Search the web
Sign In
New User? Sign Up
wanita-muslimah · Wanita Muslimah
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want your group to be featured on the Yahoo! Groups website? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 138454 - 138483 of 138483   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#138483 From: Lingkarpena Promo <promolingkarpena@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 4:03 am
Subject: Jawaban bila si kecil bertanya 10 orang yang dijamin masuk surga
promolingkar...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Saat Si Kecil bertanya tentang siapa 10 orang yang dijamin masuk surga.
Sepertinya buku cerita bergambar ini dapat menjawabnya dengan lugas.

10 Ksatria Surga


Penulis:
                       Ratno Fadillah
                       Jumlah Halaman:
                       56
                       Penerbit:
                       Lingkar Pena Publishing House
                       Harga:
                       Rp 24000.00
                       ISBN:
                       978602843657-1




Masuk Surga?

 
Wah, pasti semua muslim menginginkannya.

 


 
Apakah ada manusia yang dijamin masuk surga? Ya, ada. Selain
para nabi dan rasul, ada 10 sahabat Rasulullah Saw. Yang dijamin masuk
surga.

 


 
Tahukah kalian siapa saja sepuluh orang tersebut?

 


 
Nah, buku ini akan menjelaskan siapa saja sepuluh orang yang
sangat beruntung itu, dan mengapa mereka mendapat keutamaan dijamin
masuk surga. Sepuluh manusia istimewa yang sangat dicintai Rasulullah
Saw.

 


 
Mau tahu lebih banyak tentang mereka? Yuk, kita baca dan simak kisah sepuluh
sahabat Rasulullah Saw. yang hebat-hebat ini.

Kunjungi. www.mizan.com






[Non-text portions of this message have been removed]

#138482 From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 4:11 pm
Subject: Re: Seri 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem Kontrol Sistem 19
ma_suryawan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Ini lho yang enggak tahan dari self-claimingnya misionaris agama tipikal
kyai/mullah/ulama. Ini lho, HMNA mengklaim bahwa "ORANG DAHULU kesulitan dengan
sistem kontrol sistem 19," katanya.

Nabi Muhammad SAW dan Jemaat Islam di masa awal (orang terdahulu) BUKAN
kesulitan dengan "sistem kontrol 19", melainkan mereka TIDAK PERNAH KENAL dan
TIDAK TAHU dengan "sistem kontrol 19" seperti yang HMNA klaim dan maksud.
Lagian, "sistem kontrol 19" adalah metode utak-atik gathuk.

Sebaliknya, dalam Islam Ahmadiyah diajarkan bahwa Allah Ta'ala adalah Maha Hidup
dan Maha Berkata-kata, sehingga "sistem kontrol 19" yang HMNA klaim sebagai
"sistem kontrol" sebagai "mekanisme yang mengontrol keotentikan tulisan
(Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani" - adalah sangat bias dan jauh dari pembuktian yang
sehat, sebab Allah Ta'ala yang menyatakan Dia sendiri yang memelihara dan
menjaga al-Qur'an dan Dia tidak perlu mekanisme sistem kontrol untuk
memelihara/menjaga
keotentikan al-Qur'an. Allah Ta'ala dengan sangat mudah dapat menurunkan kembali
ayat-ayat al-Qur'an kepada hamba-hamba pilihan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Sekali lagi, "sistem kontrol 19" adalah metode utak-atik gathuk yang perlu
diketahui oleh publik dan tidak perlu dicemburui atau disikapi dengan dengki dan
emosional.

Gitu aja kok repot ...

Salam,
MAS


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@...> wrote:
>
> HMNA:
> Tidak perlu melayani emosi misionaris agama ahamadiyah qadiyan yang cemburu
dan dengki karena sistem kontrol 19 itu tidak didapatkan oleh benggolah agama
ahmadiyah qadiyan. Sekali lagi, tidak perlu saya menjawab langsung, cukup saya
reposting di bawah !
> Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: "The case is closed",
and no more monkey busness from MAS, nohetto !!! A'uwzdu biLlahimina
sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu innahu huwa lGhafuwru
rRahiym.
> **********************************************
> Sebagian kutipan dari Seri 772:
> Firman Allah:
> -- ANA NhN NZLNA ALDzKR WANA LH LhFZHWN (S. ALhJR, 15:9), dibaca:
> -- inna- nahnu nazalnadz dzikra wainna- lahu- laha-fizhu-n, (tanda -
dipanjangkan membacanya), artinya:
> -- Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran, Al-Kitab) dan
sesungguhnya Kami memeliharanya.
>
> Allah SWT memelihara Al-Dzikr melalui dua cara:
> Pertama, dari segi bacaan (Al-Quran) Allah SWT memberi kemampuan kepada tidak
sedikit ummat Islam sampai kepada anak-anak yang mampu menghafal Al-Quran.
> Kedua, dari segi tulisan (Al-Kitab) Allah menciptakan Sistem Kontrol sebagai
mekanisme yang mengontrol keotentikan tuisan (Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani.
>
> ----- Original Message -----
> From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Sent: Tuesday, January 05, 2010 21:04
> Subject: [wanita-muslimah] Sistem Kontrol angka 19
>
> BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
> Sistem Kontrol angka 19
> oleh: H.Muh.Nur Abdurrahman
>
> Artikel ini dipadatkan dari Lampiran I dari Metode Pendekatan Satu Kutub dalam
Mengkaji Ayat Qawliyah dan Kawniyah, yaitu Pidato Ilmiyah yang penulis sajikan
pada 24 Juni 1995, dalam rangka Peringatan Milad (Dies Natalis) UNIVERSITAS
MUSLIM INDONESIA yang ke 41 [1954 - 1995]
>
> Al-Muqaththa'aat adalah potongan dan/atau rangkaian potongan-potongan (akarnya
dari Qaf, Tha, 'Ain, qatha'a, memotong) huruf-huruf yang terdapat dalam
pembukaan surah-surah sesudah kalimah Basmalah. Mu'jizat (akarnya dari 'Ain,
Jim, Zai, 'ajaza, melemahkan) adalah sesuatu yang dimiliki oleh seorang Nabi
untuk melemahkan kehandalan pikiran dan upaya orang kafir dalam menentang
seorang Nabi.
>
> Menurut Ibnu Jurair dan Ibnu Abdil  A'la, sebuah riwayat yang berasal dari
Ikrimah sebagai berikut:
>
> "Pada suatu waktu Al Walid ibn Al Mughirah datang kepada Nabi Muhammad SAW,
maka Nabipun membaca beberapa ayat Al Quran. Rupanya bunyi atau isi ayat itu
dapat menguasai pikiran Al Walid. Ketika Abu Jahil mendapat kabar bahwa Al Walid
mulai terpengaruh, segera ia menemui Al Walid. Lalu ia berkata: 'Kini keluarga
persukuanmu tengah mengumpulkan harta bantuan untuk-mu.' 'Untuk apa itu?' jawab
Al Walid. 'Memang untuk diberikan kepadamu, sebab engkau  telah mendekati
Muhammad, karena hendak mengharapkan hartanya.'
>
> Demikianlah provokator Abu Jahal mengejek-ejek Al Walid untuk membangkitkan
jiwa  angkuh Al Walid, sebab Abu Jahal kenal betul bahwa Al Walid ini sangat
bangga dengan kekayaannya. Mendengar ejekan itu Al Walidpun  berkata: 'Orang
Quraisykan tahu bahwa akulah yang terkaya  di  antara mereka.' 'Oh, kalau
begitu,' kata  Abu  Jahal selanjutnya, 'cobalah  terangkan kepada kaum-kaummu
itu bahwa engkau membantah dan membenci Muhammad.' Al Walid menjawab: 'Apakah 
gerangan yang aku ucapkan tentang Muhammad? Tak seorang juga  di antara kaum
(orang Quraisy) ini yang lebih pandai dari aku tentang syair, nyanyi ataupun
kalimat jampi-jampi.' Kata  Abu Jahal pula: 'Kaummu tidak akan senang, kalau
engkau tidak membuat satu kata ejekan tentang Muhammad itu.' 'Kalau begitu
biarlah aku pikirkan  sebentar,' jawab Al Walid. Sehabis berpikir ia  berkata:
'Yang dikatakan Muhammad itu tak lain dari sihir yang diterimanya dari orang
lain. Itu tidak lain hanya ucapan manusia belaka.' Tak lama kemudian, Allah
menurunkan ayat 11 sampai dengan ayat 30 surah al Muddatstsir."
>
> Inilah tujuh ayat yang terakhir dari paket ayat 11 sampai dengan ayat 30 surah
al Muddatstsir."
>
> (24)Lalu  dia  berkata:  Ini tidak  lain dari sihir  yang dipelajari.
> (25)Ini tidak lain dari perkataan basyar.
> (26)Aku akan  memasukkannya ke dalam Saqar.
> (27)Tahukah  kamu apakah Saqar itu.
> (28)Tidak  meninggalkan  dan tidak membiarkan.
> (29)Sengatan bagi basyar.
> (30)Padanya sembilan belas.
>
> Dari Asbabun Nuzul tersebut dapatlah kita simpulkan bahwa kalimat topik dalam
paket ayat (11 s/d 30) adalah ayat 24 dan 25. Kata basyar ini tidak
diterjemahkan, sebab kita akan mengungkapkan ma'nanya dengan cara mempergunakan
Al Quran sebagai kamus (prinsip ayat menjelaskan ayat).
>
> Ada 37 ayat yang mengandung kata basyar, 4 di antaranya dalam surah al
Muddatstsir. Dari ke-37 tsb menunjukkan bahwa menurut pengertian yang diberikan
oleh Al Quran sendiri yang digunakan sebagai kamus, kata basyar berarti makhluk
manusia yang berdarah daging yang makan dan minum, berkembang biak, mempunyai
keturunan dan berkeluarga yang masih hidup di atas muka bumi ini. Hanya manusia 
yang  sudah mati saja yang akan menghuni neraka Saqar. Karena hanya orang mati
saja yang akan dimasukkan Allah ke dalam neraka Saqar, maka hanya ayat (27), dan
ayat (28) saja yang merupakan penjelasan terhadap ayat (26).
>
> Maka pertanyaan yang timbul adalah: sengatan bagi basyar itu berupa apa?
Perhatikanlah Firman Allah: Sesungguhnya telah Kami turunkan Al Dzikr (Al Quran
/ Al-Kitab) dan seungguhnya Kami memeliharanya. Cara Allah memelihara Al Dzikr
dalam bentuk Al-Kitab ialah
> artinya: Padanya sembilan belas.
> Allah SWT memberikan kepada kita alat kontrol berupa sistem keterkaitan
matematis angka 19, disingkat dengan Sistem Kontrol angka 19. Yang dikontrol
adalah jumlah bilangan dalam Surah, ayat, bahkan huruf. Jadi sengatan bagi
basyar bermakna siapa saja basyar yang mencoba untuk mengatakan bahwa Al Quran
itu karangan manusia seperti ucapan Al Walid ibn Al Mughirah yang menjadi topik
paket ayat (11-30), yaitu ayat (24,25), atau mengganggu kemurnian Al Dzikr, maka
kepadanya diberi sengatan dengan Sistem Kontrol angka 19, Padanya sembilan
belas..
>
> Yang ditunjuk oleh ha (=nya) dalam Padanya sembilan belas adalah muannats
(gender perempuan), sehingga semua kitab-kitab tafsir mengatakan bahwa yang
ditunjuk itu adalah neraka pada umumnya dan angka 19 adalah jumlah Malaikat
Penjaga Neraka, yaitu dikaitkan pada ayat (31) dalam ayat 31 S. Al-Muddatstsir,
yang artinya: Dan tiada kami jadikan Penjaga Neraka itu melainkan dari malaikat;
dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan
bagi orang-orang kafir. Jadi angka 19 itu adalah jumlahMmalaikat Penjaga
Neraka."
>
> Ada enam keberatan mengenai ayat (30) dikaitkan dengan ayat (31), yaitu:
>
> Pertama, ayat (11 s/d 30) merupakan satu paket, artinya tatkala paket ayat tsb
baru diturunkan, belum ada ayat (31), jadi bagaimana bisa ha (nya) dalam ayat
(30) menunjuk kepada ayat (31)
>
> Kedua, neraka dalam ayat (31) menunjuk kepada neraka pada umumnya, sedangkan
ayat (26) hanya menunjuk kepada neraka yang khusus yaitu Saqar.
>
> Ketiga, angka 19 tidak menunjuk substansi tertentu, 19 adalah murni bilangan.
>
> Keempat, setelah mengadakan pelacakan makna kata basyar dengan Al Quran yang
dijadikan kamus, kata basyar jelas-jelas berarti ciptaan Allah yang masih hidup
di atas muka bumi ini. Hanya manusia celaka yang sudah mati saja yang akan
menghuni neraka Saqar. Jadi basyar tidak disengat oleh neraka Saqar, maka dhamir
ha (kata ganti nya) tidaklah menunjuk neraka Saqar dalam ayat (26). Sehingga ha
menunjuk pada ayat sebelumnya, yaitu ayat (24) dan (25) yang berupa kalimat
topik dalam paket ayat (11 s/d 30),
>
> Kelima, jika ayat padanya sembilan belas, menunjuk pada neraka Saqar, maka
tuduhan Al-Walid bahwa Al- Quran adalah sihir yang dipelajari dan itu adalah
ucapan manusia, tidaklah terjawab sama sekali.
>
> Keenam, maka ha dalam kata" alayha" menunjuk pada yang muannats (perempuan)
dalam ayat (24,25) yaitu bagian Al-Quran, berupa: surah, dan bagian surah yaitu
ayat, dan bagian ayat yaitu kalimat dan bagian kalimat yaitu kata dan bagian
kata yaitu huruf.  Alhasil, angka 19 bukanlah jumlah Malaikat PenjagaNeraka.
>
> Setelah mengadakan istinbath (penggalian) mengenai Al-Muqathth'aat ini
diperoleh qaidah numerik seperti berikut:
>
> Pertama, Kaitan numerik jumlah Surah yang dibuka dengan Al-Muqaththa'ah dan
Al-Muqaththa'aat ditambah dengan jumlah Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat
ditambah dengan jumlah huruf-huruf yang membentuk Al-Muqaththa'ah dan
Al-Muqaththa'aat, maka jumlah keseluruhan itu kelipatan 19.
>
> Kedua, Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat yang membuka sebuah Surah setelah
Basmalah memberikan isyarat bahwa jumlah huruf dalam Surah bersangkutan adalah
kelipatan 19.
>
> Ketiga, huruf dan huruf-huruf persekutuan yang membentuk Al-Muqaththa'ah
dan/atau Al-Muqaththa'aat yang terdapat dalam semua Surah yang sama-sama
memiliki huruf dan/atau huruf-huruf persekutuan tersebut, jumlahnya adalah
kelipatan 19.
>
> Keempat, jumlah huruf atau huruf-huruf yang dinyatakan oleh Al-Muqaththa'ah
dan Al-Muqaththa'aat dalam beberapa Surah yang sama-sama memiliki
Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat tersebut, adalah kelipatan 19.
>
> Contoh Qaidah pertama:
> Ada 29 surah yang dibuka dengan Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat sesudah
Basmalah, yaitu Surah-Surah ke- 2, 3, 7, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 19, 20, 26, 27,
28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 50, 68. Al-Muqaththa'ah
dan Al-Muqaththa'aat itu 14 buah, yaitu:
>
> 1.Alif-Lam-Mim               (2,3,29,30,31,32)
> 2.Alif-Lam-Ra                  (10,11,12,14,15)
> 3.Alif-Lam-Mim-Ra          (13)
> 4.Alif-Lam-Mim-Shad      (7)
> 5.ha,Mim                          (40,41,43,44,45,46)
> 6.'Ain,Sin,Qaf ha,Mim      (42)
> 7. Tha,Sin                         (27)
> 8.Tha-Sin-Mim                 (26,28)
> 9. Kef-Ha-Ya-'Ain-Shad  (19)
> 10.Ya-Sin                         (36)
> 11.Tha-Ha                        (20)
> 12.Shad                            (38)
> 13.Qaf                              (50)
> 14.Nun                             (68)
>
> Huruf yang membentuk Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat 14 buah: (1)Alif,
(2)Lam, (3)Mim, (4)Ra, (5)Kef, (6)ha, (7)Ya, (8)'Ain, (9)Shad, (10)Tha, (11)Sin,
(12)Qaf, (13)Nun, (14) Ha.
> Marilah kita jumlahkan angka 29 (jumlah Surah yang dibuka dengan
Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat), ditambahkan dengan 14 (jumlah
Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat), ditambahkan lagi dengan 14 (huruf dan
huruf-huruf yang membentuk Al-Muqththa'ah dan Al-Muqaththa'aat, maka akan
diperoleh: 29 + 14 + 14 = 57 = 3 x 19.
>
> Contoh Qaidah kedua:
>
> Surah al-A'raaf (7)
>  Alif      Lam   Mim   Shad  Alif+Lam+Mim+Shad
> 2572   1523  1165     98        5358 = 19 x 282
> *******
>
> Surah Yuwnus (10)
>  Alif    Lam    Ra   Alif+Lam+Ra
> 1319   913   257   2489 = 19x131
> *******
>
> Surah al-Ra'd (13)
> Alif    Lam   Mim    Ra   Alif+Lam+Mim+Ra
> 625    479   260    137    1501 = 19 x 79
> ******
>
> Surah Tha-Ha (20)
> Tha   Ha     Tha+Ha
> 28    314     342 = 19 x 18
> *******
>
> Surah Maryam (19)
> Kef   Ha  Ya  'Ain  Shad  Kef+Ha+Ya+'Ain+Shad
> 137  168 345 122    26        798 = 19 x 42
> *******
>
> Surah Ya-sin (36)
> Ya  Sin   Ya+Sin
> 48  237     285 = 19 x 15
> *******
>
> Surah asy-Syuwray (42)
> ha   Mim  'Ain  Sin  Qaf     ha+Mim+'Ain+Sin+Qaf
> 53   308   53    99   57         570 = 19 x 30
> *******
>
> Surah Qaf (50)
> Qaf
> 57 = 19 x 3
> *******
>
> Surah alQalam (68)
> Nun
> 133 = 19 x 6
> *******
>
>
> Contoh Qaidah ketiga:
>
> Jumlah huruf Alif persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
>    2,        3,        7,        10,      11,       12,      13,     14,    
15,    29,     30,     31,    32
> 4592 + 2578 + 2572 + 1353 + 1402 + 1335 + 625 + 594 + 503 + 784 + 545 + 348 +
268 = 17499 = 19 x 921
>
> *******
>
> Jumlah huruf Lam persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
>  2,           3,       7,      10,      11,    12,     13,     14,     15,    
29,    30,     31,      32
> 3204 + 1885 + 1523 + 912 + 788 + 812 + 479 + 452 + 323 + 554 + 396 + 298 + 
154 = 11780 = 19 x 620
>
> *******
>
> Jumlah huruf Mim persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
>    2,       3,         7,       13,     26,    28,     29,     30,     31,    
32      40      41     42
> 2195 + 1251 + 1165 + 260 + 489 + 461 + 347 + 318 + 177 + 158 + 389 + 276 + 308
+
>
>  43,     44,     45,    46
> 317 + 145 + 200 + 227 = 8683 = 19 x 457
>
> *******
>
> Jumlah huruf Ra persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
>  10,     11,    12,     13,     14,    15
> 257 + 324 + 258 + 137 + 160 + 99 = 1235 = 19 x 65
>
> *******
>
> Jumlah huruf Shad persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
>  7,    19,   38,
> 98 + 26 + 28 = 152 = 19 x 8
>
>
>
>
> Contoh Qaidah keempat
>
> Tabel Persekutuan Al-Muqaththa'ah [Shad]
> ========================================
> No. Surah       Shad
> ------------------------
>  7  al-A'raaf      98
> 19  Maryam      26
> 38  Shad           28
> ----------------------------
>                        152 = 19 x 8
>
>
> Tabel Persekutuan Al-Muqaththa'ah [Qaf]
> =======================================
> No. Surah        Qaf
> ------------------------
> 42  asy-Syuwray  57
> 50  Qaf                57
> ----------------------------
>                           114 = 19 x 6
>
>
> Tabel Persekutuan Al-Muqaththa'aat [Alif,Lam,Mim]
>       No. Surah
>      Nama Surah
>      Jumlah Huruf
>
>       Mim
>      Lam
>      Alif
>      Alif+Lam+Mim
>
>       2
>      al-Baqarah
>      2195
>      3204
>      4592
>      9991
>
>       3
>      Ali 'Imraan
>      1251
>      1885
>      2578
>      5714
>
>       7
>      al-A'raaf
>      1165
>      1523
>      2572
>      5260
>
>       13
>      al-Ra'd
>      260
>      479
>      625
>      1364
>
>       19
>      al-'Ankabuwt
>      347
>      554
>      784
>      1685
>
>       30
>      al-Ruwm
>      318
>      396
>      545
>      1259
>
>       31
>      Luqmaan
>      177
>      298
>      348
>      823
>
>       32
>      al-Sajadah
>      158
>      154
>      268
>      580
>
>
>      Jumlah
>      5871
>      8493
>      12312
>      26676 = 1404 x 19
>
> Tabel Alif,Lam,Mim
> ========================================
> No.     Surah      Alif  Lam    Mim   Alif,Lam,Mim
> -----------------------------------------------------
>  2   al-Baqarah      4592  3204   2195      9991
>  3   Ali 'Imraan     2578  1885   1251      5714
>  7   al-A'raaf         2572  1523   1165      5260
> 13   al-Ra'd            625    479     260      1364
> 29   al-'Ankabuwt  784    554      347     1685
> 30   al-Ruwm         545    396      318     1259
> 31   Luqmaan        348    298      177       823
> 32   al-Sajadah      268    154      158       580
>         -----------------------------------------------------
>          Jumlah     12312  8493   5871     26676  = 1404 x 19
>
> Alhasil, pendekatan numerik Al-Muqaththa'ah/Al-Muqaththa'aat di atas itu
menunjukkan bahwa tidak mungkin ada manusia sampai kiamatpun yang mampu menyusun
buku dengan kalimat-kalimat yang redaksionalnya terkait dengan sistem kelipatan
19 itu. Al-Muqaththa'ah/Al-Muqaththa'aat yang sinkron dengan sistem 19 itu
melemahkan semua hasil kajian orientalis yang memutar otaknya memakai
hermeneutika menentang dengan menyatakan bahwa Al-Quran itu "man made" dan
Orientalis bersama antek-anteknya Orientalis berupa pseudo-Muslim yang menentang
keotentikan teks Mushhaf 'Usmany. Satu huruf saja yang tidak otentik, maka
keterkaitan data numerik di atas itu tidak akan sinkron dengan sistem 19. Apa
yang diperlihatkan hasil lacakan/obesrvasi menganai data numerik itu dengan
telak melemahkan semua upaya yang sia-sia dari para Orientalis dan
antek-anteknya pseudo-Muslim itu. Melemahkan, 'ajaza, Mu'jizat Nabi Muhammad SAW
yang dapat disaksikan di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.
>
> Catatan: Perlu dicamkan, bahwa angka 19 ini sama sekali tidak sakral,
itu.murni matematis yang tersusun dari angka terendah dan angka tertinggi dalam
sistem desimal, dan merupakan penjumlahan bulan dan hari, yaitu 12 + 7 = 19.
Seperti diketahiui Agama Bahai mensakralkan angka 19
>
> WaLlahu a'lamu bisshawab
>
>
################################################################################\
#################
>
> ----- Original Message -----
> From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Sent: Thursday, January 07, 2010 23:19
> Subject: [wanita-muslimah] Re: Seri 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan
Sistem Kontrol Sistem 19
>
>
> > Dalam Islam Ahmadiyah diajarkan bahwa Allah Ta'ala adalah Maha Hidup dan
Maha Berkata-kata, sehingga "sistem kontrol 19" yang HMNA klaim sebagai "sistem
kontrol" sebagai "mekanisme yang mengontrol keotentikan tulisan (Al-Kitab)
Mushhaf 'Utsmani" - adalah sangat bias dan jauh dari pembuktian yang sehat,
sebab Allah Ta'ala yang menyatakan Dia sendiri yang memelihara dan menjaga
al-Qur'an dan Dia tidak perlu mekanisme sistem kontrol untuk memelihara/menjaga
keotentikan al-Qur'an. Allah Ta'ala dengan sangat mudah dapat menurunkan kembali
ayat-ayat al-Qur'an kepada hamba-hamba pilihan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
> >
> > Sekali lagi, "sistem kontrol 19" adalah metode utak-atik gathuk yang perlu
diketahui oleh publik dan tidak perlu dicemburui atau disikapi dengan dengki dan
emosional.
> >
> > Gitu aja kok repot ...
> >
> > Salam,
> > MAS
> >
> > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
> >>
> >> HMNA:
> >> Tidak perlu melayani emosi misionaris agama ahamadiyah qadiyan yang cemburu
dan dengki karena sistem kontrol 19 itu tidak didapatkan oleh benggolah agama
ahmadiyah qadiyan.
> >> Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: "The case is
closed", and no more monkey busness from MAS, nohetto !!! A'uwzdu biLlahimina
sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu innahu huwa lGhafuwru
rRahiym.
> >>
################################################################################\
####################
> >>
################################################################################\
####################
> >>
> >> ----- Original Message -----
> >> From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@>
> >> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> >> Sent: Wednesday, January 06, 2010 23:21
> >> Subject: [wanita-muslimah] Re: Seri 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan
Sistem Kontrol Sistem 19
> >>
> >> Nabi Muhammad SAW dan Jemaat Islam di masa awal (orang terdahulu) BUKAN
kesulitan dengan "sistem kontrol 19", melainkan mereka TIDAK PERNAH KENAL dengan
"sistem kontrol 19" seperti yang Anda klaim dan maksud.
> >>
> >> Itu satu soal.
> >>
> >> Soal berikutnya adalah bahwa "sistem kontrol 19" yang anda klaim sebagai
"sistem kontrol" sebagai "mekanisme yang mengontrol keotentikan tulisan
(Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani" - adalah sangat bias dan jauh dari pembuktian yang
sehat, sebab Allah Ta'ala yang menyatakan Dia sendiri yang memelihara dan
menjaga al-Qur'an dan Dia tidak perlu mekanisme sistem kontrol untuk
memelihara/menjaga keotentikan al-Qur'an. Allah Ta'ala dengan sangat mudah dapat
menurunkan kembali ayat-ayat al-Qur'an kepada hamba-hamba pilihan-Nya sesuai
dengan kehendak-Nya.
> >>
> >> Allah Ta'ala adalah Maha Hidup dan Maha Berkata-kata.
> >>
> >> Salaam,
> >> MAS
> >>
> >> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
> >> >
> >> > BSIMILLAHIRRAHMA-NIRRAHIYM
> >> >
> >> > WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> >> > [Kolom Tetap Harian Fajar]
> >> > 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem Kontrol Sistem 19
> >> >
> >> > Dalam Seri 771 ybl termaktub:
> >> > Sebuah pertanyaan yang agak lama dipending menjawabnya, yaitu melalui
jalur pribadi (Japri) saya terima e-mail yang menanyakan: "Fungsi angka 19 dalam
S. Al-Muddatstsir, ayat 30 sebagai sistem kontrol yang merupakan mekanisme untuk
mengontrol keotentikan Al-Quran Mushhaf 'Utsmani, mengapakah Nabi SAW, yang
merupakan keniscayaan tahu sistem kontrol itu, beliau tidak menjelaskannya dalam
Hadits?
> >> >
> >> > Adapun ayat itu tergolong dalam ayat yang pendek:
> >> > -- ALYHA TS'AT 'ASyR (S. ALMDTsR, 74:30), dibaca:
> >> > -- 'alaiha- tis'ata 'asyara, artnya:
> >> > -- padanya 19
> >> >
> >> > Pertanyaan ini gampang-gampang susah. Gampangnya ialah, harus diingat
bahwa salah satu perbedaan antara Hadits dengan Al-Quran, yaitu seluruh ayat
yang diucapkan RasuluLlah termaktub dalam Mushhaf 'Utsmani, artinya tidak ada
ayat yang kurang, dan tidak ada selain ayat yang termaktub dalam Musshaf
'Utsmani, artinya tidak ada yang berlebih. (Bahasa "Bugis/Makassarnya", the
whole ayat, and nothing but the ayat). Sedangkan mengenai Hadits ada yang
berlebih yaitu hadits palsu, dan tidak semua Hadits sempat dicatat. Maka tentang
Sistem Kontrol angka 19 sebagai mekanisme untuk mengontrol keotentikan Al-Quran
Mushhaf 'Utsmani, termasuklah yang tidak sempat dicatat. Itu gampangnya. Yang
susah dijawab ialah, apabila memang RasuluLlah SAW tidak menjelaskannya kepada
para sahabat, mengapa beliau membiarkan hal tersebut, yaitu biarlah nanti ummat
Islam di belakang hari mengungkapkan fungsi angka 19 itu?!
> >> >
> >> >
> >> > Firman Allah:
> >> > -- ANA NhN NZLNA ALDzKR WANA LH LhFZHWN (S. ALhJR, 15:9), dibaca:
> >> > -- inna- nahnu nazalnadz dzikra wainna- lahu- laha-fizhu-n, (tanda -
dipanjangkan membacanya), artinya:
> >> > -- Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran, Al-Kitab) dan
sesungguhnya Kami memeliharanya.
> >> >
> >> > Allah SWT memelihara Al-Dzikr melalui dua cara:
> >> > Pertama, dari segi bacaan (Al-Quran) Allah SWT memberi kemampuan kepada
tidak sedikit ummat Islam sampai kepada anak-anak yang mampu menghafal Al-Quran.
> >> > Kedua, Allah menciptakan Sistem Kontrol sebagai mekanisme yang mengontrol
keotentikan tuisan (Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani.
> >> >
> >> > Ternyata ayat-ayat dalam Al-Quran bukan hanya sekadar untuk mengistinbath
(menggali) hukum-hukum dalam Ilmu Fiqh, tetapi juga mengistinbath qaidah (regel,
rule), antara lain mengenai potongan-potongan huruf yang disebut
Al-Muqaththa'aat (dari akar kata yang dibentuk oleh Qaf-Tha-'Ain, qatha'a =
potong), yaitu seperti Alif-Lam-Mim, dll.
> >> >
> >> > Pada tahun 1972 Rashad Khalifa berhasil mengistinbath qaidah mengenai
Al-Muqaththa'aat ini bahwa itu adalah kode matematis. Sayangnya angka 19 ini
disakralkan oleh agama Bahai, sehingga Rashad Khalifa dituduh beragama Bahai,
padahal dia sama sekali tidak mensakralkan angka 19 tersebut. Bahkan atasnya
dilakukan pula pembunuhan karakter (character assassination) yaitu dia juga
dituduh ingkar sunnah. Padahal dia ikut shalat berjamaah, mana bisa dia ingkar
sunnah kalau shalatnya sama dengan shalat kita, sebab bukankah cara shalat itu
landasannya Hadits?
> >> >
> >> > Memang sudah tepat waktunya hal itu terungkap sekarang, karena dewasa ini
para orientalis yang membenci Islam dan ummat Muslimin, sedang sengit-sengitnya
menyerang Al-Quran Mushhaf 'Utsmani, bahwa itu tidak otentik. Bukan para
orientalis tersebut saja yang menyerang keotentikan Mushhaf 'Utsmani, namun para
pseude Muslim, para benggolan yang menamakan diri Islam Liberal turut pula dalam
aktivitas itu, setelah menimba dari sumur (well) para orientalis yang membenci
Islam dan ummat Muslimin tersebut. Cukup di sini saya sebutkan dua orang di
antaranya, yaitu: Luthfi Asysyaukani, dosen Sejarah Pemikiran Islam di
Universitas Paramadina, Jakarta, yang Editor Jaringan Islam Liberal (JIL)
menulis al:
> >> > "Alquran kemudian mengalami berbagai proses 'copy-editing' oleh para
sahabat, tabi'in." Taufik Adnan Amal, dosen mata kuliah ulumul Quran di IAIN
(sekarang UIN) Alauddin Makassar, aktivis JIL, al menulis:
> >> > "Bagi rata-rata sarjana Muslim, keistimewaan rasm utsmani merupakan
misteri ilahi dan karakter kemukjizatan al-Quran. Tetapi, pandangan ini lebih
merupakan mitos.
> >> >
> >> > Sistem Kontrol angka 19 sebagai mekanisme untuk mengontrol keotentikan
Al-Quran Mushhaf 'Utsmani telah saya bahas dalam Lampiran I dari Pidato Ilmiyah
yang saya presentasikan dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Universitas Muslim
Indnesia (UMI) pada tanggal 25 Muharram 1416 / 24 Juni 1995 dalam Rangka
Peringatan Milad (Dies Natalis) UMI yang ke 41 [1954 - 1995]. Insya Allah pada
kesempatan lain akan saya sajikan nanti dalam rubrik OPINI Lampiran I tersebut.
> >> >
> >> > Dahulu notasi bilangan itu memakai sistem huruf-huruf (GEMATRIA,
numerical values of letters)
> >> >
> >> > ====================================
> >> > Sistem menuliskan simbol bilangan (Gematria)
> >> > ====================================
> >> >
> >> > Alif    A = 1      Sin    S =     60
> >> > Ba      B = 2   'Ain   'A =     70
> >> > Jim    J = 3       Fa     F =     80
> >> > Dal     D = 4   Shad  Sh =     90
> >> > Ha (*) H = 5    Qaf    Q =   100
> >> > Waw   W = 6    Ra     R =    200
> >> > Zay     Z = 7   Syin    Sy =   300
> >> > ha (#)  h = 8   Ta         T =   400
> >> > Tha   Th = 9   Ts        Ts =   500
> >> > Ya      Y = 10  Kha    Kh =   600
> >> > Kef     K = 20  Dzal   Dz =   700
> >> > Lam    L = 30  Dha   Dh =   800
> >> > Mim   M = 40  Zha    Zh =   900
> >> > Nun    N = 50  Ghain Gh = 1000
> >> > ----------
> >> > (*) H abjad ke-3 dari belakang
> >> > (#) h abjad ke-6
> >> >
> >> > Contoh
> >> > _________
> >> > D'ADhGh = 1874
> >> > Biasanya simbol angka diberi bergaris di atasnya. Notasi angka dengan
simbol huruf-huruf itu gunanya hanya untuk mencatat saja, tidak bisa dipakai
untuk operasi ilmu hitung seperti menambah, mengurangi, memperbanyak dan
membagi.
> >> >
> >> > ***
> >> >
> >> > Kode matematis itu antara lain qaidah bahwa Al-Muqaththa'aat yang membuka
sebuah Surah memberikan isyarat bahwa jumlah huruf dalam Surah bersangkutan
adalah kelipatan 19. Seperti misalnya jumlah huruf Alif+Lam+ Mim+Shad dalam
surah Al-A'raaf adalah kelipatan 19. Hasilnya seperti dalam tabel di bawah
dengan notasi bilangan dalam huruf-huruf:
> >> >
> >> > Huruf       Jumlah huruf Shad
> >> >                  ___________
> >> >   Alif         B'ATsGhGh
> >> >                    ________
> >> >   Lam          JKTsGH
> >> >                    _______
> >> >   Mim          HSQGh
> >> >                    ___
> >> >   Shad         hSh         ___
> >> >        Jumlah   ? = ? x ThY
> >> >
> >> > Siapa yang dapat menjumlahkan angka-angka tersebut di atas, baik orang
terdahulu maupun orang sekarang ini? Belum lagi untuk qaidah huruf-huruf
persekutuan yang membentuk Al-Muqaththaat yang terdapat dalam semua Surah yang
sama-sama memiliki huruf -huruf persekutuan tersebut, jumlahnya adalah kelipatan
19, seperti dalam tabel di bawah, dalam notasi bilangan yang bukan huruf:
> >> >
> >> > Tabel Persekutuan [Alif,Lam,Ra]
> >> > =================================
> >> > No.Surah    Alif   Lam   Ra   Alif+Lam+Ra
> >> > --------------------------------------------------------
> >> > 10 Yuwnus   1319   913   257        2489
> >> > 11 Huwd      1370   794   325        2489
> >> > 12 Yuwsuf    1306   812   257        2375
> >> > 14 Ibraahiym 585   452   160        1197
> >> > 15 al-hijr        493   323    96          912
> >> > ------------------------_------------------------------------
> >> > Jumlah        5073  3294 1095         9462=19x498
> >> >
> >> > Gampang sekali menjumlahkan dan membagi angka-angka itu. Tetapi coba bagi
orang-orang terdahulu sebelum didapatkannya notasi bilangan dalam sistem
desimal. Kalau setiap bilangan dinyatakan dalam simbol huruf-huruf, mana bisa
dilakukan operasi tambah dan membagi.
> >> >
> >> > Maka masuk akal, jika Nabi Muhammad SAW tidak menceritakan dalam Hadits
Sistem 19 itu, bikin susah orang saja. Barulah setelah didapatkan notasi
bilangan dalam sistem desimal operasi menambah dan membagi itu menjadi gampang.
Bahkan menjadi sangat gampang dan cepat setelah teknologi komputer didapatkan,
yaitu dengan adanya Al-Quran digital, tidak susah membuat program untuk
menjumlah  huruf-huruf yang dikehendaki, kemudian membaginya dengan 19. Dan yang
mulai dengan pemakaian kompuer itu adalah Rashad Khalifa. Dialah yang menemukan
"telur Columbus", seperti dikemukakan dalam Seri 771 yang lalu. WaLlahu a'lamu
bisshawab.
> >> >
> >> > *** Makassar 1 April 2007
> >> >    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
> >> >
http://waii-hmna.blogspot.com/2007/04/772-kesulitan-orang-terdahulu-dengan.html
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

#138481 From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 3:54 pm
Subject: Khilafat dalam Islam
ma_suryawan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum,

Biasanya Khilafatur-Rasyidah dipahami orang sebagai zaman khilafat sesudah
Rasulullah s.a.w. - sejak khilafat Abu Bakar pada tahun ke 12 sesudah Hijrah
sampai dengan khilafat Ali pada tahun ke 40 Hijriah.

Akan tetapi, menurut Hadits Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Hudzaifah
r.a., Khilafatur-Rasyidah itu terdiri atas dua masa: yang pertama adalah seperti
tersebut di atas, dan yang kedua adalah di masa kemudian. Rasulullah s.a.w.
bersabda:

"Kenabian akan tetap berada di antaramu selama Tuhan menghendaki. Dia akan
mengakhirinya dan meneruskannya dengan khilafat menurut tata-cara kenabian
selama Dia menghendaki dan kemudian akan mengakhirinya. Kemudian akan menyusul
suatu kerajaan yang penuh sengketa dan akan berlaku sepanjang dikehendaki oleh
Tuhan dan kemudian berakhir. Kemudian akan terwujud kerajaan zalim yang akan
berlangsung selama dikehendaki oleh Tuhan dan berakhir menurut perintah-Nya.
Kemudian akan muncul khilafat menurut tata-cara kenabian ...". Rasulullah s.a.w.
kemudian diam. (Musnad Ahmad).

Hadits ini merupakan nubuat dari Rasulullah s.a.w. mengenai sistem khilafat yang
dipimpin oleh Khalifah sepeninggal Rasulullah.

Kalimat: "Kenabian akan tetap berada di antaramu selama Tuhan menghendaki. Dia
akan mengakhirinya dan meneruskannya dengan khilafat menurut tata-cara kenabian
selama Dia menghendaki dan kemudian akan mengakhirinya." - Ini merujuk pada masa
kenabian Rasulullah s.a.w. dan para khalifahnya/penerusnya (Abu Bakr r.a., Umar
r.a., Ustman. r.a., dan Ali r.a.) yang menjalankan khilafat berdasarkan tata
cara kenabian sepeninggal Rasulullah s.a.w. Nubuat ini telah sempurna tergenapi.

Kemudian kalimat berikutnya: "Kemudian akan menyusul suatu kerajaan yang penuh
sengketa dan akan berlaku sepanjang dikehendaki oleh Tuhan dan kemudian
berakhir." Ini merujuk pada masa Khilafat dalam dinasti Umayyah, Abbasiah dll.
Nubuat ini juga telah tergenapi.

Kalimat ini: "Kemudian akan terwujud kerajaan zalim yang akan berlangsung selama
dikehendaki oleh Tuhan dan berakhir menurut perintah-Nya." - nubuat ini telah
tergenapi dan diakhiri dengan dibubarkannya Kerajaan Turki Usmaniyah pada tahun
1924.

Kemudian kalimat yang paling akhir: "Kemudian akan muncul khilafat menurut
tata-cara kenabian ... Kemudian Rasulullah s.a.w. diam." - Ini menunjukkan bahwa
akan muncul lagi kenabian dan lahirnya re-instutusi khilafat seperti pada masa
Rasulullah s.a.w. dan para Sahabat dulu. Para ahli tafsir menjelaskan, bahwa
kalimat Hadits ini ditujukan kepada the second coming of Isa al-Masih, yang
sepeninggalnya kemudian dilanjutkan dengan Khalifah yang menurutkan tata cara
kenabian (khilafat 'ala minhajjin nubuwwah).

Lalu mengapa Rasulullah s.a.w. diam? Sebab, menurut pendapat saya, Rasulullah
s.a.w. hanya mengabarkan kedatangan al-Masih ibn Maryam saja untuk umat Islam,
dan beliau tidak menjelaskan keadaan sepeninggal al-Masih, namun beliau
implicitly dalam Hadits di atas menjelaskan bahwa khilafat sepeninggal al-Masih
nanti haruslah sesuai dengan tata-cara kenabian (khilafat 'ala minhajjin
nubuwwah).

Jadi, khalifah sebagai pemimpin khilafat itu bisa muncul setelah adanya seorang
nabi, yang di tempat lain dalam berbagai Hadits dilansir oleh Rasulullah s.a.w.
sebagai nabi Isa al-Masih ibn Maryam.

Jadi, untuk kasus Hizbut Tahrir misalnya, yang mengendaki adanya Khalifah untuk
memimpin Khilafah, maka khalifah itu adalah bukan sembarang orang, namun sesuai
dengan sabda Rasulullah s.a.w., khalifah yang dimaksud adalah sebagai penerus
dari Isa al-Masih.

Salaam,
MAS

#138480 From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 3:51 pm
Subject: Re: Re: Seri 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem Kontrol Sistem 19
mnur.abdurra...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
HMNA:
Tidak perlu melayani emosi misionaris agama ahamadiyah qadiyan yang cemburu dan
dengki karena sistem kontrol 19 itu tidak didapatkan oleh benggolah agama
ahmadiyah qadiyan. Sekali lagi, tidak perlu saya menjawab langsung, cukup saya
reposting di bawah !
Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: "The case is closed",
and no more monkey busness from MAS, nohetto !!! A'uwzdu biLlahimina
sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu innahu huwa lGhafuwru
rRahiym.
**********************************************
Sebagian kutipan dari Seri 772:
Firman Allah:
-- ANA NhN NZLNA ALDzKR WANA LH LhFZHWN (S. ALhJR, 15:9), dibaca:
-- inna- nahnu nazalnadz dzikra wainna- lahu- laha-fizhu-n, (tanda -
dipanjangkan membacanya), artinya:
-- Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran, Al-Kitab) dan
sesungguhnya Kami memeliharanya.

Allah SWT memelihara Al-Dzikr melalui dua cara:
Pertama, dari segi bacaan (Al-Quran) Allah SWT memberi kemampuan kepada tidak
sedikit ummat Islam sampai kepada anak-anak yang mampu menghafal Al-Quran.
Kedua, dari segi tulisan (Al-Kitab) Allah menciptakan Sistem Kontrol sebagai
mekanisme yang mengontrol keotentikan tuisan (Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani.

----- Original Message -----
From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Tuesday, January 05, 2010 21:04
Subject: [wanita-muslimah] Sistem Kontrol angka 19

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Sistem Kontrol angka 19
oleh: H.Muh.Nur Abdurrahman

Artikel ini dipadatkan dari Lampiran I dari Metode Pendekatan Satu Kutub dalam
Mengkaji Ayat Qawliyah dan Kawniyah, yaitu Pidato Ilmiyah yang penulis sajikan
pada 24 Juni 1995, dalam rangka Peringatan Milad (Dies Natalis) UNIVERSITAS
MUSLIM INDONESIA yang ke 41 [1954 - 1995]

Al-Muqaththa'aat adalah potongan dan/atau rangkaian potongan-potongan (akarnya
dari Qaf, Tha, 'Ain, qatha'a, memotong) huruf-huruf yang terdapat dalam
pembukaan surah-surah sesudah kalimah Basmalah. Mu'jizat (akarnya dari 'Ain,
Jim, Zai, 'ajaza, melemahkan) adalah sesuatu yang dimiliki oleh seorang Nabi
untuk melemahkan kehandalan pikiran dan upaya orang kafir dalam menentang
seorang Nabi.

Menurut Ibnu Jurair dan Ibnu Abdil  A'la, sebuah riwayat yang berasal dari
Ikrimah sebagai berikut:

"Pada suatu waktu Al Walid ibn Al Mughirah datang kepada Nabi Muhammad SAW, maka
Nabipun membaca beberapa ayat Al Quran. Rupanya bunyi atau isi ayat itu dapat
menguasai pikiran Al Walid. Ketika Abu Jahil mendapat kabar bahwa Al Walid mulai
terpengaruh, segera ia menemui Al Walid. Lalu ia berkata: 'Kini keluarga
persukuanmu tengah mengumpulkan harta bantuan untuk-mu.' 'Untuk apa itu?' jawab
Al Walid. 'Memang untuk diberikan kepadamu, sebab engkau  telah mendekati
Muhammad, karena hendak mengharapkan hartanya.'

Demikianlah provokator Abu Jahal mengejek-ejek Al Walid untuk membangkitkan jiwa
angkuh Al Walid, sebab Abu Jahal kenal betul bahwa Al Walid ini sangat bangga
dengan kekayaannya. Mendengar ejekan itu Al Walidpun  berkata: 'Orang Quraisykan
tahu bahwa akulah yang terkaya  di  antara mereka.' 'Oh, kalau begitu,' kata 
Abu  Jahal selanjutnya, 'cobalah  terangkan kepada kaum-kaummu itu bahwa engkau
membantah dan membenci Muhammad.' Al Walid menjawab: 'Apakah  gerangan yang aku
ucapkan tentang Muhammad? Tak seorang juga  di antara kaum (orang Quraisy) ini
yang lebih pandai dari aku tentang syair, nyanyi ataupun kalimat jampi-jampi.'
Kata  Abu Jahal pula: 'Kaummu tidak akan senang, kalau engkau tidak membuat satu
kata ejekan tentang Muhammad itu.' 'Kalau begitu biarlah aku pikirkan 
sebentar,' jawab Al Walid. Sehabis berpikir ia  berkata: 'Yang dikatakan
Muhammad itu tak lain dari sihir yang diterimanya dari orang lain. Itu tidak
lain hanya ucapan manusia belaka.' Tak lama kemudian, Allah menurunkan ayat 11
sampai dengan ayat 30 surah al Muddatstsir."

Inilah tujuh ayat yang terakhir dari paket ayat 11 sampai dengan ayat 30 surah
al Muddatstsir."

(24)Lalu  dia  berkata:  Ini tidak  lain dari sihir  yang dipelajari.
(25)Ini tidak lain dari perkataan basyar.
(26)Aku akan  memasukkannya ke dalam Saqar.
(27)Tahukah  kamu apakah Saqar itu.
(28)Tidak  meninggalkan  dan tidak membiarkan.
(29)Sengatan bagi basyar.
(30)Padanya sembilan belas.

Dari Asbabun Nuzul tersebut dapatlah kita simpulkan bahwa kalimat topik dalam
paket ayat (11 s/d 30) adalah ayat 24 dan 25. Kata basyar ini tidak
diterjemahkan, sebab kita akan mengungkapkan ma'nanya dengan cara mempergunakan
Al Quran sebagai kamus (prinsip ayat menjelaskan ayat).

Ada 37 ayat yang mengandung kata basyar, 4 di antaranya dalam surah al
Muddatstsir. Dari ke-37 tsb menunjukkan bahwa menurut pengertian yang diberikan
oleh Al Quran sendiri yang digunakan sebagai kamus, kata basyar berarti makhluk
manusia yang berdarah daging yang makan dan minum, berkembang biak, mempunyai
keturunan dan berkeluarga yang masih hidup di atas muka bumi ini. Hanya manusia 
yang  sudah mati saja yang akan menghuni neraka Saqar. Karena hanya orang mati
saja yang akan dimasukkan Allah ke dalam neraka Saqar, maka hanya ayat (27), dan
ayat (28) saja yang merupakan penjelasan terhadap ayat (26).

Maka pertanyaan yang timbul adalah: sengatan bagi basyar itu berupa apa?
Perhatikanlah Firman Allah: Sesungguhnya telah Kami turunkan Al Dzikr (Al Quran
/ Al-Kitab) dan seungguhnya Kami memeliharanya. Cara Allah memelihara Al Dzikr
dalam bentuk Al-Kitab ialah
artinya: Padanya sembilan belas.
Allah SWT memberikan kepada kita alat kontrol berupa sistem keterkaitan
matematis angka 19, disingkat dengan Sistem Kontrol angka 19. Yang dikontrol
adalah jumlah bilangan dalam Surah, ayat, bahkan huruf. Jadi sengatan bagi
basyar bermakna siapa saja basyar yang mencoba untuk mengatakan bahwa Al Quran
itu karangan manusia seperti ucapan Al Walid ibn Al Mughirah yang menjadi topik
paket ayat (11-30), yaitu ayat (24,25), atau mengganggu kemurnian Al Dzikr, maka
kepadanya diberi sengatan dengan Sistem Kontrol angka 19, Padanya sembilan
belas..

Yang ditunjuk oleh ha (=nya) dalam Padanya sembilan belas adalah muannats
(gender perempuan), sehingga semua kitab-kitab tafsir mengatakan bahwa yang
ditunjuk itu adalah neraka pada umumnya dan angka 19 adalah jumlah Malaikat
Penjaga Neraka, yaitu dikaitkan pada ayat (31) dalam ayat 31 S. Al-Muddatstsir,
yang artinya: Dan tiada kami jadikan Penjaga Neraka itu melainkan dari malaikat;
dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan
bagi orang-orang kafir. Jadi angka 19 itu adalah jumlahMmalaikat Penjaga
Neraka."

Ada enam keberatan mengenai ayat (30) dikaitkan dengan ayat (31), yaitu:

Pertama, ayat (11 s/d 30) merupakan satu paket, artinya tatkala paket ayat tsb
baru diturunkan, belum ada ayat (31), jadi bagaimana bisa ha (nya) dalam ayat
(30) menunjuk kepada ayat (31)

Kedua, neraka dalam ayat (31) menunjuk kepada neraka pada umumnya, sedangkan
ayat (26) hanya menunjuk kepada neraka yang khusus yaitu Saqar.

Ketiga, angka 19 tidak menunjuk substansi tertentu, 19 adalah murni bilangan.

Keempat, setelah mengadakan pelacakan makna kata basyar dengan Al Quran yang
dijadikan kamus, kata basyar jelas-jelas berarti ciptaan Allah yang masih hidup
di atas muka bumi ini. Hanya manusia celaka yang sudah mati saja yang akan
menghuni neraka Saqar. Jadi basyar tidak disengat oleh neraka Saqar, maka dhamir
ha (kata ganti nya) tidaklah menunjuk neraka Saqar dalam ayat (26). Sehingga ha
menunjuk pada ayat sebelumnya, yaitu ayat (24) dan (25) yang berupa kalimat
topik dalam paket ayat (11 s/d 30),

Kelima, jika ayat padanya sembilan belas, menunjuk pada neraka Saqar, maka
tuduhan Al-Walid bahwa Al- Quran adalah sihir yang dipelajari dan itu adalah
ucapan manusia, tidaklah terjawab sama sekali.

Keenam, maka ha dalam kata" alayha" menunjuk pada yang muannats (perempuan)
dalam ayat (24,25) yaitu bagian Al-Quran, berupa: surah, dan bagian surah yaitu
ayat, dan bagian ayat yaitu kalimat dan bagian kalimat yaitu kata dan bagian
kata yaitu huruf.  Alhasil, angka 19 bukanlah jumlah Malaikat PenjagaNeraka.

Setelah mengadakan istinbath (penggalian) mengenai Al-Muqathth'aat ini diperoleh
qaidah numerik seperti berikut:

Pertama, Kaitan numerik jumlah Surah yang dibuka dengan Al-Muqaththa'ah dan
Al-Muqaththa'aat ditambah dengan jumlah Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat
ditambah dengan jumlah huruf-huruf yang membentuk Al-Muqaththa'ah dan
Al-Muqaththa'aat, maka jumlah keseluruhan itu kelipatan 19.

Kedua, Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat yang membuka sebuah Surah setelah
Basmalah memberikan isyarat bahwa jumlah huruf dalam Surah bersangkutan adalah
kelipatan 19.

Ketiga, huruf dan huruf-huruf persekutuan yang membentuk Al-Muqaththa'ah
dan/atau Al-Muqaththa'aat yang terdapat dalam semua Surah yang sama-sama
memiliki huruf dan/atau huruf-huruf persekutuan tersebut, jumlahnya adalah
kelipatan 19.

Keempat, jumlah huruf atau huruf-huruf yang dinyatakan oleh Al-Muqaththa'ah dan
Al-Muqaththa'aat dalam beberapa Surah yang sama-sama memiliki Al-Muqaththa'ah
dan Al-Muqaththa'aat tersebut, adalah kelipatan 19.

Contoh Qaidah pertama:
Ada 29 surah yang dibuka dengan Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat sesudah
Basmalah, yaitu Surah-Surah ke- 2, 3, 7, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 19, 20, 26, 27,
28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 50, 68. Al-Muqaththa'ah
dan Al-Muqaththa'aat itu 14 buah, yaitu:

1.Alif-Lam-Mim               (2,3,29,30,31,32)
2.Alif-Lam-Ra                  (10,11,12,14,15)
3.Alif-Lam-Mim-Ra          (13)
4.Alif-Lam-Mim-Shad      (7)
5.ha,Mim                          (40,41,43,44,45,46)
6.'Ain,Sin,Qaf ha,Mim      (42)
7. Tha,Sin                         (27)
8.Tha-Sin-Mim                 (26,28)
9. Kef-Ha-Ya-'Ain-Shad  (19)
10.Ya-Sin                         (36)
11.Tha-Ha                        (20)
12.Shad                            (38)
13.Qaf                              (50)
14.Nun                             (68)

Huruf yang membentuk Al-Muqaththa'ah dan Al-Muqaththa'aat 14 buah: (1)Alif,
(2)Lam, (3)Mim, (4)Ra, (5)Kef, (6)ha, (7)Ya, (8)'Ain, (9)Shad, (10)Tha, (11)Sin,
(12)Qaf, (13)Nun, (14) Ha.
Marilah kita jumlahkan angka 29 (jumlah Surah yang dibuka dengan Al-Muqaththa'ah
dan Al-Muqaththa'aat), ditambahkan dengan 14 (jumlah Al-Muqaththa'ah dan
Al-Muqaththa'aat), ditambahkan lagi dengan 14 (huruf dan huruf-huruf yang
membentuk Al-Muqththa'ah dan Al-Muqaththa'aat, maka akan diperoleh: 29 + 14 + 14
= 57 = 3 x 19.

Contoh Qaidah kedua:

Surah al-A'raaf (7)
  Alif      Lam   Mim   Shad  Alif+Lam+Mim+Shad
2572   1523  1165     98        5358 = 19 x 282
*******

Surah Yuwnus (10)
  Alif    Lam    Ra   Alif+Lam+Ra
1319   913   257   2489 = 19x131
*******

Surah al-Ra'd (13)
Alif    Lam   Mim    Ra   Alif+Lam+Mim+Ra
625    479   260    137    1501 = 19 x 79
******

Surah Tha-Ha (20)
Tha   Ha     Tha+Ha
28    314     342 = 19 x 18
*******

Surah Maryam (19)
Kef   Ha  Ya  'Ain  Shad  Kef+Ha+Ya+'Ain+Shad
137  168 345 122    26        798 = 19 x 42
*******

Surah Ya-sin (36)
Ya  Sin   Ya+Sin
48  237     285 = 19 x 15
*******

Surah asy-Syuwray (42)
ha   Mim  'Ain  Sin  Qaf     ha+Mim+'Ain+Sin+Qaf
53   308   53    99   57         570 = 19 x 30
*******

Surah Qaf (50)
Qaf
57 = 19 x 3
*******

Surah alQalam (68)
Nun
133 = 19 x 6
*******


Contoh Qaidah ketiga:

Jumlah huruf Alif persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
    2,        3,        7,        10,      11,       12,      13,     14,     15,
29,     30,     31,    32
4592 + 2578 + 2572 + 1353 + 1402 + 1335 + 625 + 594 + 503 + 784 + 545 + 348 +
268 = 17499 = 19 x 921

*******

Jumlah huruf Lam persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
  2,           3,       7,      10,      11,    12,     13,     14,     15,    
29,    30,     31,      32
3204 + 1885 + 1523 + 912 + 788 + 812 + 479 + 452 + 323 + 554 + 396 + 298 +  154
= 11780 = 19 x 620

*******

Jumlah huruf Mim persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
    2,       3,         7,       13,     26,    28,     29,     30,     31,    
32      40      41     42
2195 + 1251 + 1165 + 260 + 489 + 461 + 347 + 318 + 177 + 158 + 389 + 276 + 308 +

  43,     44,     45,    46
317 + 145 + 200 + 227 = 8683 = 19 x 457

*******

Jumlah huruf Ra persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
  10,     11,    12,     13,     14,    15
257 + 324 + 258 + 137 + 160 + 99 = 1235 = 19 x 65

*******

Jumlah huruf Shad persekutuan yang terdapat dalam Surah-Surah
  7,    19,   38,
98 + 26 + 28 = 152 = 19 x 8




Contoh Qaidah keempat

Tabel Persekutuan Al-Muqaththa'ah [Shad]
========================================
No. Surah       Shad
------------------------
  7  al-A'raaf      98
19  Maryam      26
38  Shad           28
----------------------------
                        152 = 19 x 8


Tabel Persekutuan Al-Muqaththa'ah [Qaf]
=======================================
No. Surah        Qaf
------------------------
42  asy-Syuwray  57
50  Qaf                57
----------------------------
                           114 = 19 x 6


Tabel Persekutuan Al-Muqaththa'aat [Alif,Lam,Mim]
       No. Surah
      Nama Surah
      Jumlah Huruf

       Mim
      Lam
      Alif
      Alif+Lam+Mim

       2
      al-Baqarah
      2195
      3204
      4592
      9991

       3
      Ali 'Imraan
      1251
      1885
      2578
      5714

       7
      al-A'raaf
      1165
      1523
      2572
      5260

       13
      al-Ra'd
      260
      479
      625
      1364

       19
      al-'Ankabuwt
      347
      554
      784
      1685

       30
      al-Ruwm
      318
      396
      545
      1259

       31
      Luqmaan
      177
      298
      348
      823

       32
      al-Sajadah
      158
      154
      268
      580


      Jumlah
      5871
      8493
      12312
      26676 = 1404 x 19

Tabel Alif,Lam,Mim
========================================
No.     Surah      Alif  Lam    Mim   Alif,Lam,Mim
-----------------------------------------------------
  2   al-Baqarah      4592  3204   2195      9991
  3   Ali 'Imraan     2578  1885   1251      5714
  7   al-A'raaf         2572  1523   1165      5260
13   al-Ra'd            625    479     260      1364
29   al-'Ankabuwt  784    554      347     1685
30   al-Ruwm         545    396      318     1259
31   Luqmaan        348    298      177       823
32   al-Sajadah      268    154      158       580
         -----------------------------------------------------
          Jumlah     12312  8493   5871     26676  = 1404 x 19

Alhasil, pendekatan numerik Al-Muqaththa'ah/Al-Muqaththa'aat di atas itu
menunjukkan bahwa tidak mungkin ada manusia sampai kiamatpun yang mampu menyusun
buku dengan kalimat-kalimat yang redaksionalnya terkait dengan sistem kelipatan
19 itu. Al-Muqaththa'ah/Al-Muqaththa'aat yang sinkron dengan sistem 19 itu
melemahkan semua hasil kajian orientalis yang memutar otaknya memakai
hermeneutika menentang dengan menyatakan bahwa Al-Quran itu "man made" dan
Orientalis bersama antek-anteknya Orientalis berupa pseudo-Muslim yang menentang
keotentikan teks Mushhaf 'Usmany. Satu huruf saja yang tidak otentik, maka
keterkaitan data numerik di atas itu tidak akan sinkron dengan sistem 19. Apa
yang diperlihatkan hasil lacakan/obesrvasi menganai data numerik itu dengan
telak melemahkan semua upaya yang sia-sia dari para Orientalis dan
antek-anteknya pseudo-Muslim itu. Melemahkan, 'ajaza, Mu'jizat Nabi Muhammad SAW
yang dapat disaksikan di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.

Catatan: Perlu dicamkan, bahwa angka 19 ini sama sekali tidak sakral, itu.murni
matematis yang tersusun dari angka terendah dan angka tertinggi dalam sistem
desimal, dan merupakan penjumlahan bulan dan hari, yaitu 12 + 7 = 19. Seperti
diketahiui Agama Bahai mensakralkan angka 19

WaLlahu a'lamu bisshawab

################################################################################\
#################

----- Original Message -----
From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, January 07, 2010 23:19
Subject: [wanita-muslimah] Re: Seri 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem
Kontrol Sistem 19


> Dalam Islam Ahmadiyah diajarkan bahwa Allah Ta'ala adalah Maha Hidup dan Maha
Berkata-kata, sehingga "sistem kontrol 19" yang HMNA klaim sebagai "sistem
kontrol" sebagai "mekanisme yang mengontrol keotentikan tulisan (Al-Kitab)
Mushhaf 'Utsmani" - adalah sangat bias dan jauh dari pembuktian yang sehat,
sebab Allah Ta'ala yang menyatakan Dia sendiri yang memelihara dan menjaga
al-Qur'an dan Dia tidak perlu mekanisme sistem kontrol untuk memelihara/menjaga
keotentikan al-Qur'an. Allah Ta'ala dengan sangat mudah dapat menurunkan kembali
ayat-ayat al-Qur'an kepada hamba-hamba pilihan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
>
> Sekali lagi, "sistem kontrol 19" adalah metode utak-atik gathuk yang perlu
diketahui oleh publik dan tidak perlu dicemburui atau disikapi dengan dengki dan
emosional.
>
> Gitu aja kok repot ...
>
> Salam,
> MAS
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@...> wrote:
>>
>> HMNA:
>> Tidak perlu melayani emosi misionaris agama ahamadiyah qadiyan yang cemburu
dan dengki karena sistem kontrol 19 itu tidak didapatkan oleh benggolah agama
ahmadiyah qadiyan.
>> Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: "The case is closed",
and no more monkey busness from MAS, nohetto !!! A'uwzdu biLlahimina
sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu innahu huwa lGhafuwru
rRahiym.
>>
################################################################################\
####################
>>
################################################################################\
####################
>>
>> ----- Original Message -----
>> From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
>> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
>> Sent: Wednesday, January 06, 2010 23:21
>> Subject: [wanita-muslimah] Re: Seri 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan
Sistem Kontrol Sistem 19
>>
>> Nabi Muhammad SAW dan Jemaat Islam di masa awal (orang terdahulu) BUKAN
kesulitan dengan "sistem kontrol 19", melainkan mereka TIDAK PERNAH KENAL dengan
"sistem kontrol 19" seperti yang Anda klaim dan maksud.
>>
>> Itu satu soal.
>>
>> Soal berikutnya adalah bahwa "sistem kontrol 19" yang anda klaim sebagai
"sistem kontrol" sebagai "mekanisme yang mengontrol keotentikan tulisan
(Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani" - adalah sangat bias dan jauh dari pembuktian yang
sehat, sebab Allah Ta'ala yang menyatakan Dia sendiri yang memelihara dan
menjaga al-Qur'an dan Dia tidak perlu mekanisme sistem kontrol untuk
memelihara/menjaga keotentikan al-Qur'an. Allah Ta'ala dengan sangat mudah dapat
menurunkan kembali ayat-ayat al-Qur'an kepada hamba-hamba pilihan-Nya sesuai
dengan kehendak-Nya.
>>
>> Allah Ta'ala adalah Maha Hidup dan Maha Berkata-kata.
>>
>> Salaam,
>> MAS
>>
>> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
>> >
>> > BSIMILLAHIRRAHMA-NIRRAHIYM
>> >
>> > WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
>> > [Kolom Tetap Harian Fajar]
>> > 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem Kontrol Sistem 19
>> >
>> > Dalam Seri 771 ybl termaktub:
>> > Sebuah pertanyaan yang agak lama dipending menjawabnya, yaitu melalui jalur
pribadi (Japri) saya terima e-mail yang menanyakan: "Fungsi angka 19 dalam S.
Al-Muddatstsir, ayat 30 sebagai sistem kontrol yang merupakan mekanisme untuk
mengontrol keotentikan Al-Quran Mushhaf 'Utsmani, mengapakah Nabi SAW, yang
merupakan keniscayaan tahu sistem kontrol itu, beliau tidak menjelaskannya dalam
Hadits?
>> >
>> > Adapun ayat itu tergolong dalam ayat yang pendek:
>> > -- ALYHA TS'AT 'ASyR (S. ALMDTsR, 74:30), dibaca:
>> > -- 'alaiha- tis'ata 'asyara, artnya:
>> > -- padanya 19
>> >
>> > Pertanyaan ini gampang-gampang susah. Gampangnya ialah, harus diingat bahwa
salah satu perbedaan antara Hadits dengan Al-Quran, yaitu seluruh ayat yang
diucapkan RasuluLlah termaktub dalam Mushhaf 'Utsmani, artinya tidak ada ayat
yang kurang, dan tidak ada selain ayat yang termaktub dalam Musshaf 'Utsmani,
artinya tidak ada yang berlebih. (Bahasa "Bugis/Makassarnya", the whole ayat,
and nothing but the ayat). Sedangkan mengenai Hadits ada yang berlebih yaitu
hadits palsu, dan tidak semua Hadits sempat dicatat. Maka tentang Sistem Kontrol
angka 19 sebagai mekanisme untuk mengontrol keotentikan Al-Quran Mushhaf
'Utsmani, termasuklah yang tidak sempat dicatat. Itu gampangnya. Yang susah
dijawab ialah, apabila memang RasuluLlah SAW tidak menjelaskannya kepada para
sahabat, mengapa beliau membiarkan hal tersebut, yaitu biarlah nanti ummat Islam
di belakang hari mengungkapkan fungsi angka 19 itu?!
>> >
>> >
>> > Firman Allah:
>> > -- ANA NhN NZLNA ALDzKR WANA LH LhFZHWN (S. ALhJR, 15:9), dibaca:
>> > -- inna- nahnu nazalnadz dzikra wainna- lahu- laha-fizhu-n, (tanda -
dipanjangkan membacanya), artinya:
>> > -- Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran, Al-Kitab) dan
sesungguhnya Kami memeliharanya.
>> >
>> > Allah SWT memelihara Al-Dzikr melalui dua cara:
>> > Pertama, dari segi bacaan (Al-Quran) Allah SWT memberi kemampuan kepada
tidak sedikit ummat Islam sampai kepada anak-anak yang mampu menghafal Al-Quran.
>> > Kedua, Allah menciptakan Sistem Kontrol sebagai mekanisme yang mengontrol
keotentikan tuisan (Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani.
>> >
>> > Ternyata ayat-ayat dalam Al-Quran bukan hanya sekadar untuk mengistinbath
(menggali) hukum-hukum dalam Ilmu Fiqh, tetapi juga mengistinbath qaidah (regel,
rule), antara lain mengenai potongan-potongan huruf yang disebut
Al-Muqaththa'aat (dari akar kata yang dibentuk oleh Qaf-Tha-'Ain, qatha'a =
potong), yaitu seperti Alif-Lam-Mim, dll.
>> >
>> > Pada tahun 1972 Rashad Khalifa berhasil mengistinbath qaidah mengenai
Al-Muqaththa'aat ini bahwa itu adalah kode matematis. Sayangnya angka 19 ini
disakralkan oleh agama Bahai, sehingga Rashad Khalifa dituduh beragama Bahai,
padahal dia sama sekali tidak mensakralkan angka 19 tersebut. Bahkan atasnya
dilakukan pula pembunuhan karakter (character assassination) yaitu dia juga
dituduh ingkar sunnah. Padahal dia ikut shalat berjamaah, mana bisa dia ingkar
sunnah kalau shalatnya sama dengan shalat kita, sebab bukankah cara shalat itu
landasannya Hadits?
>> >
>> > Memang sudah tepat waktunya hal itu terungkap sekarang, karena dewasa ini
para orientalis yang membenci Islam dan ummat Muslimin, sedang sengit-sengitnya
menyerang Al-Quran Mushhaf 'Utsmani, bahwa itu tidak otentik. Bukan para
orientalis tersebut saja yang menyerang keotentikan Mushhaf 'Utsmani, namun para
pseude Muslim, para benggolan yang menamakan diri Islam Liberal turut pula dalam
aktivitas itu, setelah menimba dari sumur (well) para orientalis yang membenci
Islam dan ummat Muslimin tersebut. Cukup di sini saya sebutkan dua orang di
antaranya, yaitu: Luthfi Asysyaukani, dosen Sejarah Pemikiran Islam di
Universitas Paramadina, Jakarta, yang Editor Jaringan Islam Liberal (JIL)
menulis al:
>> > "Alquran kemudian mengalami berbagai proses 'copy-editing' oleh para
sahabat, tabi'in." Taufik Adnan Amal, dosen mata kuliah ulumul Quran di IAIN
(sekarang UIN) Alauddin Makassar, aktivis JIL, al menulis:
>> > "Bagi rata-rata sarjana Muslim, keistimewaan rasm utsmani merupakan misteri
ilahi dan karakter kemukjizatan al-Quran. Tetapi, pandangan ini lebih merupakan
mitos.
>> >
>> > Sistem Kontrol angka 19 sebagai mekanisme untuk mengontrol keotentikan
Al-Quran Mushhaf 'Utsmani telah saya bahas dalam Lampiran I dari Pidato Ilmiyah
yang saya presentasikan dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Universitas Muslim
Indnesia (UMI) pada tanggal 25 Muharram 1416 / 24 Juni 1995 dalam Rangka
Peringatan Milad (Dies Natalis) UMI yang ke 41 [1954 - 1995]. Insya Allah pada
kesempatan lain akan saya sajikan nanti dalam rubrik OPINI Lampiran I tersebut.
>> >
>> > Dahulu notasi bilangan itu memakai sistem huruf-huruf (GEMATRIA, numerical
values of letters)
>> >
>> > ====================================
>> > Sistem menuliskan simbol bilangan (Gematria)
>> > ====================================
>> >
>> > Alif    A = 1      Sin    S =     60
>> > Ba      B = 2   'Ain   'A =     70
>> > Jim    J = 3       Fa     F =     80
>> > Dal     D = 4   Shad  Sh =     90
>> > Ha (*) H = 5    Qaf    Q =   100
>> > Waw   W = 6    Ra     R =    200
>> > Zay     Z = 7   Syin    Sy =   300
>> > ha (#)  h = 8   Ta         T =   400
>> > Tha   Th = 9   Ts        Ts =   500
>> > Ya      Y = 10  Kha    Kh =   600
>> > Kef     K = 20  Dzal   Dz =   700
>> > Lam    L = 30  Dha   Dh =   800
>> > Mim   M = 40  Zha    Zh =   900
>> > Nun    N = 50  Ghain Gh = 1000
>> > ----------
>> > (*) H abjad ke-3 dari belakang
>> > (#) h abjad ke-6
>> >
>> > Contoh
>> > _________
>> > D'ADhGh = 1874
>> > Biasanya simbol angka diberi bergaris di atasnya. Notasi angka dengan
simbol huruf-huruf itu gunanya hanya untuk mencatat saja, tidak bisa dipakai
untuk operasi ilmu hitung seperti menambah, mengurangi, memperbanyak dan
membagi.
>> >
>> > ***
>> >
>> > Kode matematis itu antara lain qaidah bahwa Al-Muqaththa'aat yang membuka
sebuah Surah memberikan isyarat bahwa jumlah huruf dalam Surah bersangkutan
adalah kelipatan 19. Seperti misalnya jumlah huruf Alif+Lam+ Mim+Shad dalam
surah Al-A'raaf adalah kelipatan 19. Hasilnya seperti dalam tabel di bawah
dengan notasi bilangan dalam huruf-huruf:
>> >
>> > Huruf       Jumlah huruf Shad
>> >                  ___________
>> >   Alif         B'ATsGhGh
>> >                    ________
>> >   Lam          JKTsGH
>> >                    _______
>> >   Mim          HSQGh
>> >                    ___
>> >   Shad         hSh         ___
>> >        Jumlah   ? = ? x ThY
>> >
>> > Siapa yang dapat menjumlahkan angka-angka tersebut di atas, baik orang
terdahulu maupun orang sekarang ini? Belum lagi untuk qaidah huruf-huruf
persekutuan yang membentuk Al-Muqaththaat yang terdapat dalam semua Surah yang
sama-sama memiliki huruf -huruf persekutuan tersebut, jumlahnya adalah kelipatan
19, seperti dalam tabel di bawah, dalam notasi bilangan yang bukan huruf:
>> >
>> > Tabel Persekutuan [Alif,Lam,Ra]
>> > =================================
>> > No.Surah    Alif   Lam   Ra   Alif+Lam+Ra
>> > --------------------------------------------------------
>> > 10 Yuwnus   1319   913   257        2489
>> > 11 Huwd      1370   794   325        2489
>> > 12 Yuwsuf    1306   812   257        2375
>> > 14 Ibraahiym 585   452   160        1197
>> > 15 al-hijr        493   323    96          912
>> > ------------------------_------------------------------------
>> > Jumlah        5073  3294 1095         9462=19x498
>> >
>> > Gampang sekali menjumlahkan dan membagi angka-angka itu. Tetapi coba bagi
orang-orang terdahulu sebelum didapatkannya notasi bilangan dalam sistem
desimal. Kalau setiap bilangan dinyatakan dalam simbol huruf-huruf, mana bisa
dilakukan operasi tambah dan membagi.
>> >
>> > Maka masuk akal, jika Nabi Muhammad SAW tidak menceritakan dalam Hadits
Sistem 19 itu, bikin susah orang saja. Barulah setelah didapatkan notasi
bilangan dalam sistem desimal operasi menambah dan membagi itu menjadi gampang.
Bahkan menjadi sangat gampang dan cepat setelah teknologi komputer didapatkan,
yaitu dengan adanya Al-Quran digital, tidak susah membuat program untuk
menjumlah  huruf-huruf yang dikehendaki, kemudian membaginya dengan 19. Dan yang
mulai dengan pemakaian kompuer itu adalah Rashad Khalifa. Dialah yang menemukan
"telur Columbus", seperti dikemukakan dalam Seri 771 yang lalu. WaLlahu a'lamu
bisshawab.
>> >
>> > *** Makassar 1 April 2007
>> >    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
>> >
http://waii-hmna.blogspot.com/2007/04/772-kesulitan-orang-terdahulu-dengan.html

[Non-text portions of this message have been removed]

#138479 From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 3:16 pm
Subject: Khilafah Islamiyah vs Konspirasi Barat dan Zionis serta Tambahan ttg FREEMASONRY
mnur.abdurra...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
733 Khilafah Islamiyah vs Konspirasi Barat dan Zionis

Pertama-tama ta'ziah untuk semua penduduk di Kabupaten Sinjai, Bulukumba dan
Bantaeng yang mengalami musibah banjir bandang, semoga Allah SWT memberikan
rahmat kesabaran atas segala ujianNya. Semoga kita semua menyadari kealpaan kita
membabat hutan selama ini, yaitu mengabaikan peringatan Allah:
-- ZhR ALFSAD FY ALBR WALBhR BMA KSBT AYDY ALNAS (S. ALRWM, 30:41), dibaca:
-- zhaharal fasa-du fil barri wal bahri bima- kasabat aydin na-si, arinyta:
-- Muncullah kerusakan di darat dan di laut akibat tangan-tangan manusia.

Waba'dahu, sebenarnya serangan atas negeri-negeri Islam seperti Afghanistan dan
Iraq serta pembunuhan watak (character assassination) seperti misalnya atas
al-Ustadz H.Abu Bakar Ba'asyir dll, yang dilakukan oleh konspirasi
(persekongkolan) Barat dan Zionis adalah lagu lama. Syukur alhamduliLlah, karena
al-Ustadz H.Abu Bakar Ba'asyir pada tgl 14 Juni telah mengirup udara bebas.
Kepada Australia yang usil karena mencampuri urusan dalam negeri Republik
Indonesia, sungguh patut diucapkan kepadanya: "To hell with your oppressive."
Kepada Pemerintah diucapkan penghargaan, karena seperti dinyatakan oleh Wapres,
Pemerintah RI menolak desakan negara-negara imperialis barat yang dijuru-bicarai
Australia untuk membekukan aset al-Ustadz H.Abu Bakar Ba'asyir.

John Haslib dengan bukunya "The Red Sultan" yang banyak dibaca orang, yang
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Arab dan Turki, penuh
dengan propaganda kebencian. Buku tersebut tidak lain dari seberkas kebohongan
yang ditulis oleh pembenci Islam dan kaum Muslimin. Yaitu melakukan pembunuhan
watak atas Sulthan Abdul Hamid yang digambarkan tenggelam dalam kehidupan
foya-foya dengan perempuan-perempuan dan alkohol, tiran yang ganas tak berbelas
kasihan atas lawan-lawan politik dan rakyatnya. Namun kebohongan-kebohongan ini
tidak dapat bertahan, sebab menurut SunnatuLlah kebenaran akhirnya menang.
Tulisan ini berupaya melawan pembunuhan watak dari Khalifah Abdul Hamid.

Firman Allah:
-- YAYHA ALDZYN AMNWA AN JAaKM FASQ BNBA FTBYNWA AN TSHYBWA QWMA BJHALT 
FTSHBHWA 'ALY MA F'ALTM NADMYN (S. ALHJRAT, 49:6),  dibaca:
-- ya-ayyuhal ladzi-na a-manu- in ja-kum fa-siqum   binabain fatabayyanu-  an
tushi-bu qawman bijaha-latin  fatushbihu- 'ala- ma- fa'altum na-dimi-n (s. al
hujura-t), artinya:
-- Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang-orang fasiq dengan
informasi, maka lakukanlah klarifiksi, jangan sampai kamu tanpa pengetahuan
menimpakan musibah  kepada suatu kaum, lalu kamu menyesal atas perbuatanmu.

***

Sultan Abdul Hamid II dilahirkan pada hari Rabu, 16 Sya'ban 1258  (21 September
1842). Nama lengkapnya Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan. Dia adalah anak
dari Sultan Abdul Majid dari isterinya yang kedua. Ibunya meninggal tatkala
masih berumur 7 tahun. Abdul Hamid dapat berbahasa Turki, Arab dan Parsi dan
mengkaji beberapa buku dalam kesusastraan prosa dan puisi. Pada 11 Sya'ban 1293
H [31 Agustus 1876 M] Sultan Hamid diangkat menjadi Khalifah, rakyat berikrar
menyatakan kesetiaan kepadanya. Dia menjadi pemimpin dari kekhalifaan dengan
wilayah yang sangat luas dalam situasi yang tegang dan genting, baik di dalam
maupun di luar negeri. Khalifah mempunyai visi sejarah yang mendalam. Dia
melewatkan waktu tiga puluh tahun yang penuh dengan tantangan konspirasi ke
dalam dan keluar, peperangan, revolusi, dan perubahan-perubahan. Kemudian
daripada itu Khalifah mengarahkan perhatiannya kepada musuh-musuh Khilafah
Islamiyah.

Awni Pasha Ketua Dewan Menteri, yang juga salah seorang dari pimpinan pasukan
mendorong terjadinya Perang Bosnia, yang bertentangan dengan kemauan Khalifah.
Khalifah sadar betul jika perang itu meletus, maka itu kesempatan bagi Rusia,
Inggris, Austria, Hongaria, Serbia, Montenegro, Italia dan Prancis akan
menyerang Khilafah Islamiyah, dan Bosnia akan direnggut. Awni memberikan laporan
palsu kepada Khalifah bahwa pasukan Khilafah Islamiyah di Bosnia terdiri atas
200 000 orang yang siap tempur. Namun setelah Khalifah menceknya kepada
jenderalnya yang lain, ternyata hanya 30 000 orang, yang akan menghadapi musuh
dengan kekuatan 300 000 orang. Rakyat pada waktu itu mencintai Awni sehingga
Khalifah tidak dapat memecat Awni, demi kestabilan dalam negeri. Negara-negara
Barat mengetahui mereka mempunyai pasukan yang menang dalam angka 10 kali lipat,
segera menyerang Bosnia dengan alasan melindungi persekutuan empat negeri Balkan
(Romania, Montenegro, Serbia, Austria-Hongaria). Sebagai hasilnya Perang Bosnia
itu, Bosnia dan Yunani lepas dari Khilafah Islamiyah. Belakangan Khalifah baru
mengetahui bahwa Awni Pasha menerima sogokan uang dan hadiah dari Inggris. Awni
sebagai duri dalam daging bahkan menjadi musuh dalam selimut dalam konpirasi
jahat tersebut. Awnilah yang melaporkan kekuatan yang sebenarnya dari pasukan di
Bosnia yang hanya 30 000 orang itu kepada sekutu yang berkonspirasi tersebut.
Khalifah melemparkan Awni dari kedudukannya, kemudian diperhadapkan pada
pengadilan. Awni dinyatakan bersalah, yaitu berkhianat kepada Khilafah
Islamiyah.

Dalam tahun 1901 pendiri gerakan Zionis, Theodor Hertzel, mengunjungi Istambul
dan berupaya menemui Khalifah tetapi hanya diterima Ketua Dewan Menteri. Theodor
Hertzel menawarkan bantuan kepada Khilafah Islamiyah seperti berikut:

1. Membayarkan lunas hutang Khilafah Islamiyah
2. Membangun Angkatan Laut Khilafah Islamiyah
3. 35 juta Lira Emas tanpa bunga untuk kesejahteraan Khilafah Islamiyah

Tawaran itu sebagai harga dari:

1. Mengizinkan orang Yahudi berkunjung ke Palestina sembarang waktu mereka
inginkan, dan bermukim selama mereka inginkan "berziarah ke tempat-tempat suci".
2. Mengizinkan orang Yahudi membangun pemukiman dan mereka menginginkan lokasi
dekat dengan Yerusalem.

Khalifah yang menolak menerima Hertzel tersebut menyuruh Ketua Dewan Menteri
untuk menyampaikan titah Khalifah: "Suruh Dr. Hertzel untuk tidak mengambil
selangkah dari proyeknya itu. Saya tidak dapat memberikan sejemputpun tanah dari
Tempat Suci itu, karena itu bukan milik saya pribadi, itu adalah milik ummat
Islam seluruh dunia. Orang Yahudi silakan menggenggam uangnya berjuta-juta.
Selama saya masih hidup, saya lebih suka menerima tebasan pedang ketimbang
melihat tanah Palestina dipotong dan dikeluarkan dari wilayah Khilafah
Islamiyah. Ini ada suatu yang tidak mungkin saya terima, saya tidak akan
memotong tubuh saya selama saya masih hidup." Setelah itu gerakan Zionis itu
memalingkan upayanya ke Kerajaan Inggris untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi
kenyataan. Diminta kesabaran pembaca menunggu Seri berikutnya bagaimana
konspirasi itu meruntuhkan Khilafah Islamiyah. WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 25 Juni 2006
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2006/06/733-khilafah-islamiyah-vs-konspirasi.html

*****

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
734 Jatuhnya Khilafah Islamiyah

Mari kita mulai dengan lanjutan dari Seri 733. Firman Allah:
-- WTLK ALAYAM NDAWLHA BYN ALNAS (AL 'AMRAN, 3:140), dibaca:
-- wa tilkal  ayya-mu  nuda-wiluha- baynan na-s, artinya:
-- hari-hari itu Kami gulirkan di antara manusia.

Inggris dan Perancis sudah siap-siap untuk mengakhiri Khilafah Islamiyah, namun
kata "Jihad" masih cukup berpengaruh besar untuk membuat Eropa "menggigil".
Eropa masih takut pada "Orang Sakit di Eropa" itu. Inggris memutuskan untuk
memakai politik : bagi-bagi dan kuasai (devide et empera - devide and conquer).
Inggris memberi dukungan politik kepada Turki Muda. Apabila Turki Muda menjadi
kuat dalam dawlah Khilafah Islamiyah, Inggris tidak perlu melakukan apa-apa
lagi, Turki Muda dengan "nasionalisme" yang anti Khilafah akan menyelesaikannya.

Angkatan perang Khilafah Islamiyah pada waktu itu (maksudnya pada zaman
pemerintahan Khalifah Sultan Abd. Hamid) sesungguhnya tidak demikian lemahnya
seperti disangkakan orang sekarang. Satuan artilleri Khilafah Islamiyah adalah
yang terkuat di dunia waktu itu. Angkatan Laut Khilafah Islamiyah terorganiser
dengan baik, dan tergolong nomor tiga dari Angkatan Laut yang kuat di dunia
sesudah Inggris dan Perancis. Khalifah membangun industri, utamnya pabrik
senjata, pertenunan dan gula. Sistem transport darat diperbaharui. Pelabuhan
diperkembang. Surat kabar diterbitkan, dan sebelum PD-I Mesir, Iraq dan Syria
telah terbit sejumlah 1300 surat kabar dan majallah.

Untuk beberapa saat kelihatannya Orang Sakit Eropa itu mulai sembuh dan berdiri
dengan tegap. Namun konspirasi negeri-negeri barat dan Zionis telah berketetapan
untuk membinasakan Khilafah Islamiyah dengan harga betapapun juga. Minoritas
non-Muslim dan LSM LSM dalam Khilafah Islamiyah dimanfaatkan oleh konspirasi
negeri-negeri barat untuk menimbulkan kekacauan dan instabilitas dalam negeri.
Konspirasi negeri-negeri barat senantiasa mencampuri urusan dalam negeri
Khilafah Islamiyah dengan dalih "melindungi minoritas non-Muslim". Konspirasi
negeri-negeri barat dan zionis juga memberikan dana dan mendorong upaya intensif
LSM LSM menyebarkan publikasi-publikasi untuk maksud meracuni aqidah ummat
Islam, menyebarkan ide-ide yang merusak, menimbulkan kesalah-fahaman di antara
warga Muslim. Konspirasi negeri-negeri barat dan zionis menghasut serta
memberikan dana kepada orang-orang Armenia untuk memberontak melawan Khilafah
Islamiyah. Druz dihasut untuk berlaga dengan Maronit di Libanon, di mana Inggris
membantu Druz dan Perancis membantu Maronit. Ini membuat sibuk Angkatan Perang
Khilafah untuk mengatasinya. Itulah "pertempuran" yang senantiasa berlangsung
antara konspirasi negeri-negeri barat dan zionis dengan Khilafah Islamiyah dalam
masa pemerintahan Khalifah Abdul Hamid.

Khalifah Abdul Hamid mempunyai visi membangkitkan rasa kesatuan dalam kalangan
negeri-negeri Islam di seluruh dunia. Untuk itu Khalifah membangun jaringan
transportasi, yaitu jalur kereta api Hijaz dari Dimasyk ke Madinah, dari Aqabah
ke Maan. Untuk memperlancar komunikasi, Khalifah juga membangun sistem telegraf
dalam jalur Yaman, Hijaz, Syria, Iraq and Turki. Lalu kemudian Khalifah
menghubungkannya dengan sistem telegraf Iran dan India. Biaya proyek itu telah
dapat ditebus hanya dalam jangka 2 tahun, karena sistem transportasi dan
komunikasi itu dipakai secara intensif oleh para jama'ah haji. Dengan sistem
transportasi dan komunikasi itu jarak (panjang dan waktu) diperdekat dan
dipersingkat. Khalifah melakukan kampanye gagasan tentang kesatuan ummat Islam
meliputi bagian selatan Rusia, India dan Afrika. Khalifah juga mengundang para
terpelajar dari Indonesia, India dan Afrika untuk datang menuntut ilmu dalam
wilayah Khilafah Islamiyah. Juga Khalifah membuat rencana pembangunan masjid dan
Lembaga Islami di negeri-negeri Islam seluruh dunia.

Melihat itu konspirasi negeri-negeri barat bereaksi dengan cepat mengepung dan
mengoyak Khilafah Islamiyah. Konspirasi itu menghasut dan membantu pemberontakan
Tunisia (1877), empat tahun kemudian (1881) Tunisia diduduki Perancis, dalam
tahun 1882 Inggris menduduki Mesir lalu meluas ke India dan Sudan dan Rusia
menduduki Asia Tengah. Khilafah Islamiyah yang telah terkoyak-koyak itu tinggal
menunggu waktu saja untuk dihabisi oleh konspirasi negeri barat dan zionis.
Wilayah Khilafah Islamiyah di bagian Eropa sudah ibarat makanan yang ingin
diperebutkan, masing-masing negeri Barat menginginkan bagiannya, tidak
terkecuali orang Yahudi.

Akhirnya tiba jualah waktu itu. Gerakan Turki Muda sudah demikian kuat, sehingga
dapat menekan Majelis Syura untuk mencopot Khalifah Abdul Hamid dari
kedudukannya. Hari Selasa 6 Rabiul Akhir 1327 (27 April 1909) Majelis Syura
memutuskan untuk menurunkan Khalifah Abdul Hamid dari tahtanya. Empat orang
diutus kepadanya untuk menyampaikan keputusan itu: Arif Hikmat, Aram Affandi
(orang Armenia), As'ad Tabtani dan Qrasow. Tabtani maju ke depan dan berkata:
"Majelis telah memutuskan menurunkan Khalifah dari kedudukannya." Abdul Hamid
menjawab: "Majelis telah menurunkan saya dari kedudukan saya, baiklah, tetapi
mengapa kalian semua membawa serta Yahudi ini masuk kedalam Markas Khilafah?",
sambil menunjuk kepada Qrasow. Kehadiran Mizray Qrasow yang bankir Yahudi dalam
Markas itu menunjukkan, bahwa dalam konspirasi itu, aktif pula peranan zionis
dan permainan money politics.

Perlu dicatat sebagai alat ukur keberhasilan Sulthan Abd Hamid. Tatkala Sulthan
Abd Hamid mulai memangku jabatan Khalifah, utang Khilafah sejumlah 2,528 juta
Lira emas. Setelah kekuasaannya dicopot oleh Majelas Syura utang Khilafah sisa
hanya 106 juta Lira emas. Setelah Turki Muda berkuasa melonjak sebesar 1300 %.

Sepeninggal Sultan Abd Hamid, kepemimpinan diteruskan oleh Khalifah yang lemah,
tidak mampu mengurus Khilafah dan kehilangan kekuasaan dengan mudah. Sebagaimana
diprediksi Sultan Abd Hamid, setelah PD-I wilayah Khilafah Islamiyah
tercabik-cabik. Orang Arab di Hijaz memberontak dibantu oleh Inggris dan
Perancis, terulang peristiwa Tunisia, orang Arab dikhianati dan diduduki oleh
Inggris, dan memberikan Palestina kepada orang Yahudi. Andaikata saja mereka
mendengarkan Abdul Hamid. Pengganti Sultan Abd Hamid menandatangani perjanjian
Sevres pada tanggal 20 Agustus 1920. Perjanjian itu menjadikan Turki menjadi
negara kecil yang wilayahnya hanya kurang dari 1/3 wilayah Turki sekarang. Ini
menyebabkan perang saudara antara pendukung khalifah dan kaum nasionalis.
Pembaca diminta kesabarannya menuggu kelanjutannya insya-Allah dalam seri
berikutnya. WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 2 Juli 2006
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2006/07/734-jatuhnya-khilafah-islamiyah.html

*******

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
735 Pembegalan Syari'at Islam di Turki

Hingga akhir Perang Kemerdekaan Turki melawan negeri-negeri Eropa yang menduduki
Khilafah Islamiyah setelah PD I, Mustafa Kemal dari Gerakan Turki Muda
kelihatannya seperti seorang Muslim yang taat. Dia shalat bersama-sama ummat
Islam di masjid-masjid. Bahkan diapun juga membaca khuthbah Jum'at di beberapa
masjid. Dia bersumpah akan berperang untuk menyelamatkan Khilafah. Dia
memuji-muji Allah, Islam dan Nabi Muhammad SAW sepanjang waktu. Dia menyebutkan
Al-Quran sebagai Kitab Suci yang sempurna. Dia berkata Al-Quran itu adalah
konstitusi. Dan dia juga mengatakan itu semuanya pada pembukaan Majelis Agung
Nasional di Ankara sewaktu Perang Kemerdekaan. Sehingga ummat Islam
mempercayainya. Dan dia mendapatkan kekuasaan penuh selama Perang Kemerdekaan.

Setelah Turki memperoleh kemerdekaannya, Mustafa Kemal dipilih oleh Majelis
sebagai Presiden Turki. Gerakan Turki Muda memperoleh kekuasaan dan Mustafa
Kemal membatalkan Khilafah pada 3 Maret 1924. Maka berakhirlah sudah kesatuan
kepemimpinan bagi ummat Islam yang telah berlangsung selama 1300 tahun.
Negeri-negeri barat dan zionis berhasil sepenuhnya menumbangkan Khilafah
Islamiyah. Sejarah kemudian mencatat, ternyata Mustafa Kemal menjalankan agenda
Inggris: melakukan revolusi untuk menghancurkan Khilafah Islamiyah. Mustafa
Kemal berkonspirasi dengan Inggris dengan perjanjian "Persyaratan Curzon" pada
21 November 1923. Isinya, Turki harus menghapuskan Khilafah Islamiyah, mengusir
Khalifah, dan menyita semua harta kekayaannya. Tulisan ini tujuannya antara lain
untuk menampakkan wajah sebenarnya dari Mustafa Kemal Attaturk yang melakukan
pembegalan Syari'at Islam di Turki, seperti diuatarakan di bawah.

***

Tidak selang berapa lama Mustafa Kemal mulai menerapkan reformasi anti-Islam.
Sosok yang dahulunya berkata "Al-Quran sebagai konstitusi", berbalik mengatakan
"Kita tidak menerima hukum dari langit" (sama betul dengan pemahaman kelompok
JIL). Untuk mencapai reformasi anti-Islamnya, ia tidak segan-segan melakukan
pemaksaan, terror, tiang gantungan, penyiksaan dan penjara. Mengapa hal yang
demikian itu sampai terjadi? Bagaimana mungkin Mustafa Kemal yang sebelumnya
begitu setia kepada Islam, Al-Quran, berbalik haluan menghapuskan Khilafah, dan
melakukan reformasi anti-Islam? Apabila orang memperbandingkan kata-kata Mustafa
Kemal selama Perang Kemerdekaan dengan kata-katanya setelah Perang Kemerdekaan
hingga matinya (1923 - 1938), orang akan melihat dua jenis sosok Mustafa Kemal
yang bertolak belakang 180 derajat! Mengapa Mustafa Kemal begitu tega sampai
hati melakukan Social Engenering yang keras dan kejam reformasi anti-Islam?

Untuk itu perlu ditelusuri latar belakang dari mana ia berasal. Itu akan
menjelaskan motivasi di belakang reformasi pembegalan Syari'at Islam di Turki.
The Secret Jews, Joachim Prinz, 1973, pp. 111-122, bercerita:

"..... Bulan Desember 1686 di Salonika, kurang lebih 300 keluarga Yahudi menjadi
Muslim Marrano (orang Yahudi yang memeluk Islam). Mereka secara terbuka
menjalankan Syari'ah, akan tetapi secara rahasia tetap meneruskan ibadah dan
tradisi Yahudi di rumah-rumah mereka (the Islamic Marranos continued to attend
Jewish services secretly and observed certain Jewish customs in their homes).
Inilah komunitas yang penting secara historis akar gerakan rahasia yang menjadi
duri dalam daging dalam Khilafah. Gerakan rahasia yang dijuluki "dunamah"
(pembelot) ini melebar dengan pesat di Asia Minor. Dalam abad ke-19 grakan
rahasia dunamah ini sudah mencapai anggota sejumlah sekitar 20 000 orang.
Salonika menjadi pusat gerakan rahasia ini. Tatkala tahun 1913 Salonika menjadi
bagian dari Yunani, komunitas Marrano tetap di Salonika, namun pusat gerakan
rahasia dunamah berpindah ke Istanbul.

Banyak anggota dari gerakan rahasia dunamah ini menjadi anggota Gerakan Turki
Muda, dua orang di antaranya ialah Mustafa Kemal yang menjadi pimpinan Gerakan
Turki Muda dan Djavid Bey (kemudian menjadi Menteri Keungan). Dalam Gerakan
Turki muda banyak yang menentang kepemimpinannya dengan mempergunakan latar
belakang "ke-dunamah-nya", tetapi tidak berhasil. Mereka semuanya habis
dieksekusi setelah Mustafa Kemal meraih kekuasaan. "

Lagi pula secara pribadi Mustafa Kemal mempunyai temperamen tanpa belas kasihan,
karena ia peminum. "He was drinking heavily. The drink stimulated him, gave him
energy, but increased his irritability. Both in private and public he was
sarcastic, brutal and abrupt. He flared up at the least criticism." (Ia peminum
berat. Minuman keras merangsangnya, memberikan tenaga padanya, tetapi
meningkatkan dia punya sifat lekas naik darah. Baik dalam kesendirian maupun di
depan publik dia sarkastis (syatama), brutal dan meledak-ledak. Mendapat kritik
sedikit saja, emosinya sudah menyala bergelojak) [Grey Wolf, Mustafa Kemal, An
Intimate Study of a Dictator, H.C. Armstrong, 1934].

***

Kembali pada pembegalan Syari'at Islam di Turki, bahkan sampai kepada ibadah
mahdhahpun (ritual) dibegalnya. The Emergence of Modern Turkey, Bernard Lewis,
1965, p. 408, bercerita seperti berikut:

Pertama, masuk masjid tidak boleh pakai jubah. Untuk itu setiap masjid harus
menyediakan kamar tempat menggantung jubah, karena untuk masuk masjid harus
berpakaian cara eropah, dan di dalam masjid orang sembahyang tidak boleh sujud
di lantai, untuk itu dijejerkan bangku-bangku (pews) seperti dalam gereja.
Kedua, bahasa yang digunakan dalam sembahyang tidak boleh pakai bahasa Arab,
melainkan bahasa Turki, termasuk Allahu Akbar diganti dengan Tanri Uludur.
Ketiga, karakter ibadah harus indah, membangkitkan cita-rasa, untuk itu setiap
masjid harus menyediakan para musisi yang terlatih untuk nyanyian modern beserta
seperangkat alat-alat musik. Keempat, khatib harus menguasai filsafat barat
ketimbang pengetahuan tentang Al-Quran dan Hadits, dan untuk itu harus mempunyai
sertifikat.

Konseptor modernisasi pembegalan Syari'at Islam di Turki adalah "suhu"-nya
Mustafa Kemal, yaitu Ziya Gokalp [Turkish Nationalism and Western Civilization,
Ziya Gokalp, New York, 1959]

Firman Allah:
-- WLQD ADHL MNKM JBLA KRSYRA AFLM TKWNWA T'AQLWN (S. YS, 36:62) dibaca:
-- walaqad adhalla mingkum jibillang katsi-ran afalam taku-nu- ta'qilu-n (s.
ya-sin), artinya:
-- Sesungguhnya setan itu menyesatkan banyak di antara kamu, tidakkah kamu
memikirkannya?

'Ala kulli hal, kita ulangi apa yang tertulis dalam Seri 672 yang berjudul:
"Mengapa ke Turki?": Maka sejak tahun 1924 Turki itu bukanlah mencerminkan
Islam. Ya, mengapa untuk studi banding pelaksanaan Syari'at Islam terpilih ke
Turki? Apa alasan para penasihat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memilih
Turki? WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 9 Juli 2006
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2006/07/735-pembegalan-syariat-islam-di-turki.html

################################################################################\
###################

http://www.swaramuslim.net/galery/laknatullah/index.php?page=Firqah_yahudi1

FREEMASONRY

Freemasonry secara bahasa terdiri dari dua kata, Free dan Mason. Free artinya
merdeka dan mason artinya tukang bangunan. Dengan demikian Freemasonry secara
etimologis berarti "tukang-tukang bangunan yang merdeka".

Secara hakikat, Freemasonry atau Al-Masuniyyah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah
organisasi Yahudi Internasional bawah tanah yang tidak ada hubungannya dengan
tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad pertengahan.

Freemasonry di atas juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal
atau katedral besar seperti yang banyak diduga oleh sebagian orang. Tetapi
maksud Freemasonry di sini adalah tidak terikat dengan ikatan pihak manapun
kecuali sesama freemason.

Freemasonry berasal dari gerakan rahasia yang dibuat oleh sembilan orang Yahudi
di Palestina pada tahun 37 M, yang dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan
pemeluk Masehi, dengan cara pembunuhan terhadap orang per-orang.

Menurut buku "Kabut-kabut Freemasonry", salah seorang yang disebut sebagai
pendirinya adalah Herodes Agrida I (meninggal 44 M). Ia dibantu oleh dua orang
Yahudi, Heram Abioud dan Moab Leomi. Freemasonry selanjutnya menempatkan dirinya
sebagai musuh terhadap agama Masehi maupun Islam.

Pada tahun 1717 M gerakan rahasia ini melangsungkan seminar di London di bawah
pimpinan Anderson. Ia secara formal menjabat sebagai kepala gereja Protestan,
namun pada hakikatnya adalah seorang Yahudi. Dalam seminar inilah gerakan
rahasia tersebut memakai nama Freemasonry sebagai nama barunya. Sebagai
pendirinya adalah Adam Wishaupt, seorang tokoh Yahudi dari London, yang kemudian
mendapatkan dukungan dari Albert Pike, seorang jenderal Amerika (1809-1891).

Organisasi ini sulit dilacak karena strukturnya sangat rahasia, teratur, dan
rapi. Tujuan gerakan Freemasonry secara umum adalah:
1. Menghapus semua agama.
2. Menghapus sistem keluarga.
3. Mengkucarkacirkan sistem politik dunia.
4. Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak
kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim
(sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi).

Tujuan akhir dari gerakan Freemason adalah mengembalikan bangunan Haikal
Sulaiman yang terletak di Masjid Al-Aqsha, di kota Al-Quds (Yerussalem),
mengibarkan bendera Israel, serta mendirikan pemerintahan Zionis Internasional,
seperti yang diterapkan dalam Protokol para cendekiawan Zionis.

Buku Protokol ini berisikan langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh para
hakkom, catatan pembicaraan yang dilakukan di dalam setiap rapat mereka, serta
berisikan 24 bagian (ayat) yang mencakup rencana politik, ekonomi, dan keuangan,
dengan tujuan menghancurkan setiap bangsa dan pemerintahan non-Yahudi, serta
menyiapkan jalan penguasaan bagi orang-orang Yahudi terhadap dunia
Internasional.

Dalam gerakannya, Freemasonry menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan
Goyim, tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di
antaranya adalah mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi
Perancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), melahirkan tiga
gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme)

FREEMASON GLOBAL
Freemansory terbagi ke dalam tiga tingkatan:
(1) Majelis Rendah atau Freemansory Simbolis;
(2) Fremansory Majelis Menengah; dan
(3) Fremansory Majelis Tinggi.

Dalam penerimaan keanggotaan, Freemasonry tidak mempersoalkan agama calon
anggota. Bahkan calon anggota disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya. Dalam
Freemasonry diadakan model kenaikan pangkat hingga level ke-33 bagi orang-orang
Goyim. Orang-orang yang berhasil dijaring kemudian diberikan tugas untuk
menyebarkan paham Freemasonry dan bekerja untuk merealisasikan tujuannya.

Orang-orang tertarik kepada Freemasonry karena mereka menganggap bahwa
organisasi ini bergerak di bidang kemanusiaan. Di balik itu mereka menanamkan
doktirn "Pengembangan Agama" atau "Polotisme", yang mengatakan semua agama itu
sama. Lebih jauh Freemasonry dengan secara halus membawa anggotanya memahami
Atheisme.

Peranan Freemasonry dalam Meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani

Dalam usaha menguasai Palestina, selain strategi langsung menemui Sultan Abdul
Hamid II, penguasa terakhir Daulah Turki Utsmani yang paling terkemuka. Kaum
Yahudi-Zionis juga melancarkan strategi tidak langsung melalui gerakan
Freemansory. Gerakan ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan organisasi
"Ittihat ve Terrakki" (Al-Ittihad wa At-Tarraqqi; Persatuan dan Kemajuan) yang
berkembang sangat pesat di Salonika, Yunani.

Anggota-anggota Komite Persatuan dan Kemajuan, yang dikenal sebagai kelompok
Turki Muda (Young Turks), diketahui sangat dekat dengan militer dan banyak
anggota-anggotanya yang merupakan orang Yahudi (Jews) dan Cryto Jews Salonika.
Untuk menjalankan roda organisasi, mereka mendapatkan dukungan finansial dari
orang-orang Dunama, yaitu sekelompok Yahudi yang masuk Islam, namun secara
diam-diam tetap mempertahankan keyahudiannya.

Komite Persatuan dan Kemajuan sesuai dengan program utamanya yang
dipublikasikan, berusaha kuat menekan Sultan Abdul Hamid II untuk memberlakukan
kembali Konstitusi 1879 yang dirancang oleh Midhat Pasha seorang Dunama anggota
Freemasonry. Usaha ini berhasil sehingga Sultan Abdul Hamid II memberlakukan
kembali perlembagaan 1879 dan membentuk kembali parlemen yang sudah dibubarkan.

Pemberlakuan kembali perlembagaan 1879 telah menyulut kerusuhan yang terjadi
pada tanggal 13 April 1909 yang menunjukkan penolakan masyarakat yang mayoritas
Muslim terhadap kekuasaan Komite Persatuan dan Kemajuan sekaligus wujud
kebencian terhadap Freemasonry, terutama dari kalangan ulama. Para ulama menilai
bahwa perlembagaan 1879 dapat membawa Khilafah Utsmaniyah ke arah sekularisme
dan pemberangusan terhadap syariat Islam.

Untuk "memulihkan ketertiban", para pejabat militer Macedonia mengirimkan
pasukan Harekat Ordusu dari Salonika.

Akan tetapi pasukan yang dipimpin oleh Dunama-Freemason bernama Ramzy Bey ini
malah berbalik menyerang kedudukan Sultan dan menghancurkan barikade-barikade
pertahanan para penentang konstitusi. Akibat peristiwa ini kemudian dipecatnya
Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Khalifah oleh parlemen.

Terhadap peristiwa pemecatan ini, Sultan Abdul Hamid II menuding kelompok Yahudi
sebagai pihak yang bertanggung jawab. Hal ini terungkap dalam surat Sultan Abdul
Hamid II kepada salah seorang gurunya, Syekh Mahmud Abu Syamad, yang berbunyi:
"...Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan
karena tipu daya dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh Organisasi Persatuan
yang dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk), sehingga terpaksa saya
meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelumnya, organisasi ini telah mendesak saya
berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negeri nasional bagi bangsa
Yahudi di Palestin. Saya tetap tidak menyetujui permohonan berulang-ulang yang
memalukan ini. Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta pounsterling
emas. Saya tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan
kata-kata,

~ Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan
menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum
Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah
Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah
Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian ~

Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan
kekuatan rahsia yang dimiliki memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan
mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima
keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka.

Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng Daulah
Utsmaniyah, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh
berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak
bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta'ala, yang telah menyelamatkan
kita dari aib besar itu. Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan
dan sudilah anda dan segenap ikhwan menerima

salam hormat saya. Guruku Yang Mulia, mungkin sudah terlalu banyak yang saya
sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jamaah yang Anda bina bisa memaklumi semua
itu.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

22 September 1909

ttd
Pelayan Kaum Muslimin,

Abdul Hamid bin Abdul Majid
(Carr, 1991:21)
Penurunan Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Khalifah
menandai berkuasanya Komite Persatuan dan Kemajuan secara langsung dalam
pemerintahan Uthmaniah. Untuk melempangkan kekuasaannya, maka kemudian Komite
Persatuan dan Kemajuan mengambil garis tegas untuk menjalankan ide Turanisme
(Nasionalisme Turki) di berbagai bidang.

Sementara itu, pada tanggal 21 November terjadi perjanjian antara Inggris dan
Turki untuk membahas penyelesaian masalah Turki. Dalam kesempatan tersebut
Inggris mengajukan syarat-syarat agar pasukannya dapat ditarik dari wilayah
Turki, yang dikenal dengan "Perjanjian Luzon", yaitu:
1. Turki harus menghapuskan Khilafah Islamiyah serta mengusir khalifahnya dan
menyita semua harta kekayaannya.
2. Turki harus berjanji untuk menghalangi setiap gerakan yang membela
kekhalifahan.
3. Turki harus memutuskan hubungannya dengan dunia Islam.
4. Turki harus menerapkan hukum sipil sebagai pengganti hukum Daulah Utsmaniyah
yang bersumberkan Islam.
Persyaratan tersebut diterima oleh Musthafa Kamal dan perjanjian ditandatangani
pada tanggal 24 Juli 1923. Dan akhirnya, setelah melalui perdebatan alot dan
tekanan pada tanggal 3 Maret 1924, Majlis Raya Nasional menghapus jabatan
Khalifah, dan khalifah waktu itu, Sultan Abdul Majid II diusir ke luar negeri.

Penghapusan khilafah ini kemudian diikuti dengan pemberangusan segala unsur
Islam dalam masyarakat. Dari mulai penutupan dan pengalihfungsian masjid-masjid,
pelarangan penggunaan bahasa Arab, tulisan Arab dan pakaian Muslim, hingga
penghapusan Mahkamah Syariah dan perubahan penanggalan ke kalender Masehi.
Dengan demikian berakhirlah Khilafah Turki Utsmani yang telah dipertahankan
selama sekitar 640 tahun.

Prestasi Musthafa Kamal Attaturk, agen Freemasonry dalam menghapuskan Khilfah
Turki Utmani tersebut sangat dibanggakan oleh Freemasonry, hingga disebutkan
dalam Ensiklopedi Freemasonry:

"Revolusi Turki (yang dimulai) pada tahun 1918 yang diprakarsai oleh saudara
yang mulia Mustafa Kamal Attaturk sangat menguntungkan rakyat, melenyapkan
kekuasaan Sultan, memberantas Khilafah, menghilangkan Mahkamah

Syariat, menyingkirkan perananan agama Islam, dan menghapuskan kementerian Wakaf
(Agama). Bukankah semua ini merupakan pembaruan yang dikehendaki Freemasonry
dalam setiap bangsa yang sedang bangkit? Siapakah di antara tokoh Freemasonry
yang dapat menandingi Attaturk, baik dulu maupun sekarang?" (Al-Kailani, 1992:
190).

Wallahu a'lam.
Sumber: Ar-risalah
1. Dr. Nashir Al-'Aql, Muqaddimat fil Iftiraq wal Bida'.
2. WAMY, Al-Mausu'ah Al-Muyassarah fi Adyan wal Madzahib Al-Mu'ashirah.
3. Dr. Majid Al-Kailani, Bahaya Zionisme terhadap Dunia Islam.
4. Adelmazeder, Parasit Aqidah.
5. William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia, Pustaka Al-Kautsar.
6. Irfan S. Awwas dan Drs. Muh. Thalib (Ed.), Doktrin Zionisme dan Ideologi,
Wihdah Press.
7. www.alislam.or.id, www.geocities.com/sabiluna, dll.

Link Freemason
1. http://freemasonrywatch.org
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Freemasonry
3. http://www.bilderberg.org/masons.htm
4. http://www.gaiaguys.net/symbols.htm

[Non-text portions of this message have been removed]

#138478 From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 3:08 pm
Subject: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
ma_suryawan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Yang jelas dan pasti, saya tidak akan pernah mau jadi makmum kepada misionaris
agama tipikal kyai/mullah/ulama yang membenarkan dan mengajarkan halalnya jihad
dengan bom bunuh diri disebutnya sebagai bom syahid.

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@...> wrote:
>
> Yang jelas pihak Ahmadiyah Qadiyan tidak pernah mau jadi makmum, kecuali
> Ahmadiyah Lahore yang mau jadi makmum
> HMNA
>
> ----- Original Message -----
> From: "Ary Setijadi Prihatmanto" <ary.setijadi@...>
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Sent: Thursday, January 07, 2010 11:06
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
>
>
> > Very good point Ustadz Muiz...
> > Hayooo.... siapa yang bilang yang lain gak pantas jadi imam? :-D
> >
> >
> >
> >  ----- Original Message -----
> >  From: Abdul Muiz
> >  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> >  Sent: Thursday, January 07, 2010 8:05 AM
> >  Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
> >
> >
> >
> >  sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini,
> > dan topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi
> > lagi sesudah Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan
> > islam sunni dengan akhmadiyah.
> >
> >  yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam,
> > baik kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak
> > pernah mau dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
> >
> >  Salam
> >  Abdul Mu'iz
> >
> >  --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@>
> > wrote:
> >  >
> >  > Lihat di bawah kajiannya.
> >  >
> >  > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
> > <mnur.abdurrahman@> wrote:
> >  >
> >  > > ***
> >  > >
> >  > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
> > Muhammad SAW sendiri.
> >  >
> >  > Benar. Ini buktinya:
> >  >
> >  > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
> > tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia:
> > "Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan
> > jenazahnya dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan
> > kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu
> > Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no.
> > 1511).
> >  >
> >  > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
> > "khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau
> > s.a.w. mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4
> > tahun kemudian setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin."
> > Jika seandainya ayat "khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
> > "penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi
> > lagi apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan
> > jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena
> > akulah penutup nabi-nabi.
> >  >
> >  > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah
> > yang paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan
> > beliau s.a.w. tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup
> > atau terakhir, yaitu tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau
> > s.a.w. - seperti yang biasa dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
> >  >
> >  > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi.
> > Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi
> > tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan
> > menjadi penerusku." (HR Bukhari)
> >  >
> >  > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun
> > Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah
> > Rasulullah s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para
> > khalifah rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada
> > khalifah-khalifah) menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku"
> > itu adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU
> > menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat,
> > dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
> >  >
> >  > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
> > (kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
> > khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
> > kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
> > kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam
> > diri".(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
> >  >
> >  > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
> > berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
> > Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu
> > dan menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin
> > maryam] - Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam
> > yang akan datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal
> > dari umat Islam - bukan berasal dari umat non-Islam.
> >  >
> >  > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
> >  >
> >  > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
> > ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak
> > ada nabi setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
> > khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
> >  >
> >  > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya',
> > tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada
> > Nabi sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul
> > Bihar, hlm. 5)
> >  >
> >  > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
> >  >
> >  > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah
> > menulis:
> >  >
> >  > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan
> > nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang
> > sesudahku yang bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan
> > ada di bawah Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil
> > Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)
> >  >
> >  > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
> >  >
> >  > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
> > maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at."
> > (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
> >  >
> >  > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
> >  >
> >  > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku,
> > karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan
> > membatalkan Syari'at beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
> >  >
> >  > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
> >  >
> >  > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan
> > ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia."
> > (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
> >  >
> >  > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
> >  >
> >  > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi,
> > maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti
> > halnya Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak
> > bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya
> > berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang
> > Nabi lain yang membatalkan Syari'at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau
> > s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
> >  >
> >  > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa
> > nabiya ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah
> > dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam
> > dunia Islam, yakni tidak ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at
> > baru, tidak ada lagi nabi yang sama atau sederajat kedudukannya dengan
> > Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan berarti tidak boleh ada nabi lagi
> > setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu, nabi yang datangnya setelah
> > Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya di bawah Nabi Muhammad
> > s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut), serta sepenuhnya
> > patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w. yaitu
> > Syari'at Islam.
> >  >
> >  > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi
> > yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang
> > laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan
> > yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat
> > sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan
> > tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada
> > sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang
> > itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
> >  >
> >  > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala
> > melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap
> > dibangun di tiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at
> > (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab
> > itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari'at baru, sebab
> > bangunan indah (Syari'at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi
> > ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat "saya adalah penutup
> > nabi-nabi."
> >  >
> >  > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
> > terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu
> > penghinaan atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya
> > seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang
> > sangat indah itu? Jika dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima.
> > Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya "sekedar batu bata terakhir" saja, sangat
> > keterlaluan, padahal kedudukan nabi Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari
> > semua nabi yang pernah ada, bahkan dari malaikat sekalipun.
> >  >
> >  > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w.
> > adalah nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain
> > yang membawa Syari'at.
> >  >
> >  > > ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
> > Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul,
> > Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya
> > adalah yang terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR
> > Bukhari wa Muslim).
> >  >
> >  > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
> > ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
> > serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at
> > baru yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
> >  >
> >  > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
> > berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat
> > atau dari orang yang kemudian.
> >  >
> >  > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang
> > yang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
> >  >
> >  > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
> > mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para
> > sahabat r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk
> > mengatakan "laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
> >  >
> >  > >
> >  > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung
> > "Khaatamun Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi
> > Muhammad SAW dan dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian
> > Ghulam Ahmad(**) tidak bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti
> > dituliskan di atas mengenai Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak
> > ada nabi yang akan datang sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan
> > memplintir "nabi" menjadi "nabi yang membawa syari'at", sehingga Hadits
> > itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada nabi yang membawa syari'at yang
> > akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya adalah nabi yang tidak
> > membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab kegusaran ummat Islam,
> > seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris Ahmadiyah Qadiyan
> > di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di cyber space,
> > maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin. Nyala
> > api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
> > dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
> >  >
> >  > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya
> > sudah di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
> >  >
> >  > Salaam,
> >  > MAS
> >  >
> >
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> > ------------------------------------
> >
> > =======================
> > Milis Wanita Muslimah
> > Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> > Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> > Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> > ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> > Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> > Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> > Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> > Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
> >
> > Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
>

#138477 From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 3:00 pm
Subject: Re: Ahmadiyah
ma_suryawan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum Bung Abbas,

Mari kita diskusi dengan baik. Saya komentari tulisan Anda di bawah ini
sekaligus saya luruskan apa yang Anda tulis.

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, Abbas Amin <abas_amin08@...> wrote:
>
> Saya secara pribadi tak mengharapkan "ahnadiyyah" di pojokkan di Indonesia
> ini; tapi mengharap atau tidak; ternyata hal tersebut sudah terjadi ?
> Dan itu adalah pukulan berat buat yang memegang prinsip pluralisme.
>
> Apa masalah sebenarnya dari Agama Ahmadiyah ini ?

Ahmadiyah bukan agama. Anda keliru. Ahmadiyah adalah nama golongan yang namanya
diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, yaitu Ahmad.

Agama yang dianut Mirza Ghulam Ahmad dan Jemaat Ahmadiyah adalah Islam. Mirza
Ghulam Ahmad menyatakan:

"Tidak ada kitab kami selain Qur'an Syarif. Dan tidak ada rasul kami kecuali
Muhammad Musthafa shallallaahu `alaihi wasallam. Dan tidak ada agama kami
kecuali Islam. Dan kita mengimani bahwa nabi kita s.a.w. adalah Khaatamul
Anbiya', dan Qur'an Syarif adalah Khaatamul Kutub. Jadi, janganlah menjadikan
agama sebagai permainan anak-anak. Dan hendaknya diingat, kami tidak mempunyai
pendakwaan lain kecuali sebagai khadim Islam. Dan siapa saja yang mempertautkan
hal [yang bertentangan dengan] itu pada kami, dia melakukan dusta atas kami.
Kami mendapatkan karunia berupa berkat-berkat melalui Nabi Karim s.a.w. Dan kami
memperoleh karunia berupa makrifat-makrifat melalui Qur'an Karim. Jadi, adalah
tepat agar setiap orang tidak menyimpan di dalam kalbunya apa pun yang
bertentangan dengan petunjuk ini. Jika tidak, dia akan mempertanggungjawabkannya
di hadapan Allah Ta'ala. Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami
akan sia-sia dan ditolak, serta akan diperkarakan." (Maktubaat-e-Ahmadiyyah,
jld. 5, no. 4)

> Supaya JELAS kita sebutkan dulu klaim Ahmadiyah; ahmadiyah mengaku
> agama mereka Islam; dan kitabnya Al Qur_an juga ?! Jadi lengkapnya Islam
Ahmadiyah.

Lihat penjelasan di atas.

> Tapi seperti kita ketahui, pada Umumnya Umat Islam yakin bahwa tak ada Nabi
lagi
> setelah Muhammad SAW.

Al-Qur'an sudah memberi pelajaran indah bahwa pada umumnya umat manusia sejak
dahulu kala juga tidak yakin ada nabi lagi setelah diutusnya nabi bagi mereka.
Lihat: 40:34, 72:7.

> Tiba2 muncul Mirza Ghulam Akhmad yang mengaku
> Nabi lagi setelah Nabi Muhammad; dan claim tersebut mendapat pengakuan yang
> jumlahnya cukup besar; terbukti Umat Ahmadiyah banyak sekali; dan akhirnya
> malah mendunia !

Faktanya memang demikian.

> Syahadat mereka mestinya adalah Tiada Tuhan selain Allah dan Mirza Ghulam
> Akhmad adalah Utusan Allah. Itulah yang terjadi.

Salah.

Syahadat Jemaat Ahmadiyah adalah Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah. Itulah yang terjadi.

> Sebenarnya bisa saja kita harap nafsi2; tapi ternyata kalau di Indonesia
nafsi2 itu tidak
> bisa bgitu saja; karena apa ? Karena Claim khatamal Nabiyyin buat Nabi adalah
suatu
> PRINSIP yang tak bisa ditawar ;

Ya benar, prinsip bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai Khaataman Nabiyyiin adalah
prinsip yang tidak bisa ditawar. Lihat penjelasan saya sebelumnya mengenai
kajian Khaataman Nabiyyiin.

> bagi beberapa kelompok Islam. Dan entah kenapa;
> kali ini Pemerintah Indonesia ikut campur mendorong memojokkan Ahmadiyyah.
>
> Dengan demikian jelas Akhmadiyyahpun akan berusaha untuk melawan hal tersebut;
> paling tidak secara kata kata ! Mereka punya dalih2 untuk mengatakan bahwa
turunnya Wahyu belum tertutup dlsb.

Turun atau tidak turunnya wahyu adalah mutlak urusan Allah yang Maha
Berkata-kata (Mutakallim), bukan urusan manusia, sehingga manusia,
kyai/mullah/ulama tidak bisa dan tidak berhak mengatakan "wahyu tidak turun
lagi."

> Apa keberatannya golongan Islam di Indonesia terhadap Ahmadiyah ? Keberatannya
adalah menyebut diri ISLAM, padahal Nabinya sudah bukan Nabi Muhammad lagi !

Nabi yang diimani dan dipercaya oleh Jemaat Ahmadiyah ada banyak, dan Nabi
Muhammad SAW adalah Khaataman Nabiyyiin, beliau SAW adalah nabi yang paling
mulia, paling sempurna. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang menjadi junjungan
Mirza Ghulam Ahmad dan semua anggota Jemaat Ahmadiyah.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menyatakan:

"Cahaya agung yang dianugerahkan kepada manusia yang paripurna tidak terdapat
pada wujud malaikat, tidak pula pada bintang-kemintang, tidak pula pada sang
rembulan, tidak pula pada sang surya. Cahaya itu tidak terdapat pula di
samudra-samudra dan sungai-sungai di dunia. Cahaya itu pula tidak terdapat di
dalam batu-batu mirah delima atau yaqut atau zamrud atau permata nilam atau
mutiara. Pendek kata, tidak terdapat di semua benda duniawi atau samawi.
Hanyalah dalam diri sang manusia, yakni, di dalam diri manusia paripurna yang
perwujudannya yang penuh, sempurna, tinggi lagi luhur adalah terdapat pada
Majikan serta Junjungan kita, Penghulu segala nabi, Penghulu segala makhluk
hidup, Muhammad Musthafa shallallahu `alaihi wasallam. Jadi, cahaya itu
dilimpahkan kepada manusia itu dan menurut urutan martabatnya, kepada seluruh
pribadi yang sewarna dengannya, yakni, kepada orang-orang yang sampai pada kadar
tertentu mengandung warna itu pula…Kemegahan setinggi-tingginya,
sesempurna-sempurnanya, dan selengkap-lengkapnya ada pada Majikan kita,
Junjungan kita, pemandu jalan kita, Nabi Ummi, Shadiq, Mashduq [wujud yang
kebenarannya diakui] Muhammad Musthafa shallallahu `alaihi wassallam." (Ruhani
Khazain, jld. 5, Aina Kamalati Islam, hlm. 120-121)

Apakah Anda sampai di sini sudah paham, bung Abbas?

> Coba saja menyebut diri Agama Akhmadiyah; tak usah pake embel2 ISLAM !
> Itulah yang diminta golongan yang memojokkan Akhmadiyyah.

Tidak ada seorangpun yang berhak dan bisa melarang orang lain menggunakan nama
dan label Islam, sebab nama "Islam" bukan milik golongan tertentu.

> Tapi kita tak tahu persisnya kenapa Pemerintah yang biasanya pluralis, bisa
tiba2
> ikut memojokikan Ahmadiyah. ??? Disinilah dalam point inilah saya benar2 buta.
> Apakah ada konflik politik antara orang2 ahmadiyah dengan "oknum" pemerintah ?
> Inilah saya tidak tahu persisnya.

Ahmadiyah sebagai organisasi keagamaan tidak berpolitik.

> Apa yang diajukan sebagai BAHAN diskusi oleh Suryawan; yang DIDUKUNG dengan
SANGAT FANATIK oleh Alatif yang sering nyeleneh, adalah mengenai Penutup para
> NABI ! Inilah bahan diskusi atau TOPIKNYA !
> Padahal itu sudah JELAS sudah PRINSIP keyakinan yang tak bisa diganggu gugat !

Saya hanya menjelaskan pemahaman dan tafsir dari Ahmadiyah mengenai "Khaataman
Nabiyyiin" - silakan saja jika mau setuju atau menolak pemahaman itu, bukanlah
urusan saya.

Saya hanya menanggapi tulisan HMNA. "Elu jual, gue beli."

Salaam,
MAS




> Artinya tak usah didiskudikan lagi; karena sudah FINAL !
> Hanya akan buang2 tempo saja !

>
> Dua pihak akan bersikukugh pada pendirian masing2 !
> Jadi buat apa didiskusikan ? Ini sudah pada keyakinan masing2 !?
>
> Jadi cobalah BIKIN topik yang agak greget !
>
> Jadi Alatif jangan asal TUDUH bahwa kami golongan MUSLIM tak mau BERDEBAT !
> Buat apa kalau soal keimanan ? coba cari topik lain !
> Dan katanya yang tak mau berdebat adalah fundamentalis !!!!!
> TUDUHAN PALING GOBLOKKKK yang saya tahu sampai saat ini.
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

#138476 From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 2:19 pm
Subject: Re: Seri 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem Kontrol Sistem 19
ma_suryawan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dalam Islam Ahmadiyah diajarkan bahwa Allah Ta'ala adalah Maha Hidup dan Maha
Berkata-kata, sehingga "sistem kontrol 19" yang HMNA klaim sebagai "sistem
kontrol" sebagai "mekanisme yang mengontrol keotentikan tulisan (Al-Kitab)
Mushhaf 'Utsmani" - adalah sangat bias dan jauh dari pembuktian yang sehat,
sebab Allah Ta'ala yang menyatakan Dia sendiri yang memelihara dan menjaga
al-Qur'an dan Dia tidak perlu mekanisme sistem kontrol untuk memelihara/menjaga
keotentikan al-Qur'an. Allah Ta'ala dengan sangat mudah dapat menurunkan kembali
ayat-ayat al-Qur'an kepada hamba-hamba pilihan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Sekali lagi, "sistem kontrol 19" adalah metode utak-atik gathuk yang perlu
diketahui oleh publik dan tidak perlu dicemburui atau disikapi dengan dengki dan
emosional.

Gitu aja kok repot ...

Salam,
MAS

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@...> wrote:
>
> HMNA:
> Tidak perlu melayani emosi misionaris agama ahamadiyah qadiyan yang cemburu
dan dengki karena sistem kontrol 19 itu tidak didapatkan oleh benggolah agama
ahmadiyah qadiyan.
> Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: "The case is closed",
and no more monkey busness from MAS, nohetto !!! A'uwzdu biLlahimina
sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu innahu huwa lGhafuwru
rRahiym.
>
################################################################################\
####################
>
################################################################################\
####################
>
> ----- Original Message -----
> From: "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
> Sent: Wednesday, January 06, 2010 23:21
> Subject: [wanita-muslimah] Re: Seri 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan
Sistem Kontrol Sistem 19
>
> Nabi Muhammad SAW dan Jemaat Islam di masa awal (orang terdahulu) BUKAN
kesulitan dengan "sistem kontrol 19", melainkan mereka TIDAK PERNAH KENAL dengan
"sistem kontrol 19" seperti yang Anda klaim dan maksud.
>
> Itu satu soal.
>
> Soal berikutnya adalah bahwa "sistem kontrol 19" yang anda klaim sebagai
"sistem kontrol" sebagai "mekanisme yang mengontrol keotentikan tulisan
(Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani" - adalah sangat bias dan jauh dari pembuktian yang
sehat, sebab Allah Ta'ala yang menyatakan Dia sendiri yang memelihara dan
menjaga al-Qur'an dan Dia tidak perlu mekanisme sistem kontrol untuk
memelihara/menjaga keotentikan al-Qur'an. Allah Ta'ala dengan sangat mudah dapat
menurunkan kembali ayat-ayat al-Qur'an kepada hamba-hamba pilihan-Nya sesuai
dengan kehendak-Nya.
>
> Allah Ta'ala adalah Maha Hidup dan Maha Berkata-kata.
>
> Salaam,
> MAS
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
> >
> > BSIMILLAHIRRAHMA-NIRRAHIYM
> >
> > WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> > [Kolom Tetap Harian Fajar]
> > 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem Kontrol Sistem 19
> >
> > Dalam Seri 771 ybl termaktub:
> > Sebuah pertanyaan yang agak lama dipending menjawabnya, yaitu melalui jalur
pribadi (Japri) saya terima e-mail yang menanyakan: "Fungsi angka 19 dalam S.
Al-Muddatstsir, ayat 30 sebagai sistem kontrol yang merupakan mekanisme untuk
mengontrol keotentikan Al-Quran Mushhaf 'Utsmani, mengapakah Nabi SAW, yang
merupakan keniscayaan tahu sistem kontrol itu, beliau tidak menjelaskannya dalam
Hadits?
> >
> > Adapun ayat itu tergolong dalam ayat yang pendek:
> > -- ALYHA TS'AT 'ASyR (S. ALMDTsR, 74:30), dibaca:
> > -- 'alaiha- tis'ata 'asyara, artnya:
> > -- padanya 19
> >
> > Pertanyaan ini gampang-gampang susah. Gampangnya ialah, harus diingat bahwa
salah satu perbedaan antara Hadits dengan Al-Quran, yaitu seluruh ayat yang
diucapkan RasuluLlah termaktub dalam Mushhaf 'Utsmani, artinya tidak ada ayat
yang kurang, dan tidak ada selain ayat yang termaktub dalam Musshaf 'Utsmani,
artinya tidak ada yang berlebih. (Bahasa "Bugis/Makassarnya", the whole ayat,
and nothing but the ayat). Sedangkan mengenai Hadits ada yang berlebih yaitu
hadits palsu, dan tidak semua Hadits sempat dicatat. Maka tentang Sistem Kontrol
angka 19 sebagai mekanisme untuk mengontrol keotentikan Al-Quran Mushhaf
'Utsmani, termasuklah yang tidak sempat dicatat. Itu gampangnya. Yang susah
dijawab ialah, apabila memang RasuluLlah SAW tidak menjelaskannya kepada para
sahabat, mengapa beliau membiarkan hal tersebut, yaitu biarlah nanti ummat Islam
di belakang hari mengungkapkan fungsi angka 19 itu?!
> >
> >
> > Firman Allah:
> > -- ANA NhN NZLNA ALDzKR WANA LH LhFZHWN (S. ALhJR, 15:9), dibaca:
> > -- inna- nahnu nazalnadz dzikra wainna- lahu- laha-fizhu-n, (tanda -
dipanjangkan membacanya), artinya:
> > -- Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran, Al-Kitab) dan
sesungguhnya Kami memeliharanya.
> >
> > Allah SWT memelihara Al-Dzikr melalui dua cara:
> > Pertama, dari segi bacaan (Al-Quran) Allah SWT memberi kemampuan kepada
tidak sedikit ummat Islam sampai kepada anak-anak yang mampu menghafal Al-Quran.
> > Kedua, Allah menciptakan Sistem Kontrol sebagai mekanisme yang mengontrol
keotentikan tuisan (Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani.
> >
> > Ternyata ayat-ayat dalam Al-Quran bukan hanya sekadar untuk mengistinbath
(menggali) hukum-hukum dalam Ilmu Fiqh, tetapi juga mengistinbath qaidah (regel,
rule), antara lain mengenai potongan-potongan huruf yang disebut
Al-Muqaththa'aat (dari akar kata yang dibentuk oleh Qaf-Tha-'Ain, qatha'a =
potong), yaitu seperti Alif-Lam-Mim, dll.
> >
> > Pada tahun 1972 Rashad Khalifa berhasil mengistinbath qaidah mengenai
Al-Muqaththa'aat ini bahwa itu adalah kode matematis. Sayangnya angka 19 ini
disakralkan oleh agama Bahai, sehingga Rashad Khalifa dituduh beragama Bahai,
padahal dia sama sekali tidak mensakralkan angka 19 tersebut. Bahkan atasnya
dilakukan pula pembunuhan karakter (character assassination) yaitu dia juga
dituduh ingkar sunnah. Padahal dia ikut shalat berjamaah, mana bisa dia ingkar
sunnah kalau shalatnya sama dengan shalat kita, sebab bukankah cara shalat itu
landasannya Hadits?
> >
> > Memang sudah tepat waktunya hal itu terungkap sekarang, karena dewasa ini
para orientalis yang membenci Islam dan ummat Muslimin, sedang sengit-sengitnya
menyerang Al-Quran Mushhaf 'Utsmani, bahwa itu tidak otentik. Bukan para
orientalis tersebut saja yang menyerang keotentikan Mushhaf 'Utsmani, namun para
pseude Muslim, para benggolan yang menamakan diri Islam Liberal turut pula dalam
aktivitas itu, setelah menimba dari sumur (well) para orientalis yang membenci
Islam dan ummat Muslimin tersebut. Cukup di sini saya sebutkan dua orang di
antaranya, yaitu: Luthfi Asysyaukani, dosen Sejarah Pemikiran Islam di
Universitas Paramadina, Jakarta, yang Editor Jaringan Islam Liberal (JIL)
menulis al:
> > "Alquran kemudian mengalami berbagai proses 'copy-editing' oleh para
sahabat, tabi'in." Taufik Adnan Amal, dosen mata kuliah ulumul Quran di IAIN
(sekarang UIN) Alauddin Makassar, aktivis JIL, al menulis:
> > "Bagi rata-rata sarjana Muslim, keistimewaan rasm utsmani merupakan misteri
ilahi dan karakter kemukjizatan al-Quran. Tetapi, pandangan ini lebih merupakan
mitos.
> >
> > Sistem Kontrol angka 19 sebagai mekanisme untuk mengontrol keotentikan
Al-Quran Mushhaf 'Utsmani telah saya bahas dalam Lampiran I dari Pidato Ilmiyah
yang saya presentasikan dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Universitas Muslim
Indnesia (UMI) pada tanggal 25 Muharram 1416 / 24 Juni 1995 dalam Rangka
Peringatan Milad (Dies Natalis) UMI yang ke 41 [1954 - 1995]. Insya Allah pada
kesempatan lain akan saya sajikan nanti dalam rubrik OPINI Lampiran I tersebut.
> >
> > Dahulu notasi bilangan itu memakai sistem huruf-huruf (GEMATRIA, numerical
values of letters)
> >
> > ====================================
> > Sistem menuliskan simbol bilangan (Gematria)
> > ====================================
> >
> > Alif    A = 1      Sin    S =     60
> > Ba      B = 2   'Ain   'A =     70
> > Jim    J = 3       Fa     F =     80
> > Dal     D = 4   Shad  Sh =     90
> > Ha (*) H = 5    Qaf    Q =   100
> > Waw   W = 6    Ra     R =    200
> > Zay     Z = 7   Syin    Sy =   300
> > ha (#)  h = 8   Ta         T =   400
> > Tha   Th = 9   Ts        Ts =   500
> > Ya      Y = 10  Kha    Kh =   600
> > Kef     K = 20  Dzal   Dz =   700
> > Lam    L = 30  Dha   Dh =   800
> > Mim   M = 40  Zha    Zh =   900
> > Nun    N = 50  Ghain Gh = 1000
> > ----------
> > (*) H abjad ke-3 dari belakang
> > (#) h abjad ke-6
> >
> > Contoh
> > _________
> > D'ADhGh = 1874
> > Biasanya simbol angka diberi bergaris di atasnya. Notasi angka dengan simbol
huruf-huruf itu gunanya hanya untuk mencatat saja, tidak bisa dipakai untuk
operasi ilmu hitung seperti menambah, mengurangi, memperbanyak dan membagi.
> >
> > ***
> >
> > Kode matematis itu antara lain qaidah bahwa Al-Muqaththa'aat yang membuka
sebuah Surah memberikan isyarat bahwa jumlah huruf dalam Surah bersangkutan
adalah kelipatan 19. Seperti misalnya jumlah huruf Alif+Lam+ Mim+Shad dalam
surah Al-A'raaf adalah kelipatan 19. Hasilnya seperti dalam tabel di bawah
dengan notasi bilangan dalam huruf-huruf:
> >
> > Huruf       Jumlah huruf Shad
> >                  ___________
> >   Alif         B'ATsGhGh
> >                    ________
> >   Lam          JKTsGH
> >                    _______
> >   Mim          HSQGh
> >                    ___
> >   Shad         hSh         ___
> >        Jumlah   ? = ? x ThY
> >
> > Siapa yang dapat menjumlahkan angka-angka tersebut di atas, baik orang
terdahulu maupun orang sekarang ini? Belum lagi untuk qaidah huruf-huruf
persekutuan yang membentuk Al-Muqaththaat yang terdapat dalam semua Surah yang
sama-sama memiliki huruf -huruf persekutuan tersebut, jumlahnya adalah kelipatan
19, seperti dalam tabel di bawah, dalam notasi bilangan yang bukan huruf:
> >
> > Tabel Persekutuan [Alif,Lam,Ra]
> > =================================
> > No.Surah    Alif   Lam   Ra   Alif+Lam+Ra
> > --------------------------------------------------------
> > 10 Yuwnus   1319   913   257        2489
> > 11 Huwd      1370   794   325        2489
> > 12 Yuwsuf    1306   812   257        2375
> > 14 Ibraahiym 585   452   160        1197
> > 15 al-hijr        493   323    96          912
> > ------------------------_------------------------------------
> > Jumlah        5073  3294 1095         9462=19x498
> >
> > Gampang sekali menjumlahkan dan membagi angka-angka itu. Tetapi coba bagi
orang-orang terdahulu sebelum didapatkannya notasi bilangan dalam sistem
desimal. Kalau setiap bilangan dinyatakan dalam simbol huruf-huruf, mana bisa
dilakukan operasi tambah dan membagi.
> >
> > Maka masuk akal, jika Nabi Muhammad SAW tidak menceritakan dalam Hadits
Sistem 19 itu, bikin susah orang saja. Barulah setelah didapatkan notasi
bilangan dalam sistem desimal operasi menambah dan membagi itu menjadi gampang.
Bahkan menjadi sangat gampang dan cepat setelah teknologi komputer didapatkan,
yaitu dengan adanya Al-Quran digital, tidak susah membuat program untuk
menjumlah  huruf-huruf yang dikehendaki, kemudian membaginya dengan 19. Dan yang
mulai dengan pemakaian kompuer itu adalah Rashad Khalifa. Dialah yang menemukan
"telur Columbus", seperti dikemukakan dalam Seri 771 yang lalu. WaLlahu a'lamu
bisshawab.
> >
> > *** Makassar 1 April 2007
> >    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
> >
http://waii-hmna.blogspot.com/2007/04/772-kesulitan-orang-terdahulu-dengan.html
> >
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

#138475 From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 1:54 pm
Subject: Re: Mas Suryawan apa khabar ?
mnur.abdurra...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
----- Original Message -----
From: "Abbas Amin" <abas_amin08@...>
To: "wanita - muslimah" <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, January 07, 2010 09:18
Subject: [wanita-muslimah] Mas Suryawan apa khabar ?


Lama sekali kita tak saling berjumpa; eee jebul anda ada di milis ini;
selamat bertemu kembali; mari kita berdiskusi lagi; lanjutan dari milis
proletar.

  Kawan2 yang lain kemana saja ? Seperti Pak Nadir itu ? Apakah anda tahu ?
###############################################################
HMNA:
Maksudnya barangkali UWAN NADRI ? Atau orang lain yang bernama Nadir? Kalau Uwan
Nadri saya dengar pernah kena stroke.
###############################################################

[Non-text portions of this message have been removed]

#138474 From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 12:54 pm
Subject: Re: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
mnur.abdurra...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Yang jelas pihak Ahmadiyah Qadiyan tidak pernah mau jadi makmum, kecuali
Ahmadiyah Lahore yang mau jadi makmum
HMNA

----- Original Message -----
From: "Ary Setijadi Prihatmanto" <ary.setijadi@...>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, January 07, 2010 11:06
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3


> Very good point Ustadz Muiz...
> Hayooo.... siapa yang bilang yang lain gak pantas jadi imam? :-D
>
>
>
>  ----- Original Message -----
>  From: Abdul Muiz
>  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
>  Sent: Thursday, January 07, 2010 8:05 AM
>  Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
>
>
>
>  sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini,
> dan topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi
> lagi sesudah Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan
> islam sunni dengan akhmadiyah.
>
>  yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam,
> baik kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak
> pernah mau dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
>
>  Salam
>  Abdul Mu'iz
>
>  --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@...>
> wrote:
>  >
>  > Lihat di bawah kajiannya.
>  >
>  > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
> <mnur.abdurrahman@> wrote:
>  >
>  > > ***
>  > >
>  > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
> Muhammad SAW sendiri.
>  >
>  > Benar. Ini buktinya:
>  >
>  > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
> tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia:
> "Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan
> jenazahnya dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan
> kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu
> Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no.
> 1511).
>  >
>  > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
> "khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau
> s.a.w. mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4
> tahun kemudian setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin."
> Jika seandainya ayat "khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
> "penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi
> lagi apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan
> jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena
> akulah penutup nabi-nabi.
>  >
>  > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah
> yang paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan
> beliau s.a.w. tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup
> atau terakhir, yaitu tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau
> s.a.w. - seperti yang biasa dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
>  >
>  > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi.
> Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi
> tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan
> menjadi penerusku." (HR Bukhari)
>  >
>  > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun
> Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah
> Rasulullah s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para
> khalifah rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada
> khalifah-khalifah) menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku"
> itu adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU
> menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat,
> dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
>  >
>  > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
> (kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
> khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
> kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
> kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam
> diri".(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
>  >
>  > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
> berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
> Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu
> dan menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin
> maryam] - Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam
> yang akan datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal
> dari umat Islam - bukan berasal dari umat non-Islam.
>  >
>  > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
>  >
>  > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
> ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak
> ada nabi setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
> khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
>  >
>  > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya',
> tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada
> Nabi sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul
> Bihar, hlm. 5)
>  >
>  > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
>  >
>  > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah
> menulis:
>  >
>  > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan
> nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang
> sesudahku yang bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan
> ada di bawah Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil
> Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)
>  >
>  > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
>  >
>  > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
> maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at."
> (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
>  >
>  > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
>  >
>  > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku,
> karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan
> membatalkan Syari'at beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
>  >
>  > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
>  >
>  > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan
> ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia."
> (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
>  >
>  > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
>  >
>  > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi,
> maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti
> halnya Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak
> bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya
> berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang
> Nabi lain yang membatalkan Syari'at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau
> s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
>  >
>  > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa
> nabiya ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah
> dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam
> dunia Islam, yakni tidak ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at
> baru, tidak ada lagi nabi yang sama atau sederajat kedudukannya dengan
> Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan berarti tidak boleh ada nabi lagi
> setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu, nabi yang datangnya setelah
> Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya di bawah Nabi Muhammad
> s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut), serta sepenuhnya
> patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w. yaitu
> Syari'at Islam.
>  >
>  > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi
> yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang
> laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan
> yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat
> sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan
> tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada
> sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang
> itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
>  >
>  > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala
> melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap
> dibangun di tiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at
> (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab
> itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari'at baru, sebab
> bangunan indah (Syari'at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi
> ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat "saya adalah penutup
> nabi-nabi."
>  >
>  > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
> terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu
> penghinaan atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya
> seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang
> sangat indah itu? Jika dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima.
> Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya "sekedar batu bata terakhir" saja, sangat
> keterlaluan, padahal kedudukan nabi Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari
> semua nabi yang pernah ada, bahkan dari malaikat sekalipun.
>  >
>  > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w.
> adalah nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain
> yang membawa Syari'at.
>  >
>  > > ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
> Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul,
> Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya
> adalah yang terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR
> Bukhari wa Muslim).
>  >
>  > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
> ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
> serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at
> baru yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
>  >
>  > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
> berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat
> atau dari orang yang kemudian.
>  >
>  > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang
> yang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
>  >
>  > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
> mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para
> sahabat r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk
> mengatakan "laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
>  >
>  > >
>  > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung
> "Khaatamun Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi
> Muhammad SAW dan dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian
> Ghulam Ahmad(**) tidak bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti
> dituliskan di atas mengenai Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak
> ada nabi yang akan datang sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan
> memplintir "nabi" menjadi "nabi yang membawa syari'at", sehingga Hadits
> itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada nabi yang membawa syari'at yang
> akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya adalah nabi yang tidak
> membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab kegusaran ummat Islam,
> seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris Ahmadiyah Qadiyan
> di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di cyber space,
> maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin. Nyala
> api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
> dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
>  >
>  > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya
> sudah di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
>  >
>  > Salaam,
>  > MAS
>  >
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> =======================
> Milis Wanita Muslimah
> Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
> Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
> Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
>
> Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
>
>
>

#138473 From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 12:34 pm
Subject: Re: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
mnur.abdurra...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Apa ini Saeful UYun sahabat saya yang pimpinan Ahmadiyah Qadiyan di Makassar
dahulu, yang pernah bertandang ke rumah saya di Makassar dan pernah berdiskusi
bertiga (ente, saya dan Prof DR Qasim Mathar) sebagai nara sumber di Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin dan di Universitas Muslim Indonesia (UMI)
Makassar? Kalau ya, di mana ente sekarang ? Apa sampai sekarang kita masih
sepakat dalam hal tidak sepakat ttg Ghulam Ahmad?
Salam mesra
HMNA

----- Original Message -----
From: "Saeful UYun" <budksunda@...>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, January 07, 2010 12:59
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3

assalamualaikum
terlebih saya mohon maaf, apa  makna
...karena mereka kurang ilmu selainn ilmu agama yg kolot,traditional tdk di
dukung dgn ilmu2 social lain2nya..

terlalu banyak hal yang bisa diperdebatkan dalam kehidupan majemuk ini, jujur
saya ingin berdiskusi dengaan kedamaian atn bijak au dengan canda tawa.
insya allah akan lebih nikmat dan enjoy.

   ----- Original Message -----
   From: alatif25
   To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
   Sent: Thursday, January 07, 2010 11:03 AM
   Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3



   alatif respond;
   Saudara2ku seiman yang brebahagia.

   Umat Islam yg terdiri dari bermacam penafsiran Al quran,sebagai masarakat yg
dewasa dan sudah merdeka lebihkurang 65 tahun dr penjajah,sudah seyokyanya
glongan2 yg berbeda2 berdebat dan berdiskusi,sebagaimana di lakukan di masarakat
amerika untuk mencari kebenaran dan menambah ilmu.

   Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling
berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur
antara para pihak yang bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata
"sesat, agen zionis, agen Barat" bukanlah cara kaum yang beradab. Mari kita sama
lepaskan prasangka lebih dulu, lalu kita adu argumen dengan menjadikan al-Qur'an
sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu kita gunakan sumber-sumber lain, baik
yang ditulis oleh ulama klasik maupun yang kontemporer sebagai pelengkap
rujukan.

   Kita lihat Obama dan John Mc Cain berdebat selama 1 bulan, tetap menjaga
perhabatan.Serahkan kpd rakyat siapa ilmunya yang terbaik utk mensejahterakan
rakyat,itulah yg di pilih. Bagus bukan?

   Sayangnya golongan2 islam fundamentalis kita di Indonesia tidak bersedia
berdebat...karena mereka kurang ilmu selainn ilmu agama yg kolot,traditional tdk
di dukung dgn ilmu2 social lain2nya..

   itulah yang membuat mereka lebih suka melakukan kekerasan dan melarang
golongan2 lain.

   Mari kita kembangkan di masarakat kita diskusi2 dan debat2 baik agama maupun
ilmu2 lain2nya.

   Wassalam

   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Abdul Muiz" <muizof@...> wrote:
   >
   > saya yakin untuk tahap awal kalau ustadz Ary Setijadi Prihatmanto jadi imam
shalat berjamaah makmumnya pak HMNA, pak MAS Suryawan, pak Abdul Latif dll
member millist WM sekalian temu muka dan kenalan di darat pasti ok deh, terus
dilanjut diskusi tatap muka/wajah pasti lebih seru. Tempat dan waktunya tinggal
diumumkan oleh Ustadz Ary atau moderator.
   >
   > Wassalam
   > Abdul Mu'iz
   >
   > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ary Setijadi Prihatmanto"
<ary.setijadi@> wrote:
   > >
   > > Very good point Ustadz Muiz...
   > > Hayooo.... siapa yang bilang yang lain gak pantas jadi imam? :-D
   > >
   > >
   > >
   > > ----- Original Message -----
   > > From: Abdul Muiz
   > > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
   > > Sent: Thursday, January 07, 2010 8:05 AM
   > > Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
   > >
   > >
   > >
   > > sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini,
dan topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi
sesudah Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni
dengan akhmadiyah.
   > >
   > > yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam,
baik kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak
pernah mau dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
   > >
   > > Salam
   > > Abdul Mu'iz
   > >
   > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@>
wrote:
   > > >
   > > > Lihat di bawah kajiannya.
   > > >
   > > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
   > > >
   > > > > ***
   > > > >
   > > > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
   > > >
   > > > Benar. Ini buktinya:
   > > >
   > > > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
   > > >
   > > > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
   > > >
   > > > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah
yang paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau
s.a.w. tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir,
yaitu tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang
biasa dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
   > > >
   > > > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
   > > >
   > > > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun
Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah
Rasulullah s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para
khalifah rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
   > > >
   > > > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
   > > >
   > > > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] -
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam -
bukan berasal dari umat non-Islam.
   > > >
   > > > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
   > > >
   > > > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
   > > >
   > > > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
   > > >
   > > > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
   > > >
   > > > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah
menulis:
   > > >
   > > > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan
nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
   > > >
   > > > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
   > > >
   > > > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
   > > >
   > > > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
   > > >
   > > > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku,
karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan
Syari'at beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
   > > >
   > > > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
   > > >
   > > > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan
ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia."
(Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
   > > >
   > > > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
   > > >
   > > > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi,
maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya
Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
   > > >
   > > > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa
nabiya ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan
oleh Hz. Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni
tidak ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi
yang sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
   > > >
   > > > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi
yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
   > > >
   > > > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala
melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di
tiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam,
yang dibawa oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi
nabi yang akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut
telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti
kalimat "saya adalah penutup nabi-nabi."
   > > >
   > > > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
   > > >
   > > > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah
nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
   > > >
   > > > > ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
   > > >
   > > > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru
yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
   > > >
   > > > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
   > > >
   > > > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang
yang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
   > > >
   > > > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat
r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan
"laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
   > > >
   > > > >
   > > > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
   > > >
   > > > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya
sudah di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
   > > >
   > > > Salaam,
   > > > MAS

[Non-text portions of this message have been removed]

#138472 From: "Ary Setijadi Prihatmanto" <ary.setijadi@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 12:14 pm
Subject: Re: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
asetijadi2004
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Wahahahahahahaha baru bilang "Luruskan shaf, Luruskan shaf, Luruskan shaf"
bukannya meluruskan diri, malah pada tawuran jamaahnya...
lha wong imam shalat itu cuman simbol seremonial, tidak punya jurisdiksi
apa-apa,
apalagi imamnya ustadz dekil kayak saya sapa yang nurut wahahahahahahaha

:-)



   ----- Original Message -----
   From: Abdul Muiz
   To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
   Sent: Thursday, January 07, 2010 9:28 AM
   Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3



   saya yakin untuk tahap awal kalau ustadz Ary Setijadi Prihatmanto jadi imam
shalat berjamaah makmumnya pak HMNA, pak MAS Suryawan, pak Abdul Latif dll
member millist WM sekalian temu muka dan kenalan di darat pasti ok deh, terus
dilanjut diskusi tatap muka/wajah pasti lebih seru. Tempat dan waktunya tinggal
diumumkan oleh Ustadz Ary atau moderator.

   Wassalam
   Abdul Mu'iz

   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ary Setijadi Prihatmanto"
<ary.setijadi@...> wrote:
   >
   > Very good point Ustadz Muiz...
   > Hayooo.... siapa yang bilang yang lain gak pantas jadi imam? :-D
   >
   >
   >
   > ----- Original Message -----
   > From: Abdul Muiz
   > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
   > Sent: Thursday, January 07, 2010 8:05 AM
   > Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
   >
   >
   >
   > sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini, dan
topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi sesudah
Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni dengan
akhmadiyah.
   >
   > yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam, baik
kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak pernah mau
dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
   >
   > Salam
   > Abdul Mu'iz
   >
   > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@> wrote:
   > >
   > > Lihat di bawah kajiannya.
   > >
   > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
   > >
   > > > ***
   > > >
   > > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
   > >
   > > Benar. Ini buktinya:
   > >
   > > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
   > >
   > > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
   > >
   > > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah yang
paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau s.a.w.
tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir, yaitu
tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang biasa
dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
   > >
   > > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
   > >
   > > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun
Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah
Rasulullah s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para
khalifah rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
   > >
   > > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
   > >
   > > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] -
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam -
bukan berasal dari umat non-Islam.
   > >
   > > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
   > >
   > > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
   > >
   > > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
   > >
   > > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
   > >
   > > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah
menulis:
   > >
   > > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan
nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
   > >
   > > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
   > >
   > > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
   > >
   > > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
   > >
   > > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena
yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari'at
beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
   > >
   > > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
   > >
   > > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan
ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia."
(Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
   > >
   > > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
   > >
   > > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi,
maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya
Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
   > >
   > > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa nabiya
ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan oleh Hz.
Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni tidak
ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi yang
sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
   > >
   > > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi
yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
   > >
   > > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala
melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di
tiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam,
yang dibawa oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi
nabi yang akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut
telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti
kalimat "saya adalah penutup nabi-nabi."
   > >
   > > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
   > >
   > > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah
nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
   > >
   > > > ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
   > >
   > > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru
yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
   > >
   > > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
   > >
   > > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang yang
menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
   > >
   > > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat
r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan
"laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
   > >
   > > >
   > > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh h embusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
   > >
   > > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya
sudah di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
   > >
   > > Salaam,
   > > MAS
   > >
   >
   >
   >
   >
   >
   > [Non-text portions of this message have been removed]
   >





[Non-text portions of this message have been removed]

#138471 From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 12:10 pm
Subject: Tambahan ttg nabi palsu Aswad Al-Insi ,= Re: Re: KITAB SEJARAH ABU BAKAR; MENYESATKAN UMAT ISLAM
mnur.abdurra...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
----- Original Message -----
From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, January 06, 2010 01:37
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: KITAB SEJARAH ABU BAKAR; MENYESATKAN UMAT
ISLAM.

Tambahan !
Riwayat Ditumpasnya nabi palsu Aswad Al-Insi atas Perintah Nabi Muhammad SAW

Namanya  sebenar  adalah  Ailat  bin  Kaab bin Auff Al-Insi keturunan bangsa 
hitam  Habasyah  yang  tinggal di Jazirah Arabia. Oleh kerana itulah  dia 
dipanggil  Aswad  yang  bermakna  Si  Hitam  Pekat,  dan terkenallah  namanya 
sebagai  Aswad  Al-Insi.  Dia  mengaku  dirinya sebagai  nabi pada saat-saat
menjelang Rasulullah SAW jatuh sakit dan segera  mendapat pengikut yang ramai di
kalangan kaumnya. Akan tetapi nabi  palsu ini dapat dibunuh pada tahun 11 H/632M
iaitu di saat-saat menjelang kewafatan Rasulullah SAW.

Si Hitam Yang Bercadar

Aswad  Al-Insi  sentiasa  menutup  mukanya  dengan  cadar (purdah) seperti yang
biasa dipakai oleh kaum wanita sehingga dia dipanggil juga  dengan  nama  Zul 
Khimar  yang  bermakna orang yang memakai cadar.  Dia sendiri rela dirinya
diberi gelar Si Hitam atau Aswad. Sebelum mengisytiharkan dirinya sebagai nabi,
Aswad Al-Insi memang terkenal  sebagai seorang yang mempunyai ilmu-ilmu hitam
dan sihir (black  magic). Kerana kebolehannya itu, dia ditakuti dan dikagumi di 
kalangan  kaumnya  dan  pengaruhnya  besar.  Ditambah lagi dia sebagai  seorang 
orator  yang  tutur  katanya  manis dan menarik. Orang-orang  awam  dari  suku 
besar  Mazhaj segera mempercayainya bahawa  dia  sebagai  nabi.  Ajaran utama
Aswad adalah membebaskan manusia  dari kewajipan solat dan membayar zakat serta
membenarkan perzinaan.  Kewajipan  solat dan zakat inilah yang dirasakan berat
oleh  sesetengah kabilah Arab selama ini. Apabila mendengar ajaran yang  dibawa 
oleh  "nabi" baru itu sangat sesuai dengan nafsunya, mereka  berpusu-pusu 
datang  menyatakan  sokongan  dan sedia mati membela  Aswad  Al-Insi. Mereka
bersedia bergadai nyawa jika Aswad mengarahkannya menyerang Madinatul Munawwarah
tempat Nabi Muhammad menyampaikan Risalahnya.

Setelah memperolehi pengikut yang ramai, Aswad maju menyerang kota Najran  yang
ketika itu dibawah pengawasan penguasa Islam Amru bin Hazmi dan Khalid bin Saad.
Aswad berhasil menduduki kota itu dan wilayah sekitarnya, sementara kedua-dua
penguasa Islam di situ terpaksa berundur ke kota San'a. Maka  berlangsunglah 
keluar  agama  (murtad) secara besar-besaran di kawasan-kawasan yang dikuasai
oleh Aswad.

Dalam masa yang singkat, pengikut Aswad telah bertambah besar dan dia  bertambah
sombong dan bermaharajalela. Kekuatan tenteranya semakin besar  kerana para
pengikutnya rela berperang bersamanya. Langkah seterusnya dia membentuk 700
pasukan berkuda yang dipimpin oleh Qais bin Abdi Yaguts Al-Muradi sebagai
panglima perang besarnya. Sedang zon-zon pasukannya  dipimpin Maawiyah bin Qais
Al-Janabi, Yazid bin Maharram, Yazid bin Hushain Al-Harithi dan Yazid bin Afkal
Al-Yazidi.

Pasukan  berkuda Aswad  bergerak menyerang kota San'a yang ketika itu 
diperintah oleh penguasa Islam bernama Emir Syahr bin Bazan yang dikukuhkan 
oleh Rasulullah SAW sendiri. Syahr bin Bazan keluar dengan pasukannya menyambut
kedatangan pasukan Aswad. Maka terjadilah pertempuran sengit di antara kedua-dua
pasukan itu yang berakhir dengan kekalahan di pihak Syahr bin Bazan yang menemui
syahid di dalam pertempuran bersama sejumlah besar tentera Islam lainnya.

Aswad menduduki San'a dengan sombong dan mengambil janda Syahr bin Bazan  yang
bernama Azaz yang sangat terkenal cantik jelita itu menjadi salah seorang
isterinya secara paksa. Walaubagaimanapun Azaz tetap seorang  muslimah yang
solehah, taat kepada Allah dan Rasul-Nya sekalipun jasmaninya  berada dalam
genggaman Aswad secara paksa.

Merancang Pembunuhan

Dengan kejayaan Aswad menakluki San'a, umat Islam di seluruh wilayah Hadramaut
menjadi cemas dan khuatir kalau-kalau nabi palsu itu mengarahkan pasukannya
menyerbu wilayah Hadramaut pula. Mereka berada dalam keadaan berjaga-jaga untuk
menghadapi segala kemungkinan. Rasulullah SAW di Madinah telah mengetahui
perkara yang terjadi. Baginda telah menginstruksikan Wabar bin Yuhannis Al-Asadi
ke Yaman untuk menyusun kekuatan untuk menumpas Aswad.  Muaz bin Jabal yang
ketika itu sedang bertugas di Yaman, telah berkeliling  menghubungi orang-orang
yang masih kuat imannya.

Kedatangan Wabar dan khabar dari Rasulullah itu telah membuat kaum Muslimin  
terhibur dan semangatnya naik untuk menumpas menghadapi Aswad, sesuai amanat
Nabi Muhammad SAW membinasakan nabi palstu itu. Sementara Aswad sendiri  semakin
sombong akan kejayaannya. Dia merasa kejayaan yang dicapainya dalam waktu
singkat itu adalah berkat kekuatannya sendiri dengan menggerakkan ilmu-ilmu
hitamnya. Sehingga dia sering mencemuh Qais bin Abdi Yaguts panglima perang yang
telah berjasa dalam memimpin tenteranya. Tidak  ketinggalan  Fairuz  Ad-Dailimi
dan Emir Dazwah yang mengetuai seluruh kaum peranakan (al-Abnak) juga sering
dicemuh dan dihina oleh Aswad di hadapan orang ramai. Akibatnya, samada panglima
Qais, penguasa Fairuz dan Dazwah bersepakat untuk melawan Aswad. Tapi mereka
tidak berani berbuat apa-apa kerana Aswad sangat terkenal, ramai pengawal
pribadinya (body guard) nya dan  mata-matanya.

Muaz bin Jabal melihat situasi ini sangat menguntungkan untuk mengambil  
tindakan. Secara senyap-senyap dia melakukan pendekatan kepada Fairuz Ad-Dailimi
dan Dazwah sambil memperlihatkan surat Rasulullah SAW. Kedua-dua Emir itu sangat
gembira, bagaikan kejatuhan emas dari langit ketika menerima instruksi dari
Rasulullah SAW untuk menumpas nabi palsu itu. Mereka pun melakukan pendekatan
pula terhadap panglima perang Qais bin Abdi Yaguts dan berhasil. Kini
ketiga-tiga orang itu telah sepakat untuk memusnahkan nabi palsu itu.

Walau  bagaimanapun, mereka bertiga mesti melaksanakan maksudnya dengan 
terancang dan siasat helah. Sebab disekitar Aswad sangat ramai tentera, pengampu
dan pengawal yang menjaganya setiap masa. Namun para mata-mata Aswad itu dapat
mengesannya lalu memberitahukan kepada Aswad. Para mata-mata itu memberitahukan
kepada Aswad bahawa ada komplot yang ingin membunuhnya yang dianggotai oleh
panglima perang dan orang-orang penting lainnya. Aswad  segera memanggil Qais
dan memberitahukan apa yang disampaikan para mata-mata itu.
"Wahai Qais! Aku menerima informasi yang tidak sedap tentang kamu." kata
Aswad.
"Apa katanya?" tanya Qais.
"Engkau memuliakan Qais, menaruh kepercayaan dan bermurah hati kepadanya.  Awas,
kelak dia akan menjadi lawanmu, dan melakukan pengkhianatan," kata Aswad
meniruka ucapan mata-matanya itu.
Qais pura-pura menafikan perkara itu berkata:
"Wahai Zul Khimar! Itu semua bohong. Tuanku sungguh nabi yang agung dan mulia
disisiku, sehingga tidak pernah terlintas dihatiku ada cita-cita seperti yang
tuanku khuatirkan itu."

Qais  dibebaskan  dan  segera keluar menjumpai teman-teman sehaluannya untuk
membincangkan apa yang telah terjadi.
"Kalau begitu, mulai sekarang kena berwaspada." kata mereka.

Tiba-tiba mereka punya idea untuk mendekati Azaz yang menjadi isteri paksa  
Aswad dan sangat membenci nabi palsu itua. Kebetulan pula perempuan cantik
jelita itu masih saudara sepupu kepada Qais. Mula-mula Qais menjumpai Azaz
secara senyap-senyap dan mencuri-curi, sebab kalau diketahui Aswad, padahnya
sangat besar.

"Wahai sepupuku! Engkau telah tahu musibah yang menimpa kaummu gara-gara 
kekejaman lelaki itu (Aswad). Dia telah membunuh suamimu, memalukan kamu dan
memaksa perempuan menjadi miliknya. Adakah engkau tidak dapat bertindak sesuatu
keatasnya?" tanya Qais kepada Azaz.
"Bertindak bagaimana?" tanya Azaz.
"Menghalaunya keluar."
"Bagaimana kalau dia dibunuh saja?" tanya Azaz.
"Dibunuhpun boleh." kata Qais.
"Memang, demi Allah. Allah tidak menciptakan seseorangpun yang paling aku  benci
selain si Aswad itu. Jika kamu sudah berazam untuk membunuhnya,  beritahu aku.
Aku akan memberimu tunjuk ajar tentang perkara ini." kata Azaz.

Kepala Aswad Dicampakkan Ke Tanah

Setelah  berhasil menghubungi Azaz, Qais segera keluar dan berunding dengan
kawan-kawannya mengenai jalan terbaik untuk membinasakan Aswad. Sementara Aswad
sendiri semakin terasa bahawa ada komplotan yang ingin memudaratkan dirinya. Dia
mencurigai Qais dan selalu memanggilnya untuk disoal siasat.

Suatu hari Aswad mengadakan sembelihan haiwan secara besar-besaran yang  terdiri
dari seratus ekor lembu dan unta di hadapan orang ramai. Tiba-tiba  Aswad
berkata kepada Qais:
"Wahai Fairuz! Aku telah  menerima wahyu bahawa engkau benar-benar ingin
memusnahkan aku. Aku benar-benar bercadang akan menyembelih engkau seperti
haiwan-haiwan ini."

Sekali lagi Qais menafikan tuduhan itu. Ia mengeluarkan perkataan-perkataan 
yang membanggakan Aswad. Qais mengingatkan Aswad bahawa dirinya telah diberi
pangkat panglima perang dan juga masih iparnya, mana mungkin akan khianat?
"Aku menyukai tuan, sebagaimana tuan menyukai aku." kata Qais.
"Betul itu. Baiklah sila agih-agihkan daging haiwan ini kepada orang ramai."
kata nabi palsu Aswad Al-Insi.

Akan tetapi apabila Qais selesai membagi-bagikan daging dan ingin berjumpa 
dengan Aswad, dia mendengar berita bahawa nabi palsu itu betul-betul ingin 
membunuhnya. Qais segera pergi kepada teman-teman sehaluannya untuk berunding.
Masa telah suntuk. Kalau nabi palsu itu tidak segera dibunuh, nasib mereka
sangat berbahaya. Ketiga-tiga orang itu telah nekad untuk bekerja sama dengan
isteri paksa Aswad untuk membunuhnya. Qais dipilih untuk  berjumpa terus dengan
Azaz, kerana dia masih sepupunya.

"Bilik-bilik kediaman Aswad dipagar dan dipenuhi dengan pengawal-pengawal, 
kecuali bilik yang agak jauh dari bilik Azaz tidak begitu ketat kawalannya."
kata Azaz kepada Qais. Walau bagaimanapun Azaz yang sangat menaruh dendam
terhadap Aswad memberikan cara rahsia untuk sampai ke bilik tidur orang yang
dibencinya itu. Dia mengarahkan agar membuat suatu lubang sulit yang boleh
mencapai bilik Aswad, dan dia sendiri akan membantunya secara sulit pula. 
Setelah berbincang banyak, Qais segera berpaling keluar dari bilik Azaz.

Mereka terus berbincang langkah seterusnya. Azaz pula mengirim pesan agar  azam
mereka diteruskan dan menyatakan sokongannya. Ketika Aswad tidak ada, Qais masuk
lagi ke bilik Azaz dan segera menggali lobang sulit. Pada sebelah malam, mereka
pun masuk ke bilik Aswad melalui lubang sulit yang telah dibuatnya. Azaz pula
sudah siap sedia memberikan laluan kepada mereka untuk  membunuh suaminya. Malam
itu Aswad sedang berada dalam keadaan separuh sedar kerana mabuk arak dan
setengah tertidur mabuk di atas tilam sutera. Ketika Fairuz masuk, Aswad yang
sedang tertidur mabuk itu bertanya:
"Ada apa dengan engkau hai Fairuz?"

Fairuz khuatir Aswad akan sedar. Oleh kerana itu dia cepat-cepat menangkap 
kepalanya, menekan lehernya dari belakang, dipijak lalu dihantuk-hantukkannya
kepala nabi palsu itu sehingga mati. Kemudian Fairuz keluar memberitahukan
teman-temannya yang sedang mengepung di luar bahawa nabi palsu itu sudah  mati.
Gegaplah takbir di sekitar itu. Azaz segera  menarik rambut Aswad kuat-kuat,
sedang Fairus terus memotong lehernya, sehingga terpisahlah   kepala nabi palsu
itu dari badannya. Orang-orang yang berkawal di sekitar bilik Aswad merasa
curiga apabila mendengar suara yang mencurigakan.
"Suara apa itu?" tanya mereka.
"Tidak ada apa-apa, hanya nabi sedang menerima wahyu." jawab Azaz.

Fairuz, Qais dan Dazwiyah berunding cara yang paling berkesan untuk menunjukkan
kepada orang ramai bahawa nabi palsu itu sudah dibunuh. Mereka sepakat untuk
mengumpulkan orang ramai di sekitar istana menjelang Subuh. Menjelang Subuh,
orang ramai pun berkumpul berpusu-pusu di sekitar istana  kerana mengikut
arahan. Dikatakan kepada mereka bahawa nabi Aswad memintanya mereka agar
berkumpul. Mereka yang berkumpul bukan saja dari pengikut setia Aswad, tapi juga
dari kalangan orang-orang beriman dan yang masih menyimpan iman di hatinya.

Waktu Subuh pun masuk, Qais naik ke bumbung istana lalu tukang azan melaungkan
azan. Apabila sampai pada lafaz Asyhadu anna Muhammadar rasulullah,
.....tiba-tiba ditambah dengan Wa anna Abhalah (Aswad) pendusta". Serentak
dengan perkataan Abhalah, Qais tiba-tiba melemparkan kepala nabi palsu Aswad ke
tanah.

Maka tahulah mereka bahawa Aswad nabi palsu yang angkuh itu sudah dibunuh. Maka
gemuruhlah takbir, kepala Aswad lalu disepak-sepaknya ke sana ke sini. Orang
ramai bertaubat dan kembali kepada agama Islam yang sebenar dan mengucapkan taat
setia kepada Rasulullah SAW. Tamatlah riwayat nabi palsu Aswad Al-Insi setelah
berkuasa selama lebih kurang empat bulan sahaja.  Sementara di Madinah
Rasulullah SAW telah mengetahui peristiwa tersebut dari  Allah pada malam itu
juga.

"Al-Insi telah dibunuh malam tadi oleh lelaki yang diberkati dari keluarga yang
diberkati." kata Rasulullah.
"Siapa itu wahai Rasululllah?" tanya sahabat.
"Fairuz Fairuz." jawab Rasulullah SAW.
==========================================
Dipetik Dari Buku.
Murtad Kesan & Kisah Mengenainya.
Oleh:
Muhammad Isa Selamat
Hj Ahmad Muhd Abd Ghafar


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, ismail sutopo <manmandirimy@...> wrote:
>
> ISMAIL MENJAWAB .....

> Jelas2 Nabi Muhammad saw. ditetapkan sebagai PENUTUP NABI2 ..tidak ada Nabi
> sesudah beliau.

Ada. Menurut beliau SAW dapat datang nabi. Beliau SAW menyebutnya sebagai Isa
ibn Maryam.
################################################################################\
#############
HMNA:
Yang akan datang Isa bnu Maryam bukan sebagai nabi lagi
################################################################################\
##############

> Tentu saja siapa mengaku Nabi2 baru selepas Nabi Muhammad
> saw. ditumpas habis. Dan hal tersebut amanah Islam yang harus dipikul beliau
> ...

Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya TIDAK PERNAH menyuruh, mengajarkan, memerangi
atau menumpas orang yang mengklaim sebagai nabi. Tidak ada dalam ajaran dan
agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang namanya "amanah Islam untuk
menumpas orang-orang yang mengklaim sebagai nabi."
Jadi, "amanah" yang Anda sebut itu adalah ajaran kreasi tipikal para
kyai/mullah/ulama.

################################################################################\
###################
HMNA:
RasuluLlah SAW mengamanahkan kepada Wabar bin Yuhannis Al-Asadi ke Yaman untuk
menyusun  kekuatan  menumpas nabi palsu Aswad Al-Insi, sementara Muaz bin Jabal
yang ketika itu sedang bertugas di  Yaman,  berkeliling  menghubungi orang-orang
untuk mengumpul kekuatan. Muaz  bin  Jabal  menghubungi Ad-Dailimi  dan  Dazwah 
dengan memperlihatkan  surat  Rasulullah  SAW.  Kedua Emir itu sangat gembira
menerima amanah dari Rasulullah SAW.

Akhirnya secara dramatis kepala nabi palsu itu dapat dipenggal oleh Fairuz .
Nabi  palsu ini dapat dibunuh pada tahun 11 H/632M, dan kepalanya dilemparkan
kebawah pada waktu subuh sementara suara azan sampai pada lafaz Asyhadu anna 
MuhammadarRasulullah. Tamatlah riwayat  nabi  palsu  Aswad  Al-Insi setelah
menda'wakan dirinya sebagai nabi. Aswad  berperan sebagai nabi palsu berkuasa di
Yaman selama kurang lebih  empat  bulan  lamanya. Sementara itu di Madinah
RasuluLlah SAW telah  mengetahui  peristiwa  tersebut  dari  Allah pada malam
nabi palsu itu dipenggal oleh Fairuz.
"Al-Insi  telah dibunuh malam tadi oleh lelaki yang diberkati dari keluarga yang
diberkati." kata Rasulullah.
"Siapa itu wahai Rasululllah?" tanya sahabat.
"Fairuz Fairuz." jawab Rasulullah SAW.

Jadi tidak benar pernyataan MAS yang mengatakan "Tidak ada dalam ajaran dan
agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang namanya "amanah Islam untuk
menumpas orang-orang yang mengklaim sebagai nabi." Dan "amanah" yang akhi Ismail
Sutopo sebut itu sama sekali bukan kreasi tipikal para kyai/mullah/ulama,
melainkan itu adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW yang mengamanahkan kepada Wabar
bin Yuhannis Al-Asadi ke Yaman ntuk menumpas nabi palsu Aswad Al-Insi pada tahun
11 H/632M.
################################################################################\
####################


> Sekarang ini, Islam Ahmadiyyah dengan Nabi baru mereka Mirza Ghulam Achmad
> seorang abdi dalem Kerajaan Inggris ...

Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah menyebut dirinya sebagai "nabi baru" dan tidak
pula para pengikutnya menyebutnya sebagai "nabi baru." Jemaat Ahmadiyah
menerima, mengakui dan beriman kepadanya sebagai Imam Mahdi/Masih Mau'ud a.s.,
seorang nabi/rasul/utusan Allah.
################################################################################\
############################
HMNA:
Di samping Ahmadiyah Qadiyan, ada pula Ahmadiyah Lahore (Anjuman). Saya punya
Kitab Tafsir dari Ahmadiyah Lahore, tafsir Mawlana Muhammad Ali. Adalah SANGAT
berbeda dengan keyakinan Ahmadiyah Qadiyan. Saya kutip terjemahan ayat (33:40):
-- Moehammad is de vader van niemand uwer menschen, maar hij is de Apostel God
en de laatste der profeten en God is met elk ding bekend. Para pembaca dapat
membaca kata-kata "de laatste der profeten" yang dalam bahasa Indonesianya
berarti: "Nabi yang paling akhir". Menurut Ahmadiyah Lahore, Ghulam Ahmad tidak
pernah menyatakan dirinya Nabi, melainkan hanya sebagai Mujaddid (pembaharu)
saja seperti misalnya Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi'i, demikian keyakinan
Ahmadiyah Lahore.

***
Pengertian Khatamunnabiyyin
Bahasa Al Quran adalah bahasa Arab yang dipakai dalam Al Quran. Bahasa Al Quran
adalah bahasa baku, sehingga kalau mau mengerti betul makna Al Quran, jadikanlah
Al Quran sebagai "kamus", yaitu prinsip ayat menjelaskan ayat. Maka marilah kita
telusuri/lacak kata-kata yang dibentuk oleh akar kata KHa, Ta dan Mim dalam Al
Quran, yaitu KHA-Ta-Ma
      ==> 1. KHatama Lla-hu 'ala- Quluwbihim wa 'ala- Sam'ihim (s.Al Baqarah,
2:7), artinya: Allah MENUTUP qalbu dan pendengaran mereka.

      ==> 2. Qul Ara.aytum in Akhadza Lla-hu Sam'akum wa Abshaarakum wa KHatama
Quluwbikum (s. Al An'aam, 6:46), artinya: Katakanlah (hai Muhammad) kabarkanlah
kepadaku, jika Allah melenyapkan pendengaran dan penglihatanmu dan MENUTUP
qalbumu.

      ==> 3. Afara.ayta mani tTakhadza Ila-hahu- Hawa-hu wa Adhallahu Lla-hu
'ala-'Ilmin wwa KHatama 'ala- sam'ihi- wa Qalbihi- (s. Al Jaatsiyah, 45:23),
artinya: Adakah engkau lihat orang yang mengambil hawa-nafsunya menjadi tuhannya
dan Allah menyesatkannya atas ilmu dan MENUTUP pendengaran dan qalbunya.

      ==> 4. Alyawma Nakhtimu 'ala- Afwaahihim (s. Ya-sin, 36:65), artinya: Pada
hari (Pengadilan) Kami TUTUP mulut mereka.

      ==> 5. Fain Yasyai Lla-hu Yakhtimu (s.AsySyuwra-, 42:24), artinya: Jika
Allah menghendaki diTUTUP-Nya qalbumu.

      ==> 6. Maa Kaana Muhammadun Abaa Ahadin mmin rRija-likum wa La-kin rRasuwla
Lla-hi wa KHaatama nNabiyyi-na (s. Al Ahzab, 33:40), artinya: Muhammad itu
bukanlah bapak salah seorang di antara laki-laki kamu, tetapi di Rasul Allah dan
PENUTUP Nabi-Nabi.

      ==> 7. Yusqawna min rahiyqin Makhtuwm (s. Al Muthaffifin, 83:25), artinya:
Mereka diberi minuman (dalam botol) yang DITUTUP.

      ==> 8. Khita-muhu- Miskun (s. Al Muthaffifin, 83:26), artinya: PENUTUPNYA
(BERBAU) kesturi.

      Jadi arti bahasa Al Quran yang dibentuk oleh akar kata KHa, Ta, Mim,
KHATAMA artinya  TUTUP.

Seperti kita lihat di atas, ada 8 ayat yang mengandung kata yang berakar dengan
KHa, Ta, Mim
1. KHatama   2. KHatama  3. KHatama  4. Nakhtimu  5. Yakhtimu  6. KHaatama 7.
Makhtuwm  8. Khita-mu


***

Para pembaca, ikutilah tenang-tenang uraian tentang Khaatamun.

Khaatamun adalah isim (kata benda, noun) dengan penyisipan Alif di antara Kha
dengan Ta dalam akar kata Kha-Ta-Mim, sehingga menjadi Kha-Alif-Ta-Mim. Ini
mengikuti wazan (pola) Fa-Alif-'Ain-Lam. Ada dua qiraah pola: Faa'ilun dan
Faa'alun, yaitu Khaatimun dan Khaatamun. Kata ber-wazan fâa'ilun yang bermakna
pelaku dan bisa dibedakan dengan kata ber-wazan faa'âlun yang juga bermakna
pelaku, tetapi mengandung ketekunan, sudah lengket menjadi atribut, dan
kontiunitas.

Maka Ada dua qiraah untuk ayat dalam Surah al ahzab 33:40 itu.

1. Isim Faa'il (dalam bahasa Indonesia pakai awalan pe-) Khaatimun nabiyyin,
artinya "penutup para nabi". Qiraah Khaatimun ini tidak mengandung makna
kontinuitas, sehingga bisa menjadi celah bagi Ahmadiyah Qadiyan, yaitu penutup
yang tidak kontinu, yakni setelah datangnya Ghulam Ahmad penutup itu tidak
berfungsi lagi.
2.1 Khaatamun nabiyyin, artinya "cincin stempel para nabi". Maka inilah celah
yang dimasuki Ahmadiyah Qadiyan. Rangkaian nabi dianggap seolah-olah jari-jari
tangan. Nabi Muhammad SAW adalah "jari istimewa", yaitu mulia, karena memakai
cincin stempel, sementara yang lain tidak. Jadi Nabi Muhammad SAW adalah Nabi
yang termulia, bukanlah Nabi terakhir. Inilah pembenaran Ahmadiyah Qadiyan ada
nabi sesudah Nabi Muhammad SAW, yaitu Ghulam Ahmad.

Padahal cincin stempel itu fungsi utamanya sebagai zegel (seal). Allah SWT
menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai zegel nabi-nabi, ibarat pintu yang disegel
tidak boleh dibuka, berarti kembali kepada makna akar kata Kha-Ta-Ma, yaitu
tutup. Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para Nabi sekaligus adalah Nabi yang
termulia.

2.2 DEngan wazan faa'âlun yaitu pelaku yang mengandung arti kontiunitas, maka
khaatamun nabiyyin mengandung arti penutup nabi yang mengandung makna
kontinuitas. Dengan qiraah ini Ahmadiyah Qadiyan tidak mendapatkan celah lagi.

***

Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi Muhammad
SAW sendiri.

-- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang
Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi
yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi penerusku."
(HR Bukhari)

-- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang
datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)

  ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya Pembersih
dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus
berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang terakhir
dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa Muslim).

Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun Nabiyyin"
(33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan dengan
demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
--------------------------------------
(*)
Para misionaris Ahmdiyah Qadiyan menyatakan:
"Pada umumnya Ulama-Ulama Mainstream Islam mengatakan bahwa ISMUHU AHMAD pada
ayat 6 Surah Ash-Saff itu adalah merefer kepada hanya satu nama dan nama itu
adalah khusus untuk Muhammad SAW saja. Muhammad SAW itu adalah juga Ahmad
berdasarkan sebuah Hadist yang mereka kutip sebagai berikut:
Narated Jubair bin Mut'im Ra; Allah's Messenger SAW said:" I have five names: I
am MUHAMMAD and AHMAD; I am Al-Mahi through whom Allah will eliminate al-kufr; I
am Al-Hashir who will be the first to be resurrected, the people will be
resurrected thereafter; I am also Al-'Aqib (i.e. there will be NO PHROPHET after
me)". (Shahih Al-Bukhari, Vol 4, Hadis No. 732)
Tidak seorangpun dikalangan orang-orang Ahmadi  menolak bahwa nama Ahmad itu
adalah salah satu nama sifat dari Muhammad SAW, tetapi Ahmad pada ayat ini
bukanlah merefer kepada nama sifat tetapi adalah nama ZAT , dan ini jelas sekali
dalam kata  ISMUHU AHMAD (yang bernama Ahmad) merefer kepada Ghulam Ahmad.

HMNA:
I have five names: I am MUHAMMAD and AHMAD, tidak ada perbedaan dengan ISMUHU
AHMAD, coba mari ditukar kata ganti I dengan kata ganti he => He has five names:
he is MUHAMMAD and AHMAD = his names are Muahammad and Ahmad. Coba di-Inggriskan
Ismuhu Ahmad = His name is Ahmad. Maka his names are Muahammad and Ahmad tidak
ada bedanya dengan his name is Ahmad. Para misionaris Ahmadiyah Qadiyan bikin
maniupalsi zat dan sifat.

Selanjutnya para misionaris Ahmadiayah Qadiyan menyatakan:
Ayat 6 Surat Al-Shaff ini berhubungan erat dengan ayat 7 WAHUWA YUD'A ILAL ISLAM
yang bila kita terjemahkan adalah SEDANG DIA (orang ketiga tunggal laki-laki)
ITU DIPANGGIL KEPADA ISLAM. Siapakah HUWA  disini?  Siapakah dia disini yang
dipanggil kepada Islam itu? HUWA itu adalah Rasul Ghulam Ahmad yang dipanggil
kepada Islam. Kalau Ahmad pada ayat 6 tsb ditujukan kepada MUHAMMAD SAW  tentu
tidaklah mungkin beliau dipanggil kepada Islam.

HMNA:
Para misonaris Ahmadiyah Qadiyan itu tidak faham bahasa Arab.
Wa Man Azhlamu Mimmani Ftaray 'aly Lla-hi lKadziba wa Huwa Yud'ay ilay lIslaam.
Huwa menunjuk kepada Man yang al-Kadzdzab, Yud'ay fi'il mabniy al-majhul,
fa'ilnya tersembunyi, yaitu Mauhammad (=Ahmad) =-> Huwa Yud'ay ilay lIslaam =
dia (pendusta) diajak (oleh Muhammad) kepada Islam. "Dia" dalam ayat 6 Surah
Al-Shaff, bisa siapa saja yang pendusta / al-Kadzdzab, ataupun personifikasi
dari pendusta / al-Kadzdzab.

(**)
Ghulam Ahmad juga mendakwakan dirinya sebagai Isa. Padahal Isa bnu Maryam belum
mati. Ini dalilnya:
-- Wa in min ahlil kitaabi illaa layu'minanna bihii qabla mautihii wayaumal
qiyaamati yakuwnu 'alaihim syahiydan (S. an-Nisaa', 4:159), artinya:
-- Dan tidak seorangpun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepadanya (Isa)
sebelum matinya (Isa), dan pada hari kiamat (Isa) menjadi saksi terhadap mereka
(ahli kitab).

mautihi = Dhamir HI (mufrad)  menunjuk kepada Isa (mufrad), bukan menunjuk Ahlil
kitab (jama')

-- Wakuntu 'alaihim syahiydan maa dumtu fiyhim falammaa tawaffaitaniy kunta
antar raqiyba 'alaihim (S. al-Maaidah, 5:117), artinya:
-- Dan aku (Isa) menjadi saksi atas mereka, selama aku hidup bersama mereka,
tatkala Engkau mewafatkanku, Engkaulah mengawasi mereka.

Karena kenyataan ahli kitab belum beriman semuanya, maka menurut (4:159) Isa
belumlah mati:


-- Alla-hu yatawaffal anfusa hiyna mawtihaa wallatiy lam yamut fiy manaamihaa
fayumsikul latiy qadha 'alayhal mawta wayursilul ukhra ilaa ajalin musamman (S.
az-Zumar, 39:42 ), artinya:
-- Allah mewafatkan jiwa ketika matinya dan yang belum mati di waktu tidurnya;
maka Dia genggamlah jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan
jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.

Karena Isa belum mati, maka makna mewafatkanku dalam ayat (5:117) menurut
definisi wafat dalam ayat (39:42), Isa ditidurkan Allah, jiwa Isa digenggam
Allah, karena Isa belum mati. Allah akan melepaskan genggamannya pada akhir
zaman, sesuai Hadits:
-- Wal Iadzii nafsii bi layusyikanna ayyanzila fil kumubnu Maryama hakaman
muqsithan"
-- Demi Allah yang jiwaku di tanganNya, sesungguhnya telah dekat masanya Isa
Anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi Hakim Yang
Adil.(Hadis Shahih Muslim 127)

Dari Hadits Muslim tsb diisyaratkan bahwa Isa tidur di tempat ketinggian, tetapi
tidak di langit karena tidak ada dalilnya.
################################################################################\
################################





Dan tidak pula Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi/Masih Mau'ud a.s. menjadi
abdi dalem Kerajaan Inggris.

> Jelas melanggar ayat2 suci Al Qur'an

Ayat-ayat suci apa yang dilanggar?

> ..Pemerintah Indonesia terkesan ragu2 tidak mengikuti sepak terjang mulia
> Sayyidina Abu Bakar ra. Mari kita tumpas habis pak SBY .... Ahmadiyah
> ...warisan sesat Mirza itu ..



Hadhrat Sayyidina Abu Bakr r.a. adalah pengikut sejati Rasulullah SAW, sehingga
sepak terjang beliau adalah mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW,
yaitu tidak pernah menumpas atau memerangi orang yang mengklaim sebagai nabi.
################################################################################\
########
HMNA:
Baca sekali lagi Nabi Muhammad SAW yang mengamanahkan kepada Wabar bin Yuhannis
Al-Asadi ke Yaman untuk menumpas nabi palsu Aswad Al-Insi pada tahun 11 H/632M
################################################################################\
#################



Yang dilakukan Sayyidina Abu Bakr r.a. ketika memerangi kelompok Musailimah
adalah bukan karena klaimnya sebagai nabi, tetapi Musailimah berkomplot dengan
Banu Hanifah ingin merongrong serta mengacaukan Jemaat Islam yang baru lahir
tumbuh berkembang sepeninggal Nabi SAW. Itulah sebabnya kemudian Khalifah Abu
Bakr r.a. memerangi kelompok Musailimah dan Banu Hanifah demi mencegah
kehancuran Jemaat Islam dan kestabilan masyarakat di Jazirah Arabia.
########################################################################
HMNA:
Khalifah Abu Bakar RA memerangi dua kelompok yang berbeda yaitu
pertama: kelompok nabi palsu dan para pengikutnya,
kedua: qabilah pembangkang yang tidak mau membayar zakat.
#######################################################################

Jadi, apa yang Anda pikir soal Sayyidina Abu Bakr r.a. dalam menghadapi kasus
klaim nabi itu sungguh keliru.
################################################################################\
#################
HMNA:
Akhi Ismail Sutopo sama sekali tidak keliru !
################################################################################\
##################

Salam,
MAS



[Non-text portions of this message have been removed]

#138470 From: "Alexander" <alexander_edbert08@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 11:45 am
Subject: Re: Re: Ahmadiyah
alexander_ed...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Sdr ini kotornya tdk jauh berbeda dr Hafsah Salim binti Mustikawati.
Tulisannya penuh kepalsuan.

U are as pathetic as him.




Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "abdul" <latifabdul777@...>
Date: Thu, 07 Jan 2010 11:28:04
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Subject: [wanita-muslimah] Re: Ahmadiyah

alatif Respond'
Assalamu'alaikumwrwb

""."Tidak lama lagi manusia akan mengalami satu zaman yang pada waktu itu Islam
hanyalah tinggal nama dan Qur'an hanyalah tinggal huruf-hurufnyasaja;
mesjid-mesjid sangatlah diramaikan orang-orang akan tetapi sunyi(kosong) dari
petunjuk; ulama-ulama mereka adalah seburuk-buruknya mahluk yang ada di bawah
langit ini. Dari mereka itulah keluar fitnah-fitnah, yang akan kembali kepada
mereka sendiri. (Hadits: Al-Baihaki & Ali bin Abi Tholib; Misykat halaman 38)."
""
===================================================================
1.Ulama2 yang menzolimi dan menindas segolongan umat Islam atau Minoritas adalah
seburuk buruk manusia di kolongan Bumi ini.

Masih banyak orang berpendapat bahwa kaum yang banyak itu adalah yang benar dlm
berkeyakinan,sesungguhnya ALLAH sudah memperingatkan;

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta [terhadap Allah][3].
(116) Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang
mendapat petunjuk. QS 6:(117)

2.Dulu ulama2 Wahabi_salafy di Universitas Al azhar TIDAK berani mengatkan bahwa
Syiah itu adalah ISLAM. Sekarang dgn mempunyai ilmu yg lebih luas, maka sudah
banyak ulama2 Al azhar yang BERANI mengatakan bahwa Syiah itu adalah 100% Islam,
termasuk Ahmadiyah.
Sesuai dengan DEFINISI ISLAM menurut ALLAH yang menurunkan Agama.

3.Jadi walaupun Ulama2 Ahli Ahmadiyah mengakui masih ada nabi, tidaklah berarti
mereka keluar dari Islam. Mereka TETAP ISLAM

4. Tuduhan2 yang mengatakan bahwa Syiah dan Ahmadiyah itu adalah antek2 yahudi
dan Barat..itu adalah FITNAH belaka saja. Orang2 Barat itu lebih manusiawi dari
orang2 Arab2. Kerajaan Inggeris melindungi Ahmadiyah dari penzoliman ulama2
Wahabi_salafy di Pakistan...begitu pula SYiah dulunya. DI Barat semua agama di
lindungi oleh karena itu Ahmadiyha dapat exist di Barat.
Jadi orang2 atau golongan2 Islam yg memfitnah itu adalah golongan yg tidak
beradap. Itulah manusia2 yg terburukm di kolongan Bumi ini.
(Hadist).

5.Ulama2 Islam yang mengeluarkan FITNAH dari mulutnya kod sauadara2nya adalah
Manusia2 yang terburuk di bumi ini. Dari mulutnya keluar kata kata yang
kasar,fitnah dan perbuatan2 kekerasan.

Jadi hati hatilah dgn ulama2 tersebut.semoga kita terhindar dari kutukan ALLAH
nantinya seperti terjadi di pakistan

Wassalam


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, Abbas Amin <abas_amin08@...> wrote:
>
> Saya secara pribadi tak mengharapkan "ahnadiyyah" di pojokkan di Indonesia
> ini; tapi mengharap atau tidak; ternyata hal tersebut sudah terjadi ?
> Dan itu adalah pukulan berat buat yang memegang prinsip pluralisme.
>
> Apa masalah sebenarnya dari Agama Ahmadiyah ini ?
> Supaya JELAS kita sebutkan dulu klaim Ahmadiyah; ahmadiyah mengaku
> agama mereka Islam; dan kitabnya Al Qur_an juga ?! Jadi lengkapnya Islam
Ahmadiyah.
> Tapi seperti kita ketahui, pada Umumnya Umat Islam yakin bahwa tak ada Nabi
lagi
> setelah Muhammad SAW. Tiba2 muncul Mirza Ghulam Akhmad yang mengaku
> Nabi lagi setelah Nabi Muhammad; dan claim tersebut mendapat pengakuan yang
> jumlahnya cukup besar; terbukti Umat Ahmadiyah banyak sekali; dan akhirnya
> malah mendunia !
> Syahadat mereka mestinya adalah Tiada Tuhan selain Allah dan Mirza Ghulam
> Akhmad adalah Utusan Allah. Itulah yang terjadi.
>
> Sebenarnya bisa saja kita harap nafsi2; tapi ternyata kalau di Indonesia
nafsi2 itu tidak
> bisa bgitu saja; karena apa ? Karena Claim khatamal Nabiyyin buat Nabi adalah
suatu
> PRINSIP yang tak bisa ditawar ; bagi beberapa kelompok Islam. Dan entah
kenapa;
> kali ini Pemerintah Indonesia ikut campur mendorong memojokkan Ahmadiyyah.
>
> Dengan demikian jelas Akhmadiyyahpun akan berusaha untuk melawan hal tersebut;
> paling tidak secara kata kata ! Mereka punya dalih2 untuk mengatakan bahwa
turunnya Wahyu belum tertutup dlsb.
> Apa keberatannya golongan Islam di Indonesia terhadap Ahmadiyah ? Keberatannya
adalah menyebut diri ISLAM, padahal Nabinya sudah bukan Nabi Muhammad lagi !
> Coba saja menyebut diri Agama Akhmadiyah; tak usah pake embel2 ISLAM !
> Itulah yang diminta golongan yang memojokkan Akhmadiyyah.
>
> Tapi kita tak tahu persisnya kenapa Pemerintah yang biasanya pluralis, bisa
tiba2
> ikut memojokikan Ahmadiyah. ??? Disinilah dalam point inilah saya benar2 buta.
> Apakah ada konflik politik antara orang2 ahmadiyah dengan "oknum" pemerintah ?
> Inilah saya tidak tahu persisnya.
>
> Apa yang diajukan sebagai BAHAN diskusi oleh Suryawan; yang DIDUKUNG dengan
SANGAT FANATIK oleh Alatif yang sering nyeleneh, adalah mengenai Penutup para
> NABI ! Inilah bahan diskusi atau TOPIKNYA !
> Padahal itu sudah JELAS sudah PRINSIP keyakinan yang tak bisa diganggu gugat !
> Artinya tak usah didiskudikan lagi; karena sudah FINAL !
> Hanya akan buang2 tempo saja !
>
> Dua pihak akan bersikukugh pada pendirian masing2 !
> Jadi buat apa didiskusikan ? Ini sudah pada keyakinan masing2 !?
>
> Jadi cobalah BIKIN topik yang agak greget !
>
> Jadi Alatif jangan asal TUDUH bahwa kami golongan MUSLIM tak mau BERDEBAT !
> Buat apa kalau soal keimanan ? coba cari topik lain !
> Dan katanya yang tak mau berdebat adalah fundamentalis !!!!!
> TUDUHAN PALING GOBLOKKKK yang saya tahu sampai saat ini.
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





[Non-text portions of this message have been removed]

#138469 From: "abdul" <latifabdul777@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 11:42 am
Subject: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
latifabdul777
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Alatif Respond

1.Islam itu adalah satu,semenjak Rasul wafat, mulai Islam terpecah belah.Itu
sudah menjadi sunatullah..tidak masalah..kalau ada golongan Islam tdk ikut
shalat dgn golongan lain....tapi tetap bersahabat,saudara2 seiman dan Islam.Ini
yang HARUS di jaga sebagai seorang Islam sejati.

Yang selalu membuat umat Islam ganas,kasar, dan zolimi adalah golongan Yang
Banyak...yang mengharamkan golongan Reformis,minoritas
begitupun umat Nasarani..dimana gol Katolik menindas Protestan..

Itulah yang terjadi di dalam umat Islam sekarang ini,dimana gol Islam
Fundamentalis(status quo) yang berpikir sempit, takut bersaing, takut berdialog
dan berdebat...Namun golongan Minoritas tidak akan mengalah ALLAH akan
menolongnya Insya ALLAH...

Kasih Sayang dari ALLAH dan pemaaf akan mengalahkan kekerasan dan kebencian.

Wasasalam



--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Lina" <linadahlan@...> wrote:
>
> Assalamu'alaikum ustadz Muiz...:-),
> Please tell me deh, menurut ustadz Muiz sendiri sapa sih yang eksklusip?
>
> wassalam,
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Abdul Muiz" <muizof@> wrote:
> >
> > sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini, dan
topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi sesudah
Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni dengan
akhmadiyah.
> >
> > yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam, baik
kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak pernah mau
dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
> >
> > Salam
> > Abdul Mu'iz
> >
> > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@> wrote:
> > >
> > > Lihat di bawah kajiannya.
> > >
> > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
> > >
> > > > ***
> > > >
> > > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
> > >
> > > Benar. Ini buktinya:
> > >
> > > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
> > >
> > > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
> > >
> > > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah yang
paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau s.a.w.
tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir, yaitu
tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang biasa
dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
> > >
> > > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
> > >
> > > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun
Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah
Rasulullah s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para
khalifah rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
> > >
> > > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
> > >
> > > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] –
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam –
bukan berasal dari umat non-Islam.
> > >
> > > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
> > >
> > > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
> > >
> > > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
> > >
> > > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
> > >
> > > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah
menulis:
> > >
> > > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan
nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
> > >
> > > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
> > >
> > > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
> > >
> > > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
> > >
> > > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena
yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari'at
beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
> > >
> > > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
> > >
> > > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan
ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia."
(Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
> > >
> > > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
> > >
> > > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi,
maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya
Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
> > >
> > > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa nabiya
ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan oleh Hz.
Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni tidak
ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi yang
sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
> > >
> > > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi
yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
> > >
> > > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala
melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di
tiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam,
yang dibawa oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi
nabi yang akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut
telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti
kalimat "saya adalah penutup nabi-nabi."
> > >
> > > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
> > >
> > > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah
nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
> > >
> > > >  ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
> > >
> > > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru
yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
> > >
> > > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
> > >
> > > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang yang
menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
> > >
> > > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat
r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan
"laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
> > >
> > > >
> > > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
> > >
> > > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya
sudah di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
> > >
> > > Salaam,
> > > MAS
> > >
> >
>

#138468 From: "abdul" <latifabdul777@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 11:28 am
Subject: Re: Ahmadiyah
latifabdul777
Offline Offline
Send Email Send Email
 
alatif Respond'
Assalamu'alaikumwrwb

""."Tidak lama lagi manusia akan mengalami satu zaman yang pada waktu itu Islam
hanyalah tinggal nama dan Qur'an hanyalah tinggal huruf-hurufnyasaja;
mesjid-mesjid sangatlah diramaikan orang-orang akan tetapi sunyi(kosong) dari
petunjuk; ulama-ulama mereka adalah seburuk-buruknya mahluk yang ada di bawah
langit ini. Dari mereka itulah keluar fitnah-fitnah, yang akan kembali kepada
mereka sendiri. (Hadits: Al-Baihaki & Ali bin Abi Tholib; Misykat halaman 38)."
""
===================================================================
1.Ulama2 yang menzolimi dan menindas segolongan umat Islam atau Minoritas adalah
seburuk buruk manusia di kolongan Bumi ini.

Masih banyak orang berpendapat bahwa kaum yang banyak itu adalah yang benar dlm
berkeyakinan,sesungguhnya ALLAH sudah memperingatkan;

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta [terhadap Allah][3].
(116) Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang
mendapat petunjuk. QS 6:(117)

2.Dulu ulama2 Wahabi_salafy di Universitas Al azhar TIDAK berani mengatkan bahwa
Syiah itu adalah ISLAM. Sekarang dgn mempunyai ilmu yg lebih luas, maka sudah
banyak ulama2 Al azhar yang BERANI mengatakan bahwa Syiah itu adalah 100% Islam,
termasuk Ahmadiyah.
Sesuai dengan DEFINISI ISLAM menurut ALLAH yang menurunkan Agama.

3.Jadi walaupun Ulama2 Ahli Ahmadiyah mengakui masih ada nabi, tidaklah berarti
mereka keluar dari Islam. Mereka TETAP ISLAM

4. Tuduhan2 yang mengatakan bahwa Syiah dan Ahmadiyah itu adalah antek2 yahudi
dan Barat..itu adalah FITNAH belaka saja. Orang2 Barat itu lebih manusiawi dari
orang2 Arab2. Kerajaan Inggeris melindungi Ahmadiyah dari penzoliman ulama2
Wahabi_salafy di Pakistan...begitu pula SYiah dulunya. DI Barat semua agama di
lindungi oleh karena itu Ahmadiyha dapat exist di Barat.
Jadi orang2 atau golongan2 Islam yg memfitnah itu adalah golongan yg tidak
beradap. Itulah manusia2 yg terburukm di kolongan Bumi ini.
(Hadist).

5.Ulama2 Islam yang mengeluarkan FITNAH dari mulutnya kod sauadara2nya adalah
Manusia2 yang terburuk di bumi ini. Dari mulutnya keluar kata kata yang
kasar,fitnah dan perbuatan2 kekerasan.

Jadi hati hatilah dgn ulama2 tersebut.semoga kita terhindar dari kutukan ALLAH
nantinya seperti terjadi di pakistan

Wassalam


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, Abbas Amin <abas_amin08@...> wrote:
>
> Saya secara pribadi tak mengharapkan "ahnadiyyah" di pojokkan di Indonesia
> ini; tapi mengharap atau tidak; ternyata hal tersebut sudah terjadi ?
> Dan itu adalah pukulan berat buat yang memegang prinsip pluralisme.
>
> Apa masalah sebenarnya dari Agama Ahmadiyah ini ?
> Supaya JELAS kita sebutkan dulu klaim Ahmadiyah; ahmadiyah mengaku
> agama mereka Islam; dan kitabnya Al Qur_an juga ?! Jadi lengkapnya Islam
Ahmadiyah.
> Tapi seperti kita ketahui, pada Umumnya Umat Islam yakin bahwa tak ada Nabi
lagi
> setelah Muhammad SAW. Tiba2 muncul Mirza Ghulam Akhmad yang mengaku
> Nabi lagi setelah Nabi Muhammad; dan claim tersebut mendapat pengakuan yang
> jumlahnya cukup besar; terbukti Umat Ahmadiyah banyak sekali; dan akhirnya
> malah mendunia !
> Syahadat mereka mestinya adalah Tiada Tuhan selain Allah dan Mirza Ghulam
> Akhmad adalah Utusan Allah. Itulah yang terjadi.
>
> Sebenarnya bisa saja kita harap nafsi2; tapi ternyata kalau di Indonesia
nafsi2 itu tidak
> bisa bgitu saja; karena apa ? Karena Claim khatamal Nabiyyin buat Nabi adalah
suatu
> PRINSIP yang tak bisa ditawar ; bagi beberapa kelompok Islam. Dan entah
kenapa;
> kali ini Pemerintah Indonesia ikut campur mendorong memojokkan Ahmadiyyah.
>
> Dengan demikian jelas Akhmadiyyahpun akan berusaha untuk melawan hal tersebut;
> paling tidak secara kata kata ! Mereka punya dalih2 untuk mengatakan bahwa
turunnya Wahyu belum tertutup dlsb.
> Apa keberatannya golongan Islam di Indonesia terhadap Ahmadiyah ? Keberatannya
adalah menyebut diri ISLAM, padahal Nabinya sudah bukan Nabi Muhammad lagi !
> Coba saja menyebut diri Agama Akhmadiyah; tak usah pake embel2 ISLAM !
> Itulah yang diminta golongan yang memojokkan Akhmadiyyah.
>
> Tapi kita tak tahu persisnya kenapa Pemerintah yang biasanya pluralis, bisa
tiba2
> ikut memojokikan Ahmadiyah. ??? Disinilah dalam point inilah saya benar2 buta.
> Apakah ada konflik politik antara orang2 ahmadiyah dengan "oknum" pemerintah ?
> Inilah saya tidak tahu persisnya.
>
> Apa yang diajukan sebagai BAHAN diskusi oleh Suryawan; yang DIDUKUNG dengan
SANGAT FANATIK oleh Alatif yang sering nyeleneh, adalah mengenai Penutup para
> NABI ! Inilah bahan diskusi atau TOPIKNYA !
> Padahal itu sudah JELAS sudah PRINSIP keyakinan yang tak bisa diganggu gugat !
> Artinya tak usah didiskudikan lagi; karena sudah FINAL !
> Hanya akan buang2 tempo saja !
>
> Dua pihak akan bersikukugh pada pendirian masing2 !
> Jadi buat apa didiskusikan ? Ini sudah pada keyakinan masing2 !?
>
> Jadi cobalah BIKIN topik yang agak greget !
>
> Jadi Alatif jangan asal TUDUH bahwa kami golongan MUSLIM tak mau BERDEBAT !
> Buat apa kalau soal keimanan ? coba cari topik lain !
> Dan katanya yang tak mau berdebat adalah fundamentalis !!!!!
> TUDUHAN PALING GOBLOKKKK yang saya tahu sampai saat ini.
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

#138467 From: "Lina" <linadahlan@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 9:24 am
Subject: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
linadahlan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum ustadz Muiz...:-),
Please tell me deh, menurut ustadz Muiz sendiri sapa sih yang eksklusip?

wassalam,

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Abdul Muiz" <muizof@...> wrote:
>
> sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini, dan
topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi sesudah
Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni dengan
akhmadiyah.
>
> yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam, baik
kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak pernah mau
dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
>
> Salam
> Abdul Mu'iz
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@> wrote:
> >
> > Lihat di bawah kajiannya.
> >
> > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
> >
> > > ***
> > >
> > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
> >
> > Benar. Ini buktinya:
> >
> > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
> >
> > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
> >
> > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah yang
paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau s.a.w.
tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir, yaitu
tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang biasa
dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
> >
> > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
> >
> > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun Hadits
lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah Rasulullah
s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para khalifah
rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
> >
> > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
> >
> > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] –
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam –
bukan berasal dari umat non-Islam.
> >
> > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
> >
> > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
> >
> > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
> >
> > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
> >
> > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis:
> >
> > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan nubuwat
sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
> >
> > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
> >
> > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
> >
> > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
> >
> > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena
yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari'at
beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
> >
> > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
> >
> > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada
lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia." (Tafhimati
Ilahiyyah, hlm. 53) .
> >
> > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
> >
> > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka
mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa,
Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
> >
> > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa nabiya
ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan oleh Hz.
Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni tidak
ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi yang
sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
> >
> > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang
datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
> >
> > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala melalui
para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di tiap masa
dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam, yang dibawa
oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang
akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut telah
sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat
"saya adalah penutup nabi-nabi."
> >
> > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
> >
> > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah
nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
> >
> > >  ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
> >
> > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru
yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
> >
> > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
> >
> > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang yang
menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
> >
> > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat
r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan
"laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
> >
> > >
> > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
> >
> > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya sudah
di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
> >
> > Salaam,
> > MAS
> >
>

#138466 From: "Lestyaningsih, Tri Budi (Ning)" <ninghdw@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 8:29 am
Subject: RE: Re: Maklumat dari HMNA
ninghdw@...
Send Email Send Email
 
Kata Rasul, salah satu yang mematikan hati adalah "berdebat dengan orang
yang bodoh : kamu berkata dan ia berkata, tetapi tetap tidak
mengembalikan kepada kebaikan".



Mohon maaf. Saya tidak berani mengatakan ada yang bodoh dalam perdebatan
yang sedang terjadi di sini. Tapi terjadi yang ini : "yang satu berkata,
yang lainnya pun berkata, tidak mengembalikan pada kebaikan". Jadi
memang sebaiknya perdebatan ini dihentikan saja. Saya rasa, itu yang
berusaha dilakukan oleh Abah HMNA.



Masing-masing tentu bisa meneruskan berceritera di jalurnya
sendiri-sendiri.. dan jamaah bisa menyimak dan menilai atau memberi
tanggapan sampai ke titik kesimpulan atau sampai ke titik terjadi
"berdebat dengan orang bodoh" seperti yang diceriterakan di atas
(regardless yang mana yang bodoh), sehingga perdebatan perlu diakhiri
lagi.



Wallahua'lam bishowab.

Wassalaam,

-Ning





From: wanita-muslimah@yahoogroups.com
[mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com] On Behalf Of alatif25
Sent: Thursday, January 07, 2010 8:54 AM
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: [wanita-muslimah] Re: Maklumat dari HMNA





alatif respond
Proverb nabi Daud;

Hanya orang2 bodoh dan panakut saja yang tidak mau berdiskusi
dan bedebat terbuka.....

Itulah golongan2 Islam fundamentalis pemaham Islam taliban

Ketahuilah bahwa tempat ini adalah tempat berdiskusi,berbagi ilmu dgn
niat
mencari kebanaran;

Wassalam

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com
<mailto:wanita-muslimah%40yahoogroups.com> , "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@...> wrote:
>
> Maklumat dari HMNA:
> Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: tidak
menggubris monkey busness from missionaris agama ahmadiyah qadiyan =>
MAS, nohetto !!! A'uwzdu biLlahimina sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy
hadza, wastaghfirhu innahu huwa lGhafuwru rRahiym.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





[Non-text portions of this message have been removed]

#138465 From: Abbas Amin <abas_amin08@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 8:19 am
Subject: Ahmadiyah
abas_amin08
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Saya secara pribadi tak mengharapkan "ahnadiyyah" di pojokkan di Indonesia
ini; tapi mengharap atau tidak; ternyata hal tersebut sudah terjadi ?
Dan itu adalah pukulan berat buat yang memegang prinsip pluralisme.

Apa masalah sebenarnya dari Agama Ahmadiyah ini ?
Supaya JELAS kita sebutkan dulu klaim Ahmadiyah; ahmadiyah mengaku
agama mereka Islam; dan kitabnya Al Qur_an juga ?! Jadi lengkapnya Islam
Ahmadiyah.
Tapi seperti kita ketahui, pada Umumnya Umat Islam yakin bahwa tak ada Nabi lagi
setelah Muhammad SAW. Tiba2 muncul Mirza Ghulam Akhmad yang mengaku
Nabi lagi setelah Nabi Muhammad; dan claim tersebut mendapat pengakuan yang
jumlahnya cukup besar; terbukti Umat Ahmadiyah banyak sekali; dan akhirnya
malah mendunia !
Syahadat mereka mestinya adalah Tiada Tuhan selain Allah dan Mirza Ghulam
Akhmad adalah Utusan Allah. Itulah yang terjadi.

Sebenarnya bisa saja kita harap nafsi2; tapi ternyata kalau di Indonesia nafsi2
itu tidak
bisa bgitu saja; karena apa ? Karena Claim khatamal Nabiyyin buat Nabi adalah
suatu
PRINSIP yang tak bisa ditawar ; bagi beberapa kelompok Islam. Dan entah kenapa;
kali ini Pemerintah Indonesia ikut campur mendorong memojokkan Ahmadiyyah.

Dengan demikian jelas Akhmadiyyahpun akan berusaha untuk melawan hal tersebut;
paling tidak secara kata kata ! Mereka punya dalih2 untuk mengatakan bahwa
turunnya Wahyu belum tertutup dlsb.
Apa keberatannya golongan Islam di Indonesia terhadap Ahmadiyah ? Keberatannya
adalah menyebut diri ISLAM, padahal Nabinya sudah bukan Nabi Muhammad lagi !
Coba saja menyebut diri Agama Akhmadiyah; tak usah pake embel2 ISLAM !
Itulah yang diminta golongan yang memojokkan Akhmadiyyah.

Tapi kita tak tahu persisnya kenapa Pemerintah yang biasanya pluralis, bisa
tiba2
ikut memojokikan Ahmadiyah. ??? Disinilah dalam point inilah saya benar2 buta.
Apakah ada konflik politik antara orang2 ahmadiyah dengan "oknum" pemerintah ?
Inilah saya tidak tahu persisnya.

Apa yang diajukan sebagai BAHAN diskusi oleh Suryawan; yang DIDUKUNG dengan
SANGAT FANATIK oleh Alatif yang sering nyeleneh, adalah mengenai Penutup para
NABI ! Inilah bahan diskusi atau TOPIKNYA !
Padahal itu sudah JELAS sudah PRINSIP keyakinan yang tak bisa diganggu gugat !
Artinya tak usah didiskudikan lagi; karena sudah FINAL !
Hanya akan buang2 tempo saja !

Dua pihak akan bersikukugh pada pendirian masing2 !
Jadi buat apa didiskusikan ? Ini sudah pada keyakinan masing2 !?

Jadi cobalah BIKIN topik yang agak greget !

Jadi Alatif jangan asal TUDUH bahwa kami golongan MUSLIM tak mau BERDEBAT !
Buat apa kalau soal keimanan ? coba cari topik lain !
Dan katanya yang tak mau berdebat adalah fundamentalis !!!!!
TUDUHAN PALING GOBLOKKKK yang saya tahu sampai saat ini.






[Non-text portions of this message have been removed]

#138464 From: "alatif25" <alatif25@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 4:21 am
Subject: Al-Azhar senior scholar, Sheikh Ashour; Syiah dan Ahmadiyah adalah 100% Islam;
alatif25
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Al-Azhar senior scholar, Sheikh Ashour,berfatwa bahwa definisi Islam terdapat
dalam Al Quran;

"there is no God but Allah and prophet Muhammad (pbuh) is the messenger of God"

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,
yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan [yang
berhak disembah] selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah
kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan
kepada kalimat-kalimat-Nya [kitab-kitab-Nya] dan ikutilah dia, supaya kamu
mendapat petunjuk". QS 7:(158)

Jadi siapa2 saja yang telah mengakui; tiada Tuhan kecuali ALLAH Yang maha Esa,
dan Muhammad, adalah pesuruh ALLAH,maka dia adalah Islam dan Muslim 100%

Sedangkan perbedaan2 yang terjadi antara ulama2, biarlah ALLAH yang menghakimi
siapa yang benar dan siapa yang sesat.

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat
dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat
petunjuk. QS 6:(117)

Saya ajak anda semua di WW ini untuk mengakui bahwa saudara2 kita islam syiah
dan ahmadiyah adalah 100% saudara2 seiman dan muslim.

Mari kita berlomba lomba utk berbuat kebajikan untuk agama dan bangsa
Mari kita jauhi tindakan2 keji atau kekerasan terhadapt saudara2 kita
seiman,semoga ALLAH memberkahi bangsa Indonesia ini Amien

Wassalam


SILAKAN BACA FATWA ULAMA SENIOR AL AZHAR MESIR;

Al-Azhar senior scholar refused to describe Shia as Infidel

Al-Azhar senior scholar, Sheikh Ashour, rejected the claim of Sheikh Yaqub based
on "Shias are infidel" and stressed that Shias are not infidel and they are not
going out of Islam.

Al-Azhar senior scholar, Sheikh Ashour, rejected the claim of Sheikh Yaqub based
on "Shias are infidel" and stressed that Shias are not infidel and they are not
going out of Islam.

According to Ahl ul-Bayt News Agency (ABNA.ir), In a TV program "Cairo Today",
quarrel was erupted between Mahmoud Ashour, and Sheikh Abdul Rahman Al-Yacub,
senior scholars of Al-Azhar, about Shia doctrine and their expansion in Egypt.

Yacub called Shia as Muslims who are out of Islam because they are allegedly
insulting the Sahaba and believe that Ali ibn Abi Talib (a.s) is the first
succession of Prophet Muhammad (pbuh).

He said: "there are fundamental differences between Shia sand Sunnis. By
Observing the Shia TV program we can easily understand the deep differences
between Shia and Sunni.

On the other hand, Sheikh Ashour said that Shias were not going out of Islam,
because after reciting the word "there is no God but Allah" all of them are
Muslim and belong to Islam.

He pointed out that the Shias differ from Sunnis in the jurisprudence, but they
are agree in the word "there is no God but Allah and prophet Muhammad (pbuh) is
the messenger of God", as well as the holy Quran is the book of God and the
miracle of the Messenger of Allah and Kaaba is our Qiblah, so they are not
infidels even if they imprecate Sahaba.

He pointed out that the Shias may have some differences between themselves, as
well as Sunnis, but we should not imprecate each other, because this is a big
plot against Muslims which planned by enemies and unbelievers.


He added: Egyptians fond the household of Prophet (pbut), but they are not Shia.
There is no horror because of converting some people to Shiite religion and it
doesn't mean in future we would encounter the wave of Shia thoughts.

#138463 From: "Saeful UYun" <budksunda@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 3:59 am
Subject: Re: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
sh4yun
Offline Offline
Send Email Send Email
 
assalamualaikum
terlebih saya mohon maaf, apa  makna
...karena mereka kurang ilmu selainn ilmu agama yg kolot,traditional tdk di
dukung dgn ilmu2 social lain2nya..

terlalu banyak hal yang bisa diperdebatkan dalam kehidupan majemuk ini, jujur
saya ingin berdiskusi dengaan kedamaian atn bijak au dengan canda tawa.
insya allah akan lebih nikmat dan enjoy.

   ----- Original Message -----
   From: alatif25
   To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
   Sent: Thursday, January 07, 2010 11:03 AM
   Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3



   alatif respond;
   Saudara2ku seiman yang brebahagia.

   Umat Islam yg terdiri dari bermacam penafsiran Al quran,sebagai masarakat yg
dewasa dan sudah merdeka lebihkurang 65 tahun dr penjajah,sudah seyokyanya
glongan2 yg berbeda2 berdebat dan berdiskusi,sebagaimana di lakukan di masarakat
amerika untuk mencari kebenaran dan menambah ilmu.

   Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling
berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur
antara para pihak yang bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata
"sesat, agen zionis, agen Barat" bukanlah cara kaum yang beradab. Mari kita sama
lepaskan prasangka lebih dulu, lalu kita adu argumen dengan menjadikan al-Qur'an
sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu kita gunakan sumber-sumber lain, baik
yang ditulis oleh ulama klasik maupun yang kontemporer sebagai pelengkap
rujukan.

   Kita lihat Obama dan John Mc Cain berdebat selama 1 bulan, tetap menjaga
perhabatan.Serahkan kpd rakyat siapa ilmunya yang terbaik utk mensejahterakan
rakyat,itulah yg di pilih. Bagus bukan?

   Sayangnya golongan2 islam fundamentalis kita di Indonesia tidak bersedia
berdebat...karena mereka kurang ilmu selainn ilmu agama yg kolot,traditional tdk
di dukung dgn ilmu2 social lain2nya..

   itulah yang membuat mereka lebih suka melakukan kekerasan dan melarang
golongan2 lain.

   Mari kita kembangkan di masarakat kita diskusi2 dan debat2 baik agama maupun
ilmu2 lain2nya.

   Wassalam

   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Abdul Muiz" <muizof@...> wrote:
   >
   > saya yakin untuk tahap awal kalau ustadz Ary Setijadi Prihatmanto jadi imam
shalat berjamaah makmumnya pak HMNA, pak MAS Suryawan, pak Abdul Latif dll
member millist WM sekalian temu muka dan kenalan di darat pasti ok deh, terus
dilanjut diskusi tatap muka/wajah pasti lebih seru. Tempat dan waktunya tinggal
diumumkan oleh Ustadz Ary atau moderator.
   >
   > Wassalam
   > Abdul Mu'iz
   >
   > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ary Setijadi Prihatmanto"
<ary.setijadi@> wrote:
   > >
   > > Very good point Ustadz Muiz...
   > > Hayooo.... siapa yang bilang yang lain gak pantas jadi imam? :-D
   > >
   > >
   > >
   > > ----- Original Message -----
   > > From: Abdul Muiz
   > > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
   > > Sent: Thursday, January 07, 2010 8:05 AM
   > > Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
   > >
   > >
   > >
   > > sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini,
dan topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi
sesudah Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni
dengan akhmadiyah.
   > >
   > > yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam,
baik kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak
pernah mau dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
   > >
   > > Salam
   > > Abdul Mu'iz
   > >
   > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@>
wrote:
   > > >
   > > > Lihat di bawah kajiannya.
   > > >
   > > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
   > > >
   > > > > ***
   > > > >
   > > > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
   > > >
   > > > Benar. Ini buktinya:
   > > >
   > > > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
   > > >
   > > > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
   > > >
   > > > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah
yang paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau
s.a.w. tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir,
yaitu tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang
biasa dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
   > > >
   > > > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
   > > >
   > > > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun
Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah
Rasulullah s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para
khalifah rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
   > > >
   > > > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
   > > >
   > > > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] -
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam -
bukan berasal dari umat non-Islam.
   > > >
   > > > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
   > > >
   > > > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
   > > >
   > > > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
   > > >
   > > > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
   > > >
   > > > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah
menulis:
   > > >
   > > > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan
nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
   > > >
   > > > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
   > > >
   > > > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
   > > >
   > > > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
   > > >
   > > > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku,
karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan
Syari'at beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
   > > >
   > > > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
   > > >
   > > > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan
ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia."
(Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
   > > >
   > > > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
   > > >
   > > > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi,
maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya
Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
   > > >
   > > > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa
nabiya ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan
oleh Hz. Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni
tidak ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi
yang sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
   > > >
   > > > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi
yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
   > > >
   > > > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala
melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di
tiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam,
yang dibawa oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi
nabi yang akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut
telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti
kalimat "saya adalah penutup nabi-nabi."
   > > >
   > > > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
   > > >
   > > > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah
nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
   > > >
   > > > > ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
   > > >
   > > > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru
yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
   > > >
   > > > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
   > > >
   > > > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang
yang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
   > > >
   > > > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat
r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan
"laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
   > > >
   > > > >
   > > > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
   > > >
   > > > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya
sudah di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
   > > >
   > > > Salaam,
   > > > MAS
   > > >
   > >
   > >
   > >
   > >
   > >
   > > [Non-text portions of this message have been removed]
   > >
   >





[Non-text portions of this message have been removed]

#138462 From: "alatif25" <alatif25@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 4:03 am
Subject: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
alatif25
Offline Offline
Send Email Send Email
 
alatif respond;
Saudara2ku seiman yang brebahagia.

Umat Islam yg terdiri dari bermacam penafsiran Al quran,sebagai masarakat yg
dewasa dan sudah merdeka lebihkurang 65 tahun dr penjajah,sudah seyokyanya
glongan2 yg berbeda2 berdebat dan berdiskusi,sebagaimana di lakukan di masarakat
amerika untuk mencari kebenaran dan menambah ilmu.

Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling
berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur
antara para pihak yang bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata
"sesat, agen zionis, agen Barat" bukanlah cara kaum yang beradab. Mari kita sama
lepaskan prasangka lebih dulu, lalu kita adu argumen dengan menjadikan al-Qur'an
sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu kita gunakan sumber-sumber lain, baik
yang ditulis oleh ulama klasik maupun yang kontemporer sebagai pelengkap
rujukan.

Kita lihat Obama dan John Mc Cain berdebat selama 1 bulan, tetap menjaga
perhabatan.Serahkan kpd rakyat siapa ilmunya yang terbaik utk mensejahterakan
rakyat,itulah yg di pilih. Bagus bukan?

Sayangnya golongan2 islam fundamentalis kita di Indonesia tidak bersedia
berdebat...karena mereka kurang ilmu selainn ilmu agama yg kolot,traditional tdk
di dukung dgn ilmu2 social lain2nya..

itulah yang membuat mereka lebih suka melakukan kekerasan dan melarang golongan2
lain.

Mari kita kembangkan di masarakat kita diskusi2 dan debat2 baik agama maupun
ilmu2 lain2nya.

Wassalam



--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Abdul Muiz" <muizof@...> wrote:
>
> saya yakin untuk tahap awal kalau ustadz Ary Setijadi Prihatmanto jadi imam
shalat berjamaah makmumnya pak HMNA, pak MAS Suryawan, pak Abdul Latif dll
member millist WM sekalian temu muka dan kenalan di darat pasti ok deh, terus
dilanjut diskusi tatap muka/wajah pasti lebih seru. Tempat dan waktunya tinggal
diumumkan oleh Ustadz Ary atau moderator.
>
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ary Setijadi Prihatmanto"
<ary.setijadi@> wrote:
> >
> > Very good point Ustadz Muiz...
> > Hayooo.... siapa yang bilang yang lain gak pantas jadi imam? :-D
> >
> >
> >
> >   ----- Original Message -----
> >   From: Abdul Muiz
> >   To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> >   Sent: Thursday, January 07, 2010 8:05 AM
> >   Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
> >
> >
> >
> >   sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini,
dan topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi
sesudah Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni
dengan akhmadiyah.
> >
> >   yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam,
baik kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak
pernah mau dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
> >
> >   Salam
> >   Abdul Mu'iz
> >
> >   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@>
wrote:
> >   >
> >   > Lihat di bawah kajiannya.
> >   >
> >   > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
> >   >
> >   > > ***
> >   > >
> >   > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
> >   >
> >   > Benar. Ini buktinya:
> >   >
> >   > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
> >   >
> >   > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
> >   >
> >   > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah
yang paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau
s.a.w. tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir,
yaitu tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang
biasa dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
> >   >
> >   > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
> >   >
> >   > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun
Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah
Rasulullah s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para
khalifah rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
> >   >
> >   > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
> >   >
> >   > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] -
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam -
bukan berasal dari umat non-Islam.
> >   >
> >   > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
> >   >
> >   > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
> >   >
> >   > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
> >   >
> >   > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
> >   >
> >   > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah
menulis:
> >   >
> >   > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan
nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
> >   >
> >   > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
> >   >
> >   > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
> >   >
> >   > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
> >   >
> >   > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku,
karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan
Syari'at beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
> >   >
> >   > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
> >   >
> >   > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan
ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia."
(Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
> >   >
> >   > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
> >   >
> >   > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi,
maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya
Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
> >   >
> >   > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa
nabiya ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan
oleh Hz. Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni
tidak ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi
yang sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
> >   >
> >   > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi
yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
> >   >
> >   > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala
melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di
tiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam,
yang dibawa oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi
nabi yang akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut
telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti
kalimat "saya adalah penutup nabi-nabi."
> >   >
> >   > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
> >   >
> >   > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah
nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
> >   >
> >   > > ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
> >   >
> >   > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru
yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
> >   >
> >   > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
> >   >
> >   > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang
yang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
> >   >
> >   > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat
r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan
"laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
> >   >
> >   > >
> >   > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
> >   >
> >   > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya
sudah di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
> >   >
> >   > Salaam,
> >   > MAS
> >   >
> >
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>

#138461 From: "Abdul Muiz" <muizof@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 2:28 am
Subject: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
muizof
Offline Offline
Send Email Send Email
 
saya yakin untuk tahap awal kalau ustadz Ary Setijadi Prihatmanto jadi imam
shalat berjamaah makmumnya pak HMNA, pak MAS Suryawan, pak Abdul Latif dll
member millist WM sekalian temu muka dan kenalan di darat pasti ok deh, terus
dilanjut diskusi tatap muka/wajah pasti lebih seru. Tempat dan waktunya tinggal
diumumkan oleh Ustadz Ary atau moderator.

Wassalam
Abdul Mu'iz

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ary Setijadi Prihatmanto"
<ary.setijadi@...> wrote:
>
> Very good point Ustadz Muiz...
> Hayooo.... siapa yang bilang yang lain gak pantas jadi imam? :-D
>
>
>
>   ----- Original Message -----
>   From: Abdul Muiz
>   To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
>   Sent: Thursday, January 07, 2010 8:05 AM
>   Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
>
>
>
>   sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini, dan
topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi sesudah
Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni dengan
akhmadiyah.
>
>   yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam, baik
kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak pernah mau
dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??
>
>   Salam
>   Abdul Mu'iz
>
>   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@> wrote:
>   >
>   > Lihat di bawah kajiannya.
>   >
>   > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
>   >
>   > > ***
>   > >
>   > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
>   >
>   > Benar. Ini buktinya:
>   >
>   > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
>   >
>   > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
>   >
>   > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah yang
paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau s.a.w.
tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir, yaitu
tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang biasa
dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
>   >
>   > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
>   >
>   > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun
Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah
Rasulullah s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para
khalifah rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
>   >
>   > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
>   >
>   > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] -
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam -
bukan berasal dari umat non-Islam.
>   >
>   > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
>   >
>   > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
>   >
>   > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
>   >
>   > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
>   >
>   > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah
menulis:
>   >
>   > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan
nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
>   >
>   > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
>   >
>   > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
>   >
>   > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
>   >
>   > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena
yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari'at
beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
>   >
>   > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
>   >
>   > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan
ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia."
(Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .
>   >
>   > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
>   >
>   > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi,
maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya
Isa, Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
>   >
>   > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa nabiya
ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan oleh Hz.
Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni tidak
ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi yang
sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
>   >
>   > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi
yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
>   >
>   > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala
melalui para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di
tiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam,
yang dibawa oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi
nabi yang akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut
telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti
kalimat "saya adalah penutup nabi-nabi."
>   >
>   > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
>   >
>   > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah
nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
>   >
>   > > ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
>   >
>   > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru
yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
>   >
>   > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
>   >
>   > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang yang
menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
>   >
>   > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat
r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan
"laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
>   >
>   > >
>   > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
>   >
>   > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya
sudah di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
>   >
>   > Salaam,
>   > MAS
>   >
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

#138460 From: "Ary Setijadi Prihatmanto" <ary.setijadi@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 2:06 am
Subject: Re: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
asetijadi2004
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Very good point Ustadz Muiz...
Hayooo.... siapa yang bilang yang lain gak pantas jadi imam? :-D



   ----- Original Message -----
   From: Abdul Muiz
   To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
   Sent: Thursday, January 07, 2010 8:05 AM
   Subject: [wanita-muslimah] Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3



   sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini, dan
topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi sesudah
Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni dengan
akhmadiyah.

   yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam, baik
kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak pernah mau
dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??

   Salam
   Abdul Mu'iz

   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@...> wrote:
   >
   > Lihat di bawah kajiannya.
   >
   > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
   >
   > > ***
   > >
   > > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
   >
   > Benar. Ini buktinya:
   >
   > Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
   >
   > Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
   >
   > Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah yang
paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau s.a.w.
tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir, yaitu
tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang biasa
dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
   >
   > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
   >
   > Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun Hadits
lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah Rasulullah
s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para khalifah
rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
   >
   > Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
   >
   > Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] -
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam -
bukan berasal dari umat non-Islam.
   >
   > Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
   >
   > ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan
ketinggian ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
   >
   > "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
   >
   > Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
   >
   > Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis:
   >
   > "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan nubuwat
sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
   >
   > Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
   >
   > "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
   >
   > Imam Thahir Al Gujrati berkata:
   >
   > "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena
yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari'at
beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
   >
   > Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
   >
   > "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada
lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia." (Tafhimati
Ilahiyyah, hlm. 53) .
   >
   > Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
   >
   > "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka
mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa,
Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
   >
   > Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa nabiya
ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan oleh Hz.
Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni tidak
ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi yang
sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
   >
   > > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang
datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
   >
   > Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala melalui
para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di tiap masa
dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam, yang dibawa
oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang
akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut telah
sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat
"saya adalah penutup nabi-nabi."
   >
   > Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
   >
   > Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah
nabi yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
   >
   > > ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
   >
   > Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa
ba'di hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang
serupa/sederajat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru
yang akan menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
   >
   > Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
   >
   > Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang yang
menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
   >
   > Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat,
mereka sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat
r.a. tidak ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan
"laa nabiya ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
   >
   > >
   > > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
   >
   > Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya sudah
di jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
   >
   > Salaam,
   > MAS
   >





[Non-text portions of this message have been removed]

#138459 From: "Abdul Muiz" <muizof@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 1:05 am
Subject: Re: HMNA dan kajian "Khaataman Nabiyyiin" 3
muizof
Offline Offline
Send Email Send Email
 
sudah terlalu sering dan berulang-ulang diskusi khaatamun nabiyyin ini, dan
topik Nabi Muhammad apakah nabi terakhir dalam arti tidak ada nabi lagi sesudah
Nabi Muhammad juga tidak ada titik temu antara pandangan islam sunni dengan
akhmadiyah.

yang menggelitik pertanyaan saya adalah kalau sama-sama mengaku islam, baik
kalangan sunni maupun akhmadiyah mengapa kalau shalat berjamaah tidak pernah mau
dalam satu barisan ?? siapa yang eksklusif ??

Salam
Abdul Mu'iz

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "ma_suryawan" <ma_suryawan@...> wrote:
>
> Lihat di bawah kajiannya.
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@> wrote:
>
> > ***
> >
> > Sebenarnya yang paling berhak memaknai Khaatamun Nabiyyin adalah Nabi
Muhammad SAW sendiri.
>
> Benar. Ini buktinya:
>
> Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah r.a.)
tercatat sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: "Ketika
Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau (s.a.w.) menshalatkan jenazahnya
dan berkata, "Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya
panjang, ia akan menjadi nabi yang benar." (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah
Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).
>
> Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat
"khaataman-nabiyyiin" diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau s.a.w.
mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian
setelah beliau s.a.w. menerima ayat "khaataman-nabiyyiin." Jika seandainya ayat
"khaataman-nabiyyiin" kemudian diartikan sebagai
"penutup/kesudahan/penghabisan/akhir" nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi
apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau
usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup
nabi-nabi.
>
> Jadi, amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan beliaulah yang
paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau s.a.w.
tidak mengungkapkan pengertian "khaatam" sebagai penutup atau terakhir, yaitu
tidak boleh ada nabi apa pun juga setelah beliau s.a.w. - seperti yang biasa
dkemukakan oleh kebanyakan orang Islam.
>
> > -- Rasulullah SAW bersabda: "Bani Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada
nabi yang akan datang sesudahku; hanya para khalifah yang akan menjadi
penerusku." (HR Bukhari)
>
> Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an Karim maupun Hadits
lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari'at baru setelah Rasulullah
s.a.w. dan sesudah wafatnya beliau s.a.w. diteruskan oleh para khalifah
rasulullah. Lihat kata "sayakunu khulafa" (akan ada khalifah-khalifah)
menunjukkan maksud "di belakang" atau "kemudian aku" itu adalah masa yang dekat,
karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat.
Jadi, setelah beliau s.a.w. wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.
>
> Tapi ingat, ditempat lain Nabi s.a.w. bersabda: "Akan terjadi nubuat
(kenabian) sampai waktu yang disukai Allah S.w.t., kemudian akan terjadi
khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah S.w.t.,
kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri".(Musnad
Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).
>
> Juga dalam Shahih Bukhari kita temukan sabda Rasulullah s.a.w. sebagai
berikut: "kaifa antum idza nazala ibn maryama fikum wa imamukum minkum" -
Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryam dari antara kamu dan
menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, bab nuzul isa bin maryam] –
Dari Hadits ini dapat kita temukan indikasi bahwa Isa ibn Maryam yang akan
datang adalah seorang pengikut Rasulullah s.a.w. dan berasal dari umat Islam –
bukan berasal dari umat non-Islam.
>
> Khusus mengenai "Tidak ada nabi sesudahku" lihat penjelasan ini:
>
> ummul mukminin, Hz. Aisyah r.a. yang terkenal karena kecerdasan dan ketinggian
ilmunya menyatakan agar orang Islam jangan mengatakan "tidak ada nabi
setelahnya," namun katakanlah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
khaatamul-anbiya', lengkapnya sebagai berikut:
>
> "Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya', tetapi
jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba'dahu (tidak ada Nabi
sesudahnya)" (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)
>
> Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:
>
> Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis:
>
> "Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya risalah dan nubuwat
sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang
bertentangan dengan Syari'atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah
Syari'atku." (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra,
Mesir, jld II, hlm. 3)
>
> Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
>
> "Dan sabda Nabi s.a.w.: "tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah
maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari'at." (Al-Yawaqit
wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)
>
> Imam Thahir Al Gujrati berkata:
>
> "Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang
dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari'at
beliau." (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)
>
> Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata:
>
> "Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada
lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari'at untuk manusia." (Tafhimati
Ilahiyyah, hlm. 53) .
>
> Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
>
> "Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka
mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa,
Khidir, dan Ilyas 'alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat
Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah
Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari'at
beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w." (Maudhu'aat Kabiir, hlm. 69).
>
> Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi s.a.w.: "laa nabiya
ba'diy" (tidak ada nabi sesudahku) adalah seperti yang telah dijelaskan oleh Hz.
Shiddiqah Aisyah r.a. dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam, yakni tidak
ada lagi nabi yang akan datang membawa Syari'at baru, tidak ada lagi nabi yang
sama atau sederajat kedudukannya dengan Nabi Muhammad s.a.w., namun bukan
berarti tidak boleh ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu,
nabi yang datangnya setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang kedudukannya
di bawah Nabi Muhammad s.a.w., nabi zilli (bayangan) dan ummati (pengikut),
serta sepenuhnya patuh/taat/tunduk/mengikuti Syari'atnya Nabi Muhammad s.a.w.
yaitu Syari'at Islam.
>
> > -- Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang
datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi
dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum
dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi
keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari
lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir
dalam jajaran Nabi-nabi". (HR Bukhari)
>
> Bangunan yang dimaksud adalah Syari'at yang dibuat oleh Allah Ta'ala melalui
para utusan-Nya. Syari'at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun di tiap masa
dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari'at (Bangunan) Islam, yang dibawa
oleh Hz. Rasulullah s.a.w. (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang
akan membawa Syari'at baru, sebab bangunan indah (Syari'at) tersebut telah
sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat
"saya adalah penutup nabi-nabi."
>
> Jadi, jika Hadits tsb diinterpretasikan bahwa yang menjadi sebuah "batu
terakhir" itu adalah Nabi Muhammad s.a.w., maka itu merupakan suatu penghinaan
atas diri Nabi s.a.w. sendiri. Apakah beliau s.a.w. hanya seperti sebuah batu
saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika
dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi s.a.w. hanya
"sekedar batu bata terakhir" saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi
Muhammad s.a.w. jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari
malaikat sekalipun.
>
> Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau s.a.w. adalah nabi
yang terakhir membawa Syari'at. Tidak akan datang nabi lain yang membawa
Syari'at.
>
> >  ==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad(*), Saya
Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia
harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang
terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (HR Bukhari wa
Muslim).
>
> Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: " Anal 'aaqibu wal 'aqibul-ladziy laisa ba'di
hu nabiyyun" maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang serupa/sederajat
dengan Nabi Muhammad s.a.w. Nabi yang membawa Syari'at baru yang akan
menggantikan Syari'at Islam tidak dapat datang lagi.
>
> Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al-Qari
berkata: "Lahirnya ungkapan itu ('Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau
dari orang yang kemudian.
>
> Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa 'aqib ialah orang yang
menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.
>
> Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat, mereka
sudah mengerti apa arti "aqib" yang sebenarnya, sehingga para sahabat r.a. tidak
ada yang protes ketika Aisyah r.a. melarang orang untuk mengatakan "laa nabiya
ba'dahu" (Tidak ada nabi sesudahnya).
>
> >
> > Ahmadiyah Qadiyan justru mempergunakan ayat yang mengandung "Khaatamun
Nabiyyin" (33:40), sebagai pembenaran adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan
dengan demikian Ahmadiyah Qadiyan berkilah bahwa kenabian Ghulam Ahmad(**) tidak
bertentangan dengan Al Quran. Sedangkan seperti dituliskan di atas mengenai
Hadits di mana RasuluLlah SAW bersabda: "tidak ada nabi yang akan datang
sesudahku", Ahmadiyah Qadiyan berkilah dengan memplintir "nabi" menjadi "nabi
yang membawa syari'at", sehingga Hadits itu berubah maknanya menjadi: "tidak ada
nabi yang membawa syari'at yang akan datang sesudahku." Ghulam Ahmad katanya
adalah nabi yang tidak membawa syari'at. Sebenarnya inilah akar penyebab
kegusaran ummat Islam, seperti api dalam sekam. Ditambah pula para missionaris
Ahmadiyah Qadiyan di mana-mana sangat "agresif", baik di dunia nyata maupun di
cyber space, maka api dalam sekam itu mudah sekali menyala oleh hembusan angin.
Nyala api berupa kekerasan tidak dapat dibenarkan, tetapi menyalanya api itu
dapat difahami. WaLlahu a'lamu bisshawab.
>
> Bagian di atas yang Anda tulis ini hanya ngalor-ngidul saja. Semuanya sudah di
jelaskan di atas ata dalam posting sebelumnya.
>
> Salaam,
> MAS
>

#138458 From: "alatif25" <alatif25@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 12:53 am
Subject: Re: Maklumat dari HMNA
alatif25
Offline Offline
Send Email Send Email
 
alatif respond
Proverb nabi Daud;

Hanya orang2 bodoh dan panakut saja yang tidak mau berdiskusi
dan bedebat terbuka.....

Itulah golongan2 Islam fundamentalis pemaham Islam taliban

Ketahuilah bahwa tempat ini adalah tempat berdiskusi,berbagi ilmu dgn niat
mencari kebanaran;

Wassalam

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@...> wrote:
>
> Maklumat dari HMNA:
> Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: tidak menggubris
monkey busness from missionaris agama ahmadiyah qadiyan => MAS, nohetto !!!
A'uwzdu biLlahimina sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu
innahu huwa lGhafuwru rRahiym.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

#138457 From: "alatif25" <alatif25@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 12:54 am
Subject: Re: Maklumat dari HMNA
alatif25
Offline Offline
Send Email Send Email
 
alatif respond
Proverb nabi Daud;

Hanya orang2 bodoh dan panakut saja yang tidak mau berdiskusi
dan bedebat terbuka.....

Itulah golongan2 Islam fundamentalis pemaham Islam taliban

Ketahuilah bahwa tempat ini adalah tempat berdiskusi,berbagi ilmu dgn niat
mencari kebanaran;

Wassalam

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@...> wrote:
>
> Maklumat dari HMNA:
> Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: tidak menggubris
monkey busness from missionaris agama ahmadiyah qadiyan => MAS, nohetto !!!
A'uwzdu biLlahimina sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu
innahu huwa lGhafuwru rRahiym.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

#138456 From: Abbas Amin <abas_amin08@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 12:18 am
Subject: Mas Suryawan apa khabar ?
abas_amin08
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Lama sekali kita tak saling berjumpa; eee jebul anda ada di milis ini;
selamat bertemu kembali; mari kita berdiskusi lagi; lanjutan dari milis
proletar.

Kawan2 yang lain kemana saja ? Seperti Pak Nadir itu ? Apakah anda tahu ?






[Non-text portions of this message have been removed]

#138455 From: "alatif25" <alatif25@...>
Date: Thu Jan 7, 2010 12:17 am
Subject: Re: Maklumat dari HMNA
alatif25
Offline Offline
Send Email Send Email
 
alatif respond
Proverb nabi Daud;

Hanya orang2 bodoh dan panakut saja yang tidak mau berdiskusi
dan bedebat terbuka.....

Itulah golongan2 Islam fundamentalis pemaham Islam taliban

Ketahuilah bahwa tempat ini adalah tempat berdiskusi,berbagi ilmu dgn niat
mencari kebanaran;

Wassalam

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman"
<mnur.abdurrahman@...> wrote:
>
> Maklumat dari HMNA:
> Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: tidak menggubris
monkey busness from missionaris agama ahmadiyah qadiyan => MAS, nohetto !!!
A'uwzdu biLlahimina sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu
innahu huwa lGhafuwru rRahiym.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

#138454 From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...>
Date: Wed Jan 6, 2010 11:30 pm
Subject: Maklumat dari HMNA
mnur.abdurra...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Maklumat dari HMNA:
Demi suasana ketenangan dalam milis ini, saya tetapkan: tidak menggubris monkey
busness from missionaris agama ahmadiyah qadiyan => MAS, nohetto !!! A'uwzdu
biLlahimina sysyaythaani rrajiym, aquwlu qawliy hadza, wastaghfirhu innahu huwa
lGhafuwru rRahiym.

[Non-text portions of this message have been removed]

Messages 138454 - 138483 of 138483   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help