuhan tidak
ada alasan untuk menjadi takut, karena Tuhan menang atas segala sesuatu,
sebaliknya ketika bersama setan ada kemungkinan takut terhadap Tuhan.
"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!", demikian sabda Yesus kepada para
rasul/murid yang ketakutan karena mereka lelah dalam "mendayung karena angin
sakal", dan tiba-tiba melihat `orang berjalan-jalan di atas permukaan air'.
Tuhan hadir dimana-mana dan kapan saja itulah yang harus kita imani; dengan iman
macam itu tiada ketakutan sedikitpun dalam diri kita. Kehadiran Tuhan antara
lain dapat kita lihat dan nikmati dalam apa yang baik, luhur, mulia dan indah di
sekitar kita, dalam ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri manusia yang
diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Apa yang baik, luhur, mulia dan
indah di sekitar kita kiranya lebih banyak daripada apa yang jelek, amburadul,
remeh, dst., maka marilah kita lihat dan imani agar kita tidak menjadi takut.
Takut adalah kalah sebelum perang, bertekut lutut sebelum berjuang, maka penakut
berarti menjadi orang murahan.
• "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan
ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak
sempurna di dalam kasih" (1Yoh 4:18), demikian peringatan Yohanes kepada kita
semua. Kasih merupakan ajaran utama dan pertama dari semua agama, dan
masing-masing dari kita adalah `buah kasih' atau `yang terkasih'. Jika kita
dapat menghayati diri sebagai yang terkasih kiranya tidak ada ketakutan
sedikitpun, maka marilah kita mawas diri bahwa sebenarnya masing-masing dari
kita telah menerima kasih melimpah ruah dari Allah melalui sesama dan
saudara-saudari kita. Bahwa kita dapat hidup, tumbuh berkembang sebagaimana
adanya pada saat ini hanya karena dan oleh kasih, tanpa kasih kita tidak mungkin
hidup seperti saat ini. Jika kita adalah `yang terkasih', maka dekati dan sikapi
siapapun dan segala sesuatu dalam dan oleh kasih, agar tidak menakutkan. Ingat
dan sadari bahwa binatang buas dan berbisa pun dapat menjadi sahabat dan tidak
menakutkan ketika mereka didekati dan disikapi dalam dan oleh kasih. Kami
berharap para orangtua atau suami-isteri dapat menjadi teladan dalam penghayatan
kasih ini, karena anda hidup bersama sebagai suami-isteri karena kasih dan oleh
kasih. Dengan ini juga kami mengajak siapapun yang masih dalam keadaan `takut'
untuk mawas diri: jangan-jangan anda tidak hidup dalam dan oleh kasih, dan anda
memiliki musuh atau sesuatu yang tidak anda senangi. Marilah kita hayati ajaran
kasih dari Paulus ini: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan
dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan
kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena
kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan
segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1Kor 13:4-7).

"Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan;
kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja
sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan
melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan
orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang
miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin" (Mzm 72:10-13).
Jakarta, 6 Januari 2010

#19624 From: "Yovita Wijaya" <yovita.wijaya@...>
Date: Mon Jan 4, 2010 3:25 am
Subject: [Info] MISA SYUKUR _ PIFUN 9 Januari 2010 Jam 5 sore oleh Romo UUT
winieew
Offline Offline
Send Email Send Email
 

Hari ini adalah lembaran baru bagiku

ku disini karna Kau yang memilihku

tak pernah ku ragu akan cintaMu

............ .......

dan bila aku berdiri , tegar sampai hari ini

bukan karna kuat dan hebat ku

semua karena cinta ........

(meminjam sebagian lirik lagu "karena cinta" nya Joy Tobing)

 

Yipppe ....Tahun yang baru , lembaran buku yang baru , diari yang baru (hm...melankolis mode ON) .... hati yang baru , berkat yang baru , cinta yang baru ............ ..semuanya serba baru (fresh from the oven mode ON)

 

hari ini , saat ini , detik ini ....ciiiiiiiiieeeee h , ingin diriku mengingatkan kembali , ada satu cinta yang tak pernah lekang oleh hujan tak pernah lapuk oleh panas (mencoba puitis mode ON) ....dialah CINTA SEJATI dari ALLAH BAPA DISURGA

 

hari ini, saat ini, detik ini ......, kembali kami dari POWERED PERSONALITY mengajak temans, rekans, sodara dan sodari untuk mengawali awal tahun 2010 dengan merayakan CINTA SEJATI dalam bentuk MISA SYUKUR yang akan dibawakan oleh Romo Carolus Putranto Tri Hidayat, Pr (psssst..... romo juga punya nama beken loh : Romo U'ut)

 

tempatnya ???? seperti biasalah bro ..... Gedung Intiland (d/h wisma darmala sakti) basement , ruang nilakandi

 

Jamnya ????? seperti biasa jugah ..... 17.00 WIB teeeeeeeeeeeeengs (misa booooooo)

 

 

okeh ....sampai jumpa dalam perayaan CINTA SEJATI alias MISA SYUKUR tanggal 9 Januari 2010 (hari sabtu malam minggu yang pasti cerah)

 

Pesan dari surga : pliiiiiissssss di forward ke semua makluk di muka bumi ini pake email, pake sms, pake fesbuk dan tentunya pake blekberri dunk...hahahahhaha. ...(Mr.JE gauuuuuul aaaaaaaabiiiiiiiiii iiieeeeees deh)

 

teriring salam dari Mr.JE ....tiada kesan tanpa kehadiranMU

 

Love & Pray

POWERED PERSONALITY


#19623 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Mon Jan 4, 2010 6:04 am
Subject: 5 Jan
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka"
(1Yoh 4:7-10; Mrk 6: 34-44)

"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah
hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang
tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan
berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi,
supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di
sekitar ini." Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka
kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk
memberi mereka makan?" Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang
ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti
dan dua ikan." Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk
berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka
berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Dan setelah
Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap
berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya,
supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu
dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dan mereka semuanya makan sampai
kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul
penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.Yang ikut makan roti itu ada lima ribu
orang laki-laki." (Mrk 6:34-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Berbagai bencana alam seperti banjir, kebakaran, tanah longsor dll, maupun PHK
telah menimbulkan derita banyak orang: kelaparan atau kekurangan dalam hal
sandang dan pangan. Apakah hati kita tergerak oleh belas kasihan seperti Yesus,
ketika mendengar atau menyaksikan aneka penderitaan? Warta Gembira hari ini
mengingatkan dan mengajak kita untuk memiliki hati yang tergerak oleh belas
kasihan terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan dalam berbagai kebutuhan
pokok untuk hidup. Maka kami mengajak anda sekalian untuk `melihat ke bawah'
atau `turun ke bawah', dengan demikian kita pasti akan melihat mereka yang
miskin dan berkekurangan. Marilah kita hayati atau wujudkan motto `solidaritas'
dan `preferential option for/with the poor' dalam cara hidup dan cara bertindak
kita setiap hari. Kita buka hati dan jiwa kita terhadap mereka yang miskin dan
berkekurangan. Apa yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah
anugerah Tuhan, maka marilah kita syukuri dengan meneruskan semuanya itu kepada
saudara-saudari kita, terutama bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Jika
kita semua bersikap mental `solidaritas'dan `preferential option for/with the
poor', kiranya tidak ada lagi yang miskin dan berkekurangan, melainkan kita
semua akan berkelebihan. Maka jauhkan sikap mental serakah dan hanya mencari
keenakan atau keuntungan pribadi atau kelompok sendiri.
• "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah
kasih.Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa
Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup
oleh-Nya" (1Yoh 4:8-9). Sekali lagi kita diingatkan perihal saling mengasihi
satu sama lain sebagai saudara atau sesama manusia. Masing-masing dari kita
adalah `buah kasih' atau `yang terkasih', yang diciptakan dalam dan oleh kasih
Allah kerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dengan
segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, yang antara
lain ada tindakan konkret persetubuhan. Jika masing-masing dari kita dengan
rendah hati berani menghayati diri sebagai `buah kasih' atau `yang terkasih'
maka kita sungguh mengenal Allah dan dengan demikian kita dengan mudah saling
mengasihi. Bertemu dengan orang lain berarti `yang terkasih' bertemu dengan
`yang terkasih', dan dengan demikian secara otomatis saling mengasihi. Tanda
bahwa kasih Allah ada di tengah-tengah kita yaitu kita hidup dan bertindak
saling mengasihi. Kehidupan bersama yang dijiwai oleh kasih Allah senantiasa
menarik, mempesona dan memikat, karena senantiasa memancarkan kasih yang tak
terbatas. Kami berharap hidup saling mengasihi ini sungguh terjadi dalam semua
keluarga, suami-isteri, yang dibangun dan dikat oleh kasih. Jika semua anggota
keluarga saling mengasihi, maka hidup bersama dimanapun dan kapanpun akan saling
mengasihi, karena keluarga adalah dasar hidup bersama. Keluarga-keluarga hidup
bahagia dan damai sejahtera dalam dan karena kasih, maka seluruh anggota
masyarakat akan bahagia dan damai sejahtera juga.

"Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas
dengan hukum! Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan
bukit-bukit membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang
yang tertindas dari bangsa itu" (Mzm 72:2-4a)
Jakarta, 5 Januari 2010

#19622 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sun Jan 3, 2010 2:41 pm
Subject: FACEBOOK: Antara Dunia Nyata & Semu (Denny Teguh Sutandio)
dennyteguhsu...
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 

FACEBOOK: Antara Dunia Nyata dan Semu

(Tinjauan Kritis Iman Kristen terhadap Gejala dan Penggunaan Facebook)

 

oleh: Denny Teguh Sutandio

 

 

 

 

I.         PENDAHULUAN

Di abad postmodern, manusia makin lama bukan makin tambah beres, namun semakin kacau dan hidup tidak karuan, mulai dari prinsip hidup sampai aplikasinya. Ya, meskipun hal ini tidak terjadi pada semua manusia, namun gejala postmodernisme (dan postmodernitas) yang salah satunya ditandai oleh pragmatisme sedang merajalela di zaman postmodern. Dengan semangat pragmatisme (atau menggunakan bahasa gaul sekarang: EGP—emang gue pikirin), mereka menganggap ringan banyak hal, bahkan hal-hal penting. Banyak hal dianggap main-main, sehingga banyak generasi muda zaman sekarang sangat susah ditanya mengenai prinsip hidupnya apalagi imannya. Salah satu hal yang dibuat mainan oleh generasi muda zaman sekarang adalah Facebook. Apakah Facebook itu? Dari mana asalnya? Bagaimana penggunaan Facebook di zaman sekarang? Apakah Facebook itu salah? Atau penggunaan yang tidak bertanggungjawab terhadap Facebook yang salah? Artikel yang saya susun ini tidak bermaksud melarang penggunaan Facebook sama sekali, namun menyoroti khusus terhadap penggunaan Facebook.

 

 

 

 

II.      PRESUPOSISI KRISTEN: IMAN KRISTEN DAN MEDIA

A.       Beragam Reaksi Kekristenan Terhadap Media

Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan mengenai Facebook, mari kita merenungkan dahulu apa yang menjadi dasar presuposisi iman Kristen kita terhadap media. Zaman yang kita hidupi berbeda dari zaman dahulu. Perbedaan tersebut bisa ke arah positif atau negatif. Perbedaan itu ditandai dengan salah satunya oleh kemajuan teknologi. Kalau zaman dahulu, mungkin tidak ada media elektronik yang canggih, seperti HP, laptop, dll, namun di zaman sekarang, semuanya ada, bahkan lebih canggih. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita sedang hidup di zaman serba berteknologi. Dalam hal ini, orang Kristen pun berpartisipasi dan ikut menikmati kemajuan teknologi. Ada beragam reaksi yang dinyatakan oleh orang Kristen berkenaan dengan media.

 

1.             Cuek dan Terlalu Kompromi

Biasanya beberapa atau bahkan mungkin banyak orang Kristen yang prinsip hidupnya tidak beres selalu mengambil jalan pragmatis di dalam hidupnya, yaitu “prinsip” EGP (emang gue pikirin). “Prinsip” ini ditandai dengan dua hal. Pertama, yaitu cuek. Mereka benar-benar cuek dengan kemajuan teknologi dan akibatnya, karena baginya, mereka sangat menikmati teknologi-teknologi tersebut. Kedua, yaitu terlalu kompromi. Selain cuek, orang pragmatis biasanya terlalu menganggap ringan banyak hal. Ia terlalu banyak berkompromi dalam banyak hal. Mereka berpikir bahwa semua media itu baik dan berguna. Bukan hanya media, dalam hal seni pun, mereka berpikir hal yang sama. Saya mendengar perkataan seorang penyiar radio Kristen di sebuah siaran radio Kristen di Surabaya mengatakan bahwa semua musik itu dari Tuhan. Pernyataan ini sebenarnya perlu diklarifikasi dengan penjelasan yang bertanggungjawab. Benarkah semua musik itu dari Tuhan? Apakah si penyiar ini tidak sadar bahwa musik juga termasuk salah satu hasil dari kebudayaan manusia yang berdosa. Hal yang sama dengan media. Media adalah hasil kreativitas dari manusia berdosa. Meskipun TIDAK semua media itu salah dan menyesatkan, namun tetap ada unsur berdosa di dalam setiap hasil penemuan manusia berdosa.

 

2.             Paranoid

Selain cuek dan terlalu kompromi, reaksi ekstrem kedua adalah ketakutan/paranoid terhadap media. Biasanya reaksi ini ditandai dengan tindakan membatasi penggunaan media oleh beberapa orangtua Kristen maupun hamba-hamba Tuhan agar para generasi muda Kristen tidak terpengaruh hal-hal buruk dari media. Saya mendengar sebuah cerita dari seorang teman kuliah saya dahulu yang berjemaat di sebuah gereja yang cukup terkenal di kalangan anak muda di Surabaya. Teman saya bercerita bahwa pendetanya (yang tergolong masih muda dan bukunya cukup terkenal) melarang anggota jemaatnya untuk membaca buku atau/dan menonton film The Da Vinci Code. Di satu sisi, tindakan memproteksi ini baik dan berguna, namun sayang, di sisi lain, hal ini berbahaya, kurang bertanggungjawab, dan kurang bijaksana. Mengapa? Karena: Pertama, motivasinya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Apa motivasi dari tindakan pembatasan penggunaan media? Biasanya orang yang paranoid dengan media lalu membatasi penggunaan media berkata bahwa itu kurang baik isinya. Jika ada orang yang berkata demikian, tolong tanya, apakah yang mengatakan hal tersebut sudah mengerti seluk-beluk media yang dibicarakannya atau tidak/belum? Jika sudah mengerti, maka ia berhak mengatakan hal tersebut. Namun, jika belum, hak apa ia bisa mengatakan hal yang belum diketahuinya secara tuntas? Jika orang itu belum mengerti seluk-beluk media secara tuntas, lalu menyuruh jemaat/orang lain untuk membatasi penggunaan media, bukankah sikap ini adalah sikap fanatik berlebihan? Jangan heran, beberapa anak muda Kristen kurang kritis dalam memilih sendiri mana media yang beres atau tidak, karena di gerejanya, mereka diajar oleh pengajar/hamba Tuhan yang paranoid dengan media.

 

Kedua, tujuannya bisa merusak. Apa tujuan dari pembatasan penggunaan media? Biasanya mereka yang paranoid terhadap media yang mengambil sikap membatasi penggunaan media mengatakan bahwa tujuan mereka agar para generasi muda Kristen tidak rusak imannya. Kembali ke contoh tentang pelarangan menonton/membaca The Da Vinci Code oleh seorang pendeta di atas, apa tujuan pendeta tersebut melarang menonton/membaca The Da Vinci Code? Mungkin sekali tujuannya baik, yaitu agar para generasi muda Kristen tidak rusak imannya, namun apakah tujuan itu benar-benar bijaksana? Saya pikir tidak. Mengapa? Pertama, apakah pelarangan tersebut konsisten dengan tindakan pendeta itu sendiri? Jika pendeta itu melarang menonton/membaca The Da Vinci Code, tolong tanya, apakah pendeta itu sudah membaca/menontonnya? Jika sudah, mengapa ia melarang? Jika belum, hak apa ia melarang orang lain menonton/membacanya? Ataukah ia hanya mendengar dari kata pendeta lain yang sudah mengkritisi The Da Vinci Code, lalu mengambil sikap demikian? Kedua, pelarangan tersebut tidak diimbangi dengan pengajaran iman Kristen secara ketat. Jika pendeta itu melarang menonton/membaca The Da Vinci Code, apakah pendeta itu mengimbanginya dengan mengajar iman Kristen yang ketat dan teliti khususnya dalam aspek sejarah untuk melawan isi dari The Da Vinci Code? Jika tidak, maka pelarangan itu tidak bertanggungjawab dan kurang bijaksana. Jika ya, maka sebenarnya pelarangan itu tidak diperlukan, karena kalau jemaat sudah dibekali dengan apa yang benar, maka ia bisa mengembangkan pikiran kritis di dalam melihat segala sesuatu. Saya berani berkata satu hal bahwa jika ada pendeta yang melarang menonton/membaca The Da Vinci Code, namun tidak mengimbanginya dengan mengajar iman Kristen dengan beres, biasanya pendeta itu kurang beres dalam belajar theologi/Alkitab. Untuk menutupi kelemahannya dalam hal-hal theologi, makanya ia melarang jemaatnya tanpa mau memberi tahu dengan jelas alasan dan hal-hal yang sebenarnya. Di sini, yang paling mengasihankan itu jemaatnya yang diimun oleh pendetanya yang mungkin sekali adalah orang yang kurang belajar theologi baik-baik. Ketiga, pelarangan tersebut mengakibatkan pemberhalaan terhadap si pelarang. Biasanya gejala fanatisme adalah gejala yang percaya apa saja apa yang dikatakan oleh otoritas tertinggi, misalnya: pendeta, pemimpin gereja, orangtua, senior, atasan (bos), dll. Nah, di dalam Kekristenan, gejala fanatisme ini ditandai dengan percaya apa saja yang dikatakan pendeta. Jika pendeta melarang menonton/membaca sesuatu, maka semua jemaatnya serentak menurutinya. Jadi, dari muda, jemaat tidak diajar untuk kritis, namun diajar untuk percaya apa saja yang dikatakan dan dilarang oleh pendeta. Lama-kelamaan, jemaat dan para generasi muda Kristen mengandalkan (bisa dibilang: memberhalakan) pendetanya. Mereka akan bertanya dahulu kepada pendetanya sebelum menonton film atau membaca buku-buku sekular/rohani. Jika pendetanya menyetujuinya, maka mereka dengan berani menonton film atau membaca buku tersebut. Jika pendetanya melarangnya, maka mereka tidak mau melakukannya. Dengan kata lain, benar atau salah ditinjau dari perspektif pendetanya yang mungkin sekali tidak pernah sekolah theologi baik-baik atau tidak pernah mengerti dunia luar dengan teliti dan beres (asal mendengar kata orang).

 

 

B.       Reaksi Kekristenan yang Benar Terhadap Media

Jika kedua reaksi Kekristenan di atas terhadap media terlalu ekstrem, maka bagaimana sebenarnya reaksi Kekristenan yang normal dan bertanggungjawab? Saya menawarkan alternatif ketiga sebagai alternatif reaksi Kekristenan terhadap media yang saya sebut sebagai reaksi paradoks. Kita sebagai orang Kristen jangan seperti orang dunia yang suka berpikir either or (kalau tidak X, ya Y), tetapi kita harus berpikir paradoks. Artinya, di dalam cara kita berpikir, hendaklah pikiran kita tidak diikat oleh sistem duniawi, namun terikat dengan apa yang Tuhan mau. Untuk hal-hal yang jelas berdosa (seperti: membunuh, mencuri, dll), jelas kita tidak boleh melakukannya, karena Alkitab melarangnya. Namun untuk hal-hal yang sekunder, maka kita tidak perlu mengambil sikap ekstrem. Kita tetap memegang prinsip tegas, namun ketegasan tidak harus selalu identik dengan kekakuan dan kekolotan.

 

Lalu, dalam hal apa saja kita memiliki ketegasan dalam prinsip? Ada tiga hal di mana kita sebagai orang Kristen harus tegas di dalam prinsip kita menyoroti media. Dua prinsip pertama, saya ambil dari konsep Rev. Craig Cabaniss, M.Div. dan prinsip terakhir saya kembangkan sendiri. Berkaitan dengan perspektif Kristen mengenai media, Rev. Craig Cabaniss, M.Div. di dalam buku yang diedit oleh Rev. C. J. Mahaney yang berjudul Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World mengungkapkan dua prinsip Kristen menyoroti media, yaitu:[1]

1.             Living Coram Deo (Hidup Di Hadapan Allah)

Rev. Craig Cabaniss, M.Div. menjelaskan bahwa hidup Kristen adalah hidup di hadapan wajah Allah. Artinya setiap inci kehidupan kita baik publik maupun privat adalah hidup di hadapan-Nya. Ketika kita menyadari bahwa Allah itu mengetahui dan mengawasi setiap inci kehidupan kita, hal ini mengakibatkan kita takut akan Allah ketika menjalani hidup kita. Takut di sini tidak seperti takut ketika melihat setan, namun takut di dalam pengertian gentar sekaligus hormat kepada-Nya. Lalu, bagaimana kita bisa takut akan Allah? Rev. Craig Cabaniss menjelaskan, “Fearing God is where we begin our search for knowledge and wisdom.” (=Takut akan Allah adalah di mana kita mulai penyelidikan kita bagi pengetahuan dan bijaksana)[2] Dengan kata lain, takut akan Allah mengakibatkan kita bukan duduk diam tak berbuat apa-apa, namun mendorong kita menyelidiki apa yang dikehendaki-Nya bagi umat-Nya melalui firman-Nya. Sehingga ketika kita menggunakan semua media, kita menggunakannya di dalam hadirat Allah (in God’s presence). Kita memilih segala sesuatu di hadapan Allah yang Mahakudus. Yang menarik, selanjutnya, Rev. Cabaniss menjelaskan bahwa ketika kita memilih segala sesuatu, kita melakukannya di hadapan Allah, bukan karena dilihat oleh pendeta, orangtua, anggota kelompok kecil, atau tetangga kita yang belum Kristen. Di sini, pernyataan Rev.. Cabaniss menarik. Berarti, seluruh inci kehidupan kita bukan diatur oleh orang-orang di sekitar kita, namun diatur oleh takut akan Allah yang kita miliki.

 

2.             Grace-motivated Obedience (Ketaatan yang Dimotivasi oleh Anugerah)

Hidup di hadapan Allah mengakibatkan kita sadar bahwa Allah itu Mahakudus dan kita berdosa. Dari perspektif ini, kita menyadari ketidaklayakan kita hidup di hadapan-Nya. Namun, puji Tuhan, Bapa mengutus Anak, yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa umat-Nya dan menyelamatkan kita dari ikatan dosa, iblis, dan maut. Sehingga kita yang dahulu hidup di dalam kegelapan, melalui anugerah-Nya, kita masuk ke dalam terang yang sesungguhnya. Rev. Cabaniss menjelaskan lebih lanjut, “Coram Deo, we find grace. Grace that forgives. Grace that empowers us to change. Grace that leads us to desire and pursue obedience.” (=Coram Deo/hidup di hadapan Allah, kita menemukan anugerah. Anugerah yang mengampuni. Anugerah yang memberikan kuasa kepada kita untuk berubah. Anugerah yang memimpin kita untuk menginginkan dan mengejar ketaatan)[3] Dengan kata lain, takut akan Allah mengakibatkan kita menemukan anugerah Allah di sana dan anugerah ini memampukan kita taat akan apa yang diperintahkan-Nya. Ketaatan kita bukan agar diperkenan oleh Allah, namun sebagai respons atas anugerah yang Allah telah berikan kepada kita. Ketaatan kita akan perintah-Nya mengakibatkan kita melakukan segala sesuatu untuk memuliakan dan menyenangkan-Nya. Hidup memuliakan dan menyenangkan-Nya tentu ditandai dengan tidak sembarangan mempergunakan hidup demi diri sendiri. Jika kita tidak sembarangan mempergunakan hidup, maka kita dengan bijaksana memilih segala sesuatu mana yang memuliakan dan menyenangkan Allah dan mana yang tidak. Kalau kita membaca Roma 12:2, maka Paulus mengajar kita untuk memilih segala sesuatu berdasarkan kehendak Allah: baik, berkenan kepada Allah (bisa diterjemahkan: menyenangkan Allah), dan sempurna. Rev. Cabaniss mengemukakan tiga karakteristik kesenangan yang sesuai kehendak Allah: good and right and true (baik, adil, dan benar). Kemudian, Rev. Cabaniss melanjutkan perkataannya, “Discerning what pleases the Lord requires critically evaluating media content at all times.” (=Membedakan apa yang menyenangkan Tuhan selalu mewajibkan evaluasi kritis terhadap isi media.)[4]

 

3.             Alkitab: Satu-satunya Fondasi Kebenaran

Sebagai orang Kristen yang normal yang telah mengalami anugerah Allah dan terus hidup takut akan Allah, maka kita percaya penuh bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah yang diwahyukan tanpa salah dalam naskah asli (autographa)nya. Artinya, Alkitab adalah satu-satunya fondasi kebenaran dalam iman dan kehidupan kita sehari-hari. Segala macam iman, agama, kepercayaan, filsafat, sains, tradisi, kebudayaan, gaya hidup, perkataan, pikiran, dan tindakan harus ditundukkan di bawah Alkitab. Segala sesuatu harus diuji berdasarkan Alkitab. Namun, apakah itu berarti kita menjadi orang udik dan aneh? Lalu, kita hanya mau menonton film-film rohani, membaca buku-buku rohani, dan melakukan hal-hal rohani saja? TIDAK. Kita percaya akan ketidakbersalahan Alkitab, namun di dalam aplikasinya, kita jangan menjadi orang aneh. Ingatlah satu hal: kita ada di dalam dunia, namun kita bukan berasal dari dunia. Artinya, status kita memengaruhi dan mendasari hati, pikiran, perkataan, dan tindakan kita di dalam dunia. Meskipun kita adalah anak-anak Allah, kita tetap harus bergaul dan hidup di dunia ini, tentu tidak boleh menyetujui semua pemikiran dan tindakan duniawi/sekular. Ada batas-batas yang harus kita ambil untuk membedakan kita dari orang-orang dunia.

 

Kembali, ketidakbersalahan Alkitab yang kita imani memengaruhi sikap kita di dalam melihat segala sesuatu. Ketidakbersalahan Alkitab memengaruhi sikap kita untuk kritis dalam segala hal. Namun, ketidakbersalahan Alkitab yang mengakibatkan kita kritis tidak seharusnya membuat kita antipati atau paranoid terhadap hal-hal duniawi. Saya pernah mendengar seorang pendeta berkata bahwa kalau beliau mau menonton film di DVD, beliau akan memutarnya secara cepat di laptop untuk mengetahui alur ceritanya, supaya kita yang menonton tidak terikat pada alur cerita yang diatur oleh sutradara. Di satu sisi, hal ini ada baiknya, namun di sisi lain, kita kurang menikmati sebuah cerita. Kembali, apakah dengan mengimani ketidakbersalahan Alkitab, lalu kita menjadi orang-orang Kristen yang kurang menikmati cerita/film/dll? Lebih tajam lagi, apakah ketidakbersalahan Alkitab mengakibatkan kita menjadi orang yang kurang bersukacita? Tidak heran, beberapa orang Kristen khususnya Reformed di sebuah gereja tertentu, mukanya lonjong-lonjong dan tidak ada gairah sukacita di dalamnya. Pendetanya mengkritik buku Rev. John S. Piper, D.Theol. yang membahas hedonisme Kristen. Pendeta ini menyangka bahwa hedonisme itu ngawur, maka hedonisme Kristen itu juga ngawur. Padahal ketika si pendeta berkata demikian, ia kurang bertanggungjawab, karena ia tidak mau membaca terlebih dahulu buku-buku dan penjelasan Dr. John S. Piper tentang makna hedonisme Kristen di dalam bukunya Desiring God (Mendambakan Allah). Pendeta ini baik, yaitu beliau kritis, namun kekritisannya tidak didasarkan pada bukti yang kuat yang mengakibatkan sikap generalisasi berlebihan.

 

Dengan mengimani ketidakbersalahan Alkitab, kita dituntut untuk kritis, namun kekritisan kita hendaklah merupakan kekritisan yang wajar dan tidak terlalu ekstrem/berlebih-lebihan. Kalau kita tidak mengerti tentang sesuatu hal, hendaklah kita tidak sembarangan berkomentar! Belajarlah untuk menyelidiki sesuatu hal tersebut secara tuntas, baru berkomentar. Jangan seperti banyak orang postmodern yang pragmatis yang asal-asal ngomong. Kembali, bagaimana kita bisa kritis secara wajar? Ya, sebenarnya ini tidak mudah. Fondasi agar kita bisa kritis adalah kita belajar iman Kristen dan Alkitab terlebih dahulu. Setelah kita belajar banyak hal tentang iman Kristen dan Alkitab dengan beres, maka kita bisa kritis secara wajar. Ini bukan hanya teori, namun sudah saya aplikasikan. Ketika menonton film baik di DVD maupun bioskop, tingkat kekritisan kita harus tajam, namun tidak berarti kita tidak menikmati alur cerita filmnya. Artinya, sambil menikmati alur cerita filmnya, kita sambil kritis menyoroti nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Misalnya, ketika kita menonton film Star Trek, ya, kita menikmati saja alur ceritanya yang seru dan menegangkan, namun kita tetap harus kritis nilai-nilai yang sedang diajarkan melalui film itu apakah sesuai dengan Alkitab. Jangan menerima mentah-mentah semua nilai di dalam media, namun juga jangan menolak semua nilai di dalam media. Kita harus bijaksana memilih dan memilah sendiri mana yang sesuai dengan Alkitab dan tidak untuk kita aplikasikan. Contoh lain, ketika kita menonton film Yes Man yang dibintangi oleh aktor, Jim Carrey, kita boleh menikmati alur ceritanya yang lucu dan konyol, namun kita tetap harus waspada bahwa film itu sedang mencoba mengajarkan Berpikir Positif kepada para penontonnya. Sebagai penonton Kristen, kita tidak boleh langsung meng“amin”kannya, kita harus mengujinya dan memang bahwa Berpikir Positif itu lebih banyak berdampak buruk dan tidak sesuai dengan Alkitab.

 

 

 

 

III.    SEPUTAR FACEBOOK

Setelah kita mengerti presuposisi Kristen terhadap media, maka kita akan menyoroti seputar Facebook: definisi, asal mula, pelarangan terhadap penggunaannya, dan hal-hal lainnya. Untuk selanjutnya, Facebook akan disingkat FB.

A.       FB: Definisi, Asal Mula, dan Perkembangannya

Apa itu Facebook (FB)? Situs Wikipedia[5] menjelaskan bahwa FB adalah situs jejaring sosial yang dioperasikan dan secara privat dimiliki oleh Facebook, Inc. di Cambridge, Massachusetts, USA. FB pertama kali bernama Facemash ditemukan oleh Mark Zuckerberg pada tanggal 28 Oktober 2003 bersama dengan teman kosnya, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes ketika mereka menjadi mahasiswa di Harvard University. Facemash sebenarnya merupakan situs jejaring sosial yang hanya diperuntukkan untuk mahasiswa Harvard, namun telah meluas sampai ke kampus-kampus lain di daerah Boston area, Ivy League, dan Stanford University. Kemudian, situs ini meluas keanggotaannya mulai dari siswa/i SMU sampai mahasiswa/i, dan semua orang yang berusia di atas 13 tahun. Wikipedia mencatat, anggota FB yang aktif sekarang adalah 350 juta. Facebook Inc. memiliki karyawan berjumlah lebih dari 900 orang dan meraup pendapatan di atas US$ 300 juta. FB diluncurkan pada tanggal 4 Februari 2004. FB tersedia dalam berbagai bahasa: Afrika, Albania, Arab, Azeri, Basque, Bengali, Bosnia, Bulgaria, Catalan, Mandarin (disederhanakan), Mandarin (Hong Kong), Mandarin (Taiwan), Kroasia, Cekoslowakia, Denmark, Belanda, Inggris (UK), Inggris (US), Inggris (Pirate), Inggris (kacau balau), Esperanto, Estonia, Faroese, Filipino, Finlandia, Prancis (Kanada), Prancis (France), Galician, Georgian, Jerman, Yunani, Ibrani, Hindi, Hungarian, Islandia, Indonesia, Irlandia, Italia, Jepang, Korea, Latin, Latvia, Lithuania, Makedonia, Melayu, Malayalam, Maltese, Nepal, Norwegia (BokmĂĄl), Norwegia (Nynorsk), Polandia, Portugis (Brazil), Portugis (Europe), Persia, Punjabi, Romania, Rusia, Serbia, Slovakia, Slovene, Spanyol, Spanyol (Castile), Swahili, Swedia, Tamil, Telugu, Thai, Turkish, Ukrainian, Vietnam, Wales.

 

FB ternyata bukan hanya bisa diakses di laptop atau komputer, namun juga bisa diakses di HP, BlackBerry (BB), dan i-Phone. HP merk tertentu bahkan sudah dilengkapi dengan fasilitas FB (selain Yahoo Messenger, e-Buddy, dll) di dalamnya. Di BB, ketika kita mengaktifkan internet, pada saat yang sama, satu-satunya situs jejaring sosial yang ada adalah FB ini dan FB ini kemudian kita bisa install, meskipun membuka FB di BB berbeda dengan membuka FB di laptop/komputer. Bagi saya pribadi, lebih enak membuka FB di laptop daripada membuka FB di BB, hehehe…

 

 

B.       Hal-hal Seputar FB: Isi, Anggota, dan Motivasi Anggotanya

Setelah mengerti definisi, asal mula, dan perkembangan FB, maka kita akan menyoroti hal-hal yang ada di dalam FB.

1.             Isi FB

Sesudah kita melihat definisi, asal mula, dan perkembangan FB, maka kita mungkin penasaran, apa isi FB sehingga FB begitu meluas dan terkenal? Di FB, kita bisa mendaftar menjadi anggota gratis. Ketika kita sudah menjadi anggota, kita bisa memanfaatkan semua fasilitas di FB. Tentunya kita mengisi profil dan gambar kita supaya orang lain mengetahui siapa kita. Di bagian profil, kita bisa mengisi jenis kelamin, informasi kelahiran (tanggal, bulan, dan tahun), status hubungan (jomblo, rumit, berpacaran, menikah, dll), mencari (teman, jaringan, teman kencan, pacar), no HP, telepon, e-mail, Yahoo Messenger, MSN, informasi kuliah, informasi tempat kerja, tentang saya (About Me), dll. Kemudian kita bisa mengupdate status kapan pun dan di mana pun kita berada. Status itu berisi apa yang ada di dalam pikiran kita atau apa yang kita lakukan atau kita bisa mengisi apa pun di dalam status. Selain status, kita bisa mengisi catatan di bagian Notes (Catatan). Selain Catatan, kita juga mengisi Acara (Event) yang terletak di sebelah kira Notes. Notes, Event, dll ada di bagian bawah FB. Kemudian, kita juga bisa menjelajahi aplikasi yang ada (baik legal maupun illegal) di FB, misalnya: kuis, dll. Aplikasi-aplikasi tersebut kebanyakan berisi hal-hal yang tidak serius atau hanya untuk bersenang-senang saja (guyonan). Jangan percaya akan setiap isi di dalam aplikasi tersebut, karena itu hanya untuk fun. Inilah sisi fun di FB dan hal itu ok-ok saja. Selain itu, kita juga bisa membuat sendiri aplikasi dan fan page tentang tokoh, organisasi, atau siapa pun yang kita inginkan (bisa guru, dosen, kampus, dll).

 

2.             Anggota/Pengguna FB

Karena isinya menarik, FB adalah situs jejaring sosial yang dulunya digandrungi oleh banyak anak muda. Namun karena zaman terus berubah, maka, bukan hanya anak muda, anak-anak (bahkan SD) sampai orangtua pun menggandrunginya. Tidak jarang kita menjumpai banyak hamba Tuhan yang menjadi anggota di FB. Begitu juga anak SD yang berusia di bawah 12 tahun pun sudah mendaftar menjadi anggota di FB. Variasi para anggota/pengguna FB sangat beraneka ragam membuat FB makin terkenal.

 

3.             Alasan dan Motivasi Anggota/Pengguna FB

Jika kita melihat begitu beragamnya para anggota FB, maka kita perlu mengklarifikasi apa alasan para anggota mendaftarkan diri mereka menjadi anggota di FB. Ada yang mendaftar karena didaftarkan temannya atau ikut-ikutan teman yang mendaftar di FB. Secara motivasi, ada yang mendaftar FB untuk menonjolkan diri (narsis). Sangat sedikit orang yang mendaftar FB untuk melayani Tuhan, misalnya: menginjili, memberitakan Firman, dll.

 

 

C.       Kritik dan Pelarangan Terhadap Penggunaan FB dan Tinjauan Kritisnya

Suatu media tidak lepas dari pro dan kontra. Begitu juga halnya dengan FB. FB tidak lepas dari sejumlah kontra, yaitu kritik dan pelarangan terhadap penggunaan FB. Situs Wikipedia memberi tahu kita tentang berbagai kritik dan pelarangan terhadap penggunaan FB.[6]

1.             Anak Di Bawah Umur 13 Tahun

Karena tidak ada larangan keras bagi anggota yang berusia di bawah 13 tahun, maka masyarakat kuatir bahwa FB berbahaya bagi anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun. Sebenarnya alasan ini masuk akal, karena anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun biasanya kurang mengerti kegunaan FB dan hal-hal di dalamnya. Bukan tidak mungkin anak-anak tersebut mengakses halaman FB yang berisi hal-hal tidak senonoh dan chatting dengan teman-teman yang tidak jelas asal usulnya. Namun kekuatiran tersebut sebenarnya bisa diatasi dan tidak perlu dibombastiskan. Bagaimana mengatasinya? Kalau Anda orang Kristen yang beres dan memiliki anak, tentu dari kecil, anak Anda sudah dididik dan diajar dengan iman Kristen yang beres, sehingga dari kecil, mereka sudah takut akan Allah. Ketika mereka dari kecil sudah takut akan Allah, mereka akan dengan sendirinya memilih dan memilah mana yang beres dan mana yang tidak. Namun tindakan pemilihin dan pemilahan ini harus dibarengi dengan peran serta orangtua terus-menerus agar mereka semakin tumbuh dewasa.

 

2.             Tidak Berhubungan Dengan Kampus (dan Pekerjaan)

Pada Oktober 2005, University of New Mexico memblokir akses ke FB bagi semua komputer dan jaringan di kampus tersebut. Mengapa? Karena pihak kampus menyatakan bahwa FB tidak berkaitan dengan urusan kampus dan pekerjaan di staf kampus. Hmmm, mungkin hal ini ada benarnya, karena FB bisa mengganggu kinerja para staf kampus. Akhirnya pekerjaan bisa terbengkalai karena terlalu sering mengakses FB. Namun, di sisi lain, biasanya peraturan tersebut, khususnya pembuat peraturan itu, biasanya tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Ini bukan sekadar teori, saya sudah menemukan realitasnya. Ada “asisten” manajer sebuah perusahaan penerbitan melarang (secara implisit) anak buahnya menggunakan Yahoo Messenger (YM) jika tidak berkaitan dengan pekerjaan. Dia akan mengomel dan menyindir anak buahnya yang chatting dengan menggunakan YM untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.. Tetapi tahukah Anda bahwa yang membuat peraturan implisit tersebut adalah orang yang sama yang TIDAK mengenakan peraturan tersebut berlaku bagi si pembuat peraturan! Artinya, orang itu melanggar peraturan yang dia buat sendiri. Saya tahu dari mana? Orang ini chatting dengan menggunakan YM dengan rekan anak buahnya dan membicarakan tentang panda. Tolong tanya, apakah panda ada kaitannya dengan pekerjaan di perusahaan penerbitan? Oleh karena itu, bersikaplah dewasa dalam membuat keputusan, jangan asal-asalan!

 

3.             Larangan dari Pemerintah Negara

Alasan ketiga adalah karena FB dipakai oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab untuk mengkritik pemerintah dan mendukung partai-partai illegal di suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah negara-negara tertentu, misalnya: Iran, Tiongkok, Syria, dan Vietnam melarang penggunaan FB. Hal ini ada benarnya untuk mengurangi ketidakbertanggungjawaban pihak-pihak tertentu dalam menggunakan FB untuk hal-hal yang tidak beres. Namun, di sisi lain, patut diragukan motivasi pelarangan FB oleh pemerintah negara. Apakah suatu pemerintah negara tertentu merasa terganggu dengan kekuasaannya, maka ia melarang penggunaan FB, bahkan memenjarakan mereka yang mengakses FB? Misalnya, suatu pemerintahan negara tertentu tidak beres, korupsi di mana-mana, diktator, dll, kemudian melalui FB, ada warga yang menyindir kebusukan pemerintahan. Dengan diblokirnya penggunaan FB oleh pemerintah tersebut gara-gara ulah warga tadi, bukankah itu makin menandakan kejelekan pemerintah tersebut? Bukankah ini tindakan konyol yang dilakukan tanpa pertimbangan yang matang dan bijaksana? Jika pemerintah tidak melakukan kesalahan, mengapa harus takut dikritik oleh warganya?

 

4.             Penyalahgunaan Privasi

Alasan keempat adalah profil FB sering disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab untuk hal-hal yang tidak beres. Wikipedia menceritakan bahwa dua mahasiswa Massachusetts Institute of Technology (MIT) dapat mendownload 70.000 profil FB dari empat kampus (MIT, New York University, the University of Oklahoma, dan Harvard University) dengan menggunakan sebuah program. Hal ini patut diperhatikan bagi para anggota FB agar kita tidak terlalu membuka semua profil kita, khususnya berkaitan dengan alamat..

 

5..             Merusak Remaja

Uskup agung Katolik Roma Westminster yang bernama Vincent Nichols mengatakan bahwa FB dan situs jejaring sosial lainnya dapat mengarahkan para remaja melakukan tindakan bunuh diri. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa situs jejaring sosial dapat merusak hubungan intim dan membiarkan para remaja tanpa ikatan sosial. Apa yang dikatakan uskup ini ada benarnya, karena para remaja biasanya masih labil dan mudah meniru.. Namun, sayangnya perkataan uskup ini kurang didukung bukti konkrit akan apa yang dikuatirkannya. Kalau pun ada kasus seperti yang dikatakannya, itu pun kasus khusus dan solusi agar tidak terjadi kasus tersebut bukan melarang penggunaan FB, tetapi mengarahkan para remaja dengan iman dan etika yang beres, sehingga mereka tidak terpengaruh hal-hal negatif dari penggunaan FB.

 

Saya terus terang takut dan kuatir, Kekristenan bukan tumbuh dewasa, namun menjadi kekanak-kanakan. Satu (atau beberapa) kasus mengakibatkan orang Kristen menjadi paranoid, lalu bertindak ekstrem. Misalnya, karena ada berita kejahatan, orangtua Kristen yang anaknya tidak mau ikut-ikutan, maka anak-anaknya dilarang membaca surat kabar, menggunakan FB, dll. Namun secara tidak sadar, beberapa dari orangtua tersebut ternyata membaca surat kabar, menggunakan FB, dll. Jika ditanya, mengapa orangtua bertindak demikian, sedangkan anak-anaknya tidak boleh? Jawaban yang sering didengar adalah karena orangtua sudah banyak makan asam garam, jadi tahu mana yang beres dan tidak. Jawaban klise tersebut sebenarnya bukan jawaban, namun hanya rasionalisasi atas tindakannya sendiri yang tidak bijaksana. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam salah satu khotbahnya pernah menceritakan kasus di mana orangtua yang terlalu mengimun anaknya. Pada suatu kali, dulu waktu Pdt. Stephen Tong masih muda, beliau bertemu dengan pendeta yang sudah berumur/tua, kemudian si pendeta tua ini mengajar Pdt. Stephen Tong bahwa karena surat kabar di Hong Kong isinya selalu hal-hal buruk, seperti: pembunuhan, pemerkosaan, dll, maka setelah membaca surat kabar tersebut, si pendeta tua menggunting-gunting berita yang berisi hal-hal negatif di surat kabar tersebut, kemudian menyerahkan surat kabar tersebut kepada anak-anaknya untuk dibaca. Kemudian, Pdt. Stephen Tong berpikir dan berkata kepada si pendeta tua, jika si pendeta tua melakukan hal tersebut, maka anak-anaknya malah semakin penasaran dengan isi dari surat kabar yang sudah digunting-gunting tersebut dan bukan sesuatu yang mustahil jika anak ini bisa meminjam surat kabar tetangganya khusus untuk melihat berita apa yang digunting-gunting oleh ayahnya itu. Bukankah ini lebih gawat? Kemudian, Pdt. Stephen Tong bersenda gurau di dalam khotbahnya menyebut koran yang bolong-bolong (setelah digunting oleh pendeta tua) itu sebagai holy newspaper, bukan surat kabar/koran yang kudus, tetapi koran yang banyak lubangnya, maka disebut holy (àhole: lubang), hehehe…

 

 

 

 

IV.    PENGGUNAAN FACEBOOK: BERTANGGUNGJAWAB VS TIDAK BERTANGGUNGJAWAB DAN TINJAUAN KRITISNYA

Terakhir, setelah mengerti seluk-beluk FB, maka sekarang kita akan menyoroti penggunaan FB. FB sendiri boleh dibilang netral, karena FB hanya sarana menjalin hubungan baik pertemanan, jaringan, dll. Namun yang menjadi permasalahannya adalah masalah penggunaannya. Banyak yang menggunakan FB secara tidak bertanggungjawab dan ada juga yang menggunakannya secara bertanggungjawab. Dengan membedakan dua hal ini, sekali lagi, saya TIDAK bermaksud terlalu serius menyoroti FB, lalu kita tidak boleh fun di dalam FB. Kita boleh fun di FB, namun tetap harus ada batas fun tersebut.

A.       Penggunaan FB yang Tidak Bertanggungjawab

Apa saja yang termasuk penggunaan FB yang tidak bertanggungjawab?

1.             Membuat Halaman-halaman Khusus yang Berisi Hal-hal Porno

Tindakan penggunaan FB yang tidak bertanggungjawab biasanya dilakukan oleh banyak orang Amerika Serikat sendiri yang hidup tidak karuan. Salah satunya adalah membuat halaman khusus yang berisi hal-hal dan gambar-gambar porno. Mungkin, di Indonesia, hal ini kurang atau mungkin tidak ada yang melakukannya. Namun, kita harus mewaspadai hal-hal ini..

 

2..             Iseng dan Mencari Sensasi

Tindakan penggunaan FB yang tidak bertanggungjawab kedua adalah keisengan dan mencari sensasi. Zaman di mana kita hidup adalah zaman postmodern dengan ide postmodernisme dan postmodernitas yang mulai meracuni para generasi muda, tidak terkecuali yang “Kristen.” Selain postmodernisme, ingatlah, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan dengan segala kreativitasnya, namun telah berdosa dan rusak total. Jika kedua konsep ini digabungkan, maka timbullah suatu sikap: iseng dan mencari sensasi. Lho, apa tidak boleh iseng? Iseng sebenarnya tidak apa-apa, asalkan ada batasnya. Iseng dan mencari sensasi muncul karena kreativitas manusia yang diberi oleh Allah disalahgunakan dengan tidak bertanggungjawab.

 

Orang zaman sekarang gemar mencari dan menimbulkan sensasi untuk mencari keuntungan. Jangankan orang dunia, beberapa aliran Kristen juga gemar kok dengan tindakan mencari dan menimbulkan sensasi. Coba perhatikan dunia Kristen sejak zaman dahulu sampai sekarang. Dulu banyak orang Kristen tergila-gila dengan sensasi Toronto Blessing (TB), lalu setelah TB selesai, maka pindah lagi ke sensasi gereja di Singapore di mana istri sang pendeta berpakaian tidak senonoh. Sekarang, sensasinya berpindah lagi ke Surabaya dengan pendeta yang masih muda, tampangnya seperti bintang film, dan terkenal melalui bukunya. Di dalam kebaktian besar yang dipimpinnya, si pendeta menyuruh jemaatnya untuk bergandengan tangan untuk menerima kuasa dari si pendeta (mirip tindakan tenaga dalam dalam Gerakan Zaman Baru). Baru-baru ini, meledak lagi 2 sensasi yang lebih heboh. Pertama, seorang muda yang mengklaim diri sebagai “nabi”, menulis buku, dan mendirikan persekutuan di Surabaya, namun semuanya hanya kedok, karena seseorang menceritakan bahwa setelah memimpin persekutuan yang didominasi oleh banyak mahasiswi, “nabi” ini melakukan free-sex. Seorang pendeta dari sebuah gereja Karismatik Injili melalui e-mail yang saya baca geleng-geleng kepala dan menegur keras “nabi” ini dan hamba Tuhan yang ikut mendukung “nabi” ini. Sensasi kedua datang dari kota besar di Jawa Tengah.. Saya mendengar cerita ini dari seorang rekan pendeta. Rekan saya ini bercerita bahwa ada seorang “pendeta” yang sudah beristri kemudian ingin memiliki istri kedua yang tidak lain adalah anak buah di dalam pelayanannya. Tahukah Anda apa alasan yang dia pakai untuk menikah kedua kalinya? Anda pasti tertawa mendengarnya. Si “pendeta” ini mengatakan bahwa ia “menikah dalam roh” dengan anak buah pelayanannya itu. Huahahahaha… Lucu dan konyol kan?

 

Kalau dunia Kekristenan suka mencari dan menimbulkan sensasi, maka jangan heran, dunia FB pun tidak lepas dari sensasi. Biasanya, orang yang gemar mencari dan menimbulkan sensasi dengan cara berbohong melalui profilnya di FB. Alasannya sich katanya fun, tetapi fun yang ngawur. Misalnya, mengenai relationship status (status hubungan), seorang bisa mengganti-ganti sesukanya sendiri: dari single, kemudian it’s complicated, kemudian single, kemudian engaged, kemudian married, kemudian single, kemudian married, dll. Lalu, kalau orang ini ditanya, mengapa statusnya diganti-ganti? Jawabannya sungguh pragmatis: ISENG. Kalau dia mau konsisten dengan keisengannya, mengapa jenis kelaminnya tidak diganti sekalian? Mengapa Agama tidak diganti sekalian dari Kristen menjadi atheis? Ini membuktikan keisengannya bukan keisengan tanpa berpikir bukan? Bukan hanya mengganti status hubungan, tetapi juga berdusta. Saya menemukan fakta di FB bahwa adik teman saya yang masih remaja (di bawah 17 tahun) sudah memasang status hubungannya: MARRIED (menikah), kemudian disusul dengan nama seorang yang berjenis kelamin sama dengan dia. Lucu sih gejala ini, namun konyol. Apa hanya karena alasan iseng, hal-hal itu dipermainkan? Kalau saya pribadi sudah mengetahui adik teman saya itu, maka saya mengetahuinya, namun bagaimana dengan orang lain yang tidak mengetahuinya?

 

Bukan hanya relationship status, hal-hal lain seperti Siblings pun suka ditulis sesuka hatinya. Menurut arti kata, sibling berarti saudara kandung. Namun dasar orang postmodern yang iseng, nama-nama di FB yang berkaitan dengan sibling diisi dengan nama teman-temannya. Aneh bukan? Iseng mengakibatkan segala sesuatu mungkin tampak lucu, namun lama-kelamaan jika diperhatikan konyol.

 

Rupa-rupanya HTS (Hubungan Tanpa Status)[7] atau istilahnya TTM (Teman Tapi Mesra) atau teman “dekat” atau istilah gaulnya: gebetan yang lagi marak di kalangan generasi muda zaman postmodern sekarang ternyata tidak luput diaplikasikan di FB. Bagaimana saya mengetahuinya? Meskipun ini bukan generalisasi dan tidak mutlak, saya bisa membaca gejala ini dengan mencocokkan antara Relationship Status dengan Looking For di dalam profil seseorang. Biasanya kalau seseorang sedang menjalin HTS atau memiliki TTM, ada orang yang menulis status hubungannya: it’s complicated (rumit). Namun ada juga remaja yang memasang status it’s complicated, namun tidak mengerti artinya (atau pura-pura tidak mengerti artinya?). Saya menghargai orang jujur yang mengerti hubungannya. Namun ada juga orang lain yang sudah memiliki TTM, tetapi tetap menulis status hubungannya: single (jomblo), namun dia hanya mencari persahabatan (di dalam Looking For, dia menulis: Persahabatan/Friendship). Meskipun orang yang menulis seperti ini TIDAK harus berarti dia sudah memiliki TTM, tetapi kebanyakan seperti itu. Lalu, kalau orang ini ditanya, dia akan berkata bahwa itu hanya teman dekat. Teman dekat namun berbeda jenis kelamin dan mau diajak pergi berdua. Apakah itu hanya sebatas teman?? Kalau teman, mengapa mau diajak pergi hanya berdua?? Ada juga yang sudah bertunangan, namun tidak mau menulis status: Engaged, entah apa motivasinya. Kalau kita melihat gejala generasi muda di FB, kita akan geleng-geleng kepala. Jangankan generasi muda dunia, banyak generasi muda Kristen pun terlalu fun di FB, sampai hampir tidak bisa dibedakan mana yang Kristen dan mana yang bukan.

 

 

B.      Penggunaan FB yang Bertanggungjawab

Lalu, bagaimana menggunakan FB secara bertanggungjawab? Apakah di FB tidak boleh fun dan selalu serius? Sekali lagi TIDAK. Bagaimana kita menggunakan FB secara bertanggungjawab prinsipnya sama dengan perspektif Kristen mengenai media. Kita menggunakan semua hal untuk kemuliaan Allah, maka kita menggunakan FB untuk memuliakan Allah. Kita memiliki prinsip-prinsip yang tegas di dalam menyoroti media, namun TIDAK berarti kita kaku dan kolot di dalam aplikasinya. Begitu juga halnya dengan FB. Kita memiliki prinsip dan motivasi yang jelas dan tegas mengapa kita bergabung menjadi anggota di dalam FB, yaitu untuk memuliakan Allah dan membawa berita firman. Namun tidak berarti kita menjadi orang yang sok religius ketika memanfaatkan FB. Kita harus bisa memiliki sikap seimbang antara hal-hal rohani dan hal-hal fun. Saya pribadi sebagai anggota FB berusaha menyeimbangkan dua hal ini, meskipun saya lebih menekankan hal-hal rohani di FB. Namun, saya tetap mencoba aplikasi-aplikasi fun di FB untuk refreshing.

 

 

 

 

V.      KESIMPULAN DAN TANTANGAN

Sebagai penutup dan kesimpulan, bagaimana sikap kita? Apakah kita meniru apa yang dunia ajar dan lakukan melalui penggunaan FB secara tidak bertanggungjawab? Ataukah kita melakukan ekstrem lainnya yaitu tidak mau memanfaatkan FB sama sekali? Ataukah kita berusaha seimbang dan paradoks yaitu mempergunakan FB secara bertanggungjawab: fun namun tetap memiliki prinsip? Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan menjadi garam dan terang dunia di dalam setiap aspek kehidupan, termasuk memanfaatkan FB secara seimbang demi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Biarlah ini bukan teori saja, tetapi kita aplikasikan di dalam cara kita memanfaatkan FB. Amin. Soli Deo Gloria.

 

 

 



[1] C. J. Mahaney, ed., Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World (U.S.A.: Crossway, 2008), hlm. 46-51.

[2] Ibid., hlm. 46.

[3] Ibid., hlm. 47.

[4] Ibid.

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Facebook

[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Facebook

[7] Saya mendapatkan istilah ini setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Lidya yang berjudul “Hubungan Tanpa Status, Trend Anak Muda Masa Kini” di Tabloid Reformata (http://www.reformata.com/index.php?m=news&a=view&id=3274). Lidya sebagai penulis artikel tersebut mengungkapkan inti HTS adalah, “kedekatan dan keintiman tanpa sebuah pengakuan dan komitmen.”



"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!

#19621 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Sun Jan 3, 2010 6:32 am
Subject: 4 Jan
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Ia mengajar dalam rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta
melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu".
(1Yoh 3:22-4:6; Mat 4:12-17.23-25)
"Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia
ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di
daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi
Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai
Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam
kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri
yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan:
"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"…Yesus pun berkeliling di
seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil
Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa
itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah
kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit
dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus
menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka
datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari
seberang Yordan." (Mat 4:12-17.23-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Yesus, Penyelamat Dunia, datang untuk menyelamatkan dunia, antara lain dengan
"mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta
melenyapkan segala penyakit dan kelemahan". Sebagai orang beriman yang percaya
kepadaNya, kita juga dipanggil untuk meneladan Dia, maka marilah kita mawas diri
sejauh mana tugas pengutusan atau missioner tersebut kita hayati dalam hidup
kita sehari-hari. "Memberitakan Injil Kerajaan Allah" berarti menyebarluaskan
warta gembira atau kabar baik agar semua orang dirajai atau dikuasai oleh Allah,
maka hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa baik dan
menggembirakan serta menyelamatkan orang lain. Dari cara hidup dan cara
bertindak kita senantiasa terpancarkan atau tersiarkan apa yang baik,
menyelamatkan dan menggembirakan. Selain itu kita juga dipanggil untuk
"melenyapkan segala penyakit dan kelemahan", dan tugas panggilan itu rasanya
mendesak dan up to date, mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka
penyakit dan kelemahan dalam kehidupan bersama kita, entah itu sakit hati, sakit
jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh. Maka marilah kita cermati apakah di
antara saudara-saudari atau kenalan kita ada yang sedang menderita sakit; kita
datangi mereka yang sakit dan kita sembuhkan. Yang sakit hati hendaknya diampuni
atau dikasihi, yang sakit jiwa hendaknya disapa dan diperlukan dengan ceria dan
kasih mesra, yang sakit akal budi ditemani untuk belajar dengan rajin dan tekun,
sedangkan yang sakit tubuh sekiranya kita tak dapat menyembuhkan baiklah kita
bawa ke dokter atau rumah sakit.
• "Inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus,
Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan
Kristus kepada kita. Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam
Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di
dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita" (1Yoh 3:23-24).
"Saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita"
itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua, yang percaya kepadaNya. Saling
mengasihi berarti siap sedia mengasihi maupun dikasihi, dan rasanya yang sulit
pada masa kini adalah siap sedia dikasihi. Dikasihi tidak hanya diberi yang
enak-enak dan nikmat saja, seperti dicium, diberi hadiah, dibelai, ditemani,
dst.., tetapi juga ditegor, dikritik, dinasihati, diejek, dst. Beranikah kita
menghayati aneka tegoran, kritik, nasihat dan ejekan dari saudara-saudari kita
sebagai perwujudan kasih? Ingat dan sadari bahwa jika saudara-saudari kita tidak
mengasihi kita pasti mendiamkan kita, namun karena mereka mengasihi kita maka
mereka mengritik, menasihati, menegor maupun mengejek. Hemat saya orang
menyampaikan kritik, nasihat, tegoran maupun ejekan tidak mendadak, melainkan
telah persiapan cukup lama dengan memboroskan waktu dan tenaganya untuk
mencermati dan mengamat-amati kita. Pemborosan waktu dan tenaga tersebut
merupakan wujud konkret kasih mereka kepada kita, maka ketika yang keluar dari
mereka terasa sakit pada diri kita (kritik, ejekan, nasihat). Terimalah dengan
rendah hati segala kritik dan nasihat atau tegoran dari saudara-saudari kita,
dan tanggapi dengan singkat `terima kasih'. Dengan demikian ketika dikritik,
ditegor, diejek dan dinasihati dari diri kita tetap terpancar kegembiraan yang
menyelamatkan dan membahagiakan.

"Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku
engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka
bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi
menjadi kepunyaanmu. Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana,
terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan
takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar" (Mzm 2:7-8.10-11)

Jakarta, 4 Januari 2010

#19620 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sun Jan 3, 2010 12:53 am
Subject: DOKTRIN TRITUNGGAL-12 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
dennyteguhsu...
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 

DOKTRIN TRITUNGGAL-12:

Yesus Sebagai Allah-1

 

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

 

 

 

 

Dalam pembahasan kali ini kita akan membuktikan keilahian Yesus dari teks-teks Alitab yang secara eksplisit menyebut Dia sebagai Allah. Harus diakui, eksplisit atau tidaknya suatu teks memang ditentukan oleh penafsiran seseorang terhadap teks-teks tersebut. Pihak non-trinitarian akan selalu memiliki celah untuk memahami teks-teks tersebut dalam cara yang berbeda. Bahkan di kalangan penganut trinitarian sendiri masih terdapat perbedaan pendapat tentang seberapa banyak teks yang secara eksplisit menyebut Yesus sebagai Allah.[1] Terlepas dari semua ini, teks-teks yang akan dibahas kali ini secara umum dapat dikategorikan sebagai teks yang cukup gamblang menyebut Yesus sebagai Allah. Benar atau tidaknya para pembaca dipersilahkan untuk menilai sendiri berdasarkan pembahasan yang akan diberikan.

 

 

Yohanes 1:1c

Dalam teks ini disebutkan “dan Firman itu adalah Allah”. Dalam bahasa Yunani, kalimat yang dipakai adalah kai theos hn ho logos. Walaupun kalimat yang digunakan relatif pendek, sederhana dan jelas, tetapi pihak non-trinitarian berusaha mencari celah untuk menafsirkan teks ini sesuai dengan pemikiran mereka. Mereka biasanya memberikan beberapa alasan untuk menyanggah teks ini sebagai teks yang eksplisit tentang keilahian Yesus.[2]

 

Alasan pertama berkaitan dengan ketidakadaan artikel di depan kata theos (“Allah”). Sesuai prinsip umum tata bahasa Yunani, sebuah kata benda yang tidak memiliki artikel berarti menunjukkan suatu benda yang tidak tertentu. Berdasarkan prinsip ini sebagian orang menafsirkan Yohanes 1:1c dengan “dan Firman itu adalah sebuah allah”. Penafsiran seperti ini bukan hanya diusulkan oleh para penganut Saksi Yehuwah,[3] tetapi juga sebagian penerjemah lain.[4]

 

Kemungkinan lain yang diusulkan adalah dengan memahami theos di sini sebagai kata sifat, sehingga ayat 1c diterjemahkan “dan Firman itu adalah ilahi”.[5] Menurut mereka, sebuah kata benda yang tidak memiliki artikel dapat berfungsi sebagai kata sifat. Salah satu contoh adalah Yohanes 6:70b “salah seorang di antaramu adalah iblis”. Kata benda “iblis” (diabolos) di teks ini tidak memiliki artikel dan fungsinya jelas sebagai kata sifat (Yesus tidak mungkin mengidentikkan Yudas sebagai iblis).

 

Alasan kedua masih berhubungan dengan alasan pertama.. Jika Yesus hanyalah sebuah allah atau bersifat ilahi, maka pengertian “allah” untuk Yesus di sini harus dibedakan dengan pengertian “allah” untuk Bapa. Sebutan “allah” untuk Yesus bukan sesuatu yang istimewa. Dalam Alkitab sebutan “allah” memang dapat dikenakan pada pribadi-pribadi lain selain Allah yang benar, misalnya malaikat, raja, hakim-hakim, makhluk surgawi maupun Musa.[6] Jadi, pihak non-trinitarian merasa tidak masalah dengan menerima Yesus sebagai “allah”, sejauh hal itu tidak menunjukkan kesetaraan hakekat antara Yesus dengan Bapa.

 

Bagaimana kita meresponi penafsiran di atas? Penyelidikan Alkitab yang lebih mendalam dan bertanggung-jawab menunjukkan bahwa penafsiran seperti itu memiliki kelemahan yang sangat serius.

 

Pertama, tidak adanya artikel di depan kata theos merupakan hal yang secara tata bahasa justru dibenarkan. Dalam tata bahasa Yunani, struktur kalimat “A adalah B” disebut predicate nominative (dua subjek dihubungkan dengan kata kerja “adalah”). Khusus berkaitan dengan Yohanes 1:1c, secara tata bahasa artikel yang dibutuhkan memang hanya satu dan itu diletakkan di depan kata benda yang berfungsi sebagai subjek utama.[7] Dalam hal ini artikel diletakkan di depan kata logos (“Firman”), sehingga “Firman” berfungsi sebagai subjek pertama. Menariknya, dalam teks asli Yohanes 1:1c kata theos justru muncul lebih dahulu daripada logos, untuk memberikan penekanan bahwa Yesus benar-benar Allah.

 

Tidak adanya artikel di depan suatu kata benda dalam suatu struktur predicate nominative tidak berarti bahwa kata benda tersebut bersifat tidak tertentu. Alkitab memberi banyak contoh bahwa sekalipun tanpa artikel tetapi arti kata benda itu tetap spesifik.[8] Yohanes 1:49b “Engkau adalah Raja orang Israel”. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah raja Israel keturunan Daud yang dijanjikan oleh para nabi dan disebut sebagai Anak Allah (spesifik), walaupun di depan kata basileus (“raja”) tidak ada artikel. Yohanes 17:17b “Firman-Mu adalah kebenaran”. Kebenaran di sini tidak memiliki artikel, tetapi kita dapat mengetahui dari konteks bahwa artinya sudah sangat spesifik. Yesus tidak sedang membicarakan tentang sebuah kebenaran di antara kebenaran-kebenaran yang lain, karena “kebenaran” di sini adalah kebenaran yang menguduskan orang percaya (ayat 17a “kuduskanlah mereka dalam kebenaran”).

 

Kedua, jika Yohanes menambahkan artikel di depan kata theos, maka ayat 1c justru akan berkontradiksi dengan ayat 1b. Perhatikan arti Yohanes 1:1 jika di depan kata theos diberi artikel.

Pada mulanya adalah Firman itu (ada artikel)

Firman itu (ada artikel) bersama-sama dengan Allah itu (ada artikel)

Dan Firman itu (ada artikel) adalah Allah itu (ada artikel).

 

Penambahan artikel di depan theos seperti di atas akan memberi kesan bahwa theos di ayat 1c identik dengan theos di ayat 1b. Hal ini jelas kontradiktif, karena di ayat 1b disebutkan bahwa “Firman itu bersama dengan Allah”. Bagaimana Firman itu bisa bersama-sama dengan Allah jika Firman itu identik dengan Allah?[9] Lebih masuk akal jika kita memahami bahwa baik “Allah” di ayat 1c (Bapa) dan “Allah” di ayat 1c (Yesus) secara hakekat adalah sama-sama Allah, tetapi secara pribadi keduanya berbeda.

 

Pihak non-trnitarian sebenarnya sudah menyadari hal tersebut di atas. Mereka justru memahami perbedaan theos di ayat 1b dan ayat 1c sebagai perbedaan dalam tingkat hakekat. Mereka berargumentasi bahwa karena Firman itu bersama-sama Allah, maka Firman itu tidak mungkin Allah: “seseorang yang berada bersama-sama dengan â€seorang’ yang lain tidak mungkin sama dengan orang lain tersebut”.[10] Cara berlogika seperti ini jelas tidak tepat jika dipakai untuk menekankan perbedaan hakekat. Sebagai contoh, saya bisa berada bersama-sama dengan orang lain (hakekat kami adalah sama, yaitu sebagai manusia), tetapi pribadi kami tetap berbeda.

 

Selain itu, pandangan non-trinitarian tersebut juga didasarkan pada asumsi bahwa jika “A adalah B” maka “B adalah A”. Menurut mereka, jika Firman adalah Allah, maka Allah adalah Firman, jadi keduanya tidak dapat berada bersama-sama karena keduanya identik. Logika seperti ini dari sisi tata bahasa Yunani tidak dapat dipertahankan. Konstruksi predicate nominative tidak dapat dipahami dalam silogisme seperti itu. Contoh: “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8) berbeda dengan “kasih adalah Allah”, “Allah adalah roh”  (Yoh 4:24) berbeda dengan “roh adalah Allah”.[11] Ketika kita mengatakan bahwa “Firman itu adalah Allah”, itu tidak sama dengan mengatakan bahwa Allah adalah Firman itu. Frase “Firman itu bersama-sama dengan Allah” dan “Firman itu adalah Allah” justru semakin memperkuat ajaran ortodoks Kristen: Firman itu memang bukan Allah yang ada di ayat 1b, tetapi Firman itu tetaplah Allah.

 

Ketiga, dalam Alkitab kata theos yang tanpa artikel muncul ratusan kali. Walaupun tanpa artikel namun dari sisi konteks sudah sangat jelas bahwa yang disebut adalah Allah yang benar. Fenomena ini bahkan dapat kita temukan dalam Injil Yohanes. Berdasarkan hasil riset menggunakan program Grammcord for Windows versi 2.3, kata theos dalam Injil Yohanes yang merujuk pada Allah Bapa tapi tanpa disertai artikel muncul sebanyak 23 kali. Seandainya mau konsisten, maka pihak non-trinitarian seharusnya menerjemahkan semua pemunculan itu dengan “sebuah allah”. Perhatikan beberapa ayat berikut yang diambil hanya dari Yohanes pasal 1 saja..[12]

Yoh 1:6            â€śada seorang yang diutus dari (sebuah?) Allah”

Yoh 1:12          â€śmereka diberi kuasa untuk menjadi anak-anak (sebuah?) Allah”

Yoh 1:13          â€śbukan secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari(sebuah?) Allah”

Yoh 1:18          â€śtidak ada seorang pun yang pernah melihat (sebuah?) Allah”

 

Keempat, sekalipun kata theos yang tanpa artikel untuk Yesus di Yohanes 1:1c dipermasalahkan, namun dalam Injil Yohanes Yesus juga pernah disebut sebagai qeosdengan memakai artikel di depannya. Contoh: Yohanes 20:28 “Ya Allahku dan Tuhanku”. Kata theos di ayat ini memakai artikel. Contoh lain adalah Yohanes 1:18. Jika salinan ”Allah Yang Tunggal” (bukan “Anak Yang Tunggal”) diterima,[13] maka ayat ini juga dapat dipkai sebagai dukungan, karena memakai artikel ho. Dengan demikian, pandangan non-trinitarian bahwa dalam Perjanjian Baru Yesus tidak pernah disebut sebagai theos dengan artikel[14]merupakan pernyataan yang keliru.  

 

Kelima, usulan untuk menerjemahkan ayat 1c dengan “Firman itu adalah ilahi” sama sekali tidak dapat diterima karena dalam bahasa Yunani sudah ada kata sifat khusus yang berarti “ilahi”, yaitu qeios.[15] Kata sifat qeios sendiri dalam Perjanjian Baru muncul beberapa kali, misalnya Kisah Rasul 17:29 “keadaan ilahi”, 2 Petrus 1:3 “kuasa ilahi-Nya”, 2 Petrus 1:4 “kodrat ilahi”. Jika Yohanes sekadar ingin menjelaskan bahwa Yesus bersifat ilahi tetapi bukan Allah, maka dia akan memakai kata qeios, bukan theos.

 

Sebenarnya jika Yohanes memakai kata qeios sekalipun, maka hal itu tetap tidak dapat dijadikan alasan untuk membedakan keilahian Yesus dengan Bapa. Dalam Septuaginta (LXX), kata sifat qeios sering kali muncul dan dikenakan pada Allah. Dalam Keluaran 31:3 dan 35:31 frase “Roh Allah” dalam bahasa aslinya secara hurufiah berarti “Roh ilahi”. Dalam Amsal 2:17b “melupakan perjanjian Allahnya” secara hurufiah berarti “melupakan perjanjian ilahinya”.  Begitu pula frase “Roh Allah” di Ayub 27:3 dan 33:4 secara hurufiah berarti “Roh ilahi”. Walaupun di semua teks ini hanya dipakai kata “ilahi”, namun rujukannya sudah sangat jelas, yaitu Allah sendiri (bukan sekadar makhluk surgawi). Jadi, kembali pada Yohanes 1:1c, sekalipun dipakai kata qeios (kenyataannya tidak), namun hal ini tetap tidak meniadakan kemungkinan bahwa Yesus memiliki hakekat keilahian yang sama dengan Bapa.

 

Bagaimana dengan contoh dalam Yohanes 6:70 yang diberikan oleh pihak non-trinitarian? Apakah kata benda diabolos dalam teks ini berfungsi sebagai kata sifat karena tidak memiliki artikel di depannya? Tentu saja tidak! Hampir semua versi menerjemahkan katadiabolos di sini sebagai kata benda. Hal ini dapat dipahami karena sekalipun kata diabolos muncul tanpa artikel, tetapi kata ini selalu muncul dalam bentuk tunggal dan sudah menjadi istilah teknis yang merujuk pada Setan, penguasa kegelapan (Yoh 8:44; 13:2, 27). Berdasarkan hal ini para penafsir bahkan menolak jika Yohanes 6:70 hanya sekadar diterjemahkan “salah seorang di antaramu adalah salah seorang iblis”. Mereka menekankan bahwa ayat ini harus diterjemahkan “salah seorang di antaramu adalah iblis”.[16] Yesus memang menyebut Yudas sebagai iblis, tetapi pernyataan ini tentu saja tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah, karena iblis hanya satu.[17] Yudas disebut iblis karena dia termasuk ke dalam orang yang menolak Yesus, sama seperti Petrus yang disebut “setan” karena menghalangi rencana penebusan (Mat 16:23).

 

Keenam, arti theos yang dipakai untuk Yesus di Yohanes 1:1c tidak boleh ditentukan oleh pemakaian kata yang sama di beberapa konteks yang berbeda. Arti theos untuk Yesus di Yohanes 1:1c sangat berbeda dengan kata yang sama yang ditujukan pada Musa (Kel. 4:16; 7:1). Dalam kasus Musa, penyebutan theos adalah secara fungsional (Musa berperan sebagai Allah, tetapi secara hakekat dia bukanlah Allah), sedangkan dalam kasus Yesus, penyebutan theos bermakna ontologikal (Yesus secara  hakekat adalah Allah). Harris menjelaskan perbedaan ini dengan sangat baik: dalam konteks Keluaran 4:16 maupun 7:1, ini adalah suatu kasus di mana seseorang menjadi theos bagi yang lain, sedangkan dalam konteks Yohanes 1:1c tidak ada keterangan “bagi/untuk kita” atau “dalam kaitan dengan kita”.[18]

 

Karena kita tidak boleh mengartikan kata theos di Yohanes 1:1c secara sembarangan berdasarkan pemakaian kata yang sama di konteks lain, maka konteks Yohanes 1 harus menjadi tolak ukur utama. Kontekslah yang harus menjadi penentu.[19] Jika kita memperhatikan konteks, maka kita akan menemukan beberapa petunjuk untuk melihat makna dari kata theos yang dikenakan kepada Yesus. Dia adalah theos yang menjadikan langit dan bumi (ayat 3-4; bdk. Kol. 1:15; Ibr 1:3).. Petunjuk ini sangat penting untuk diperhatikan karena dalam Yesaya 44:24 TUHAN pernah berkata, “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi siapakah yang mendampingi Aku?”. Ketika TUHAN menantang illah-illah palsu yang disembah umat-Nya, Dia berkata, “Para allah yang tidak menjadikan langit dan bumi akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini." (Yer. 10:11). Keilahian Yesus akan tampak semakin jelas apabila kita menyadari bahwa dalam kosmologi biblikal hanya ada dua kategori: Pencipta dan ciptaan, tidak ada sesuatu pun yang terletak di antara dua kategori ini, baik secara logis maupun biblikal.[20] Dalam Yohanes 1:1-3 Yesus secara eksplisit disebut theos yang menciptakan segala sesuatu; berarti Dia tidak termasuk pada ciptaan, tetapi Pencipta.

 

Petunjuk lain ada di ayat 14. Seperti yang sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, kata “diam” (skhnow) di ayat ini berarti “bertabernakel” dan kata ini dalam Perjanjian Baru hanya dipakai untuk Allah (Why 7:15; 12:12; 13:6; 21:3). Jadi, ayat ini jelas menampilkan Yesus sebagai Allah dalam Perjanjian Lama yang bertabernakel di tengah umat-Nya. Lebih jauh dari itu, sama seperti kehadiran Allah di tabernakel-Nya memancarkan kemuliaan (Ke 33:9-10), demikian pula ketika Yesus bertabernakel disebutkan “kita semua telah melihat kemuliaan-Nya” (Yoh 1:14b). Sama seperti ketika TUHAN memperlihatkan kemuliaan-Nya pada Musa Ia menyerukan kasih-Nya (Kel. 34:6), demikian pula kemuliaan Yesus menampilkan kasih dan kebenaran-Nya (Yoh 1:14c).[21]

 

Penjelasan di atas sudah cukup untuk memberi petunjuk tentang bagaimana kita seharusnya memahami keilahian Yesus. Dia bukanlah suatu allah di antara allah-allah lain (bdk. Yoh 10:34). Dia adalah Allah yang sejati. Jika pihak non-trinitarian menafsirkan keilahian Yesus dalam pengertian yang berbeda, maka mereka memiliki tugas yang sangat berat (mustahil) untuk menyanggah penjelasan di atas. Selain itu, mereka juga perlu merenungkan dua pertanyaan berikut ini: mengapa keilahian Yesus dibedakan dari keilahian Bapa, padahal Kedua-Nya sama-sama disebut sebgai theos dalam ayat yang samadan diterangkan keallahan-Nya dengan cara yang sama (Yesus ditampilkan sebagai TUHAN yang menciptakan langit dan bumi serta yang bertabernakel di tengah umat-Nya)? Atas dasar apa mereka memberi makna berbeda untuk kata theos yang dikenakan pada Yesus di ayat 1c (juga ayat 18), padahal semua kata theos lain di pasal ini merujuk pada keallahan Bapa dalam arti yang mutlak? Mengutip pernyataan John Frame, dibutuhkan sebuah argumen yang sangat kuat untuk membuktikan bahwa arti kata theos telah mengalami perubahan makna dari ayat 1b ke ayat 1c.[22] #



[1]       Secara umum ada 9 teks yang dianggap mengajarkan keilahian Kristus secara eksplisit (Yoh 1:1, 18; 20:28; Kis 20:28; Rom 9:5; Tit 2:13; Ibr 1:8; 2Pet 1:1; 1Yoh 5:20). Tidak semua penafsir setuju bahwa semua teks ini benar-benar mengajarkan keilahian Kristus. Ada yang mengamini semua teks tersebut, tetapi ada hanya menerima beberapa teks. Paling sedikit ada dua teks yang dianggap secara meyakinkan mengajarkan keilahian Kristus, yaitu Yohanes 1:1 dan 20:28. Lihat daftar lengkap di Murray J. Harris, Jesus As God: The New Testament Use of Theos in Reference to Jesus (Grand Rapids: Baker, 1992), 274. Harris sendiri memegang pandangan berikut ini (hlm. 271): pasti (Yoh 1:1; 20:28), sangat mungkin (Rom 9:5; Tit 2:13; Ibr 1:8; 2Pet 1:1), mungkin (Yoh 1:18), ada kemungkinan tetapi tampaknya tidak (Kis 20:28; Ibr 1:9; 1Yoh 5:20).

[2]       Lihat Brian Holt, Jesus: God or Son of God? (Tennesse: TellWay Publishing, 2002), 49-59; Frans Donald, Menjawab Doktrin Tritunggal: Perihal Ke-allah-an Yesus (t.t.: Borobudur Indonesia Publishing, 2007), 1-14.

[3]       Lihat Yohanes 1:1c dalam Alkitab Terjemahan Baru (New World Translation) milik Saksi Yehuwah; WT 7/15/1898, 2337. 

[4]       Lihat daftar versi Alkitab bahasa Inggris dalam buku Holt, Jesus, 49-50; Donald, Menjawab, 6-7.

[5]       Moffat Translation.

[6]       Lihat pembahasan sebelumnya tentang “Nama dan Sebutan Allah dalam Perjanjian Lama”.

[7]       Peraturan ini merupakan pengetahuan umum dalam tata bahasa Yunani, sehingga buku tata bahasa yang paling mendasar sampai yang lanjutan juga menyinggung hal ini: John Wenham The Elements of New Testament Greek (Crambridge: Cambridge University Press, 1965), 35; Daniel B. Wallace,Greek Grammar Beyond the Basics (Grand Rapids: Zondervan, 1996), 41, 43; Lane C. McGaughty, Toward A Descriptive Analysis of EINAI as a Linking Verb in the New Testament (SBLDS 6: Missoula, Mont: SBL, 1972), 49-53, 73-77.

[8]       D. A. Carson, The Gospel According to John, PNTC (Leicester/Grand Rapids: Apollos/Eerdmans, 1991), 117.

[9]       Leon Morris, The Gospel According to John (rev. ed., Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1995), 68, n. 15.Carson, ibid.

[10]      Should You Believe in the Trinity? (New York: Watchtower Bible and Tract Society, 1989), 27.

[11]      Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics, 41.

[12]      Poin ini juga disinggung oleh John Frame, The Doctrine of God(Phillipsburg: P&R Publishing, 2002), 666 dan Wayne Grudem, Systematic Theology (Nottingham: InterVarsity Press, 1994), 235.

[13]      Topik ini akan dibahas secara mendetail di pembahasan selanjutnya.

[14]      WT 7/15/1898, 2337.

[15]      Carson, The Gospel According to John, 117.

[16]      Ibid., 304.

[17]      Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics, 249.

[18]      Jesus as God, 284-285.

[19]      Poin ini cukup mendapat penekanan dari Grudem, Systematic Theology, 234 (note 12-13).

[20]      Frame, The Doctrine of God, 664.

[21]      Untuk perbandingan detail antara Yohanes 1:14 dan Kel. 32-34, lihat Carson, The Gospel According to John, 126-130; Morris, The Gospel According to John, 92.  Rujukan tentang Musa dalam Yohanes 1:14-18 turut mendukung pandangan bahwa Yesus ditampilkan sebagai Allah Perjanjian Lama yang bertabernakel di tengah umat-Nya: Musa tidak dapat melihat wajah Allah (Kel. 33:11, 20), tetapi Yesus satu-satunya yang melihat Allah (Yoh 1:18), Hukum Taurat diberikan melalui Musa (Yoh 1:17; Kel. 32:15-16).

[22]      Frame, The Doctrine of God, 666.

 

 

 

 

Sumber:

http://www.gkri-exodus.org/page.php?DOC-TRITUNGGAL-12

 

 

 

 

 

Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di  Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.

 

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Sikap Peduli Lingkungan?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!

#19619 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Sat Jan 2, 2010 1:00 am
Subject: 3 Jan
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12
"Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
Dalam berbagai kesempatan pertemuan atau acara pada umumnya para peserta yang
bertempat tinggal jauh dari tempat pertemuan datang lebih awal daripada mereka
yang dekat. Mereka yang jauh takut terlambat, dan untuk itu memang harus jauh
mempersiapkan diri,  berangkat lebih awal dan ketika mengikuti ibadat di gereja
kiranya dapat mengambil tempat di depan, sementara yang dekat merasa aman dan
pasti tak akan terlambat. Dengan kata lain mereka yang jauh memang lebih
berkorban daripada yang dekat. Dalam Warta Gembira hari ini kita baca dan
dengarkan bahwa `orang-orang majus dari Timur' lebih cepat tergerak untuk
"menyembah Dia", bersembah sujud kepada "Sang Bayi/Kanak-Kanak Yesus" daripada
orang-orang Betlekem, termasuk tokoh-tokoh penting. Orang-orang majus yang jauh
dari Betlekem lebih peka akan kedatangan  Penyelamat Dunia dengan melihat
tanda-tanda, "Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk
menyembah Dia" (Luk 2:2). Pancaran Kabar Gembira dari Kanak-Kanak Yesus menggema
jauh alias Kanak-Kanak Yesus sungguh bercirikhas missioner. Hari ini oleh Gereja
Katolik juga dijadikan `Hari Anak Misioner Sedunia', suatu ajakan untuk membina
semangat missioner sedini mungkin kepada anak-anak kita. Maka baiklah kami
mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal bina missioner anak-anak.

"Di manakah Dia, …yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di
Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Luk 2:2)

Pertanyaan orang-orang majus dari Timur "Di manakah Dia, ....yang baru
dilahirkan itu", selayaknya juga menjadi pertanyaan kita, para orangtua, orang
dewasa, dan mungkin pertanyaan dari kita akan seperti ini "Di manakah anak-anak
kita…,adik-adik kita?".  Marilah kita perhatikan anak-anak maupun remaja kita,
mereka yang berusia 13 tahun ke bawah, entah di dalam keluarga kita maupun
lingkungan hidup dan kerja kita.
1) Anak-anak usia balita: Anak-anak usia balita penting sekali untuk
diperhatikan, menerima kasih-sayang dari orangtuanya, dan secara khusus dari
ibunya. Kami berharap orangtua dengan rela hati, penuh kasih dan pengorbanan
berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak balitanya, alias
`bersembah-sujud kepada anak-anaknya selama usia balita'. Secara khusus kami
mengingatkan dan mengajak para ibu untuk menyusui anak-anaknya secara memadai,
konon menurut ahli gizi minimal menyusui anaknya sampai usia satu tahun. Untuk
itu memang dari para ibu dituntut kebugaran dan kesegaran tubuh serta makan dan
minum yang bergizi. Anak-anak usia balita pada umumnya sepenuhnya berada di
rumah dalam asuhan orangtuanya, maka hendaknya sedini mungkin anak-anak dibina
dalam hal kepekaan sosial, sopan santun, budi pekerti, dst.. . Pembelajaran
membaca dan berhitung kiranya juga mendapat tempat khusus bagi anak-anak balita,
yang diajarkan oleh bapak-ibunya.
2) Anak-anak usia sekolah/pendidikan dasar: Sekolah adalah pembantu orangtua
dalam rangka mendidik anak-anak mereka, maka hendaknya ada kerjasama antara
sekolah/para guru dan orangtua dalam proses pembelajaran di sekolah. Para guru
dalam rangka melaksanakan tugas pengajaran, hendaknya menghayati tehnik-tehnik
mengajar sebagai berikut:
• "Mulai dengan kasih sayang"
• "Belajar dengan melakukan"
• "Bergerak dari yang mudah ke yang sulit"
• "Mengajar satu per satu"
• "Guru sebagai teman baik para siswa"
• "Membuat belajar menyenangkan"
(lihat: Rung Kaewdang PhD: Suatu Cara Reformasi Pembelajaran yang Mangkus,
BELAJAR DARI  MONYET, Grasindo – Jakarta 2002, hal 61-71).
Baik di dalam keluarga maupun sekolah kiranya perlu dibina semangat missioner
bagi anak-anak. Salah satu cara bina misioner antara lain anak-anak diminta
mengenali dengan cermat lingkungan hidupnya minimal dalam radius satu kilometer,
entah dari rumah/tempat tinggal atau sekolah. Mereka, anak-anak diminta berjalan
kaki sambil melihat-lihat apa yang ada di jalanan, dan kemudian diminta
menceriterakan apa yang mereka lihat, apa yang mengesan dst.. Jika mungkin
hendaknya anak-anak diajak melihat atau mendatangi mereka yang miskin dan
berkekurangan, entah di kota-kota atau pedesaan atau panti asuhan, dst..

"Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah,
yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan
kepadaku dengan wahyu,…yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak
diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam
Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus" (Ef 3:2-3a.5)

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Efesus di atas ini kiranya dapat kita
renungkan (1) pertama-tama kita diharapkan mendengarkan berbagai pengajaran yang
disampaikan oleh `para rasul dan nabi' dan (2) kita juga dipanggil untuk menjadi
`nabi atau rasul':
(1). Mendengarkan merupakan salah satu indera dari pancaindera, yang
pertama-tama berfungsi; bayi sejak dalam kandungan sudah dapat mendengarkan.
Keutamaan mendengarkan ini hendaknya terus `dipelihara' dan diperdalam dalam
diri anak-anak kita sampai dewasa; mendengarkan penting sekali dalam proses
pembelajaran dalam bentuk apapun. Memang mendengarkan mengandaikan keutamaan
kerendahan hati, tanpa kerendahan hati orang tak dapat mendengarkan dengan baik.
Tentu saja kebiasaan mendengarkan perlu diimbangi dengan melatih memilah dan
memilih, memilah mana yang baik dan buruk dan kemudian memilih yang baik untuk
dilaksanakan. Masa kini cukup banyak informasi atau berita melalui aneka media
massa atau lisan dari mulut ke mulut, yang perlu dipilah dan dipilih dengan
cermat, teliti dan tekun.
(2). Sebagai orang beriman kita memiliki dimensi missioner, diutus sebagai `nabi
atau rasul'. Nabi adalah "orang yang diutus dan diilhami oleh Allah untuk
menyatakan sesuatu yang tersembunyi, mengungkapkan suatu nubuat, menyatakan
pikiran dan kehendak Ilahi, dan juga untuk meramalkan masa depan" (Xavier Leon –
Dufour: Ensklopedi Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius – Yogyakarta 1990, hal
412), sedangkan rasul adalah seseorang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu
dan tentu saja apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. Kita, orang yang
percaya kepada Yesus Kristus, Pewarta Kabar Baik, dipanggil untuk menjadi
pewarta-pewarta kabar baik: yang terdengar dan terlihat dari cara hidup dan cara
bertindak kita adalah apa yang baik, dan juga diharapkan untuk senantiasa
menyuarakan dan menyebarluaskan apa yang baik dalam berbagai kesempatan dan
kemungkinan. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, dimana
saja dan kapan saja dan bagi siapapun juga. Apa yang disebut baik antara lain
buah-buah Roh seperti " kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri"(Gal 5:22-23), maka
baiklah keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh ini kita hayati dan sebarluaskan
dalam hidup kita sehari-hari.
"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN
terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman
menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya
menjadi nyata atasmu" (Yes 60:1-2). Apa yang diserukan oleh nabi Yesaya ini
baiklah kita renungkan dan hayati; panggilan atau ajakan bagi kita agar menjadi
`terang' bagi siapapun yang kita jumpai atau hidup bersama-sama dengan kita.
Marilah kita saling menerangi dengan penuh harapan dan gairah, karena `terang
Tuhan' di atas kita semua.

"Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi
hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong,
orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;ia akan sayang kepada
orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin" (Mzm
72:11-13).
Jakarta, 3 Januari 2010

#19618 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Fri Jan 1, 2010 6:22 am
Subject: 2 Jan
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak."
(1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28)

"Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus
beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah
engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka
bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab:
"Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata
mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka
yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah
suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti
yang telah dikatakan nabi Yesaya." Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada
beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau
membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan
datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di
tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang
kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."Hal itu
terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis."
(Yoh 1:19-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Basilius Agung dan
Gregorius dari Nazianze hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Hari ini kepada kita ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis, yang dengan rendah
hati mempersiapkan jalan bagi Penyelamat Dunia. Ia dinilai atau dipandang
sebagai seorang nabi besar, namun dibandingkan dengan Sang Penyelamat Dunia,
Yesus, dirinya bukan apa-apa, maka ia bersaksi "Membuka tali kasut-Nya pun aku
tidak layak.". Sikap mental Yohanes Pembaptis ini kiranya baik kita tiru dan
hayati juga dalam hidup dan bertindak kita setiap hari, sebagai orang beriman,
khususnya kita yang beriman kepada Yesus, Penyelamat Dunia. Kita semua dipanggil
untuk dengan rendah hati mempersiapkan jalan bagi Tuhan, artinya melalui atau
dengan cara hidup dan cara bertindak kita, kita dapat menjadi petunjuk jalan
bagi orang lain untuk semakin beriman, semakin suci, semakin mempersembahkan
diri seutuhnya kepada Tuhan, Yang Ilahi. Mereka yang melihat atau kena dampak
cara hidup dan cara bertindak kita tergerak untuk semakin beriman, semakin
berbudi pekerti luhur. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka
menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang
lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri
untuk tidak menonjolkan dirinya"(Prof Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman
Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kepada
mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama di tingkat atau ranah kehidupan
apapun, misalnya orangtua, pemimpin, ketua, pejabat, dst. dapat menjadi saksi
atau teladan dalam hal penghayatan keutamaan kerendahan hati.
• "Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah
Kristus?" (1Yoh 2:22). Yohanes Pembaptis dengan jujur mengakui dirinya bukan
Penyelamat yang didambakan banyak orang, melainkan hanya menyiapkan jalan
bagiNya: ia percaya bahwa "Yesus adalah Kristus', Yesus adalah Penyelamat Dunia.
Sebagai orang Kristen atau Katolik kita percaya bahwa Yesus adalah Penyelamat
Dunia, maka marilah kepercayaan kita itu kita hayati dalam hidup sehari-hari,
antara lain dengan menghayati ajaran atau sabda Yesus maupun meneladan cara
bertindakNya, sebagaimana diwartakan dalam dan melalui Kitab Suci. Jika kita
tidak menghayati ajaran atau sabda Yesus maupun meneladan cara bertindakNya
berarti kita adalah pendusta, mengakui diri sebagai orang Kristen atau Katolik
tetapi cara hidup maupun cara bertindaknya tidak sesuai dengan ajaran Yesus.
Mungkin kita semua tidak sempurna dalam menghayati ajaran maupun meneladan cara
bertindak Yesus, maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan satu sama
lain. "Di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari
pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana
pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu
benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah
hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia"(1Yoh 2:27). Kita tidak mau saling
mengajar, melainkan saling mengingatkan dengan rendah hati. Yang juga diharapkan
dari kita adalah keterbukaan satu sama lain, dalam rangka menghayati keterbukaan
kita terhadap Penyelenggaraan Ilahi, kehendak Tuhan, bisikan Roh Kudus.

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan
perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh
tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.TUHAN telah memperkenalkan
keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata
bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel,
segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.
Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah
dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)
    Jakarta, 2 Januari 2010

#19617 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Fri Jan 1, 2010 12:09 am
Subject: NATAL & TUBUH-4: Ratapan Rahel (Pdt. Joshua Lie, Ph.D.--Cand.)
dennyteguhsu...
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 

NATAL DAN TUBUH-4: Ratapan Rahel

 

oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)

 

 

 

Nats: Matius 2:16-18

 

 

 

Peristiwa natal bukan sekadar kemeriahan belaka. Peristiwa natal dibarengi dengan ratapan dan tangisan di kota Bethlehem dan sekitarnya. Herodes, raja wilayah sangat marah karena merasa diperdayakan oleh orang-orang Majus yang tidak memberitahukannya tentang raja yang baru dilahirkan itu. Dalam kemarahannya, ia memberikan perintah untuk membunuh semua anak di Bethlehem dan sekitarnya.

 

Peristiwa ini menggenapi firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi” (Mat. 2:17-18).

 

Bagaimana kita memahami peristiwa yang menyayat hati ini?

 

Peristiwa ini dipahami debagai “Ratapan Rahel” (Rachel Weeping). Ratapan Rahel mewakili ratapan seorang ibu bagi anak-anaknya. Keprihatinan dan kedukaannya begitu besar sampai dikatakan ia tidak lagi mau dihibur. Ia mau merasakan sedalam-dalamnya keprihatinannya. Ratapan seorang ibu bagi anak-anaknya merupakan karunia bagi peradaban manusia. Tanpa seorang ibu yang prihatin dan mengasihi anak-anaknya, tidak akan ada hari depan bagi perjalanan hidup manusia. Kita ingat bagaimana Monika, seorang ibu yang meratap bagi anaknya, Agustinus bertahun lamanya, menghantar Agustinus menjadi seorang bapak gereja. Kita juga dipaksa meratap ketika mendengar bahkan menyaksikan ada ibu yang menelantarkan apalagi membunuh anaknya sendiri. Ratapan Rahel mengingatkan kita pentingnya peranan seorang ibu bagi anak-anaknya.

 

Kita belum selesai sampai di sini. Masih ada yang perlu kita renungkan. Mengapa Matius mengutip Yeremia 31 dan mengapa Yeremia menyebut Rahel?

 

Kita menengok kembali pada Kitab Kejadian 35. Dalam perjalanan dari Betel, Rahel yang tengah mengandung, melahirkan anaknya. Persalinannya sangat sukar. Ia berjuang antara hidupnya atau hidup anaknya. Rahel mempertahankan hidup anaknya daripada hidupnya sendiri. Ketika anaknya laki-laki lahir dan diberinya nama Ben-Oni, Rahel tidak lagi kuat, dan menghembuskan nafas terakhirnya. Rahel rela mati bagi anaknya, yang kemudian diberi nama Benyamin itu. Inilah perjuangan Rahel, seorang ibu, bagi anaknya.

 

Ketika kita membandingkan soal Rahel di dalam kitab nabi Yeremia, disana dituliskan firman TUHAN tentang Rahel menangisi anak-anaknya (31:15).. Firman TUHAN itu berupa penghiburan bagi Israel yang akan dibuang ke Babel. Penghiburan adanya seorang ibu yang menangisi anak-anaknya. Anak-anak yang ia lahirkan, bahkan dengan mengorbankan nyawanya sendiri, kini tidak taat kepada TUHAN yang memberikan hidup, TUHAN yang memelihara mereka. Ratapan Rahel bukan sekadar demi hidup anak-anaknya, tetapi juga ratapan karena anak-anakNya tidak lagi taat kepada TUHAN. Ketika dunia semakin sesat jalannya, kita dikuatkan ketika menyadari adanya “Rahel yang meratap.” Oleh karena kemudian TUHAN sendiri yang akan memberikan penghiburan-Nya. “Beginilah firman TUHAN: Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali dari negeri musuh. Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.” (31:16-17). Inilah yang dikutip oleh Matius 2:18.

 

Bagaimana kita memahaminya dalam kaitan dengan peristiwa kelahiran Sang Mesias?

“All but One” adalah providensia Allah.

Peristiwa bayi dan kekuasaan yang hendak membunuhnya terulang kembali. Dalam sejarah Israel, mereka tidak akan pernah melupakan perintah Firaun untuk membunuhi semua bayi laki-laki Israel. Dari perintah kepada bidan sampai akhirnya perintah kepada seluruh kepada seluruh rakyatnya (Keluaran 1:15,22). Semua bayi laki-laki Israel! Namun apakah yang terjadi selanjutnya?

 

“Semua tetapi satu” (All but one) yang tidak dapat dibunuh oleh Firaun. Para bidan membiarkan bayi laki-laki Israel tetap hidup. Puteri Firaun justru menyelamatkan dan memelihara satu bayi laki-laki Israel! Ialah Musa yang akan dipanggil TUHAN untuk memimpin Israel keluar dari Mesir. Inilah providensia TUHAN! Para diktator selalu menyerukan “semua” (all), semua harus tunduk, semua musuh harus dimusnahkan, semua harus seia sekata, atau semua harus dibungkam! Para diktator lupa mereka bukan Allah. All but one! Mereka tidak dapat menguasai “semua.”

 

Bagaimana sikap kita ketika seolah-olah “semua” jalan sudah tertutup? Ketika “semua” beban menimpa hidup kita. “Semua” persoalan membuntukan jalan kita? Apakah benar “semua”? Tidak! Masih ada jalan yang TUHAN sediakan bagi anak-anak-Nya. Orang benar terjatuh namun tidak dibiarkan tergeletak. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya.” (Yes. 42:3). TUHAN menyediakan jalan keluar bagi anak-anak-Nya.

 

 

“One but all” adalah kerusakan kita dalam dosa.

Bagaimana hubungannya dengan Matius 2? Herodes sudah menyerupai Firaun. Ia memberikan perintah untuk “membunuh semua anak di Bethlehem.” (Mat. 2:16). “Semua” di sini berbeda dengan peristiwa Keluaran 2. Herodes awalnya tidak bermaksud membunuh semua anak di Bethlehem. Ia hanya perlu membunuh satu anak yang diceritakan oleh orang-orang Majus dari Timur itu. One but All! Satu yang ia maksudkan namun akhirnya ia membunuhi semua. Herodes tidak berdaya menahan kemarahannya. Ia tidak terkendali lagi. Dosa membuat manusia masuk dalam jebakan berangkai segala penjuru. Satu kasus berangkai tanpa kendali ke segala arah. Kerumitan bahkan kekejaman di depan mata. Satu tapi menjadi semua. One but all.

 

Inilah didikan firman TUHAN bagi hidup kita. TUHAN mengaruniakan tubuh bagi kita. Tubuh dan kehidupan ini adalah anugerah TUHAN. Ia bisa dimatikan, namun tidak akan pernah ditiadakan! (bdk. perkataan TUHAN Yesus, Mat. 10:28). Tubuh bisa dianiaya, bisa menderita namun tidak ada seorangpun yang dapat menguasai seutuhnya. TUHAN memelihara dalam kasih karunia-Nya. Tidak ada seorangpun mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas yang dapat meniadakan kehidupan itu sendiri.

 

Tubuh kita hanya satu namun ia bisa menjadi berkat bagi yang lain. Tubuh dan kehidupan kita tidak sepatutnya berangkai dengan ratapan orang lain atas kita. Ketika kita berbuat dosa, kita merasa ini urusan saya sendiri. Ketika melakukan kecurangan, kita merasa ini strategi saya sendiri. Tidaklah demikian TUHAN menciptakan kita dengan tubuh. Tubuh berangkai dengan yang lainnya. Ketika kita berbuat dosa, kita membuat ada yang meratap. Tubuh sepatutnya menjadi berkat bagi sesama kita. Ketika kita tidak bertumbuh dalam kebenaran, apalagi berjalan dalam kegelapan, ada yang meratap untuk itu! Paulus menegaskannya dalam kehidupan gereja. Gereja adalah tubuh, dimana salah satu anggotanya sakit, yang lain akan turut merasakannya.

 


“One for All” adalah karya keselamatan Allah bagi kita.

Alangkah indahnya kita menuruti jejak TUHAN Yesus, bukan one but all, tetapi one for all! Dalam kelemahan kita, kita melakukan satu perbuatan yang salah, akan menghasilkan rangkaian yang kita tidak dapat duga. Sebagai orang yang ditebus dalam darah Kristus, kita dipanggil untuk One for All. Hidup dengan tubuh memang terbatas. Tubuh hanya satu dan hidup satu kali, namun ia bisa menjadi berkat bagi sesama yang lain. Tidak perlu kita memiliki 1000 tubuh apalagi 1000 muka untuk menjadi berkat. Kita hanya perlu “satu” tubuh, namun dalam anugerah-Nya dapat menjadi berkat bagi yang lain, bahkan bagi banyak orang.

 

Bagaimana respons kita terhadap TUHAN dan kasih-Nya kepada kita?

 

All for One! Seluruh aspek hidup kita, seluruh milik kita, seluruh pergumulan kita hana kita tujukan kepada Dia, Sang Pencipta dan Penebus kita. Segenap hati, pikiran, kekuatan, dan tubuh kita hanya bagi Dia yang patut menerima penyembahan kita. Dialah Yesus Kristus, Tuhan kita.


O come let us adore Him

O come let us adore Him

O come let us adore Him

Christ the Lord.

 

 

Sumber:

http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=21:natal-dan-tubuh-4-ratapan-rahel-matius-216-18&catid=22:advent-2009&Itemid=33

 

 

 

Profil Pdt. Joshua Lie:

Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) adalah Pendiri Reformational Worldview Foundation (RWF) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Philosophy (M.Phil.) di Institute for Christian Studies (ICS), Toronto, Canada; dan sedang studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di ICS.

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah

#19616 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Thu Dec 31, 2009 12:26 am
Subject: EKSPOSISI 1 KORINTUS 1:26-31 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
dennyteguhsu...
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 

EKSPOSISI 1 KORINTUS 1:26-31

 

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

 

 

 

Nats: 1 Korintus 1:26-31

 

 

 

Kalau di ayat 18-25 Paulus lebih menyoroti “Injil” yang dianggap kebodohan menurut pemikiran duniawi, di ayat 26-31 ia memfokuskan pembahasan pada jemaat Korintus. Perubahan fokus ini dapat dilihat dari penggunaan sapaan “saudara-saudara” di awal ayat 26. Paulus memang masih membahas tentang isu “hikmat”, namun kini dia sudah berpindah ke argumen lain.

 

Paulus ingin membuktikan bahwa kepercayaan mereka yang dahulu terhadap Injil merupakan bukti karya Allah yang luar biasa melalui kekuatan Injil. Mengapa? Karena mereka dulu adalah orang-orang yang rendah menurut ukuran dunia. Kesombongan mereka sekarang merupakan kontradiksi dengan keadaan mereka yang dahulu.

 

 

Mayoritas Jemaat Korintus Dahulu Adalah Orang yang Hina Menurut Dunia (ay. 26)

Terjemahan LAI:TB “ingatlah” kurang mengekspresikan kata Yunani yang dipakai. Katablepete di ayat ini seharusnya diterjemahkan “terus-menerus mempertimbangkan”. “Mempertimbangkan” (NASB/RSV) jelas melibatkan pemikiran yang lebih serius dibandingkan sekadar “mengingat”. Tense present yang dipakai turut mempertegas maksud Paulus bahwa tindakan “mempertimbangkan” ini harus dilakukan berulang-ulang. Kita perlu terus melihat diri kita dahulu, supaya kita dapat menghargai keadaan kita yang sekarang.

 

Apa yang harus dipertimbangkan oleh jemaat Korintus? Penerjemah LAI:TB tampaknya mengadopsi terjemahan NIV ketika mereka memilih terjemahan “keadaan kamu ketika kamu dipanggil” (NIV “think of what you were when you were called”). Berbagai versi lain memilih terjemahan yang lebih hurufiah, yaitu “panggilanmu” (KJV/NASB/RSV). Terjemahan ini lebih sesuai dengan teks asli (klhsin humwn), walaupun maksud dari “panggilanmu” di sini sama dengan “keadaan kamu ketika dipanggil”.

 

Terjemahan “menurut ukuran manusia” (LAI:TB/NIV “by human standards”) tidak terlalu tegas. Ungkapan Yunani kata sarka dalam ayat ini seharusnya berarti “menurut daging” (KJV/NASB). Pemakaian kata sarx menyiratkan pandangan Paulus bahwa semua hal yang dianggap hebat oleh jemaat Korintus hanyalah hebat secara kedagingan. Ukuran yang dipakai untuk menilai sangat tidak Alkitabiah. Penerjemah RSV mengungkapkan hal ini dengan ungkapan “menurut ukuran duniawi” (according to wordly standards).

 

Kata “tidak banyak” (ou polloi) menunjukkan bahwa ada sebagian kecil dari jemaat Korintus yang dapat dikategorikan sebagai orang yang mulia menurut dunia. Hal ini sesuai dengan petunjuk yang ada di bagian lain dari surat 1 Korintus. Pasal 11:17-22 menyinggung tentang orang-orang kaya yang menghina jemaat lain yang miskin. Krispus, Gaius dan Stefanas (lih. eksposisi pasal 1:14-16) merupakan beberapa nama orang penting di kalangan jemaat Korintus yang juga sukses menurut ukuran dunia. Penyebutan tiga nama ini dan ucapan Paulus di ayat 26 mungkin menyiratkan sebuah sindiran: Krispus, Gaius, dan Stefanas yang menurut ukuran dunia hebat ternyata tidak memandang rendah Injil, sedangkan mayoritas jemaat lain yang menurut dunia tidak hebat justru memandang rendah Injil.

 

Kehebatan duniawi yang dimaksud Paulus diungkapkan melalui tiga kata: “bijak” (sofos), “berpengaruh” (dunatos) dan “terpandang” (eugenhs). Kata pertama merujuk pada para pemikir, terutama para filsuf. Kata kedua bisa berarti “kuat” (KJV/NASB), “berpengaruh” (NIV) atau “berkuasa” (RSV), namun kata ini jika diterapkan pada manusia sering kali memiliki arti “punya pengaruh, wewenang atau posisi” (Kis. 25:5 “orang yang berwewenang”). Kata terakhir secara hurufiah berarti “memiliki kelahiran yang baik”. Makna yang tersirat dalam kata ini adalah terpandang dari sisi keluarga atau keturunan (NIV/RSV “not many were of noble birth”).

 

Mengapa Paulus memilih tiga kriteria ini? Ia sangat mungkin sedang memikirkan Yeremia 9:23 yang berisi kecaman terhadap tiga golongan manusia yang sombong, yaitu orang yang bijaksana, orang yang kuat dan orang yang kaya. Walaupun istilah yang dipakai tidak semuanya identik, tetapi jumlah yang sama memberi petunjuk ke arah itu. Paulus juga sangat mungkin mengubah beberapa istilah di Yeremia 9:23 untuk menyesuaikan dengan situasi sosiologis jemaat Korintus.. Dalam konteks budaya kuno waktu itu, sofos, dunamosdan eugenhs memang saling berkaitan secara erat. Orang yang berasal dari keluarga terpandang memiliki kesempatan yang besar untuk belajar (menjadi berhikmat dari sisi keilmuan), sehingga orang itu juga memiliki pengaruh/jabatan di masyarakat. Di samping itu, dengan menyebut tiga golongan ini Paulus telah mencakup orang-orang yang dianggap hebat di bidang filsafat, politik dan sosial.

 

 

Tujuan Allah Memilih Orang-orang yang Dianggap Rendah Oleh Dunia (ay. 27-31)

Dengan memaparkan status mayoritas jemaat Korintus yang rendah menurut ukuran dunia, Paulus sekaligus ingin menonjolkan anugerah Allah dalam memilih mereka.. Status mereka yang rendah menunjukkan bahwa pilihan atas hidup mereka tidak didasarkan pada kebaikan atau kelebihan mereka. Mereka sebenarnya tidak layak untuk dipilih, tetapi Allah berkenan memilih mereka (bdk. ay. 21b). Pola pilihan seperti ini konsisten dengan cara kerja Allah di seluruh Alkitab (bdk. Yak. 2:5).

 

Di samping itu, pemunculan kata “dipilih” yang berulang-ulang di ayat 27-28 memberi penekanan pada keaktifan dan inisiatif Allah dalam proses pemilihan ini. Bukan mereka yang memilih Allah, tetapi Allah yang memilih mereka (Yoh. 15:16). Allah telah memanggil mereka (1Kor. 1:9) untuk menjadi orang-orang kudus (1Kor. 1:2). Allah telah memanggil mereka sehingga mereka dulu dapat melihat Kristus sebagai hikmat dan kekuatan Allah (1Kor. 1:24).

 

 

Apa tujuan Allah memberi anugerah kepada orang-orang yang sebetulnya tidak layak untuk menerima hal itu? Dalam ayat 27-31 Paulus menjelaskan dua tujuan utama pemilihan berdasarkan anugerah. Dua tujuan ini dapat dideteksi melalui penggunaan kata “untuk” di ayat 27 dan “supaya” di ayat 29.

 

Supaya Allah merendahkan orang-orang yang hebat menurut dunia (ay. 27-28)

Di ayat 19-20 Paulus sudah menyatakan bahwa Allah membinasakan hikmat dunia, bahkan menjadikannya sebagai kebodohan. Kali ini Paulus tidak lagi menyoroti hikmat, tetapi orangnya. Pemilihan Allah atas orang yang rendah menurut ukuran dunia bertujuan untuk memalukan (ay. 27) dan meniadakan (ay. 28) orang-orang yang hebat. 

 

Ungkapan “mempermalukan” tidak sekadar berhubungan dengan perasaan malu. Ungkapan ini merupakan ungkapan umum orang Yahudi yang menunjuk pada kemenangan yang diberikan Allah kepada orang benar atau tindakan Allah yang mengalahkan orang fasik. Dalam Alkitab ungkapan ini sering kali dipakai dalam konteks perselisihan atau pertengkaran antara orang fasik dan orang benar (Mzm. 6:11; 31:18; 35:4, 26-27). Dengan menggunakan ungkapan ini Paulus ingin mengingatkan jemaat Korintus bahwa Allah telah dan akan mengalahkan orang-orang yang fasik dan merasa diri hebat.

 

Bagaimana cara Allah mempermalukan orang-orang hebat tersebut? Di ayat 21a Paulus menerangkan bahwa hikmat dunia justru tidak dapat mengenal Allah. Di ayat 27-28 dia lebih menyoroti kelebihan-kelebihan duniawi yang justru menghalangi orang untuk percaya kepada Tuhan. Sama seperti orang-orang pada zaman Yeremia yang menganggap diri hebat dan tidak memerlukan Tuhan, demikian pula orang-orang yang “hebat” pada zaman Paulus cenderung tidak mau mengandalkan Tuhan. Sebagai akibat dari tindakan ini, mereka akan mengalami kekalahan. Mereka tidak mampu mengenal dan bersandar pada Allah, padahal pengakuan terhadap ketidakmampuan diri merupakan kekuatan yang besar.

 

Ungkapan lain yang dipakai Paulus untuk menyatakan perendahan orang-orang duniawi yang hebat adalah “meniadakan”. Kata Yunani katargew sering dipakai dalam konteks eskatologis (futuris). Kata ini dipakai beberapa kali dalam surat 1 Korintus untuk menunjuk pada hal-hal yang sifatnya sementara dan suatu ketika akan lenyap (2:6; 6:13; 13:8, 10; 15:24, 26). Melalui penggunaan katargew Paulus bermaksud menegaskan bahwa hal-hal yang dikagumi oleh dunia dan sebagian jemaat Korintus merupakan hal-hal yang tidak kekal. Semua itu pasti akan lenyap.

 

Supaya tidak ada yang sombong di hadapan Allah (ay. 29-31)

Allah memilih orang yang rendah menurut dunia supaya tidak ada satu manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah (ay. 29, lit. â€śtidak ada satu daging pun”). Kata “memegahkan diri” (kaucaomai) merupakan salah satu kata favorit Paulus. Dari total pemunculan kata ini sebanyak 59 kali di dalam Alkitab, 55 di antaranya muncul dalam tulisan Paulus. Dari 55 kali pemunculan ini, 39 di antaranya ditemukan di surat 1 dan 2 Korintus. Statistik ini mengindikasikan bahwa kesombongan merupakan salah satu masalah utama jemaat Korintus, sehingga Paulus merasa perlu menyinggung hal ini berkali-kali. Penggunaan kata kaucaomai di ayat 29-31 mungkin didasarkan pada konteks Yeremia 9:23-24 yang sudah disinggung di ayat 27-28 dan akan dikutip lagi di ayat 29-31. Selain itu, penggunaan kaucaomai cocok dengan situasi jemaat Korintus yang sedang membanggakan diri.

 

Kesombongan di atas merupakan sebuah kontradiksi dengan anugerah Allah. Jemaat Korintus dipilih oleh Allah bukan karena mereka baik (ay. 27-28). Oleh karena Allah, mereka berada di dalam Kristus oleh karena Allah (ay. 30a). Oleh karena Allah, Kristus telah menjadi hikmat yang membenarkan, menguduskan dan menebus mereka (ay. 30b).. Perubahan kata ganti dari “kamu” menjadi “kita” menyirakan bahwa Paulus pun berada dalam posisi yang sama dengan jemaat Korintus. Semua orang percaya – baik yang terpandang menurut dunia maupun tidak – dapat datang kepada Kristus karena karya Allah. Jika memang keselamatan kita adalah semata-mata anugerah, maka kita tidak memiliki tempat untuk memegahkan diri (Rm. 4:2). Roma 3:27 “jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!”.

 

Paulus selanjutnya mengajarkan bahwa kemegahan kita seharusnya di dalam Tuhan (ay. 31), bukan di hadapan Tuhan (ay. 29). Untuk mempertegas poin ini, Paulus mengutip firman Allah dari Yeremia 9:24 dalam bentuknya yang lebih ringkas. Tidak semua tindakan memegahkan sesuatu (kaucaomai) adalah negatif. Paulus pun dalam bagian suratnya yang lain juga memegahkan diri (Rm. 5:2; 15:17; Flp. 2:16; 2Tes. 1:4). Yang paling penting adalah dasar yang kita pakai untuk bermegah. Ketika Paulus bermegah, dia bermegah di dalam Allah (Rm. 5:11) atau di dalam Kristus (Rm. 15:17; Gal. 6:14; Flp. 3:3).

 

Dengan memahami dasar kemegahan yang benar – yaitu Allah yang telah memberi anugerah keselamatan – orang percaya tidak akan menaruh kesombongan pada hal-hal yang dianggap hebat oleh dunia. Sebaliknya, kita bahkan mampu bermegah atas hal-hal yang oleh dunia dipandang sebelah mata. Kita bermegah dalam penderitaan (Rm. 5:3) dan kelemahan (2Kor. 11:30; 12:9) kita. Inilah kemegahan yang sejati, bukan seperti kemegahan jemaat Korintus yang didasarkan pada hikmat dunia, pengaruh di bidang politik maupun kehormatan dari sisi sosial.

 

 

 

 

Sumber:

Mimbar GKRI Exodus, 23 Desember 2007


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!

#19615 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Thu Dec 31, 2009 12:10 am
Subject: 1 Jan
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
HR SP MARIA BUNDA ALLAH: Bil 6:22-27; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21
"Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia
dikandung ibu-Nya".
Pertama-tama saya ucapkan `SELAMAT TAHUN BARU 2010'; marilah kita masuki Tahun
Baru ini dengan semangat baru. Hari ini juga "Hari Perdamaian Sedunia", dan bagi
anggota Serikat Yesus merupakan hari "Pesta Nama". Dalam "Hari Perdamaian
Sedunia" ini Paus Benediktus XVI memberi pesan dengan tema "IF YOU WANT TO
CULTIVATE PEACE, PROTECT CREATION". Tahun 2010 yang juga disebut `Tahun Macan',
yang juga ditandai dengan `pemanasan global',  kiranya kita juga akan menghadapi
aneka tantangan dan hambatan dalam rangka membudayakan hidup damai maupun
melindungi ciptaan Allah di dunia ini. Namun demikian marilah kita bersama-sama,
bergotong royong mengusahakan damai maupun pelestarian lingkungan hidup.

"Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu
nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya" (Luk 2:21)

"Hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak
Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta
Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub
sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan"(Luk 1:31-33).
Nama Yesus telah ditentukan oleh Allah sebelum lahir di dunia ini. Kiranya kita
semua juga berbuat yang sama, yaitu mempersiapkan nama bagi anak yang masih
berada dalam kandungan maupun nama suatu gedung, paguyuban, dst. sebelum
diresmikan atau diberkati. Dalam memilih nama kiranya tidak sembarangan saja,
melaikan sungguh dipertimbangkan, direnungkan dan dibicarakan bersama, karena
nama mengandung banyak makna dan cita-cita atau harapan. Demikian kiranya
nama-nama yang dikenakan pada diri kita masing-masing, maka marilah kita mawas
diri perihal nama yang dikenakan pada diri kita: apakah kita setia pada
cita-cita atau dambaan yang dibebankan pada diri kita.

Bagi kita semua orang Kristen maupun Katolik, dan khususnya rekan-rekan anggota
Serikat Yesus, marilah kita mawas diri perihal kekristenan atau kekatolikan
kita. Kita semua diharapkan hidup dan bertindak meneladan Yesus maupun dengan
menghayati ajaran-ajaran atau sabda-sabdaNya, hidup dan bertindak dirajai atau
dikuasai oleh Yesus. Untuk lebih mengenal dan memahami cara bertindak maupun
sabda-sabda Yesus, baiklah kita baca dan renungkan apa yang ditulis di dalam
Kitab Suci; dengan kata lain kami berharap di tahun 2010, tahun macan, ini kita
menggiatkan gerakan pembacaan maupun pendalaman Kitab Suci. Dalam upacara saling
menerimakan Sakramen Perkawinan pada umumnya pasangan suami-isteri baru juga
dibekali Kitab Suci, Rosario dan Salib, dengan harapan dalam mengarunsi hidup
berkeluarga hendaknya tidak melupakan Sabda Tuhan, Bunda Maria maupun Kasih
Sejati yang telah dihayati oleh Yang Tersalib. Hemat saya ketika suami-isteri
sedini mungkin membiasakan pemfungsian Kitab Suci, Rosario dan Salib, maka hidup
berkeluarga akan damai sejahtera, saling mengasihi dan dengan demikian anak-anak
yang lahir dan dianugerahkan oleh Tuhan juga akan terbiasa membaca Kitab Suci,
berdoa Rosario dan berdevosi kepada Yang Tersalib.

Hidup berkeluarga yang saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehat
maupun sakit sampai mati, akan membawa keluarga yang bersangkutan ke damai
sejati. Dan jika setiap keluarga dapat hidup dalam damai sejati, maka dambaan
perdamaian seluruh dunia segera menjadi nyata. Perdamaian Sedunia hemat saya
perlu dimulai dan didasari oleh hidup damai sejahtera dalam keluarga-keluarga.
Bagi suami-isteri kami harapkan mawas diri perihal nama yang menyatukan mereka
berdua, dua nama menjadi satu: apa makna dan dambaan anda berdua? Bagi para
anggota Lembaga Hidup Bakti kami harapkan mawas diri perihal nama yang menandai
kebersamaan hidup kita, misalnya SJ, MSF, OSF, OSC, PI, OFM , dst.. Sebagaimana
keluarga menjadi dasar dan landasan perdamaian sedunia, demikian halnya
komunitas-komunitas hidup membiara. Semoga baik dari keluarga-keluarga maupun
komunitas biara serta paguyuban-paguyuban tersiarkan damai sejahtera, warta
gembira bagi seluruh umat manusia.

"Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah
ahli-ahli waris, oleh Allah" (Gal 4:7)

Secara manusiawi kita semua pernah menjadi anak, dan dengan demikian juga
menjadi ahli waris atau menerima warisan tertentu dari orangtua kita
masing-masing. Ketika menjadi tua atau orangtua pada gilirannya harus mewariskan
kepada anak-anak atau generasi penerus/generasi muda apa-apa yang mereka
butuhkan untuk hidup kini dan masa depan. Sebagai orang beriman kita semua
adalah `anak-anak Allah', yang memperoleh warisan dari Allah, antara lain
ciptaan-ciptaanNya yang indah, mulia, luhur dan suci di dunia ini alias
lingkungan hidup yang enak, nyaman dan nikmat, mempesona dan memikat. Maka
baiklah memasuki dan mengarungi Tahun 2010 ini marilah kita tanggapi ajakan Paus
untuk melindungi atau melestarikan ciptaan alias lingkungan hidup.

Allah kita adalah Allah Pencipta, maka sebagai anak-anak Allah kita dipanggil
untuk berpartisipasi dalam karya PenciptaanNya, termasuk melindungi
ciptaan-ciptaanNya. Kita semua kiranya berprihatin dengan adanya `pemanasan
global', yang sedikit banyak pasti akan merusak lingkungan hidup maupun aneka
jenis kehidupan di alam raya ini, yang pada gilirannya akan mencelakakan atau
menyengsarakan manusia, sebagai ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini.
Marilah keprihatinan kita terhadap `pemanasan global' kita wujudkan secara
positif dengan gerakan bersama yang bersifat preventif untuk mengurangi
`pemanasan global', antara lain gerakan penanaman pohon-pohon/penghijaun,
penghematan enerji, pengurangan berbagai sarana maupun bangunan yang dapat
menambah panas bumi dst.. . Yang tidak kalah penting atau yang pertama-tama dan
terutama harus menjadi perhatian kita tentu saja manusia, melindungi dan
mendampingi manusia agar setia sebagai ciptaan Tuhan terluhur dan termulia di
dunia ini.

Melindungi manusia sebagai ciptaan terluhur dan termulia berarti mendampingi
sebaik mungkin sejak ia masih berada di dalam kandungan sampai lahir dan mati.
Dengan kata lain marilah pada tahun 2010 ini kita sungguh lebih menekankan dan
mengutamakan `human investment' daripada `material investment' . Memang
mendidik, mendampingi dan membina manusia/anak-anak tidak mudah, sarat dengan
tantangan maupun hambatan serta hal-hal yang sering sulit terpahami. Maka
baiklah ketika kita harus menghadapi hal-hal yang sulit dipahami, marilah kita
meneladan Bunda Maria, Bunda Allah, Bunda kita, yang "menyimpan segala perkara
itu di dalam hatinya dan merenungkannya". Dengan kata lain di tahun 2010, tahun
macan, yang konon akan ada kemungkinan terjadi banyak konflik, marilah kita
lebih banyak berdoa dan merenung alias mempersembahkan apa yang kita alami
kepada Tuhan. Marilah kita mendunia dengan iman, berpartisipasi dalam seluk
beluk duniawi dalam semangat iman. Marilah kita saling membantu agar kita semua
semakin cerdas beriman, sehingga kita bersama-sama dapat mengusahakan perdamaian
dunia yang menyelamatkan dan membahagiakan semua orang.

"Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau
memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas
bumi. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa
semuanya bersyukur kepada-Mu.Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita,
memberkati kita. Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan
Dia!" (Mzm 67:5-8)
Selamat tahun baru 2010

Jakarta, 1 Januari 2010

#19614 From: Tobing Jr <tobingjr@...>
Date: Wed Dec 30, 2009 12:32 pm
Subject: GUS DUR Meninggal Dunia 30 Des 2009 jam 18.45
tobingjr
Offline Offline
Send Email Send Email
 
MYCinema turut berbelasungkawa atas meninggalnya mantan Presiden RI yang paling demokratis:
Abdurrahman Wahid

speechless gw
sedih banget.
teramat sedih
dan merasa sangat kehilangan...


#19613 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Wed Dec 30, 2009 8:04 am
Subject: 31 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia"
(1Yoh 2:18-21; Yoh 1:1-18)

"Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak
mengenal-Nya.Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang
kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya
diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam
nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan
pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah
melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian
tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku
berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab
Dia telah ada sebelum aku." Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima
kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi
kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.Tidak seorang pun yang
pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa,
Dialah yang menyatakan-Nya" (Yoh 1:10-18), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Hari ini adalah hari terakhir tahun 2009, dan kita akan segera memasuki tahun
baru 2010. Selama tahun 2009 kiranya kita telah menerima berbagai macam kasih
karunia Allah, yang kita terima melalui saudara-saudari kita yang telah berbuat
baik kepada kita dalam berbagai kesempatan, maka marilah kita syukuri semuanya
itu dengan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari di tahun 2010 yang akan datang.
Syukur tersebut kita wujudkan dengan meneruskan aneka kasih karunia yang telah
kita terima, sehingga dalam kehidupan bersama kita senantiasa saling menerima
dan memberi kasih karunia. Kasih karunia tersebut mungkin secara konkret berupa
harta benda/uang atau kekayaan, kesehatan, kecerdasan, keterampilan, sahabat
atau kenalan, dan bagi orangtua mungkin anak, sedangkan para pekerja mungkin
kenaikan pangkat atau kesejahteraan. Hidup dan segala sesuatu yang menyertai
hidup kita, yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai kini adalah kasih
karunia Allah, maka baiklah di tahun yang akan datang ini kita senantiasa hidup
dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, antara lain setia pada
janji-janji yang pernah kita ikrarkan dan terkait dengan hidup, panggilan dan
tugas pengutusan kita masing-masing. Mungkin di tahun 2009 ada rencana yang
belum dapat kita laksanakan atau kerjakan, marilah di tahun 2010 yang akan
datang kita laksanakan. "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara
kita", demikian kutipan warta gembira hari ini, yang kiranya baik kita hayati,
antara lain dengan melaksanakan rencana atau cita-cita yang masih dalam rumusan
kata-kata, sehingga menjadi tindakan atau perilaku nyata.
• "Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah
kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak
antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang
terakhir.Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak
sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk
pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu
terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk
pada kita" (1Yoh 2:18-19). Pesan ini mengingatkan kita akan bahaya-bahaya atau
godaan-godaan yang mungkin terjadi di tahun 2010 yang akan datang, yang menurut
kalender Tionghoa disebut `tahun macan'. Macan atau singa memang senantiasa
berusaha mencari mangsa dengan cerdik, maka baiklah kita hadapi dengan `tulus
seperti merpati, dan cerdik seperti ular', artinya dengan kecerdasan spiritual.
Maka sekali lagi saya angkat disini cirikhas kecerdasan spiritual, yang
hendaknya menjadi cara hidup dan cara bertindak kita, yaitu "mampu untuk
fleksibel (adaptasi aktif dan spontan), memiliki kesadaran diri yang tinggi,
mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan, mampu menghadapi dan mengatasi
rasa sakit, hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai, enggan untuk menyakiti
orang lain, melihat hubungan dari yang beragam (holistik), bertanya `mengapa'
dan `apa jika' untuk mencari jawaban mendasar, kemampuan/kemudahan untuk
`melawan perjanjian'". Kita hayati dengan kerja sama dan saling membantu
cirikhas kecerdasan spiritual di atas dalam hidup kita sehari-hari.

"Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta
isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon
di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk
menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa
dengan kesetiaan-Nya" (Mzm 96:11-13)

Jakarta, 31 Desember 2009

#19612 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Tue Dec 29, 2009 4:35 am
Subject: 30 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan
berpuasa dan berdoa".
(1Yoh 2:12-17; Luk 2:3640)

"Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer.
Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya
bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun.
Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan
berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap
syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang
menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus
dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota
Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan
kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Luk 1:36-40), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Pada hari ini kepada kita ditampilkan seorang nabi perempuan, bernama Hana,
yang "tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan
berpuasa dan berdoa". Tokoh nabi Hana ini kiranya baik menjadi bahan refleksi
bagi rekan-rekan perempuan. Dari berbagai pencermatan dan pengalaman kiranya
dapat dikatakan bahwa rekan-rekan perempuan pada umumnya lebih berperan dalam
"beribadah dengan berpuasa dan berdoa". Pertemuan-pertemuan bersama untuk
pendalaman iman atau doa bersama di lingkungan/stasi pada umum lebih banyak
dihadiri oleh rekan-rekan perempuan daripada rekan laki-laki. Perhatian ibu
kepada anak-anaknya pada umumnya lebih besar daripada perhatian bapak terhadap
anak-anaknya, sebagaimana sering dikumandangkan dalam sebuah lagu "Kasih ibu
kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali,
bagai sang surya menyinari dunia". Maka dengan ini kami berharap kepada kita
semua untuk sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada ibu kita masing-masing,
yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan kita sehingga kita "bertambah
besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah" berkanjang dalam
diri kita masing-masing. Sebagai ucapan syukur dan terima kasih hendaknya kita
juga rajin `beribadah dengan berpuasa dan berdoa', yang menandai atau menjadi
cirikhas hidup beriman atau beragama. Tujuan beribadah tidak lain adalah agar
kita senantiasa tetap berada dalam `kasih karunia Allah', dan dengan demikian
hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, setia pada janji-janji yang
pernah kita ikrarkan dan terkait dengan cara hidup dan panggilan kita
masing-masing. Maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan satu sama lain
dalam hal `beribadah' ini.
• "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang
mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua
yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta
keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia
ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak
Allah tetap hidup selama-lamanya" (1Yoh 2:15-17). Apa yang dimaksudkan dengan
`mengasihi dunia'  disini kiranya adalah sikap mental materialistis atau duniawi
atau bisnis, dimana orang mengurus atau mengelola aneka karya pelayanan secara
materialistis atau bisnis melulu. Kita dipanggil mendunia sesuai dengan kehendak
Allah, mengurus dan mengelola hal-ikhwal duniawi sesuai dengan kehendak Allah
alias mengusahakan kesucian hidup dengan berpartipasi dalam seluk beluk duniawi.
Ingat dan hayati bahwa kita baru saja merayakan pesta Kelahiran Penyelamat
Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia dengan mendunia. Maka baiklah kami
mengingatkan dan mengajak kita semua dalam pelayanan atau kegiatan hendaknya
sesuai dengan visi yang telah dicanangkan atau dimaklumkan. Setiap hidup dan
kerja bersama maupun pribadi kiranya memiliki visi yang bagus dan indah serta
baik, maka hendaknya visi tidak berhenti dalam tulisan atau wacana, melainkan
sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Bagi para anggota Lembaga
Hidup Bakti, biarawan dan birawati, berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh
charisma pendiri, bagi suami-isteri berarti setia pada janji untuk saling
mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, dst..
Kepada para pejabat atau pemimpin masyarakat maupun bangsa kami harapkan untuk
hidup dan bertindak dijiwai oleh semangat melayani, sehingga segala usaha dan
kegiatan terarah pada kesejahteraan umum (`bonum commune'). Semakin
berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi/mendunia hendaknya juga semakin
beriman; mendunia tanpa iman akan terjadi kekacauan.

"Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan
kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan
masuklah ke pelataran-Nya! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan
kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! Katakanlah di antara
bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan
mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran." (Mzm 96:7-10)

Jakarta, 30 Desember 2009

#19611 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Mon Dec 28, 2009 2:55 pm
Subject: THE CHRISTIAN PARADIGM OF OLD & NEW (Denny Teguh Sutandio)
dennyteguhsu...
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 

Renungan Menyambut Tahun Baru 2010

 

 

 

 

THE CHRISTIAN PARADIGM OF OLD AND NEW

Paradigma Kristen Menyoroti Sesuatu yang Lama dan Baru

 

oleh: Denny Teguh Sutandio

 

 

 

 

“Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.”

(Pkh. 1:9-10)

 

“Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

(Ef. 4:20-24)

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Tahun 2009 akan segera berakhir dan tahun 2010 akan datang. Dunia kita mengerti tahun baru sebagai sesuatu yang baru yang akan datang. Berbagai ramalan dan “nubuatan” dari beberapa aliran Kristen bermunculan menyatakan sesuatu yang terjadi di tahun baru 2010. Ada yang mengatakan hal-hal yang baik, sukses, dll, namun ada juga yang mengatakan hal-hal negatif, misalnya bencana, dll. Bagaimana sikap Kristen seharusnya memandang sesuatu yang baru? Bagaimana pula sikap Kristen terhadap sesuatu yang lama? Mana yang penting?

 

 

 

 

DUA KECENDERUNGAN EKSTREM: LAMA VS BARU DAN TINJAUAN KRITIS

Ketika orang Kristen berbicara mengenai sesuatu yang baru yang dibandingkan dengan sesuatu yang lama, ada dua kecenderungan ekstrem yang muncul:

1.               Terlalu Mengagungkan Sesuatu yang Baru

Dunia di mana kita hidup dipenuhi dengan ide pragmatisme yang tidak lagi memperhatikan prinsip, kebenaran, iman, dll. Maka tidak heran, ketika hal-hal inti dibuang, hal-hal remeh yang ditekankan. Biasanya, orang-orang seperti ini dengan mudahnya tertipu oleh banyak gejala fenomena yang sesaat. Apa yang sedang tren selalu diikuti oleh banyak orang seperti ini. Dengan kata lain, orang ini boleh disebut orang yang selalu up-to-date, tidak pernah ketinggalan zaman. Baju yang dikenakannya selalu baju yang sesuai dengan tren zaman. Begitu juga halnya dengan hal-hal lainnya, seperti: rambut, sepatu, dll. Namun, sayangnya, jika ditanya mengenai prinsip, iman, dan kebenaran, banyak dari antara mereka menjadi bingung dan kacau. Baginya, yang penting hal-hal fenomenal, bukan hal-hal esensial.

 

Ternyata Kekristenan pun tidak luput diterpa oleh arus pragmatisme. Banyak orang Kristen menggandrungi sesuatu yang baru. Mereka ingin lepas dari ikatan tradisi liturgi dan menciptakan kebebasan selera ibadah di dalam gereja. Mereka menciptakan lagu rohani baru untuk menggantikan lagu rohani yang lama dengan dalih, “Tuhan memberikan nyanyian baru.” Gedung gereja tidak lagi hanya menjadi tempat untuk menyembah Allah, tetapi ditambah dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan gereja, misalnya: restoran, ATM, hotel, dll. Bahkan pendeta di sebuah gereja kontemporer di salah satu negara Asia Tenggara ketika berkhotbah menggunakan pakaian casual. Jangan kaget, jika suatu saat pendeta nanti tidak lagi memakai sepatu, tetapi sandal jepit, heheheJ

 

Sebenarnya apa paradigma dasar dari mereka yang menginginkan sesuatu yang baru? Sebenarnya presuposisi mereka adalah perubahan. Mereka bosan dengan tatanan dunia yang lama. Mereka ingin mengubahnya menjadi sesuatu yang baru yang berbeda. Kebosanan adalah penyakit zaman kita. Mengapa seseorang menjadi bosan? Ada banyak penyebabnya. Ev. Ivan Kristiono, M.Div. di dalam salah satu khotbahnya yang berjudul Kasih Mengalahkan Kebosanan di National Reformed Evangelical Convention (NREC) 2007 memaparkan bahwa salah satu alasan orang bosan adalah karena adanya repetisi (pengulangan). Repetisi di dalam rutinitas aktivitas sehari-hari, misalnya: bangun pagi Ă  mandi Ă  gosok gigi Ă  makan pagi Ă  berangkat kerja/kuliah Ă  pulang kerja/kuliah Ă  makan Ă  tidur, mengakibatkan seseorang menjadi bosan. Bukan hanya rutinitas aktivitas, repetisi perkataan orang lain pun membuat seseorang menjadi bosan. Saya sendiri mengalami apa yang namanya kebosanan ketika mendengar perkataan yang diulang-ulang. Memang ada manfaatnya jika perkataan seseorang diulang (untuk mengingatkan kita), namun TIDAK berarti hal itu terus-menerus diulang-ulang dan tidak ada yang baru.

 

Benarkah kita harus mengagungkan sesuatu yang baru? Jika ya, ada beberapa kelemahan konsep ini:

Pertama, konsep ini sendiri sedang melawan Alkitab. Alkitab memberi tahu kita di dalam Pengkhotbah 1:9, “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Jika ada yang menyangka bahwa tindakan tertentu yang terjadi di zaman ini adalah sesuatu yang baru, sebenarnya orang itu sedang tidak mempelajari sejarah, karena kalau kita mempelajari sejarah, sebenarnya kesalahan yang dilakukan oleh orang zaman sekarang sudah dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu. Seorang filsuf bernama F. Hegel, seperti dikutip oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, pernah berujar, “Pengajaran terbesar dari sejarah bagi manusia adalah manusia tidak menerima pelajaran sejarah.”[1] Ya, manusia bukannya bertobat dari kesalahan masa lalu, malah membangkitkan kesalahan masa lalu. Sekarang, mari kita ambil contoh. Misalnya, homo dan lesbian. Apakah kedua hal ini hanya milik dunia modern saja? TIDAK. Di dalam Roma 1:27-28, kedua hal ini sudah dituliskan. Contoh lain, di bidang theologi. Di dalam gereja mula-mula, Arianisme dan Sabellianisme sudah dinyatakan sesat oleh gereja, karena paham mereka yang tidak mengakui Trinitas seperti yang diajarkan oleh gereja mula-mula/orthodoks. Namun, anehnya, kedua ajaran sesat ini dimunculkan kembali melalui paham Unitarianisme (=monotheisme “Kristen”) dan ajaran seorang pendeta tersohor yang dulunya berlatar belakang agama mayoritas yang menyatakan bahwa Tritunggal bukan keberapaan, tetapi kebagaimanaan.

 

Kedua, konsep ini sedang melawan dirinya sendiri. Jika ada orang yang mati-matian mengagungkan sesuatu yang baru dan menggembar-gemborkannya kepada orang lain, pengagung sesuatu yang baru itu sudah melawan diri dan konsepnya sendiri. Saya akan menjelaskan. Ambil contoh, X adalah seorang pengagung sesuatu yang baru. X ke mana-mana menggembar-gemborkan bahwa ia ingin sesuatu yang baru. “Perubahan,” begitu teriaknya. Kepada Y, X mengatakan, “Perubahan.” Setelah kepada Y, ia juga berteriak, “Perubahan” kepada Z, A, B, C, D, dll. Bukankah dengan teriakannya kepada Z, A, B, C, D, dll sebenarnya ia sedang meneriakkan hal lama yang sudah dikatakannya kepada Y tadi? Sesuatu yang diulang, apakah masih layak disebut sesuatu yang baru dan “perubahan”?

 

Ketiga, konsep ini tidak bisa diaplikasikan. Jika ada pengagung konsep sesuatu yang baru, tolong tanya kepada orang tersebut, apakah ia masih minum air putih/mineral (mineral water)? Jika orang itu berkata YA, maka orang itu sebenarnya tidak sadar sedang inkonsisten dengan teorinya sendiri yang mengagungkan sesuatu yang baru, karena air mineral bukan sesuatu yang baru, namun sesuatu yang lama. Jika penganut sesuatu yang baru diuji kekonsistenannya, maka dijamin jebol di titik pertama dan aplikasinya. Jika mereka mau konsisten dengan pengagungan konsep sesuatu yang baru, maka ia tidak perlu lagi makan roti, keju, dll dan minum susu, air mineral, kopi, teh, dll, karena itu semua produk sesuatu yang lama, kemudian orang tersebut seharusnya menggantinya dengan makan batu bata dan minum oli, huahahahaJ

 

 

2.             Terlalu Mengagungkan Sesuatu yang Lama

Jika banyak orang zaman sekarang mengagungkan sesuatu yang baru, maka di zaman kita juga ada orang yang terlalu mengagungkan sesuatu yang lama. Biasanya mereka yang mengagungkan sesuatu yang lama adalah orang tua/orangtua. Mereka selalu menekankan pentingnya prinsip dan hal-hal esensial lainnya. Mereka selalu membandingkan zaman sekarang dengan zaman dahulu di mana mereka masih hidup. Mereka sering berujar, “Dulu, anak muda beretika. Sekarang, anak muda semakin tidak beretika.” Hal ini tentu tidak salah. Memang jika dibandingkan zaman sekarang, banyak anak muda zaman dahulu lebih beretika. Namun jangan diekstremkan. Contoh lain, biasanya mereka lebih suka memakai barang-barang yang sudah “kadaluwarsa”, misalnya kacamata yang lensanya besar, dasi yang out-of-date, dll, heheheJ Mereka sering berkata bahwa barang-barang tersebut awet dan tahan lama. Jangankan orangtua/orang tua, ada anak muda yang berpakaian juga seperti itu (bahasa gaulnya: jadul­—jaman dulu).

 

Konsep ini herannya juga diaplikasikan di dalam Kekristenan. Kebanyakan gereja Protestan arus utama yang sudah mapan dengan organisasi terstruktur susah sekali diubah. Para pendeta dan majelisnya yang notabene sudah berumur (tua) memiliki paradigma kolot di dalam mengatur gereja. Untuk memasukkan brosur acara rohani dari gereja lain, biasanya di banyak gereja Protestan arus utama, hal ini harus menunggu rapat majelis yang bisa diselenggarakan sekali sebulan. Setelah rapat selesai, baru ada keputusan. Saya tidak mengerti apa motivasi di balik tindakan kolot ini. Jika motivasinya beres dan murni agar jemaat gereja semakin bertumbuh di dalam iman yang beres itu bisa dipertanggungjawabkan (meskipun tidak harus mengimun jemaatnya), namun jika motivasinya hanya karena acara gereja lain itu bukan dari gerejanya, maka ditolak, maka mungkin sekali yang salah adalah struktur organasi dan doktrin yang dipegang oleh gereja tersebut. Bukan hanya masalah struktur organisasi, tata liturgi pun tidak lepas dari sorotan para penganut konsep lama ini. Baginya, tata liturgi yang tertib dan terstruktur itu yang paling “Alkitabiah.” Mereka akan memblame gereja-gereja yang kurang menekankan liturgi yang tertib dan terstruktur. Bahkan seorang hamba Tuhan yang bertheologi Reformed pernah berkata kepada saya bahwa hanya gara-gara gereja yang digembalakannya menggunakan alat musik modern dan lagu-lagu rohani kontemporer, dia dicap bertheologi Arminian.

 

Konsep ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh suatu konsep bahwa yang lama pasti 100% benar, sedangkan yang baru selalu salah. Meskipun konsep ini tidak dicetuskan secara eksplisit, namun konsep ini secara implisit selalu ditekankan. Yang lebih heran lagi, saya mengamati bahwa mayoritas pendidikan keluarga dari tradisi Timur (Asia Timur, secara khusus: Tionghoa) lah yang memberhalakan sesuatu yang lama. Saya adalah orang keturunan Tionghoa, namun saya harus dengan jujur dan terbuka mengakui kelemahan fatal tradisi Tionghoa yang diadopsi dari kebudayaan leluhur yang mengaburkan perbedaan antara menghormati orangtua vs menyembah orangtua. Meskipun secara perkataan, banyak orangtua/orang tua dari tradisi Tionghoa menolak konsep pemberhalaan sesuatu yang lama, secara sadar atau tidak sadar, mereka sudah diikat oleh setan sejak lama. Konsep apa yang mengikat mereka? Konsep dari banyak filsafat, agama, dan kebudayaan Tiongkok yang tidak mengenal Allah secara tuntas. Pimpinan dan kehendak Tuhan bagi setiap anak secara unik tidak lagi diakui dan diganti dengan pimpinan dan kehendak orangtua. Yang lebih celaka dan berdosa lagi, pimpinan dan kehendak orangtua (“Kristen”) diklaim mutlak berasal dari Allah. Penggunaan otoritas Allah secara tidak bertanggungjawab ini dimaksudkan agar anak-anaknya menuruti apa yang dikehendaki orangtua mereka. Bandingkan gejala tidak beres ini dengan ajaran firman Tuhan sendiri di dalam Ulangan 6:4-7, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Sejak kecil, anak-anak dari orangtua Israel dididik untuk mengenal dan mengasihi Allah mereka dengan tulus. Mengasihi Allah dengan tulus tentu berakibat pada mengasihi dan menghormati orangtua. Namun ordo/urutan tetap TIDAK boleh dibalik: pertama, Allah, baru, orangtua. Bandingkan hal ini dengan banyak orangtua (keturunan) Tionghoa yang mengajar anak-anak mereka dari kecil untuk mengasihi uang dan orangtua lebih daripada Tuhan Allah yang mencipta mereka.

 

Konsep ini meskipun ada hal positif yang bisa dipelajari, namun terlalu menekankan konsep ini secara ekstrem memiliki kebahayaan dan kelemahan yang mungkin disadari atau tidak disadari:

Pertama, konsep benar atau salah diukur dari waktu kurang bisa dipertanggungjawabkan. Biasanya para pengagung konsep yang lama mengatakan bahwa yang lama pasti 100% benar, sedangkan yang baru selalu salah. Benarkah kriteria benar atau tidaknya sesuatu diukur dari waktu? Jawabannya: YA dan TIDAK. Ya, karena mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, waktu adalah ujian yang paling kejam menyatakan bahwa sesuatu itu beres atau tidak. Ajaran yang bertahan lama biasanya beres, sedangkan yang tidak bertahan lama biasanya tidak beres. Alkitab sendiri mengajar hal ini melalui nasihat Gamaliel di dalam Kisah Para Rasul 5:34-39. Namun hal ini TIDAK berarti bahwa kriteria kebenaran hanya mutlak diukur dari sudut pandang waktu, karena bukan sesuatu yang mustahil jika ada ajaran yang bertahan lama juga termasuk ajaran yang tidak beres bahkan sesat. Tuhan Yesus sendiri di dalam Matius 13:24-30 berfirman bahwa lalang dan gandum dibiarkan Tuhan tumbuh bersama sampai suatu saat penuaian, lalang dipisahkan dari gandum. Dengan kata lain, kita tidak bisa mengambil kesimpulan mutlak bahwa sesuatu yang lama dan bertahan lama pasti 100% benar, karena di dalamnya mungkin saja Tuhan mengizinkan iblis beroperasi secara perlahan namun ganas.

 

Kedua, konsep ini mengakibatkan para pengagungnya TIDAK akan pernah maju dan menjadi aneh. Orang yang keras kepala memberhalakan konsep yang lama biasanya tidak akan pernah maju, mengapa? Karena ia hanya mau berhenti di dalam paradigma, tingkah laku, dan sikap yang lama. Ia tidak mau belajar lebih banyak untuk makin mengerti kondisi zaman, namun ia secara statis dikunci oleh konsep lamanya. Jangankan orang dunia, ada orang Kristen bahkan Reformed pun tidak terkecuali memiliki keanehan ini. Mayoritas dari mereka yang sudah terbiasa berkutat dengan hal-hal rohani dan filsafat, coba perhatikan tingkah laku mereka. Biasanya banyak dari antara mereka menjadi orang aneh. Di dalam “kamus” orang tersebut, hampir tidak ada senda gurau. Senda gurau dianggapnya serius. Hal ini bukan teori saja, saya sudah menemukan realitas orang yang aneh seperti ini. Senda gurau sedikit langsung dikritiknya dan tidak tanggung-tanggung ia menggunakan ayat Alkitab sekalian. Mereka seperti gudang theologi, Alkitab, dan filsafat, namun sayangnya mereka akhirnya menjadi sombong. Entah mengapa, orang yang makin belajar theologi dan hal-hal rohani, banyak dari mereka menjadi sombong dengan segudang argumentasi theologis dan filosofis yang “rasional” dan “Alkitabiah.”

 

Ketiga, konsep ini tidak bisa diaplikasikan. Jika para pengagung konsep sesuatu yang lama mau bersikap konsisten, maka seluruh hidupnya harus memberhalakan konsep yang lama, mulai dari cara berpakaian, pikiran, perkataan, tingkah laku, dan sikap harus bersumber dari tradisi lama. Yang perlu ditekankan adalah para pengagung konsep ini jangan dibiarkan bersentuhan dengan dunia teknologi, termasuk: komputer, HP, mobil, sepeda motor, dll. Biarkan para pengagung konsep sesuatu yang lama jika hendak bepergian jauh TIDAK usah menggunakan mobil atau sepeda motor atau pesawat terbang, suruhlah mereka berjalan kaki. Bisakah mereka konsisten dengan pola pikir mereka sendiri? Dijamin TIDAK MUNGKIN.

 

 

 

 

SIKAP KRISTEN YANG BERTANGGUNGJAWAB TERHADAP SESUATU YANG LAMA DAN BARU

Jika dunia menawarkan konsep yang ekstrem tentang sesuatu yang lama dan baru, bagaimana sikap Kristen yang bertanggungjawab? Sebelum kita masuk ke dalam sikap Kristen menyoroti sesuatu yang lama dan sesuatu yang baru, kita harus mengerti dahulu presuposisi dasarnya, yaitu tentang status kita sebagai anak-anak Tuhan dan waktu.

1.               Status Kita: Manusia Baru (Anak-anak Tuhan)

Di titik pertama, kita harus mengerti bahwa kita yang sungguh-sungguh di dalam Kristus adalah umat pilihan Allah yang telah Allah pilih sebelum dunia dijadikan dan dikuduskan oleh Roh Kudus untuk taat kepada Kristus dan menerima percikan darah-Nya (1Ptr. 1:2). Sebagai orang yang telah dipindahkan dari kerajaan gelap menuju kepada kerajaan terang, maka orang Kristen seharusnya menyadari statusnya bukan lagi anak gelap, namun anak terang yang harus memiliki kehidupan baru yang berbeda dari kehidupan lamanya sebagai manusia yang dikuasai oleh daging. Rasul Paulus mengajarkan konsep ini dengan tegas di dalam surat-suratnya, khususnya Galatia, Efesus, dan Kolose. Di dalam Galatia 5:16-26, ia mengajar perbedaan konsep hidup oleh Roh vs hidup menurut daging. Di dalam Efesus 4:17-6:9, ia mengajar bagaimana hidup Kristen adalah hidup baru menurut Roh, bukan menurut daging. Di dalam Kolose 2:6-4:6, ia juga mengajar bagaimana penebusan Kristus membawa dampak perubahan signifikan di dalam diri anak-anak Tuhan. Dengan kata lain, predestinasi Allah, penebusan Kristus, dan kelahiran baru yang Roh Kudus kerjakan mengakibatkan umat pilihan-Nya menjadi manusia baru yang terus-menerus bertumbuh seperti gambaran Kristus. Manusia baru tentu tidak akan terikat lagi dengan kehidupan lama yang diikat dosa, namun terus-menerus bertumbuh di dalam iman dan pengenalan akan Allah. Ia tentu makin lama makin rendah hati diajar oleh firman Tuhan. Namun herannya, ada orang Kristen yang mengaku sudah lahir baru, tetapi makin sombong dan merasa bahwa tanpa dirinya, dunia bakal hancur. Layakkah orang ini disebut orang Kristen lahir baru? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita dan mendoakan mereka.

 

 

2.             Waktu dan Kedaulatan Allah

Setelah kita mengerti status kita sebagai manusia baru di dalam Kristus, maka secara bertahap, kita akan mengerti bagaimana iman Kristen memandang waktu yang dikaitkan dengan kedaulatan Allah. Ia tidak akan menjadi seorang yang antipati terhadap zaman dulu atau pun zaman sekarang, namun ia melihat zaman dahulu dan sekarang dari perspektif kedaulatan Allah. Mengapa? Karena Allah yang berdaulat adalah Allah yang berkuasa atas sejarah dunia ini. Ia yang memakai orang-orang-Nya di zaman dahulu, Ia juga lah yang memakai orang-orang-Nya yang lain di zaman sekarang. Selain itu, Ia jugalah yang memelihara sejarah dunia ini demi maksud dan tujuan-Nya yang agung. Dunia yang tidak dicipta dan dipelihara oleh Allah akan menjadi dunia yang hancur. Begitu juga halnya dengan waktu dan sejarah dunia ini akan menjadi kacau jika tidak ada kendali Allah yang berdaulat. Oleh karena itu, menjadi orang Kristen yang normal dan bertanggungjawab adalah menjadi orang Kristen yang memusatkan hidupnya pada kedaulatan Allah di mana Ia yang memimpin seluruh kehidupan kita.

 

 

3.             Paradigma Lama dan Baru: Tetap dan Berubah

Jika kita telah mengerti bahwa zaman dahulu dan sekarang ada di dalam kedaulatan Allah, maka kita tidak akan menjadi orang yang antipati terhadap salah satu dari dua zaman tersebut, namun menjadi orang yang menebus dua zaman tersebut bagi kemuliaan Allah. Orang yang menebus dua zaman bagi kemuliaan Allah adalah mereka yang menjalani hidupnya secara paradoks dan bukan secara either or (kalau tidak X, ya Y). Mereka tidak akan memberhalakan salah satu zaman, namun menundukkan kedua zaman di bawah kedaulatan Allah.

 

Dua paradigma zaman yaitu lama dan baru mempengaruhi respons manusia, yaitu apakah manusia harus tetap atau berubah di dalam segala sesuatu. Orang yang sudah terbiasa dengan pola pikir either or selalu mengambil salah satu opsi/pilihan, entah itu dia mau tetap pada pendiriannya yang kolot ataupun dia terus mau berubah namun tanpa arah. Kekristenan yang berdasarkan Alkitab mengajarkan suatu paradoksikal yang tidak mungkin bisa dimengerti oleh orang-orang di luar anugerah Allah. Di dalam theologi Reformed, kita belajar bahwa Allah adalah Pribadi yang tidak berubah dari dulu, sekarang, dan selama-lamanya, namun di dalam relasinya dengan manusia, Ia bisa berubah. Apakah ini suatu kontradiksi? TIDAK. Ini paradoks. Paradoks adalah sesuatu yang seolah-olah bertolak belakang, namun sebenarnya tidak/berkaitan. Keberadaan diri Allah yang tidak mungkin diubah oleh waktu, tempat, dll mengakibatkan Dia adalah Allah yang Kekal (transenden). Namun di sisi lain, kita mengenal Allah yang transenden bukanlah Allah yang nun jauh di sana, tetapi Allah yang dekat dengan umat-Nya (imanen). Transendensi dan imanensi Allah diungkapkan di dalam firman-Nya, Alkitab sehingga fondasi kebenaran kita di dalam memandang reaksi “tetap dan berubah” harus bersumber dari Alkitab dan konsep kita tentang Allah.

 

Lalu, apa saja yang termasuk kategori tetap dan bisa berubah/diubah di dalam Kekristenan? Kekristenan mempunyai dasar pikir yang kokoh yaitu Alkitab. Alkitab adalah satu-satunya firman Allah yang tidak mungkin bersalah dalam naskah aslinya, sehingga Alkitab adalah satu-satunya fondasi kebenaran yang sah. Konsep ini harus kita pegang teguh. Inilah wilayah di mana kita harus berpendirian tetap dan teguh. Jika konsep ini kita biarkan lemah dan berkompromi dengan semua arus filsafat dunia, maka percayalah, hidup Anda akan kacau dan hancur. Pendirian dan iman yang beres mengakibatkan seluruh unsur hidup kita beres. Namun, di dalam aplikasi praktis dari iman/pendirian yang beres, hendaklah kita bijaksana memilah mana yang patut dipertahankan secara tetap dan mana yang perlu diubah. Kecenderungan Kekristenan khususnya aliran Reformed tertentu mendiskreditkan semua filsafat dunia sebagai ajaran salah. Hal ini memang benar, tetapi tidak berarti kita tidak bisa belajar sedikitpun dari filsafat dunia. Jangan lupa, theologi Reformed percaya bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah (all truth is God’s truth). Adalah tidak bijaksana jika karena suatu (tidak semua) ajaran dunia itu salah, lalu kita memblacklist semua ajaran dunia. Jangan menjadi orang lebay! Bersikaplah bijaksana. Jangan suka mengeneralisasi segala sesuatu tanpa mengertinya secara tuntas dan teliti! Kembali, Kekristenan harus dewasa dan bijaksana. Apa yang mutlak secara prinsip/iman, misalnya Allah Trinitas, finalitas Kristus, keberdosaan manusia, jangan berzinah, jangan berdusta, dll itu memang harus dipegang teguh. Namun, sesuatu yang tidak mutlak di dalam prinsip jangan terlalu dipegang teguh secara membabi buta. Jika kita membabi buta menjalankan satu prinsip yang tidak mutlak, bukan tidak mungkin kita nantinya menjadi orang aneh dan tidak menutup kemungkinan kita bisa menjadi orang yang dibenci Tuhan. Anda tahu orang Farisi? Siapa mereka? Mereka adalah para rohaniwan yang belajar Taurat, namun sayangnya mereka tidak mengerti inti Taurat. Yang mereka ajarkan tetap bersumber dari Perjanjian Lama, namun dengan tambahan peraturan yang mereka buat sendiri agar mereka dan orang-orang Israel makin saleh. Melanggar satu peraturan yang para ahli Taurat buat sendiri itu dicap berdosa. Dan tahukah bahwa Kristus menegur orang-orang seperti ini. Ia mengatakan bahwa mereka munafik. Mereka seolah-olah bersih dari luar, namun busuk di dalam hatinya. Itulah citra orang Kristen tertentu yang gemar mengurusi hal-hal sekunder lebih daripada hal-hal primer.. Biarlah kita menjadi orang Kristen yang makin lama makin bijaksana yang mempertahankan apa yang perlu tetap dipertahankan dan menghargai hal-hal yang patut dihargai (dan tidak perlu terlalu ketat dipertahankan).

 

Hal selanjutnya yang perlu kita mengerti adalah mengenai perubahan di dalam Kekristenan. Bolehkah ada sesuatu yang berubah/baru di dalam Kekristenan? Apakah dengan adanya perubahan/hal-hal baru membuat Kekristenan menjadi tidak unik, karena dunia pun menghendaki yang sama? Ke arah manakah perubahan di dalam Kekristenan? Sampai batas manakah perubahan itu? Di dalam Kekristenan, kita tentu mengenal istilah perubahan dan hal-hal baru. Di titik pertama tadi, kita sudah mengerti presuposisi bahwa status kita adalah anak-anak Tuhan/manusia baru yang hidup bagi Kristus. Berarti di dalam Kekristenan kita mengenal istilah baru/perubahan. Jika Kekristenan mengenal istilah perubahan/hal-hal baru, dunia pun mengenal istilah yang sama. Jika demikian, apa beda kedua konsep perubahan/hal-hal baru antara Kekristenan dengan konsep dunia? Dunia kita mengenal konsep perubahan/hal-hal baru sering kali tanpa dasar dan arah tujuan yang jelas. Ambil contoh, pada masa kampanye, Presiden U.S.A. Barack Husein Obama meneriakkan “perubahan” untuk memenuhi selera masyarakat Amerika Serikat. Namun, fakta membuktikan, perubahan seperti apa yang dia buat? Benarkah perubahan itu benar-benar beres? Fakta membuktikan tidak. Perubahan yang dibuatnya justru malah negatif. Etika, perdamaian dunia, dll dilanggar. Dengan kata lain, dunia yang meneriakkan perubahan, kebanyakan dari mereka tidak mengerti perubahan yang dimaksud dan tujuan yang hendak dicapai dari perubahan tersebut. Namun, Kekristenan mengenal dan mengerti konsep perubahan/hal-hal baru dengan dasar dan arah tujuan yang jelas yaitu firman Allah dan kemuliaan-Nya. Mereka mau berubah bukan karena dunia menginginkannya atau karena ambisi masyarakat, namun karena Allah menginginkan mereka berubah. Berarti mereka berubah karena kehendak Allah. Kedaulatan Allah mengakibatkan orang Kristen mau berubah, tentu berubah makin bertumbuh di dalam iman, kerohanian, karakter Kristen yang beres sesuai dengan gambar dan rupa Kristus, Kakak Sulung kita. Dengan kata lain, Kekristenan mengenal perubahan bukan tanpa batas, tetapi dengan batas yaitu kedaulatan Allah di dalam firman-Nya.

 

Bagaimana kita mengaplikasikannya? Perubahan yang dibatasi oleh kedaulatan Allah mengakibatkan kita hati-hati di dalam menjalani hidup sesuai dengan standar Allah dan firman-Nya. Dengan mengatakan hal ini, saya tidak bermaksud menyuruh orang Kristen menjadi orang paranoid yang ketakutan terhadap semua budaya dunia. Ingatlah, sebagai orang Kristen, kita hidup di dalam dunia dan kita diutus ke dalam dunia oleh Allah, namun kita bukan dari dunia. Sebuah istilah yang bagus sekali di dalam judul konferensi yang digagas oleh Rev. C. J. Mahaney, Rev. Joshua E. Harris, dkk: “In the World but not of the World” (Di dalam dunia, namun bukan dari dunia). Status kita bukan dari dunia, namun panggilan kita ke dalam dunia. Dengan kata lain, ada pembeda yang harus kita buat antara anak-anak Tuhan dengan orang dunia, namun tidak berarti kita menjadi aneh di mata dunia melalui sikap hidup kita. Saya menyebut hal ini sebagai paradoxical Christian life-style (gaya hidup Kristen yang paradoks). Sebagai orang Kristen, secara prinsip, kita adalah anak-anak Allah yang memiliki prinsip dan aturan Kerajaan Allah/Sorga, namun secara aplikasi, kita dituntut untuk menjadi berkat bagi dunia. Ketika kita menjadi berkat bagi dunia, Kekristenan selalu mengambil dua jalan ekstrem, yaitu: kompromi dengan dunia atau tidak mau bergaul dengan dunia. Kekristenan yang beres adalah Kekristenan yang paradoks di dalam pikiran dan gaya hidupnya. Kekristenan yang beres selalu berprinsip tegas, namun tidak kaku di dalam implementasinya ke dalam dunia. Tegas tidak selalu identik dengan kaku dan kolot. Tegas identik dengan prinsip dan kasih. Sebagai aplikasinya, kita boleh berubah mengikuti dunia. Kalau di zaman dahulu, dasi yang laris di kalangan para pria adalah dasi kupu-kupu, maka di zaman sekarang, dasi yang laris adalah dasi panjang. Begitu juga dengan model rambut, baju, dll. Tidak ada salahnya kita mengikuti mode. Namun ada hal yang harus kita perhatikan, sampai batas manakah kita mengikuti mode dan tren zaman? Kita harus menempatkan standar kebenaran Allah di atas mode dan tren zaman. Kita boleh mengikuti mode baju zaman sekarang, namun jangan sampai baju yang kita pakai yang sesuai dengan mode tersebut tidak lagi memperhatikan etika. Di dalam kita bersikap dan bertingkah laku sehari-hari pun, kita harus menampilkan ciri khas Kekristenan kita, namun tidak berarti kita menjadi orang sok religius. Menyeimbangkan dan memparadokskan gaya hidup Kristen memang tidak mudah. Kadang gaya hidup kita (orang Kristen) terlalu duniawi/sekular, di sisi lain, gaya hidup kita terkadang terlalu religius, sampai-sampai teman-teman kita enggan berteman dengan kita. Kekristenan harus mendobrak kedua ekstrem ini dan menjadi berkat bagi dunia kita dengan prinsip yang jelas dan dengan aplikasi yang tidak kolot/kaku. Belajarlah menjadi orang Kristen yang gaul, jangan jadul dan freak, heheheJ

 

 

Bagaimana dengan kita? Ketika kita hendak menyambut pergantian tahun dan menuju ke tahun yang baru, sudahkah kita mempersiapkan hati kita untuk memilah apa yang patut diubah dan apa yang patut dipertahankan secara tetap? Biarlah hati kita terus diubah dan dimurnikan oleh Roh Kudus untuk makin taat dan setia kepada firman-Nya yang tak akan pernah berubah selama-lamanya. Amin. Soli Deo Gloria.



[1] Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah (Surabaya: Momentum/LRII, 1993), viii.


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini!

#19610 From: "Siska Marina" <siska_marina@...>
Date: Mon Dec 28, 2009 7:00 am
Subject: FW: Sebuah cerita dari Buru,
siska_marina@...
Send Email Send Email
 

 
 
 
Untuk direnungkan , sebuah kisah nyata di belahan indonesia timur Laporan ini ditulis oleh Sutikno yang bertugas di JRS di pulau Buru,
Maluku.

 Sebuah cerita dari Buru,
 
   Umurnya paling tua 12 tahun. Matanya yang lebar, bulu matanya yang
lentik dan kulitnya yang putih pasti membuat kalian tidak percaya kalau
dia orang asli Buru. Nama gadis kecil itu Nonce Nurlatu. Pertama ku
bertemunya di rumah sakit umum Ambon. Mata indahnya dipenuhi air. Dokter
sedang membersihkan luka di perutnya. Benang-benang hitam berderet di
sebelah kanan pusarnya, berpegangan erat berusaha sekuat tenaga
menyatukan kulit yang menganga.
 
  Sekitar dua bulan sebelumnya, terjadi perang suku di kampungnya yang
bernama Italahin. 9 orang telah menjadi korban. Mati ditombak atau
dibacok parang. Dia sendiri terk ena tombak di perutnya. Untung waktu
itu tangannya yang kurus mengalasi perut. Tombak itu menembus tangannya
dan terus melesak ke perutnya. (perang ini merupakan perang turun
temurun antara 2 marga, sejak jaman bahulak, Nurlatu dan Latbual memang
sudah saling menanam dendam. Mata balas mata, nyawa balas nyawa.
Membunuh lebih banyak lawan menjadi suatu prestasi. Kedua keluarga besar
ini berlomba untuk mengejar prestasi .... bunuh lawan sebanyak mungkin.
Konon masalahnya sederhana saja : pembayaran mas kawin yang belum
lunas...)
 
  Nonce kecil harus menunggu di kampungnya tanpa pengobatan sama sekali
selama satu minggu, sebelum dia digotong dengan tandu menuju kampung
terdekat, dimana kendaraan yang lebih modern bisa melarikannya ke rumah
sakit. Perjalanan yang tidak gampang. Untuk mencapai dusun kecil bernama
waipcalit, satu hari satu malam, tandu sederhana itu dengan sabar
menahan tubuh mungilnya. Sebuah truk terbuka menolong gadis malang itu
menuju Namlea, ibu kota kabupaten yang berjarak 60 km. Bersamanya ada 3
korban yang lain : Seorang ibu dengan rahim menganga, setelah sebatang
tombak memburaikan kandungannya dan merenggut janin didalamnya keluar,
dan dua lelaki yang masing2 luka di punggung dan di dada.
 
  Namun luka-luka menganga mereka telah menunggu terlalu lama. Ulat-ulat
gemuk yang entah dari mana datangnya telah berpesta dengan rakus
menggerogoti daging yang mulai membusuk. Dua hari berlalu, tubuh ibu
dengan rahim busuk itu tak kuasa mempertahankan nyawa melekat di raganya.
 
  Luka Nonce kecil ini telah dijahit. Dua bilah kulit mulai bersambung.
Namun apa boleh dikata, malang belum mau berlalu dari bayangannya.
Penanganan medis di kabupaten terpencil ini memang jauh dari standard.
 
  Seminggu setelah dirawat, dia diijinkan pulang. Dari bekas jahitan di
perutnya menyembul segumpal daging sebesar jempol tangan orang dewasa.
Ternyata, ususnya 'mbrojol' keluar. Jahitannya kurang rapet ...
 
  Kebetulan Jrs (lembaga dimana aku bekerja) mendampingi penduduk asli
di Waipcalit setelah mereka kembali dari pengungsian paska kerusuhan di
pulau yang terkenal dengan tapolnya ini. Kami memberi bantuan biaya
pengobatan di Ambon pada gadis mungil itu beserta seorang pasien yang
lain. Tanpa menghiraukan lelahnya sel-sel kulit yang telah berhari-hari
bere-generasi ini, pisau tajam dokter membedahnya kembali. Dengan paksa,
usus nakal itu dimasukkan ke rongga perut yang gelap dan lembab. Kali
ini lincah tangan ahli bedah Ambon merenda benang-benang hitam yang
lebih kuat di perutnya yang tipis.
 
  Singkat cerita, setelah hari-hari membosankan dilewatkan di rumah
sakit, cucuran air mata yang tiap kali menghiasi kencan dengan ahli
bedah yang tanpa perasaan mengusap kuat-kuat jahitan di samping
pusarnya, tibalah saatnya Nonce kecil harus pulang kampung.
 
  'Nonce seng usah kembali ke gunung lagi saja pak Kani. Biar dia
tinggal dan sekolah di Waipcalit saja' kataku pada Bapak Kani, kerabat
yang relatif lancar berbahasa Indonesia yang mengantarnya berobat ke
Ambon (Nonce itu sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, jadi dia
perlu penerjemah ketika harus berkomunikasi dengan dokter) 'Seng bisa
mas,' Kata lelaki berambut gondrong ini. ( seng == tidak) 'Barang
kenapa?' tanyaku ingin tau (barang kenapa ==kenapa) 'Kalo dia su sembuh,
berarti paituanya pasti jemput untuk dibawa kembali ke gunung lagi'
sahutnya. (paitua == suami ; su == sudah) 'Paitua? Jadi Nonce ini su
kawin???' tanyaku tak percaya 'Betul mas, su sejak kecil segini (dia
mengangkat tangannya menggambarkan tinggi anak itu ketika pertama
dikawinkan) dia dibawa paituanya ke gunung. Kawin piara toh,' terang dia
kalem, seakan tak ada hal aneh di ceritanya.
 
  Aku yang tinggal terbengong-bengong, asik bermain dengan pikiranku
sendiri. Memang sudah sering kudengar sejak masih anak-anak
perempuan-perempuan Buru dikawinkan. Bahkan ibu yang masih
mengandungpun, anaknya (kalo perempuan) sudah 'dibayar' lunas oleh
lelaki berduit di sana. 'Suami' yang telah membayar lunas anak perempuan
bisa memelihara 'istrinya' di rumah. Setelah siap dibuahi, diadakan
upacara kecil untuk mensahkan perkawinan mereka.
 
  Perempuan di Buru pedalaman, pada dasarnya adalah budak lelaki. Suami
hanya duduk makan pinang, isap tembakau sementara istri setengah mati
cari makan, ma sak, urus anak ..., dipukul suami kalo suami lagi marah
...dll. Bahkan di beberapa tempat di pedalaman Buru, para ibu ini
melahirkan sendiri, tanpa ada pertolongan....ngeden sendiri, potong tali
puser sendiri, keluarin ari2 sendiri ...
 
  Setelah kemerdekaannya yang 59 tahun, Indonesia masih menyisakan
cerita 'ngenes' tentang anak negrinya.
 
  2 hari setelah ibu-ibu ini melahirkan mereka sudah harus cuci pakaian
sendiri sambil gendong bayinya dibelakang, lalu setelah itu cari kasbi
(ubikayu) dihutan, parut kasbi untuk dibuat papeda (pati yang dikasih
airpanas ... persiiss sekali dgn lem), masak untuk makan suaminya ...
 
  Kalo suami mati muda, sang istri yang sudah dibeli ini otomatis
menjadi 'milik' kakak atau adik almarhum suaminya. Dan jangan heran bila
bapak mertua mengambil alih peran anaknya untuk mengawini (baca :
menyetubuhi) mantunya dengan berbagai alasan, such as anaknya turun
gunung dan tidak pulang-pulang atau anak kandung mati muda dll
 
  Nonce,........
Disaat gadis-gadis lain seusiamu mulai belajar berdandan, Engkau sudah
harus mulai belajar mencari ubi kayu di hutan, belajar memasak untuk
melayani laki-laki yang telah 'membelimu'
 
  Nonce,.....
Disaat gadis-gadis lain seusiamu sedang hobi-hobinya mejeng di mall,
sibuk memilih baju2 mana yang fancy, Engkau tak punya pilihan ketika
'tuanmu' menggerayangi pucuk dadamu yang mulai belajar tumbuh....
 
  Nonce, sudahkah benih 'tuanmu' membuahi telur beliamu?? Ketika riang
gadis seumuranmu bergema, dengan ransel baru di punggung
berjingkrak-jingkrak merayakan hari pertama mereka mamakai seragam biru
putih... Engkau tiap hari membanting tulang melayani 'tuanmu' tanpa
merasakan beratnya 'ransel' perut berisi keturunanmu yang mangkin
membuncit .... ...
 
  Nonce, masih seberapa luaskah permukaan perutmu yang tidak dihiasi
bekas luka ... Karena runcing ujung tombak dan tajam parang musuh
margamu selalu mengincar lembut dagingmu atas nama dendam orang tua-tua
mereka ...
 
  Nonce, aku tak kuasa berbuat apa-apa, hanya meminta yang aku bisa,
semoga engkau diluputkan dari perang-perang berikutnya....
 
Sebuah Refleksi,
Dengan berbagi cerita di atas, aku ingin membagi usahaku dalam mengatasi
masalah 'berkubang dalam kesedihan' ini. Ketika kita terus mendongak dan
melihat keberuntungan-keberuntungan orang lain kita menjadi semakin
terperosok dalam kubangan yang kita gali sendiri ... tapi nek kita
sesekali mau melihat ke bawah, semisal membayangkan apa yang dihadapi
Nonce .... betapa buruk nasib yang menimpanya (at least dari sudut
pandang kita ya).... kok yo kuwat urip yo ... kadang aku mikir ngono...
Kita menjadi sadar betapa beruntungnya kita .... kita jadi mengerti
bahwa kita masih punya banyak hal yang bisa digunakan sebagai modal
untuk memperbaiki hidup ini .... yang akhirnya akan membangkitkan energi
yang selama ini kita pusatkan pada kesedihan semata ....
  Buat rekan-rekan yang dikarunia telenta untuk selalu optimis
menghadapi kerasnya hidup ini, bisa selalu melihat masalah sebagai
tantangan, semoga cerita di atas bisa menjadi wacana yang mungkin bisa
membangkitkan kepedulian sosial kalian sebagai sesama manusia, sesama
warga Indonesia, sebagai sesama pribumi ..... Yah, paling tidak tau lah
bahwa di belahan bumi yang lain, ada gadis kecil bernama Nonce Nurlatu
dengan segala masalah yang ditanggungnya ...
  Buat rekan-rekan yang mengaku feminis ... ato paling tidak mem punyai
teman yang feminis ... cerita ini bukan fiksi, banyak Nonce2 yang lain
yang butuh untuk diperjuangkan. Lebih baik berbuat sesuatu untuk mereka
walaupun itu keciiil daripada mengumpat-umpat lelaki Buru yang
memperbudak perempuan, paling nggak berdoa !!! semoga kemajuan dan
pendidikan cepat merubah budaya 'beli' perempuan di tempat itu.
 
Akhir kata : maap tidak bermaksud menggurui ... hanya ingin berbagi!!!!
 
 

#19609 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Mon Dec 28, 2009 4:49 am
Subject: 29 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu"
(1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35)

"Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa
Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam
hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan
untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan,
yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di
Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang
menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya
telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat
Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.
Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan
kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan
menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu
ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah
melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan
segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan
menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan
segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata
kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan
atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang
menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk 2:22-35), demikian kutipan
Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
• Pada hari ini kepada kita diketengahkan seorang tokoh bernama Simeon, "seorang
benar dan saleh…Roh Kudus di atasnya". Ia yang sungguh menantikan penghiburan
sejati dan kini telah menyaksikan dalam Kanak-Kanak Yesus yang sedang
dipersembahkan di bait Allah, maka ia pun memuji Allah serta bersyukur, antara
lain dengan berkata "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai
sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang
dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa". Sebagai orang
yang telah usur alias lansia kiranya kutipan di atas ini baik menjadi
permenungan atau refleksi. Hendaknya ketika sudah usia lanjut, sesuai dengan
aturan di Indonesia ketika usia 60 tahun ber-KTP abadi, dengan jiwa besar dan
hati rela berkorban untuk `mengundurkan diri' serta memberi kesempatan kepada
generasi muda lebih berperan dalam kehidupan bersama. Hal yang sama kiranya juga
baik dilakukan oleh mereka yang merasa senior terhadap yang yunior. Marilah kita
beri kepercayaan kepada generasi muda sebagai pembaharu, "untuk menjatuhkan dan
membangkitkan banyak orang…supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang".
Sebaliknya kepada generasi muda kami harapkan siap sedia untuk mengambil alih
peran dan fungsi generasi tua.
• "Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci
saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.Barangsiapa mengasihi
saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada
penyesatan" (1Yoh 2:9-10). Kutipan dari surat Yohanes ini kiranya dialami oleh
Simeon, yang "berada di dalam terang, dan dalam dia tidak ada penyesatan".
Kutipan ini juga baik menjadi permenungan bagi para orangtua, para senior,
pendidik/guru, dst..: hendaknya senantiasa berada dalam terang dan tidak ada
penyesatan dalam cara hidup dan cara bertindaknya, sehingga dalam mendampingi
dan mendidik anak-anak, yunior, peserta didik, dst.. sungguh bermanfaat bagi
masa depan mereka. Hendaknya orangtua, pendidik/guru dst. tidak menyesatkan.
Tanda bahwa tidak menyesatkan antara lain senantiasa hidup berbudi pekerti luhur
serta mengajarkan dan membina anak-anak/peserta didik untuk berbudi pekerti
luhur. Maka perkenankan sekali lagi saya kutipkan ciri-ciri budi pekerti luhur,
yang harus dihayati dan dibinakan, yaitu "bekerja keras, berani memikul resiko,
berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran
jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur,
bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis,
efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas,
mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan,
menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif,
rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah
hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun,
sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet
"(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka,
Jakarta 1997)
  "Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta
isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon
di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk
menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa
dengan kesetiaan-Nya" (Mzm 96:11-13).

Jakarta, 29 Desember 2009

#19608 From: rohani@yahoogroups.com
Date: Sun Dec 27, 2009 8:15 pm
Subject: File - Cara Mengubah Milist (dari Moderator)
rohani@yahoogroups.com
Send Email Send Email
 
Saudara sekalian, untuk mempermudah mengelola keanggotaan Saudara dalam milist
ini berikut saya kirimkan TIPs dalam men-setting Mailing list :

A. KEANGGOTAAN DALAM MAILING-LIST

1. Mendaftar sebagai anggota mail-list kirimkan email:
     To : rohani-subscribe@yahoogroups.com

2. Berhenti/keluar dari mail-list :
     To : rohani-unsubscribe@yahoogroups.com

B. CARA MENGELOLA KIRIMAN EMAIL DARI MILIST INI:

1. Tidak ingin menerima email untuk sementara waktu [No Email] –
     To : rohani-nomail@yahoogroups.com

Hal ini perlu Anda kerjakan kalau misalnya mau liburan agak lama, agar mail box
Anda aman, dan keanggotaan Anda di milist tidak bermasalah, misalnya terkena
bouncing oleh Yahoo, dll.

2. Menerima dalam bentuk bundel email [Daily Digest]
     To : rohani-digest@yahoogroups.com

3. Mengembalikan ke setting awal [Individual Emails]
     To : rohani-normal@yahoogroups.com

4. Hanya menerima berita moderator [Special Notices]
     To : rohani-notices@yahoogroups.com

5. Mengirim email kepada moderator/owner
     To : rohani-owner@yahoogroups.com

Mailing List “rohani” adalah milist berjiwa kristiani. Di dalamnya kita akan
saling membagikan harta rohani, cerita yang mengesankan, pengalaman yang
membangun iman dan hidup, renungan rohani, lagu atau gambar rohani (asal tidak
terlalu besar filenya), dan saling meneguhkan satu dengan yang lain.
Kami usulkan untuk:
a. Menyampaikan semua tulisan secara sopan. Ingatlah bahwa tulisan kita bisa
dibaca siapa saja dan diteruskan kepada siapa saja. Maka menyampaikan suatu
gagasan secara tertib, sopan dan bijaksana adalah positif sekali.
b. Hindarilah sikap atau ungkapan yang meremehkan atau memojokkan keyakinan atau
agama satu dan yang lain. Ingatlah bahwa setiap orang beriman mempunyai alasan
yang cukup baginya untuk beriman. Yang tahu ajaran dan bagaimana harus beriman
menurut agamanya adalah para pemeluknya. Kebenaran iman adalah hak Allah untuk
menentukannya.
c. Hindarilah sikap atau ungkapan yang meremehkan atau memojokkan pribadi siapa
pun dalam dialog atau diskusi di dalam milist ini. Ingatlah bahwa kita tidak
mengenal satu sama lain dengan sama baiknya. Kalau pun Anda kenal dengan lawan
dialog Anda, tetap sadarilah bahwa pembaca lain hanya membaca tulisan Anda dan
tidak mengenal relasi Anda. Milist adalah sarana umum dan bukan privat.
d. Untuk mengurangi jumlah posting yang berlebihan, usahakanlah tidak
mengirimkan email yang hanya berisi satu atau dua kata saja, kecuali mendesak
sekali atau menjawab polling.

Terimakasih atas partisipasi Saudara selama ini dalam milist ini. Semoga milist
ini sungguh memberikan manfaat kepada Anda sekalian.

salam,
Yohanes Samiran SCJ
++ moderator ++

#19607 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sun Dec 27, 2009 12:41 am
Subject: NATAL & TUBUH-3 (Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D.--Cand.)
dennyteguhsu...
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 

NATAL DAN TUBUH-3:

Palungan: Antara Kemuliaan dan Kecukupan

 

oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)

 

 

 

LUKAS 2:9-16

2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 
2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:


2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.


2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”


2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 
2:14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” 
2:15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."

2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

 

 

Kedatangan Yesus Kristus, Firman menjadi daging, yaitu kedatangan dengan tubuh Ia hadir di dalam dunia ini. Kehadiran-Nya dengan tubuh memerlukan tempat.  “Tempat” pertama kehadiran-Nya adalah rahim (womb) anak dara. Inilah “tempat” pertama kehadiran Anak Allah di dalam dunia ini. Namun kita tidak berhenti pada rahim anak dara yang bernama Maria, kita dihantar memahami keajaiban karya Roh Kudus menaungi rahim itu.. Lukas 1:35 â€śThe Holy Spirit will come upon you, and the power of the Most High will overshadow you.”

 

“Tempat” kedua dicatat oleh Lukas adalah palungan (manger). Bayi itu “dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk. 2:12). Bayi dan palungan. Bagaimana kita memahaminya? Bagaimana pendapat kita ketika menyaksikan ada bayi dalam palungan? Kita dengan mudah menyatakan keprihatinan kita karena palungan menyatakan kemiskinan dan kepapaan. Palungan melukiskan kerendahan dan ketidak berdayaan. Lalu bagaimana kita memahami bayi itu? Apakah kita memahami bayi terbaring dalam palungan sebagai bayi yang hina? Bayi yang patut dikasihani? Kita perlu bersabar sebelum mengambil kesimpulan demikian.

 

Pertama-tama kita perlu memahami rangkaian peristiwa Lukas 2:9-16. Malaikat memberitahukan kepada para gembala akan bayi yang terbaring dalam palungan. Setelah mendengar berita itu, para gembala pergi ke Bethlehem untuk melihat (hora) bayi yang diberitakan itu terbaring dalam palungan. Berita ini berasal dari para malaikat.  Jelaslah peristiwa ini bukan peristiwa sehari-hari yang kita dengar dari kata orang, ataupun dari media massa. Peristiwa bayi terbaring dalam palungan perlu dipahami dalam rangkaian peristiwanya.

1.      Peristiwa kelahiran “seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (2:12) merupakan tanda (semeion). 

2.      Ketika berita itu disampaikan kepada para gembala, “kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka” (2:9).

 

Peristiwa kelahiran bayi Yesus terbaring dalam palungan, dinyatakan dalam dua tema penting, yaitu tanda dan kemuliaan Tuhan. Bagaimana kita memahaminya?

 

“Bayi terbaring dalam palungan” merupakan tanda. Tanda yang dimulai dengan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi para gembala. Kemuliaan Tuhan berasal dari Tuhan. Ia berkenan menyatakan kemuliaan-Nya bahkan meliputi para gembala. Kemuliaan bukan berasal dari manusia. 

 

Apakah makna “tanda” itu? Tubuh-Nya dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan. Menurut Meredith G. Kline dari Westminster Seminary California, tanda itu adalah pakaian-Nya dan posisinya dibaringkan di palungan. Inilah kerelaan-Nya untuk menanggalkan jubah kemuliaan-Nya dan tempat-Nya di Surga. Menarik disimak, Kline mengaitkan lampin dan palungan menyatakan kerelaan-Nya untuk menanggalkan kemulian-Nya. 

 

Ketika Adam dan Hawa diciptakan, mereka tidak mengenakan pakaian, dan tidak merasa malu. Ketika mereka berdosa, mereka merasa malu. Malu ada kaitannya dengan mulia. Sebelum berdosa, tubuh Adam dan Hawa bersalutkan kemuliaan yang TUHAN berikan.  Itulah yang membuat mereka tidak merasa malu, karena ada mulia. Dosa, tegas Paulus, membuat manusia hilang kemuliaan Allah (Rm. 3:23). 

 

Pakaian bagi tubuh berkenaan dengan kemuliaan. Setelah manusia berdosa, manusia menggunakan pakaian untuk menggantikan kemuliaan Allah yang hilang. Dengan kemuliaan itulah manusia tidak akan merasa malu. Sepanjang sejarah peradaban, manusia berusaha mendisain kemegahan dengan pakaian, kebesaran, kehormatan, keagungan. Jubah maha indah yang dipakai Yusuf membuat cemburu saudara-saudaranya oleh karena jubah itu menandai kemuliaan Yusuf melebihi mereka.

 

Pakaian kini menjadi “kemuliaan” bagi manusia. Peristiwa kelahiran bayi Yesus mengingatkan kita bahwa kemuliaan ada kaitan dengan pakaian namun kemuliaan bukan berasal dari pakaian. Kemuliaan berasal dari TUHAN Allah. Kemuliaan bukan berasal dari jubah putih. Kemuliaan tidak dapat digantikan dengan jubah maha indah.

 

Maka bayi itu dibungkus dengan lampin, namun kemuliaan Allah meliputi para gembala yang mendengar berita “sederhana” itu.

 

Bagaimana dengan tubuh kita? 

 

Kita acap kali menggemakan seruan “apa yang hendak aku makan dan minum,” dan “apa yang hendak aku pakai,.” (Mat. 6:25). Perkataan itu membawa kita kepada kekuatiran. Makan, minum, dan pakaian kini menjadi “kemuliaan” kita. Kita menjadi apa yang kita makan, minum atau pakai. Kita lupa kemuliaan yang sejati datangnya dari TUHAN Allah. Kemuliaan itulah yang kita perlukan untuk meliputi kita oleh kasih karunia-Nya. 

 

Bagaimana dengan “kemuliaan” tubuh kita ketika kita menghampiri “bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan”? Adakah tubuh kita menyatakan kemuliaan-Nya karena kita berjalan dalam kebenaran-Nya? Makan, minum, dan pakaian kita menyatakan “kemuliaan” Allah bukan pada makan, minum dan pakaiannya, melainkan merupakan pancaran dari hati yang terus menerus diperbarui oleh Roh kebenaran.

 

 

 

Sumber:

http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=20:natal-dan-tubuh-3-palungan-antara-kemuliaan-dan-kecukupan-glory-and-sufficient&catid=22:advent-2009&Itemid=33

 

 

 

Profil Pdt. Joshua Lie:

Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) adalah Pendiri Reformational Worldview Foundation (RWF) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Philosophy (M.Phil.) di Institute for Christian Studies (ICS), Toronto, Canada; dan sedang studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di ICS.

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

#19606 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Sun Dec 27, 2009 7:00 am
Subject: 28 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya"
(1Yoh 1:5-2:2; Mat 2:13-18)

"Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf
dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke
Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan
mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak
itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana
hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh
nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah
diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh
membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua
tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang
majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi
Yeremia:"Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel
menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi"
(Mat 2:13-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Kanak-Kanak suci,
martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Penguasa yang gila akan harta benda, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi
menjadi gusar dan merasa tidak aman dan tidak nyaman ketika muncul tokoh baru
yang mengambil atau mendominasi hati rakyat. Itulah yang dialami Herodes ketika
menerima info telah lahir seorang Raja sesuai dengan ramalan para nabi, ia ingin
membunuhnya, namun karena sulit atau tidak dapat menemukan Sang Raja yang
dimaksud maka ia memerintahkan agar semua anak-anak laki-laki usia dibawah 2
(dua) tahun di Betlekem dibunuh. Kanak-kanak pun akhirnya dibunuh dan mereka
menjadi martir. Kanak-kanak memang lebih suci daripada orangtua atau orang
dewasa, maka pada pesta Kanak-Kanak suci, martir, hari ini saya mengajak kita
semua untuk memberi perhatian selayaknya atau istimewa kepada anak-anak.
Anak-anak adalah masa depan kita, masa depan bangsa dan Gereja; tidak
memperhatikan anak-anak berarti bunuh diri pelan-pelan. Secara khusus kami
mengingatkan para ibu untuk berani memboroskan waktu dan tenaga bagi
anak-anaknya yang masih balita, 2 atau 5 tahun ke bawah, juga menyusui anaknya
secara memadai (menurut berbagai nasihat sebaiknya anak-anak dapat menyusu atau
menikmati ASI kurang lebih satu tahun). Kami mengharapkan tidak dengan mudah
`menyerahkan' kanak-kanak kepada asuhan pembantu/baby sitter atau neneknya,
sebagaimana dilakukan sebagian ibu/orangtua di kota-kota yang mabuk kerja alias
materialistis. Berilah makanan bergizi, sesuai pedoman empat sehat lima
sempurna, kepada kanak-kanak.
• "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat
dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada
Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa
kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia."
(1Yoh 2:1-2). Kanak-Kanak Yesus yang baru saja kita kenangkan kelahiranNya
adalah pendamaian untuk segala dosa kita. Hemat saya jika kita hidup dalam kasih
juga akan mengimani bahwa setiap kanak-kanak adalah pendamaian bagi kita semua.
Sebagai contoh: suami-isteri tanpa anak dapat uring-uringan terus, sebaliknya
ketika mereka memiliki anak kiranya suami-isteri akan bersama-sama mengasihi dan
membesarkan atau mendidik anak-anaknya, mengingat dan memperhatikan bahwa anak
adalah hasil atau buah kerjasama atau gotong-royong. Maka ketika anda sebagai
orangtua, bapak atau ibu ataupun guru/pendidik tergoda atau dirayu untuk berbuat
dosa atau menyeleweng, kenangkan dan ingat anak-anak atau peserta didik anda,
dengan demikian kiranya anda tak tergerak untuk melakukan dosa. Memang para
penjahat sering memanfaatkan anak untuk kepentingan mereka sendiri antara lain
dengan menculik seorang anak dan minta tebusan berupa uang sebanyak mungkin.
Betapa tinggi nilai seorang anak? Ketika orang dewasa tidak ada alias bepergian
kiranya kita cuek saja alias tidak/kurang gusar, tetapi ketika anak kecil tidak
ada di rumah kiranya banyak orang gusar dan was-was. Lihatlah dalam dan dengan
mata kasih anak-anak, maka anda akan tergerak untuk hidup dan bertindak dalam
kasih, saling mengasihi. Anak sungguh membawa damai bagi siapapun yang hidup dan
bertindak dalam dan oleh kasih.

"Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan
kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka
menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah
mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang
meluap-luap itu" (Mzm 124:2-5).
Jakarta, 28 Desember 2009

#19605 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Sat Dec 26, 2009 3:16 am
Subject: 27 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Pesta Keluarga Kudus: 1Sam 1:20-22.24-28; 1Yoh 3: 1-2.21-24; Luk 2:41-52
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin
dikasihi oleh Allah dan manusia"

"Saya berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat
maupun sakit sampai mati', demikian kurang lebih janji calon suami-isteri ketika
saling menerimakan Sakramen Perkawinan, mengawali hidup baru, hidup berkeluarga
sebagai suami isteri' Mereka juga berjanji untuk mendidik anak-anak yang akan
dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka secara katolik/kristiani. Pada saat yang
berbahagia macam itu pada umumnya masing-masing, baik mempelai laki-laki maupun
perempuan, saling menghayati pasangan hidupnya sebagai anugerah Tuhan, kado dari
Tuhan. Jika mereka, suami-isteri baru, ini setia menghayati janji tersebut maka
keluarga mereka pasti akan berbahagia, damai sejahtera dan anak-anak yang
dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka akan meneladan Yesus, "makin bertambah
besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya, dan makin dikasihi oleh Allah dan
manusia". Maka pada pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria dan Yusuf, hari ini saya
mengajak para bapak-ibu atau suami-isteri untuk mawas diri: sejauh mana setia
pada janji perkawinan sampai kini? Salah satu tanda bahwa suami-isteri atau
bapak-ibu setia pada janji perkawinan adalah `buah'nya, yaitu anak-anak yang
dianugerahkan Tuhan tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa yang cerdas beriman
atau cerdas spiritual.

"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin
dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk 2: 52)

Keluarga merupakan dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun
beriman/ menggereja; keluarga bahagia maka masyarakat juga bahagia dst..
Pengalaman dan pencermatan kami: para tokoh masyarakat maupun beragama yang
sungguh hidup dan bertindak melayani demi kepentingan atau kesejahteraan umum
pada umumnya berasal dari keluarga-keluarga yang baik, bahagia, dikasihi oleh
Allah maupun sesamanya. Hidup berkeluarga sangat ditentukan oleh cara hidup
suami-isteri: apakah baik suami maupun isteri makin dikasihi oleh Allah dan
sesamanya? Orang dikasihi oleh Allah dan sesamanya karena ia juga senantiasa
mengasihi Allah dan sesamanya.

Hidup dan segala sesuatu yang menyertainya berarti yang kita miliki, nikmati dan
kuasai sampai kini adalah anugerah Allah atau kasih Allah, yang kita terima
melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita. Masing-masing dari kita
telah menerima kasih begitu melimpah ruah sehingga dapat hidup, tumbuh dan
berkembang sebagaimana adanya saat ini, maka tanggapan kita tidak lain adalah
berterimakasih dan bersyukur. Terima kasih dan syukur ini hendaknya tidak
berhenti di bibir atau dalam wacana saja, tetapi pertama-tama dan terutama harus
menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku, yaitu hidup saling mengasihi dengan
segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tubuh. Di
dalam kasih juga tersirat secara inklusif keutamaan-keutamaan seperti "sabar,
murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak
melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak
pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena
ketidakadilan tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala
sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (lih 1Kor
3:4-7)

"Makin dikasihi oleh manusia" hendaknya menjadi pedoman atau acuan hidup
berkeluarga, jangan hanya dikagumi atau dipuji saja. "Dikasihi"  berarti siap
sedia dan rela untuk didatangi, dinasihati, ditegor, dipuji, diberi, di…dst..;
dengan kata lain orang yang siap sedia dan rela untuk dikasihi senantiasa rendah
hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan diri,
yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih
dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan diri" (Prof Dr
Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –
Jakarta 1997, hal 24). Ingat dan renungkan bahwa kita baru saja mengenangkan
Pesta Natal, kenangan akan kelahiran Penyelamat Dunia, "Yesus, yang walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik
yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan
sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8)  Kerendahan hati dibutuhkan bagi siapapun
yang mendambakan agar dirinya semakin berhikmat dan dengan demikian semakin
dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Marilah kita renungkan sapaan Yohanes
dalam suratnya di bawah ini.

"Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita
mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita
minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala
perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya
itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita
saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita"
(1Yoh 3:21-23)

"Saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita" 
inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Perintah Kristus dalam hal
kasih antara lain "mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal
budi dan segenap tubuh", sehingga menjadi sehati, sejiwa, seakal budi dan
setubuh (bersetubuh). Perintah kasih ini rasanya dengan mudah dapat diindrai
atau dilihat dalam diri suami-isteri yang saling mengasihi, yang antara lain
secara konkret ada langkah bersetubuh atau hubungan seks (persetubuhan).
Hubungan seks atau persetubuhan merupakan perwujudan saling mengasihi dan ada
kemungkinan menghasilkan buah, yaitu `janin'/anak, sebagai buah kasih atau yang
terkasih. Dalam relasi antara suami-isteri yang saling mengasihi kiranya ada
keberanian percaya untuk saling mendekati yang terkasih/pasangannya, karena
pasangannya merupakan anugerah Allah.

Perintah untuk saling mengasihi terarah kepada kita semua sebagai orang beriman.
Kasih mungkin mudah dikatakan namun sering sulit dilaksanakan, mengingat dan
memperhatikan masih maraknya aneka pertentangan, permusuhan, tawuran, saling
membenci, dst.. Yang sering menjadi penyebab adalah aneka perbedaan yang ada,
entah beda selera, agama, pendapat, pengalaman, suku, dst.. Pesta Keluarga Kudus
hari ini mengingatkan saya untuk mengajak anda sekalian perihal perbedaan yang
sering menimbulkan masalah tersebut. Ingat bahwa laki-laki dan perempuan berbeda
satu sama lain tetapi saling tertarik, memikat, mendekat dan tergerak untuk
bersahabat dan bersatu. Dengan kata lain apa yang berbeda menjadi daya tarik,
daya pikat dan daya pesona untuk lebih mengenal, mendekat dan bersahabat, itulah
misteri ilahi, karya agung Allah. Maka dengan ini kami mengajak kita semua:
marilah kita sikapi dan hayati apa yang berbeda di antara kita sebagai daya
tarik, daya pikat dan daya pesona untuk saling mengenal dan bersahabat.
Hendaknya perbedaan yang ada tidak menjadi motivasi atau dorongan untuk saling
menuduh, merendahkan atau melecehkan. Perihal perbedaan kiranya baik saya angkat
kembali di sini: dalam ilmu phisika/listrik unsur minus (-) dan plus (+) bertemu
menjadi sinar terang yang fungsional dan membahagiakan, sebaliknya plus bertemu
plus atau minus bertemu minus terjadilah musibah atau kebakaran yang
mencelakakan. Kebenaran ilmiah ini hendaknya menjadi inspirasi juga dalam hal
saling mengasihi antar kita yang berbeda satu sama lain ini.

"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur
karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai
kepada Allah yang hidup. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang
terus-menerus memuji-muji Engkau.  Berbahagialah manusia yang kekuatannya di
dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!" (Mzm 84:2-3.5-6)

Jakarta, 27 Desember 2009

#19604 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Fri Dec 25, 2009 6:27 am
Subject: 26 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat". (Kis 6:8-10;
7:54-59; Mat 10:17-22)

"Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu
kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan
karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai
suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan
apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada
saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia
yang akan berkata-kata di dalam kamu. Orang akan menyerahkan saudaranya untuk
dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak
terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua
orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya
akan selamat." (Mat 10:17-22), demikian kutipan  Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Stefanus,
martir pertama, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
• Hari pertama setelah pesta Natal kita kenangkan pesta St.Stefanus, martir
pertama di dalam Gereja, orang yang begitu menyatu dengan Sang Penyelamat Dunia,
rela mengorbankan diri demi keselamatan jiwanya sendiri maupun jiwa sesama
manusia. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk menghayati jiwa
kemartiran dalam hidup kita sehari-hari alias setia pada iman kita
masing-masing, dengan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Salah satu bentuk penghayatan kemartiran masa kini yang cukup
mendesak hemat saya adalah `hidup dan bertindak jujur' dimanapun dan kapanpun,
mengingat dan memperhatikan aneka kebohongan dan manipulasi maupun  `sandiwara
kehidupan' masih marak di sana-sini. Sebagai contoh pada hari-hari ini kiranya
kita masih mendengarkan atau membaca perihal kasus Bank Century yang sarat
dengan manipulasi dan misteri itu. Jumlah uang begitu besar jumlahnya tidak
jelas alirannya, demikian berita yang tersebar; tidak jelas atau disembunyikan?
Jika kasus Bank Century ini tak dapat diselesaikan dengan baik, maka kebohongan,
manipulasi dan `sandiwara kehidupan' pasti akan semakin marak dalam kehidupan
bersama kita. "Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat",
demikian sabda Yesus.  Bertahan dalam iman dan kejujuran, itulah panggilan dan
tugas pengutusan umat beriman, maka dengan ini kami mengajak para pejuang
kebenaran, keadilan dan kejujuran untuk terus berjuang; ingat bahwa hidup jujur
mungkin untuk sementara akan hancur, tetapi seterusnya atau selamanya akan
mujur.
• "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan
Allah." (Kis 7:56), demikian kata Stefanus, yang penuh Roh Kudus serta menatap
ke langit, ketika berada di Mahkamah Agama serta sedang diadili karena kesetiaan
imannya. Tekanan dan intimidasi dari para penguasa atau tokoh bangsa dan agama
ditanggapi dengan tenang bersama dengan Tuhan, itulah yang terjadi dalam diri
Stefanus. Kecenderungan para penguasa serakah, sombong dan korup memang dengan
berbagai cara dan usaha mengintimidasi dan menekan mereka yang akan membongkar
keserakahan, kesombongan dan korupsinya. Dengan kekuasaannya ia mencoba
melindungi diri melalui para pembantunya yang diangkat dalam jabatan atau fungsi
strategis dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Meneladan
St.Stefanus, kami mengajak dan mengingatkan kita semua yang merasa beriman untuk
senantiasa dengan jernih, jujur dan cermat memperhatikan dan melihat aneka kasus
yang populer, seperti Bank Century maupun RS Omni Internasional dan Prita.
Semakin ruwet dan semrawut atau kabut sebuah kasus, yang memang dibuat demikian
oleh para penguasa, hendaknya semakin mendorong kita untuk menengadah ke atas
alias berdoa. Menghayati semangat kemartiran yang berarti penuh dengan Roh Kudus
memang perlu disuburkan dengan hidup doa. Berdoa berarti mengarahkan hati
sepenuhnya kepada Tuhan, Yang Ilahi, dengan dambaan hati kita dikuasai oleh Yang
Ilahi. Ketika hati dikuasai atau dirajai oleh Yang Ilahi atau Tuhan, kami yakin
kita akan dapat bertahan dalam iman meskipun harus menghadapi aneka masalah,
tantangan, hambatan, tekanan dan intimidasi yang menakutkan itu. Bertahan dalam
iman ada kemungkinan kita hanya dalam pertahanan terus menerus, artinya kita
tidak ikut arus kebohongan dan manipulasi maupun korupsi.

"Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk
menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena
nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku."
(Mzm 31:3cd-4)
Jakarta, 26 Desember 2009

#19603 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Fri Dec 25, 2009 12:41 am
Subject: NATAL & TUBUH-2: Immanuel & Tubuh (Pdt. Joshua Lie, Ph.D.--Cand.)
dennyteguhsu...
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 

NATAL DAN TUBUH-2:

Immanuel dan Tubuh

 

oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)

 

 

 

Melanjutkan pembahasan tentang Silsilah dan Kelahiran anak dara, dikumandangkanlah berita utama Natal: Imanuel, Allah beserta kita (Mat. 1:23). Allah beserta kita! Bayi yang dilahirkan itu adalah Imanuel!

 

Kepada kita diperlihatkan hubungan antara Imanuel dengan tubuh. Imanuel tidak terjadi seperti peristiwa Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa, tidak pula seperti ketika Allah menyatakan diri-Nya kepada Elia. Imanuel dikumandangkan ketika Ia datang dengan tubuh. Ia adalah Imanuel. Dengan tubuh, Ia menyatakan penyertaan-Nya.. Ini merupakan tindakan ajaib Allah bagi manusia yang berdosa.

 

Peristiwa natal memberikan dasar dan arah bagi kita memahami hubungan antara tubuh dengan penyertaan.

 

Tema “tubuh” menjadi percakapan antara jemaat Korintus dengan Paulus, rasul Yesus Kristus. Kita menyebutnya sebagai percakapan sebab dalam surat Korintus, Paulus menjawab pertanyaan dan permasalahan yang ada dalam kehidupan jemaat itu. Tubuh menjadi persoalan oleh karena berkaitan langsung dengan soal makanan dan seksualitas. Mari kita perhatikan “percakapan” ini dalam I Korintus 6:12-20:

 

 

PRINSIP

“Korintus”:

Segala sesuatu halal bagiku

Paulus: 

Tetapi bukan semuanya berguna.

“Korintus”: 

Segala sesuatu halal bagiku.

Paulus: 

Tetapi aku tidak akan membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

 

(“All things are lawful for me, but not all things are helpful” I Corinthians 6:12)

 


MAKANAN DAN TUBUH

“Korintus”:

Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan, tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.

Paulus:

Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. Allah yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.

 

 

MAKANAN DAN TUBUH KRISTUS


“Korintus”:

Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan, tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.

Paulus:

Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!

 

 

TUBUH DAN SEKSUALITAS

 â€śKorintus”:

Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan, tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.

Paulus:

Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia?

 


TUBUH DAN COMPANIONSHIP

“Korintus”:

Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan, tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.

Paulus: 

Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging." Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Jauhkanlah dirimu dari percabulan!

 

 

TUBUH DAN DOSA

“Korintus”:

Setiap dosa lain yang dilakukan manusia terjadi di luar dirinya. (“Every sin which a man commits is outside the body”)

Paulus:

Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri (“…but he who commits sexual immorality sins against his own body”) Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah.

“Korintus”:

Setiap dosa lain yang dilakukan manusia terjadi di luar dirinya. (“Every sin which a man commits is outside the body”)

Paulus:

Bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 
Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

 

 

SEKSUALITAS DAN BELONGING

“Korintus”:

Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, (“Now concerning the matters about which you wrote,’It is well for a man not to touch a woman.’”)

Paulus:

tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.  (“But because of the temptation to immorality each man should have his own wife and each woman her own husband”)

 

 

Paulus menggemakan pemahaman jemaat Korintus berkenaan dengan tubuh, sekaligus mempertegas maksud dan tujuan TUHAN memberikan tubuh bagi kita. Jemaat Korintus sedikit banyak sudah paham akan apa-apa yang halal (lawful). Namun halal saja belum cukup! Oleh karena khususnya berkenaan dengan tubuh, Paulus menegaskan bahwa tubuh sepatutnya “berguna.” Kata “berguna” dalam konteks moderen sayangnya sekadar dalam arti suatu yang kita gunakan, atau suatu yang memberikan kegunaan.

 

Tidak demikian maksud Paulus dengan kata “berguna” (helpful). Kata “berguna” (helpful) dalam bahasa Yunani adalah â€śsumphero..” Kata ini mempunyai arti kebersamaan (bring together).

 

Jemaat Korintus merasa bahwa tubuh hanyalah urusan makan dan minum, hanya urusan perut, yang pada akhirnya akan dibinasakan. Maka tubuh tidak ada urusan lain daripada makan dan minum. Kalaupun tubuh jatuh dalam penyelewengan seksualitas, maka itu adalah dosa di luar tubuhnya.

 

Paulus menegaskan tidak demikian. Tubuh memang berkenaan dengan makan dan minum. Namun tidak berhenti hanya urusan perut. Makan dan minun tidak hanya harus “halal” (lawful), tetapi juga harus “berguna” (helpful).

 

Tubuh bukan hanya urusan perut. Dengan tubuh, kita bisa bersama dengan yang lainnya. Sama seperti Allah beserta kita dengan tubuh dalam peristiwa natal.

Ketika kita makan dan minum, kita bukan sekadar menikmatinya sendiri, namun kita bersama yang lain. Jangan seperti jemaat Korintus, ketika perjamuan bersama mereka malah makan minun sendiri tanpa peduli yang lainnya (1Kor. 11). Makan dan minum merupakan â€śsharing” dengan tubuh sesama kita.

 

Apalagi hubungan seksualitas. Lebih dari soal makan dan minum, hubungan seksualitas adalah hubungan yang menyatukan. Paulus dengan tegas melarang percabulan, yaitu dengan tubuh kita. Hubungan seksualitas menyatukan tubuh kita dengan orang lain dalam hubungan seksualitas.

 

Itulah panggilan tubuh kita di hadapan TUHAN. Dengan tubuh kita dapat bersama orang lain. Bukan sekadar bersama, namun kita dapat saling menolong, saling menguatkan, saling membangun dalam TUHAN.

 

Dengan tubuh, seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi satu dalam pernikahan yang berkenan kepada Allah. Melalui keluarga yang berkenan kepada Allah, kita menggenapi maksud kasih karunia-Nya.

 

Yesus Kristus pernah hadir dalam dunia ini dengan tubuh-Nya. Kehadiran-Nya menyatakan penyertaan Allah yang unik dalam menggenapi keselamatan bagi kita yang percaya kepada-Nya.

 

Demikianlah kini kita sebagai umat kepunyaan-Nya, menyatakan “kehadiran” Allah melalui tubuh kita, dan juga melalui “tubuh”-Nya yaitu gereja-Nya. Apakah tubuh kita sekadar soal makan dan minum belaka? Apakah tubuh kita sekadar soal sakit (pain) dan kenikmatan (pleasure) belaka? Atau justru dengan tubuh kita melakukan kehendak Allah di dalam dunia ini.

 

Mari kita mempersembahkan tubuh kita menjadi persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Selamat menyambut kedatangan-Nya.

 

 

 

Sumber:

http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=19:natal-dan-tubuh-2-imanuel-dan-tubuh&catid=22:advent-2009&Itemid=33

 

 

Profil Pdt. Joshua Lie:

Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) adalah Pendiri Reformational Worldview Foundation (RWF) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Philosophy (M.Phil.) di Institute for Christian Studies (ICS), Toronto, Canada; dan sedang studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di ICS.

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!

#19602 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Thu Dec 24, 2009 11:34 am
Subject: EKSPOSISI 1 KORINTUS 1:18-25 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
dennyteguhsu...
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 

EKSPOSISI 1 KORINTUS 1:18-25

 

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

 

 

 

Nats: 1 Korintus 1:18-25

 

 

 

Kata sambung “sebab” (gar) di awal ayat 18 mengindikasikan bahwa ayat 18-25 memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan bagian sebelumnya. Bagian ini merupakan penjelasan terhadap apa yang sudah disinggung di ayat 10-17. Secara khusus, bagian ini menjelaskan ayat 17b “itupun bukan dengan hikmat perkataan supaya salib Kristus tidak dikosongkan kuasanya”. Hal ini terlihat dari kata “perkataan” (logos) yang muncul di ayat 17b (“hikmat perkataan”) dan dan ayat 18a (“perkataan salib”;LAI::TB “pemberitaan salib”).

 

Keterkaitan dua bagian di atas, terletak pada ide tentang “hikmat” (sophia). Hampir semua penafsir setuju bahwa perpecahan jemaat Korintus di pasal 1-3 berhubungan dengan hikmat. Hal ini didukung oleh pemunculan kata “hikmat” sebanyak 14 kali di pasal 1:18-2:16. Dukungan lain terdapat pada penutup pembahasan Paulus di pasal 1-3 di pasal 3:19 (“karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah”).

 

Sebagian jemaat Korintus bersentuhan dengan berbagai filsafat dunia yang ada pada waktu itu. Mereka lalu menganggap diri berhikmat. Ketika mereka melihat kebenaran Injil dari perspektif hikmat duniawi ini, mereka memandang rendah berita Injil yang dulu mereka terima. Mereka juga mulai mengultuskan pemimpin rohani yang menurut mereka sesuai dengan konsep mereka.

 

Bagaimana respon Paulus terhadap mereka yang menganggap diri berhikmat dan melihat kebenaran Injil sebagai suatu kebodohan? Paulus memberikan beragam respon dari pasal 1:18-2:16. Kali ini kita hanya menyelidiki pasal 1:18-25. Ada beberapa penjelasan yang diberikan untuk meresponi kesombongan intelektual di atas.

 

 

Injil Memang Kebodohan Bagi yang Binasa (ay. 18)

Dalam ayat ini Paulus menjelaskan bahwa pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi yang mereka binasa (tois appolumenois). LAI:TB menerjemahkan kata Yunani ini dengan “mereka yang akan binasa”, seolah-olah kebinasaan mereka bersifat futuris. Terjemahan ini kurang sesuai dengan tense present yang dipakai. Beberapa versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “those who are perishing” (NIV/NASB/RSV). Orang-orang ini sedang mengalami kebinasaan. 2Korintus 4:3 “jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka yang akan (lit. â€śsedang”) binasa”.

 

Setelah menjelaskan hal tersebut, Paulus menyatakan keyakinannya tentang keselamatan jemaat Korintus. Hal ini tersirat dari kata ganti “kita” di ayat 18b. Paulus tidak mengatakan “bagi mereka yang diselamatkan” (bdk. ayat 18a), tetapi “bagi kita yang diselamatkan”. Bentuk tense present yang dipakai di ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan orang percaya merupakan sesuatu yang sudah terjadi. Orang percaya sudah diselamatkan di dalam Kristus Yesus. Di ayat-ayat selanjutnya Paulus menerangkan bagaimana keselamatan ini bisa terjadi, yaitu melalui perkenanan (ay. 21) dan panggilan Allah (ay. 24).

 

Bagi yang sedang diselamatkan, Injil adalah kekuatan Allah. Karena Injil sudah memiliki kekuatan ilahi, maka Paulus tidak mau memberitakan Injil dengan hikmat perkataan (1:17b; 2:1-5). Hikmat manusia tidak akan menambah kekuatan apapun pada Injil. Ungkapan “Injil adalah kekuatan Allah” harus dilihat dalam konteks keselamatan (Rm. 1:16 “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya”). Paulus juga mungkin memikirkan kekuatan Allah dalam hal merendahkan hikmat dunia (1Kor. 1:19-21).

 

 

Allah Telah Merendahkan Orang-orang Dunia yang Berhikmat (ay. 19)

Keyakinan Paulus di ayat 18 didasarkan pada firman Tuhan (bdk. kata sambung “karena” di awal ayat 19). Seperti biasanya, Paulus memulai kutipan firman Allah dengan kata “ada tertulis” (gegraptai). Kata muncul gegraptai muncul 63 kali dalam seluruh tulisan Paulus. Melalui pengutipan ini Paulus menegaskan bahwa firman Tuhan sebagai argumen yang cukup kuat. Dia tidak perlu berbantah-bantah atau memberi bukti-bukti lain di luar Alkitab. Allah telah berfirman, semua telah diputuskan.

 

Kutipan yang diambil dari Yesaya 29:14 ini sangat relevan dengan situasi yang dihadapi jemaat Korintus. Pada zaman Yesaya, ketika bangsa Yehuda menghadapi ancaman dari bangsa Babel, mereka tidak mau bersandar pada kekuatan Tuhan walaupun Tuhan sudah mengatakan bahwa dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan mereka (Yes 30:15). Mereka justru memilih untuk mengikuti pemikiran mereka sendiri dengan cara mengikuti dewa-dewa kafir dan meminta bantuan dari bangsa Mesir. Allah sudah menegur tindakan ini dengan menyatakan bahwa hikmat-Nya tidak terbatas dan jauh melampaui siapapun (Yes 40:12-14, 25). Allah menyatakan bahwa para pembesar Zoan dan penasehat Mesir adalah orang yang bodoh semata-mata. Perkataan Allah ini kemudian menjadi kenyataan. Bangsa Yehuda tetap kalah dan dibuang selama 70 tahun.

 

Melalui pengutipan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa Allah selalu merendahkan orang-orang yang menganggap dirinya berhikmat (bdk. 1Kor. 1:29). Sebaliknya, Allah justru seringkali memakai orang-orang yang dianggap bodoh atau lemah oleh dunia (1Kor. 1:27-28). Jemaat Korintus seharusnya tidak sombong karena mereka juga akan diendahkan oleh Allah.

 

 

Allah Membuat Hikmat Dunia Ini Menjadi Kebodohan (ay. 20-21)

Kalau di ayat 19 Paulus lebih menyoroti apa yang terjadi atas orang-orang yang menganggap diri berhikmat, di ayat 20-21 dia memfokuskan pada hikmat itu sendiri. Hal ini tersirat dari pertanyaan retoris terakhir di ayat 20b dan penjelasan terhadap pertanyaan ini di ayat 20. Ia memang masih menyinggung tentang orang-orang yang “berhikmat” (ay. 20a), tetapi yang dia tekankan bukan itu.

 

Pertanyaan retoris di ayat 20a tidak boleh dianggap sebagai tantangan Paulus kepada jemaat Korintus. Dia menyadari bahwa sebagian besar jemaat adalah orang-orang yang lemah dan bodoh menurut dunia (ay. 26). Dia hanya menyadarkan jemaat Korintus bahwa semua orang yang dianggap berhikmat menurut ukuran dunia ternyata tidak mampu bertahan.

 

Para penafsir berbeda pendapat tentang identitas tiga golongan yang disebut di ayat 20a: orang-orang berhikmat (sophos), ahli Taurat (grammateus) dan para pembantah (suzetetes). Grammateus jelas merujuk pada ahli Taurat (kontra NIV “scholar”), karena hampir semua pemunculan kata ini di PB menunjuk pada salah satu golongan pemimpin agama Yahudi, walaupun kata ini juga dipakai untuk pejabat pemerintahan (Kis. 19:35). Perdebatan di kalangan penafsir biasanya berkaitan dengan golongan pertama dan terakhir. Mayoritas penafsir memahami sophos sebagai para pemikir (filsuf) Yunani, sedangkan suzetetes merupakan rujukan umum untuk semua orang yang suka berdebat. NIV menerjemahkan suzetetes dengan filsuf, mungkin dengan pertimbangan bahwa perdebatan biasa terjadi dalam lingkungan para filsuf.

 

Paulus selanjutnya menutup rentetan pertanyaan retoris di ayat 20 dengan pertanyaan inti: “bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?”. Penggunaan ungkapan “hikmat dunia” (sophia kosmou) di ayat ini bukan hanya menunjukkan jenis hikmat yang duniawi, tetapi juga kesementaraan dari hikmat ini. Hal ini tersirat dari ungkapan “para pembantah dunia ini” di ayat 20a. Kata “dunia” di bagian ini memakai kata aion yang secara hurufiah berarti “zaman”. Dengan demikian Paulus ingin menegaskan bahwa hikmat zaman ini bersifat sementara (bdk. 7:31). Kenyataannya, Allah telah membuat hikmat seperti ini menjadi kebodohan.

 

Di ayat 21 Paulus memberikan alasan mengapa hikmat dunia menjadi kebodohan. Hikmat dunia ini tidak dapat menolong orang untuk mengenal Allah (ay. 21a). Seberapa pun kepandaian manusia, hal itu tidak menjamin bahwa dia mengenal Allah, karena pengenalan terhadap Allah hanya dimungkinkan oleh karya Roh Kudus (2:6-16). Di bagian suratnya yang lain Paulus memberi contoh tentang hal ini. Walaupun manusia sebenarnya dapat mengenal Allah melalui ciptaan-Nya (Rm. 1:19-20), tetapi mereka justru menindas kebenaran tersebut (Rm. 1:18). Mereka terjebak pada berbagai kebodohan, yaitu penyembahan berhala dan dosa-dosa (Rm. 1:21-31).

 

Alasan lain mengapa hikmat dunia telah dijadikan kebodohan adalah keselamatan dari orang-orang yang percaya pada kebodohan Injil (ay. 21b). Identitas orang-orang yang diselamatkan ini memang tidak dijelaskan Paulus di ayat ini, tetapi ayat-ayat selanjutnya menunjukkan bahwa orang-orang ini adalah mereka yang dianggap bodoh dan  lemah oleh dunia (ay. 25-27). Bagaimana mungkin orang yang berhikmat malah tidak mengenal Allah sedangkan yang bodoh justru percaya kepada Dia? Kuncinya terletak pada kata “Allah berkenan menyelamatkan”. Di ayat 24 dijelaskan lebih lanjut bahwa perkenanan Allah ini berhubungan dengan panggilan-Nya untuk orang-orang pilihan (bdk. Rm. 8:29-30; Ef. 1:4; 2Tim. 2:9).

 

Konsep iman di ayat 21b bukanlah sekadar persetujuan intelektual belaka. Jika hanya sekadar keputusan rasio, maka tidak ada orang yang mau percaya pada kebodohan pemberitaan Injil. Iman di sini berarti penyerahan hidup. Jemaat Korintus yang terjebak pada hikmat duniawi dan mulai berani menghakimi Injil sebenarnya telah melupakan satu fakta yang penting: mereka dulu diselamatkan melalui iman, bukan terutama pergumulan rasio atau kepuasan intelektual.

 

 

Allah Tidak Mau Diatur Oleh Tuntutan Manusia (ay. 22-25)

Paulus menyadari bahwa konsep keselamatan melalui salib merupakan hal yang sulit diterima oleh orangorang pada jamannya, baik orang Yahudi maupun Yunani. Bagi orang Yahudi yang selalu menuntut tanda ajaib (Mat. 11:38-39; Mrk. 8:11; Luk. 11:16; Yoh. 6:30), konsep tentang Mesias yang disalib merupakan batu sandungan (lit. “skandal”). Mereka mengharapkan mesias yang perkasa dan mampu menyelamatkan mereka dari tangan bangsa Romawi (bdk. Kis. 1:6). Menurut mereka, kematian Yesus di kayu salib menunjukkan bahwa Dia tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri, apalagi mau menyelamatkan bangsa Yahudi. Lebih jauh, kematian di atas kayu salib merupakan bukti bahwa orang itu terkutuk di hadapan Allah dan manusia (Ul. 21:23; Gal. 3:13).

 

Di sisi lain, orang-orang Yunani yang menyukai “hikmat” (bdk. Kis. 17:21) melihat berita salib sebagai kebodohan. Sebagian dari mereka mungkin mempercayai konsep seorang dewa yang menjadi manusia (walaupun sebagian dari mereka – terutama di kalangan filsuf – menganggap hal ini sebagai mitos), namun konsep yang mereka pegang berbeda dengan inkarnasi Yesus. Dewa yang menjadi manusia tidak mungkin mengalami kematian. Di samping itu, kematian di atas kayu salib hanya dikhususkan bagi para penjahat yang biadab. Bagaimana bisa Allah menjadi manusia, mati dan dengan cara disalib? Semua ini jelas sulit diterima oleh orang Yunani.

 

Walaupun manusia pada zaman Paulus menuntut tanda dan hikmat, Allah tidak mau kompromi. Jalan keselamatan tetap harus melalui salib. Inilah yang diberitakan oleh Paulus. Apakah itu berarti bahwa pemberitaan Injil adalah perkataan kosong dan hanyalah konsep yang tidak rasional? Sama sekali tidak! Di ayat 24 Paulus menegaskan bahwa Injil adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Bagaimana bisa? Ya, Injil adalah kekuatan dan hikmat Allah bagi yang dipanggil oleh Allah, baik bagi orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi. terlepas dari paradigma berpikir dari dua golongan manusia ini, kalau Allah memang memanggil seseorang, maka orang ini pasti akan mempercayai Injil. Dengan demikian, bagi orang seperti ini Injil adalah kekuatan dan hikmat Allah.

 

Di ayat 25 Paulus menutup penjelasannya dengan menyatakan kebenaran teologis yang penting: Allah jauh lebih berhikmat dan kuat daripada manusia. Terjemahan hurufiah dari ayat ini adalah “sebab kebodohan Allah adalah lebih ebrhikmat daripada manusia dan kelemahan Allah adalah lebih kuat daripada manusia”. Jangankan membandingkan hikmat Allah dan hikmat manusia, kebodohan Allah pun juga lebih hebat daripada semua kepandaian manusia. Jangankan membandingkan kekuatan Allah dengan manusia, kelemahan Allah pun sudah jauh melebihi semua kekuatan manusia. Salib merupakan bukti betapa kekuatan dan hikmat manusia telah dipermalukan oleh Allah. Keselamatan melalu salib hanya dimungkinkan oleh hikmat dan kuasa Allah.

 

 

 

 

Sumber:

Mimbar GKRI Exodus, 9 Desember 2007


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)


"
Apakah saya bisa menurunkan berat badan?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! "

#19601 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Thu Dec 24, 2009 4:33 pm
Subject: Natal
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"AKU MEMBERITAKAN KEPADAMU KESUKAAN BESAR UNTUK SELURUH BANGSA"

Pada suatu hari, Sabtu pagi, saya berkunjung ke Panti Asuhan Mekarlestari, Bumi
Serpong Damai. Begitu membuka pintu gerbang halaman seorang pembantu langsung
menyambut :"Selamat pagi Romo". "Selamat pagi", tanggapan saya. Di teras ada
seorang gadis sedang menggendong anak kecil sambil membelai dan menciuminya, dan
mungkin mendengar sapaan pembantu terhadap saya, sang gadis itupun juga langsung
memberi salam:"Selamat pagi Romo". "Selamat pagi", tanggapan saya. "Romo ini
anak saya, berumur kurang lebih satu setengah tahun. Ini anak saya karena
pergaulan bebas dengan pacar saya, dan pacar saya tersebut telah pergi entah
kemana. Bulan depan anak saya akan saya bawa ke Madiun, ke kakek-neneknya untuk
dirawat. Terima kasih ya Romo". "Sama-sama", jawaban saya singkat. Saya sungguh
terharu dan kagum akan pengakuan gadis tersebut, entah karena saya pastor atau…,
ia dengan tulus dan gembira menceriterakan pengalamannya atas kelahiran anaknya
di luar nikah. Entah berapa ribu atau juta gadis yang hamil di luar nikah karena
pergaulan seks bebas lalu menggugurkan kandungannya, kiranya tidak ada data yang
akurat, sedangkan gadis yang dengan rela dan perngorbanan terus mengandung dan
melahirkan anaknya rasanya hanya sebagian kecil saja. Ia nampak damai dan
bahagia dan tidak lagi nampak kemurungan atau kesedihan atas peristiwa yang
telah dialaminya. Seorang anak yang dianugerahkan kepadanya, dengan cara yang
mungkin kurang/tidak terpuji oleh masyarakat pada umumnya, diterimanya dengan
damai dan gembira. Kiranya sang gadis tersebut sungguh telah bertobat dan
menyesali serta berkehendak untuk menempuh hidup baru yang damai sejahtera, yang
berkenan kepadaNya.

Kelahiran seorang anak, karena alasan apapun  anak tersebut `ada' dan
dilahirkan, hemat saya memang harus disambut dengan damai sejahtera dan bahagia,
sebagaimana disabdakan oleh Yesus: "Seorang perempuan berdukacita pada saat ia
melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan
penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke
dunia" (Yoh 16:21).

(1) "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar
untuk seluruh bangsa" (Luk 2:10-11)

Di tengah malam gelap gulita di padang rumput beratapkan langit, tiba-tiba ada
suara gemuruh, kiranya banyak orang menjadi ketakutan. Demikianlah kiranya yang
dialami oleh "gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak
mereka pada waktu malam.Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat
mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan"
(Luk 2:8-9).  Para gembala adalah orang-orang yang tersingkir atau terpinggirkan
dalam percaturan hidup di masyarakat; masyarakat tidak peduli terhadap mereka,
tidak atau kurang ada perhatian dari masyarakat terhadap para gembala. Maka
mereka tidak memiliki harapan pada para anggota masyarakat, dan dengan demikian
percaya pada Penyelenggaraan Ilahi. Merekalah, para gembala yang pertama-tama
menerima Warta Gembira, bahwa Juruselamat/Penyelamat Dunia telah lahir di dunia.

"Jangan takut", begitulah sapaan pertama malaikat kepada para gembala yang
`sangat ketakutan'. Baiklah sapaan malaikat kepada para gembala ini kita
renungkan dan refleksikan. Dalam hidup sehari-hari mungkin kita tiba-tiba
menerima ajakan, sapaan atau sentuhan yang tak terduga dari orang lain atau
`suara' yang menggema dalam hati kita. Hendaknya ajakan, sapaan atau sentuhan
tersebut kita sambut dan tanggapi dengan hati, jiwa, akal budi dan tubuh yang
terbuka, karena hal itu merupakan pewujudan kasih dari orang lain yang
memperhatikan dan mengasihi kita, yang berkehendak baik untuk membahagiakan dan
mensejahterakan kita. Jika kita `takut' alias menutup diri, maka kita akan
semakin sepi, menyendiri serta semakin tiada arti. Sebaliknya jika kita tidak
takut maka kita semakin hidup, bergairah dan bergembira, dan dengan demikian
juga tergerak untuk menanggapi secara positif ajakan, sapaan dan sentuhan
tersebut, sebagaimana para gembala bergairah dan ramai-ramai gembira ria
melangkah bersama sambil berkata: "Marilah kita pergi ke Bertlehem untuk melihat
apa yang terjadi di sana, seperti diberitahukan Tuhan kepada kita".

(2) "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana,
seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."(Luk 2:15)

"Betlehem" adalah tempat kelahiran Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi Manusia
seperti kita kecuali dalam hal dosa, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia" (Fil 2:6-7). Dalam diri para gembala, yang
miskin, polos dan sederhana, kiranya dapat diindrai atau dilihat kesejatian
manusia; dalam dirinya tiada sandiwara atau kepalsuan sebagaimana terjadi pada
kebanyakan orang kaya/berada yang memoles/merias diri sehingga kurang terlihat
keaslian atau kesejatiannya. Orang-orang macam itulah yang akhirnya pertama kali
menyaksikan dan menerima Sang Penyelamat Dunia, Pembawa Damai Sejahtera di
Betlehem.

"Betlehem" kita masing-masing adalah tempat kita dilahirkan dan dibesarkan,
yaitu keluarga kita serta desa/kota/daerah kita. Marilah meneladan para gembala
`pergi ke keluarga/desa/kota/daerah kita masing-masing untuk melihat apa yang
terjadi, seperti diberitahukan Tuhan kepada kita' bahwa Damai Sejahtera ada di
dalam keluarga/desa/kota atau daerah kita. Dengan kata lain marilah kita
wujudkan damai sejatera di dalam keluarga/desa/kota atau daerah tempat kita
dilahirkan dan dibesarkan. Untuk itu kita masing-masing harus berani
mengosongkan diri dan menjadi sama dengan sesama manusia: ingat bahwa kita
sama-sama manusia, sama-sama beriman, sama-sama mendambakan damai sejatera di
bumi ini, di dalam hidup kita sehari-hari, dalam keluarga, masyarakat maupun
tempat kerja. Solidaritas dan empati kepada sesama dan saudara itulah yang harus
kita hayati dan sebarluaskan agar damai sejahtera menjadi nyata atau terwujud
dalam kebersamaan hidup dan kerja kita.

Solider dan empati antara lain berarti mendatangi, sebagaimana Allah mendatangi
kita dengan menjadi Manusia sama seperti kita atau para gembala yang bergairah
dan gembira melangkah untuk mendatangi tempat kelahiran Penyelamat Dunia.
Mengawali pemenuhan janji untuk menyelamatkan dunia atau mengawali karyaNya,
Allah memulai dengan solider dan empati terhadap manusia. Kiranya cara inilah,
mendatangi dengan solider dan empati, merupakan cara utama dalam bersaudara,
berkarya atau berpastoral, bukan menunggu atau `disowani'. Maka secara konkret
kami berharap agar kita memiliki cara bertindak `mendatangi dengan solider dan
empati' ini, lebih-lebih solider dan empati terhadap mereka yang miskin dan
berkekurangan seperti pada gembala. `Turba', turun kebawah itulah cara kerja
atau berpastoral yang dijiwai oleh Inkarnasi, Emmanuel, Allah beserta kita.
Dengan ini kami juga berharap dan mendesak mereka yang kaya atau berada (kaya
akan harta/uang, ilmu/kepandaian/ kecerdasan, pengalaman dst..) untuk membagikan
kekayaannya kepada mereka yang miskin dan berkekurangan dengan mendatangi
mereka, bukan menunggu atau memanggil mereka untuk `sowan'/ menghadap anda. Maka
baiklah kita renungkan atau refleksikan lebih lanjut kutipan surat Paulus kepada
Titus di bawah ini.

(3) "Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan
duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia
sekarang ini" (Tit 2:12)

Penyelamat Dunia, Emmanuel yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya
sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia
"mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan
duniawi dan supaya kita bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang
ini".  Maka baiklah dalam mengenangkan Kelahiran Penyelamat Dunia atau merayakan
Natal kita tinggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan bertindak
bijaksana, adil serta beribadah kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari di dunia
sekarang ini.

• Meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Kefasikan atau
kejahatan dan keinginan-keinginan duniawi telah meracuni hidup bersama,
perdamaian dan persahabatan, baik di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat
kerja. Sang Peyelamat Dunia hadir/lahir di tengah-tengah kita dalam
kesederhanaan atau bahkan kemiskinan, sehingga orang-orang yang bermental
duniawi atau materialistis, seperti orang-orang Betlehem, tidak mampu memahami
dan menerima kelahiranNya.  Ia lahir di kandang domba-domba di tengah malam
gelap gulita dan kedinginan, tiada saudara yang menemaniNya, kecuali Yusup dan
Maria, yang suci hatinya penuh dengan Roh Kudus. Maka baiklah dalam rangka
mengenangkan atau merayakan kelahiran Penyelamat Dunia hari ini, kita tinggalkan
aneka kefasikan/kejahatan dan keinginan-keinginan duniawi, dengan hidup
sederhana serta memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di sekitar
kita. Hendaknya perayaan-perayaan Natal juga diselenggarakan secara sederhana,
tidak berfoya-foya, mabuk-mabukan dst… Ingatlah bahwa masih banyak orang miskin
dan berkekurangan di sekitar kita serta membutuhkan uluran kasih dan bantuan
dari sesamanya.
Kepada rekan-rekan yang merayakan Natal, marilah kita rayakan dengan sederhana,
antara lain dalam hal kebutuhan konsumsi/makan dan minum untuk keperluan pesta
kita libatkan para pedagang kaki lima atau penjaja makanan sederhana (soto,
bakmi, sate, es puter dst..), bukan pengusaha makanan atau catering yang sudah
kaya. Biarlah kita berpartisipasi dalam peristiwa kelahiranNya,  dimana
orang-orang miskin dan sederhana, para gembala, yang pertama-tama menerima dan
menikmati kegembiraan itu. Hendaknya juga diperhatikan para pembantu rumah
tangga kita atau pekerja/buruh untuk diajak berpesta bersama kita

• Bertindak bijaksana, adil dan beribadah. Bertindak adil berarti menghormati
dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia atau hak azasi manusia. Jika
harkat martabat manusia atau hak azasi manusia dihormati dan dijunjung tinggi,
kiranya dengan mudah kita bertindak bijaksana dan beribadah kepada Tuhan. Maka
marilah kita berantas aneka macam bentuk kekerasan, pelecehan terhadap sesama
manusia, seperti pengguguran kandungan, kekerasan atau kekejaman suami terhadap
isteri atau orangtua terhadap anak-anaknya, pelecehan terhadap perempuan dengan
mengekspos atau mengeksploitasi tubuh perempuan entah untuk iklan atau
kenikmatan seksual dst… Bertindak adil kiranya juga harus menjadi nyata dalam
memberi perhatian mereka yang kecil, miskin dan kurang beruntung, dan bagi kita
mereka itu antara lain anak-anak kita maupun para peserta didik.

(4) Memberitakan kesukaan kepada anak-anak dan para peserta didik maupun yang
miskin dan berkekurangan.

Berpihak pada `seluruh bangsa' atau semua orang berarti lebih memperhatikan
mayoritas. Bagi kita, para orangtua atau guru/pendidik, yang menjadi mayoritas
adalah anak-anak dan peserta didik. Maka marilah kita mawas diri sejauh mana
cara hidup dan cara bertindak kita sungguh `memberitakan kesukaan besar' bagi
anak-anak dan peserta didik. Tanda bahwa kita memberitakan kesukaan besar kepada
mereka adalah mereka semakin berprestasi atau berhasil dalam tugas belajar
mereka. Maka baiklah di bawah ini saya kutipkan "12 HUKUM TENTANG PRESTASI
(Dr.Sylvia Rimm)", sebagai berikut:
1. Anak-anak lebih cenderung berprestasi jika para orangtua mereka bekerja sama
dalam memberi pesan yang jelas dan positif yang seragam tentang bagaimana
seharusnya mereka belajar dan apa harapan-harapan orangtuanya terhadap mereka.
2. Anak-anak dapat mempelajari perilaku yang baik dan pantas dengan lebih mudah
jika mereka memiliki teladan-teladan efektif untuk ditiru
3. Pendapat yang dikatakan oleh orang-orang dewasa kepada satu sama lain tentang
seorang anak yang didengar oleh anak itu, sangat berdampak pada perilaku dan
cara anak itu memandang dirinya
4. Jika orangtua memberi reaksi berlebihan terhadap keberhasilan dan kegagalan
anak-anaknya, anak-anak itu akan cenderung mengalami tekanan batin yang kuat
karena mereka berusaha mati-matian untuk berhasil. Mereka juga akan mengalami
keputusasaan dan kekecewaan jika mengalami kegagalan
5. Anak-anak merasakan lebih banyak ketegangan sewaktu mereka mengkhawatirkan
pekerjaan daripada saat mereka melakukan pekerjaan itu.
6. Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri melalui suatu proses
7. Kekurangan dan kelebihan sering menunjukkan gejala-gejala yang sama
8. Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri dan rasa penguasaan diri internal
jika mereka diberi wewenang dalam porsi yang lambat laun semakin besar, selama
mereka menunjukkan kedewasaan dan tanggungjawab
9. Anak-anak akan menjadi pemberontak jika satu orang dewasa bergabung dengan
mereka melawan seorang orangtua atau guru, karena hal itu membuat mereka merasa
lebih berkuasa dari orang dewasa
10. Orang-orang dewasa seharusnya menghindari konfrontasi dengan anak-anak
kecuali jika mereka cukup yakin dapat menguasai akibatnya
11. Anak-anak akan berprestasi hanya jika mereka mau ikut serta dalam kompetisi
12. Biasanya anak-anak akan terus berprestasi jika mereka melihat hubungan
antara proses belajar dan hasil-hasilnya
(Dr.Sylvia Rimm: Why Bright Kids Get Poor Grades /Mengapa Anak Pintar Memperoleh
Nilai Buruk – Grasindo – Jakarta 1997)

Sebagai warga masyarakat kita dipanggil untuk memberikan kesukaan kepada semua
orang, tentu saja khususnya bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka
marilah pertama-tama kita perhatikan mereka yang lebih dekat dengan kita dan
setiap hari bersama dengan kita, misalnya para pembantu rumah tangga, para
buruh/pekerja. Ingatlah bahwa para pembantu rumah tangga maupun para pekerja/
buruh telah berjasa begitu banyak bagi kehidupan dan kerja atau usaha kita, maka
selayaknya di hari gembira Natal ini mereka kita ajak bersukaria, entah diajak
makan bersama atau diberi kenangan yang berguna bagi hidup mereka. "Orang-orang
miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu."(Mat
26:11), demikian sabda Yesus di perjamuan terakhir bersama para rasul.
Orang-orang miskin berada di sekitar kita, di kampung kita, di kota kita,
marilah mereka kita ajak bersukaria juga dengan menyisihkan sebagian kekayaan
atau harta benda/uang kita dan kemudian kita berikan kepada mereka. Biarlah
mereka yang miskin dan berkekurangan ikut serta dalam kegembiraan para gembala
di malam Natal ini.

Jakarta,  Desember 2009.

Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di
antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

#19600 From: Harry Sulistyo <harrysulistyo@...>
Date: Thu Dec 24, 2009 7:20 am
Subject: Merry Christmas from JJFM Surabaya
harrysulistyo
Offline Offline
Send Email Send Email
 
ucapan.jpg

 

 

HARRY SULISTYO

Program Manager

Jl. Embong Gayam 27 - 29 Surabaya

Telp. (031) 548 3320

Fax. (031) 549 1352

Hp. 0812 358 4447

email: harry@...; harrysulistyo@...

 

 

 

 

 

 




#19599 From: "Ng Siu Vui" <vfrederiqueca@...>
Date: Thu Dec 24, 2009 2:06 am
Subject: Selamat Natal dan Tahun Baru
vfrederiquec...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dear all,


Natal telah tiba...
Selamat Natal dan Tahun Baru
Semoga Damai Natal dan Berkat Tuhan Yesus Kristus selalu beserta kita


Best Regards,
Vivi NG

#19598 From: "Siska Marina" <siska_marina@...>
Date: Thu Dec 24, 2009 3:47 am
Subject: FW: Wishing you and your families a MERRY CHRISTMAS for 2009 and a Happy New Year for 2010
siska_marina@...
Send Email Send Email
 

 

 

DEAR FRIEND’S & COLLEAGUE’S,

 

â™› Wishing you and your families a  MERRY CHRISTMAS for 2009 and a Happy New Year for 2010

 

 

 

   

 

&    A H appy  N ew  Y ear 2010

Sincerely wishing you and your family a  very merry Christmas this holiday season.

 Hope the new year will bring peace, luck and success to you!

 

        

Warmest regards

SISKA  & Fam’

 

 

-----------

 

This e-mail and any attachment(s) is intended solely for the person(s) or the entity to whom it is addressed and is confidential and may also be privileged. If you receive this e-mail by mistake, please notify the sender immediately and you should not copy nor disclose its contents to any other person. All the contents of this message together with attachments are subjected to copyright.

 

The sender does not guarantee and is not liable for the security of any electronically transmitted information or for the proper and complete transmission of the information contained in this communication, or for any delay in its receipt. There is no warranty that this message is error or virus free and has not been tempered with. Amtek and its subsidiaries have no responsibility for unauthorised access and/or alteration to this communication, nor for any consequence based on or arising from your use of information that may have been accessed or altered by any persons other than the sender. It may be a private communication, and if so, does not represent the view of the company.

 


#19597 From: Vitalis <ucan_indonesia_vitalis@...>
Date: Thu Dec 24, 2009 5:25 am
Subject: Selamat Natal dan Tahun Baru
ucan_indones...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Buka HATI ada damai. Buka MATA ada terang. Buka KASIH ada sukacita.
kami sekeluarga mengucapkanan:

SELAMAT HARI NATAL & TAHUN BARU

TUHAN BESERTA KITA


Vitalis dan keluarga


#19596 From: Toni Afandi <toni.afandi@...>
Date: Thu Dec 24, 2009 3:20 am
Subject: Advent 2009 : Natal dan Tubuh
tofan2001id
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Dear All

Seri renungan Advent 2009 : Natal dan Tubuh dapat dibaca di www.wkristenonline.org

Blessings
RWF

Messages 19596 - 19625 of 19625   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help